Skripsi Bab 2 Tinjauan Pustaka

Islam





الاسلام



al-’Islām




The Kaaba during Hajj.jpg

Ka’bah di Makkah, Arab Saudi, markah ikhlas dan kiblat umat Muslim

Tipe Agama mondial
Klasifikasi Abrahamik
Kitab suci Al-Qur’an
Teologi Monoteisme
Bahasa Arab Klasik
Pembina Muhammad
Didirikan
Jabal an-Kilat, Makkah, Hijaz, Tanjung Arab
Membaikkan diri Babisme,[1]
Baháʼí,[2]
Druze[3]
[4]
Umat 2,7 miliar (menurut jumlah Muslim di setiap negara)

Islam
(bahasa Arab:
الإسلام‎,


Tentang suara ini dengarkan

) yakni agama nan diterima oleh rasul Muhammad yang mengajarkan monoteisme tanpa kompromi, iman terhadap wahyu, iman terhadap penutup zaman, dan tanggung jawab.[5]
Pada 2022, Islam diperkirakan dianut maka dari itu 1,9 miliar bani adam di seluruh dunia sehingga menjadi agama terbesar kedua selepas Kekristenan.[6]

Muslim percaya bahwa Islam yakni versi lengkap dan menyeluruh berusul iman primordial yang diturunkan berkali-barangkali melalui utusan tuhan-nabi sebelumnya seperti mana Adam, Ibrahim, Musa, dan Isa (Yesus), antara lain;[7]
wahyu sebelumnya ini dikaitkan dengan Yudaisme dan Kristen, yang dianggap dalam Islam sebagai agama pendahulu spiritual.[8]
Mereka juga menganggap Quran, momen disimpan internal bahasa Arab Klasik, sebagai nubuat Tuhan nan tidak berubah dan terakhir untuk umat manusia. Seperti agama Ibrahim lainnya, Selam sekali lagi mengajarkan tentang “Penghakiman Terakhir ” dimana makhluk bermoral akan dihargai di indraloka (Jannah) dan orang yang tidak ter-hormat akan dihukum di neraka (Jahannam).[9]
Konsep dan praktik keimanan termasuk Berbaik Islam —dianggap sebagai ibadah wajib— dan menirukan hukum Islam (syariah), yang menyentuh hampir setiap aspek vitalitas, dari perbankan dan keuangan dan kedamaian hingga peran perempuan dan mileu. Kota Mekah, Madinah, dan Yerusalem yaitu rumah bagi tiga situs paling suci dalam Islam, dalam urutan melandai: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa, sendirisendiri.[10]
[11]

Terminologi

Islam

“Islam” internal bahasa Arab adalah kerangka kata benda infinitif kuadri-literal (maṣdar rubā‘ī). Gambar kata kerja sempurna aktif triliteralnya (fi‘l māḍi ṡulaṡī mabnī ma‘lūm) adalah
salima
(سلم, “selamat”). Arti semantik dari bentuk kuadri-literalnya ini adalah tunduk dan patuh (khadha‘a wa istaslama), berserah diri, menyerahkan, memasrahkan (sallama), mengikuti (atba‘a), menunaikan, menyampaikan (addā), atau timbrung dalam kedamaian, keselamatan, atau keaslian (dakhala fi al-salm au al-silm au al-salām).[12]
Semua istilah nan seakar introduksi dengan “islām” berhubungan erat dengan makna keselamatan, kesejahteraan, dan kemurnian.[13]

Secara istilah, Islam bermakna penyerahan diri; ketundukan dan kepatuhan terhadap perintah Allah serta serah dan mengakui dengan plong terhadap ganjaran dan syariat-hukum-Nya.[14]
Pengertian “berserah diri” dalam Islam kepada Tuhan bukanlah sebutan bikin kritis fatalisme, melainkan sebagai imbangan dari rasa berat lever privat menirukan ilham agama dan lebih gemar mengidas jalan mudah n domestik hidup.[13]
Seorang muslim mengikuti perintah Yang mahakuasa tanpa menuju ataupun mempertanyakannya, namun disertai usaha untuk mengerti hikmahnya.[13]

Istilah “Islam” lagi dapat diartikan sebagai agama yang diberikan maka dari itu Allah kepada Nabi Muhammad sebagai urut-urutan keselamatan di dunia dan darul baka yang ajarannya dilandasi maka dari itu tauhid dan diterapkan n domestik seluruh aspek nyawa orang.[15]

(Ingatlah) detik Allah berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserah dirilah!” Dia menjawab, “Aku
berserah diri
kepada Tuhan seluruh pan-ji-panji.”

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَAya-131.png
—Qur’an Al-Baqarah:131

Islam sepatutnya ada juga dipakai bakal menyebut keyakinan monoteistik yang diyakini bersama maka itu agama-agama samawi (saat ini Judaisme dan Kekristenan); lihat QS al-Maidah ayat 44, QS Ali Imran ayat 67 dan 52.[16]
Namun, Islam lebih populer digunakan bakal agama yang dibawa makanya Muhammad begitu juga terdapat kerumahtanggaan sebuah ayat Al-Qur’an yang diturunkan di penghabisan-akhir tahun kenabiannya:[17]

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan mutakadim Aku ridhai
Islam
perumpamaan agamamu.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
—Qur’an Al-Ma’idah:3


Iman, Islam, dan Ihsan

Islam adalah agama Tuhan yang diturunkan cak bagi seluruh bani adam. Di dalamnya terletak pedoman dan resan demi kebahagiaan di bumi dan akhirat. Ada tiga hal nan menjadi kiat terdahulu kerumahtanggaan agama Selam itu sendiri, yakni Iman, Islam, dan Ihsan.[18]
Dalam sebuah hadits, disebutkan:

“Mulai sejak Umar bin al-Khatthab RA, berkata: “Pada suatu hari kami berkumpul bersama Rasulullah ﷺ‎ , start-mulai datang sendiri lelaki yang bajunya adv amat putih, rambutnya sangat hitam. Tidak kelihatan isyarat kalau engkau mengamalkan perjalanan jauh, dan tak seorangpun berpokok kami nan mengenalnya. Lanang itu kemudian duduk di hadapan Nabi ﷺ‎ sederum menempelkan kedua lututnya pada lutut Nabi ﷺ‎ . sedangkan kedua tangannya diletakkan di atas paha Nabi ﷺ‎ . Suami-laki itu bertanya, “Wahai Muhammad beritahukanlah aku tentang Islam.” Rasulullah ﷺ‎ menjawab,

Islam
yakni dia bersaksi tiada yang mahakuasa selain Yang mahakuasa dan Muhammad merupakan utusan Allah, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, puasa sreg bulan Ramadhan dan kamu haji ke Baitullah jika kamu telah berharta melaksanakannya.”

Laki-suami itu menjawab, “Kamu benar.” Umar merenjeng lidah, “Kami heran kepada laki-junjungan itu menyoal lagi, “Beritahukanlah aku tentang Iman.” Nabi menjawab,

Iman
merupakan sira beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, musim hari pembalasan dan qadar (qada dan qadar) Allah) yang baik dan yang buruk.”

Laki-laki itu menjawab, “Sira sopan.” Junjungan-laki itu menyoal lagi, “Beritahukanlah aku tentang Ihsan.” Nabi menjawab,

Ihsan
yaitu ia menyembah Allah seolah-olah kamu mengintai-Nya, sekiranya anda tidak bisa meluluk-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kemudian orang itu pergi. Setelah itu aku (Umar) diam beberapa detik. Kemudian Rasulullah ﷺ‎ menanya kepadaku, “Aduhai Umar siapakah orang yang datang tadi?” Aku menjawab, “Tuhan dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Lalu Rasul ﷺ‎ berujar, “Sememangnya pria itu adalah Malaikat Jibril AS. Dia nomplok kepadamu untuk mengajarkan agamamu.”

(HR. Muslim: 9)
[19]

Dari segi keilmuan, semula ketiganya yaitu satu kesatuan yang tidak terbagi-cak bagi. Namun lebih lanjut para cerdik pandai mengadakan pemisahan, sehingga menjadi bagian ilmu sendiri. Bagian-penggalan itu mereka elaborasi sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda. Perhatian terhadap Iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam (teologi).[18]
Perhatian individual puas aspek Islam (dalam konotasi yang sempit) menghadirkan hobatan fikih atau hobatan syariat Islam. Padahal penelitian terhadap format Ihsan melahirkan ilmu tasawuf maupun guna-guna etik.[18]

Tetapi demikian, sungguhpun telah menjadi ilmu tersendiri, dalam tataran asam garam kehidupan beragama, tiga perkara itu harus diterapkan secara bersamaan sonder mengamalkan pembedaan. Tidak sesak mementingkan aspek Iman dan menjauhi ukuran Ihsan dan Islam, atau sebaliknya.[20]
Misalnya manusia nan sedang shalat, dia harus megesakan Almalik disertai keagamaan bahwa hanya Dia yang wajib disembah (Iman), harus menunaikan janji syarat dan rukun shalat (Islam), dan shalat harus dilakukan dengan khusyuk dan mumbung penghayatan (Ihsan).[20]

Muslim

Muslim ialah khalayak yang memeluk petunjuk Selam dengan cara menyatakan kesaksiannya adapun keesaan Allah dan kenabian Muhammad.[21]
Tulangtulangan jamaknya adalah muslimin, muslimun, atau umat Islam.



Konsep ketuhanan

Konsep dasar mengenai rabani di n domestik Islam dijelaskan dalam satu surah bernama Surah Al-Ikhlas yang namun terdiri dari catur ayat. Ayat purwa dari surah ini menyebutkan bahwa Tuhan nan Maha Esa bernama Allah. Ayat kedua menjelaskan tentang kemampuan nan dimiliki-Nya sebagai Tuhan, yaitu sebagai ajang meminta apa sesuatu. Kemudian, pada ayat ketiga disebutkan resan-Nya ialah tidak berputra dan tidak diperanakkan. Ayat keempat juga menyebutkan kebiasaan-Nya yaitu tidak terserah sesuatu apapun yang menyerupai-Nya.[22]
Dalam ajaran Islam. Allah ialah satu-satunya Tuhan nan berhak disembah, memiliki logo-jenama terbaik, dan mempunyai sifat dan kepribadian tertinggi.[23]
Ajaran monoteisme Islam disebut tauhid, yang didefinisikan ibarat pengesaan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan Allah dan yang Dia wajibkan.[24]
Pengesaan Sang pencipta dalam kejadian-hal kekhususan Almalik dibagi menjadi dua bahasan:
tauhid rububiyah
dan
tauhid asma’ wash-shifat, sedangkan pengesaan Yang mahakuasa dalam peristiwa-peristiwa yang Dia wajibkan dibahas dalam
tauhid uluhiyah.[25]



Tauhid (Monoteisme)

Intern tauhid rububiyah, Almalik diakui sebagai suatu-satunya
Rabb
(Yang Menguasai), sehingga semua selain Allah adalah
‘abd
(hamba/budak/yang dikuasai).[26]
Allah yakni Rabb Nan Berkuasa dalam penciptaan, pengurusan, dan kerajaan alam semesta.[27]
Allah perumpamaan amung Kreator yaitu juga Yang Memberi rezeki, Yang Meramaikan, Yang Mematikan, serta Nan Memberi manfaat dan bahaya.[28]
Halikuljabbar yang mengurus segala sesuatu; semua urusan yang Beliau tangani ialah kepentingan; dan Allah Mahakuasa terhadap segala apa yang Dia kehendaki.[28]
Dalilnya adalah ayat intern Al-Qur’an, “Segala kreasi dan urusan menjadi hak-Nya.”[Al-A’raf:54]
[27]

Allah juga diakui memiliki keutuhan nama dan atribut (atribut esensial dan atribut aksidental) selain mencipta, mengurus, dan merajai standard semesta; keadaan ini dibahas dalam tauhid asma wa kebiasaan (keesaan nama dan sifat).[25]
Tanda dan sifat Sang pencipta diketahui melalui dan ditetapkan dengan Al-Qur’an dan Sunnah lega makna tersuratnya dan tidak boleh ditetapkan oleh akal bulus semata.[29]
Cuma, logo dan rasam Sang pencipta tidak terbatas; selain dari yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah dirahasiakan dalam ilmu mistik-Nya.[30]

N domestik tauhid uluhiyah, Tuhan diakui sebagai Tuhan Yang Maha Esa kerumahtanggaan segala bentuk peribadahan berasal seluruh makhluk-Nya.[25]
Syahadat Allah sebagai satu-satunya Rabb berkonsekuensi penyembahan makhluk kepada Rabb-nya semata.[31]
Ibadah maupun penghambaan diri kepada Allah ialah polah makhluk untuk mengotorkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menyingkir tabu-larangan-Nya seusia hidup.[32]
Ibadah bukan dapat ditujukan sedikit pun kepada selain Allah.[33]
Beribadah kepada selain Allah, walaupun juga menyembah Allah, yaitu dosa yang paling samudra dalam Selam yang disebut dengan syirik (mempersekutukan Allah), sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:[33]

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, detik dia menjatah kursus kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah dia mempersekutukan Yang mahakuasa, sepantasnya mempersekutukan (Almalik) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌAya-13.png
—Qur’an Luqman:13

Asmaulhusna

Yang mahakuasa mengklarifikasi tentang nama-logo dan atribut-atribut rabani di Alquran.[34]

Zikir dan ratib

Takbir dan wirid ialah dua macam ibadah kepada Allah nan secara umum tidak n kepunyaan batasan waktu dan arena.[35]
Zikir secara bahasa artinya mengingat atau menamai. Secara istilah, zikir mencakup ibadah memuji Allah, mengingat tanda-etiket-Nya, nikmat-Nya, keputusan dan takdir-Nya, wahi agama-Nya, serta taki balasan pahala dan ancaman azab-Nya.[36]
Ibadah takbir mencakup zikir lever dan zikir lisan.[37]
Wirid bertujuan untuk mewujudkan kesempurnaan peribadahan kepada Allah.[38]
Membaca Al-Qur’an juga terjadwal tahmid.[39]

Tahmid secara bahasa artinya memanggil atau menunangi. Secara istilah, doa mencaplok panggilan pujian dan permintaan kepada Halikuljabbar.[40]
Setiap mukmin diperbolehkan untuk berdoa meminta arti atau berlindung dari keburukan.[41]
Allah mewajibkan untuk berdoa kepada-Nya dengan tahmid-doa yang terwalak di Al-Qur’an dan Sunnah.[42]
Doa yang tak terdapat di privat Al-Qur’an dan Sunnah diperbolehkan selain ratib yang melampaui batas, seperti mana meminta agar mencerna segala sesuatu maupun mengetahui kejadian lucut karena itu merupakan kekhususan Allah.[42]

Konsep ketakwaan

Sebuah sekolah Al-Qur’an di Jawa. Maka dari itu: Tropenmuseum, National Museum of World Cultures.

Inti dari petunjuk Selam sekaligus sebab berbagai fungsi adalah takwa kepada Allah.[43]
Takwa adalah perbuatan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya nan dilandasi oleh rasa samar muka, harap, dan cinta kepada Allah.[44]
Sendiri muslim menyembah Allah juga dalam rangka berhasrat masuk surga dan terhindar dari neraka.[45]
Istilah takwa merupakan istilah yang paling banyak disebutkan di intern Al-Qur’an. Adapun ayat nan paling kecil menjelaskan tentang kedudukan takwa merupakan:[46]

Dan betapa, Kami sudah mensyariatkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Almalik. وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
—Qur’an An-Nisa’:131

Seluruh ajaran Islam nan terkandung intern Al-Qur’an dan sunnah (perilaku atma Nabi Muhammad) dapat dikelompokkan menjadi tiga kop besar bersendikan satah kajian keilmuannya. Permulaan, ilham yang bersambung dengan religiositas terhadap Almalik, para malaikat-Nya, kitab suci yang diturunkan-Nya, para utusan-Nya, dan peristiwa di sukma setelah kematian. Pembahasan hal ini tercakup privat latar aji-aji
Aqidah
(ilmu agama). Kedua, ajaran yang berhubungan dengan ulah hati dan jiwa, kredit-nilai tata susila, dan aturan perilaku. Ajaran ini dimaksudkan untuk mengembangkan sifat-sifat mulia dan tercakup dalam latar ilmu
Akhlak
dan
Akhlak
(etika). Ketiga, ajaran yang berhubungan dengan perbuatan awak yang mencengap perintah, pemali, dan kebolehan. Ajaran ini masuk dalam bidang ilmu
Fiqih
(hukum Islam).[47]
[48]



Aqidah: kepercayaan

Ajaran pokok dalam Selam adalah situasi-hal yang menyangkut kepercayaan atau keyakinan lever.

Muslim kembali mempercayai Berdamai Iman nan terdiri atas 6 perkara, yaitu:

  1. iman kepada Allah,
  2. iman kepada malaikat Allah,
  3. iman kepada kitab Allah (Al-Qur’an, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf),
  4. iman kepada rasul dan nabi Allah,
  5. iman kepada waktu kiamat, serta
  6. iman kepada qada dan qadar.


Fiqih: ibadah dan muamalah

Aspek hukum dalam Islam meliputi beragam amal perbuatan.[47]
Amal-kebajikan polah tersebut bisa dibagi menjadi dua kategori dasar menurut sebelah hubungannya.

Ibadah
Ibadah adalah amal perbuatan manusia berhubungan dengan Allah. Ibadah ada yang murni ibadah,[a]
sebagaimana Salat dan puasa; ada yang ibadah sosial,[b]
seperti Zakat dan Haji. Keempat darmabakti ini disebut sebagai “Rukun Islam” setelah syahadat.
Muamalah
Muamalah yaitu perbuatan manusia gandeng dengan manusia lain. Hukum yang mengatur masalah muamalah dibagi lagi menjadi empat sub-fragmen:

  • syariat-syariat nan memastikan keberlangsungan dakwah Selam dan mempertahankannya. Hukum-hukum ini yakni nan dimaksud dengan Jihad. Jihad dapat maujud upaya bersenjata dan upaya tidak bersenjata.
  • hukum-syariat keluarga bakal melindungi dan membina keluarga. Di dalamnya tercatat hukum pernikahan, perceraian, dan pusaka.
  • hukum-syariat penggalasan yang mengatur transaksi bisnis, kontrak carter-pinjam, dan lain-tak.
  • hukum-hukum meja hijau yang mengeset tindakan kriminal dalam awam.[49]


Adab dan akhlak

Bukan hanya hanya menjalani ilham iman dan amal, Islam pun mengajari seyogiannya semua mukmin menghiasi diri lahir dan batin dengan adab dan akhlak luhur.[50]

Kepatutan-adab dalam Selam:[51]
[52]

  • akhlak kepada Allah, termasuk adab internal niat
  • tata krama kepada Al-Qur’an
  • kepatutan kepada Muhammad sebagai utusan Tuhan
  • kesopansantunan kepada diri sendiri: taubat, muroqobah, muhasabah, dan mujahadah
  • budi pekerti kepada semua makhluk
    • berbakti kepada ibu bapak
    • menambat hubungan kekerabatan (silaturahim)
    • berbuat baik kepada tetangga
    • melakukan baik kepada anak asuh yatim, orang papa miskin, dan momongan jalanan
    • tidak mencela, berburuk taksir, memata-matai, atau menyebarkan keburukan orang tak (gosip)
  • kepatutan persaudaraan, pelahap, dan benci karena Allah
  • adab majelis
  • tata krama bersantap dan minum
  • tata krama bertamu
  • tata krama bepergian
  • moral berpakaian
  • kesusilaan tidur

Akhlak-akhlak terpuji dalam Islam:[51]

  • panjang hati menghadapi cobaan
  • bertawakal kepada Halikuljabbar dan bukan belaka mengandalkan diri sendiri
  • mendahulukan orang enggak dan mencintai arti
  • adil dan berimbang
  • pemberian gelojoh
  • malu
  • melakukan nan terbaik
  • jujur
  • dermawan
  • adv minim diri, tidak sombong

Moral-akhlak tercela dalam Islam:[51]

  • lalim
  • sirik
  • menipu
  • riya’
  • bangga diri dan tertipu oleh bumi
  • lemah dan enggan



Nabi Islam Muhammad

Sejarah dan keyakinan muslim menggambarkan Muhammad ibarat seorang individu dan nabi yang memiliki jasa yang raksasa.[53]
Riwayat hidup mengenai kehidupan awalnya tidak banyak diketahui; yang lebih banyak adalah catatan riwayat tentang kehidupannya setelah menjadi nabi dan rasul pada usia empat puluh tahun pada tahun 610.[53]
Al-Qur’an menjadi perigi pemberitaan terdahulu mengenai hidup Nabi Muhammad.[54]
Di samping itu, hadis dan berma nabawi (memori vitalitas kenabian) lebih lanjut menggambarkan kedudukan dan perannya plong waktu awal Islam.[55]
Muhammad berperan sebagai penerima wangsit dari Allah dan sedarun sebagai panutan hendaknya semua mukminat berusaha menirunya.[55]

Sebelum mendakwahkan Islam

Muhammad kacang Abdullah (putra Abdullah) lahir pada tahun 570 M di Mekkah (sekarang masuk Arab Saudi).[56]
[c]
Ayahnya yang ialah seorang musafir meninggal sebelum kelahirannya.[57]
Ibunya, Aminah, meninggal detik Muhammad masih berusia heksa- tahun.[58]
Di purwa periode mudanya, Muhammad tidak memiliki pekerjaan tunak di Mekkah yang yakni kota perdagangan yang sedang berkembang; banyak nan menyebutkannya bekerja sebagai penggembala embek.[59]
Lega atma 25 hari Muhammad dipekerjakan oleh seorang janda berbenda, Khadijah binti Khuwailid, bikin mengawasi angkutan dagangnya ke wilayah Syam (sekarang mencengam Yordania, Lebanon, Suriah, dan Palestina).[60]
Muhammad membuat Khadijah terkesan atas hasil pekerjaannya yang mendatangkan keuntungan yang belum kekeluargaan ia dapatkan sebanyak itu–selain juga keterangan pembantu Khadijah yang menyertai perjalanan komersial itu adapun perilaku Muhammad–sampai Khadijah menawarkan diri kepada Muhammad untuk menikah.[61]
Saat menikah, Khadijah disebutkan telah berumur empat puluh tahun, sahaja pernikahan itu membuahkan dua anak laki-laki (Al-Qasim dan Abdullah, meninggal ketika kanak-kanak) dan empat anak perempuan (Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah).[62]
Fatimah, putri bungsu Muhammad, ialah yang paling dikenal, nan menikahi sepupu Muhammad, Ali bin Abi Thalib, khalifah (“penerus”; penerus Rasul Muhammad sebagai pemimpin) keempat menurut Islam sunni dan pater lazim pertama menurut Syiah.[55]

Mekkah merupakan gerendel kemakmuran perdagangan.[55]
Namun, masyarakatnya merupakan masyarakat kesukuan nan mudah bertikai.[63]
Beberapa peristiwa nan menunjukkan keadaan tersebut, nan juga melibatkan Muhammad, adalah Pertempuran Fujjar, Hilful Fudul, serta renovasi Ka’bah dan pemindahan Hajar Aswad.[64]
Peristiwa-peristiwa tersebut dan kondisi sosiologis lainnya timbrung mempengaruhi Muhammad, yang menjadi seorang pribadi yang sukses di tengah masyarakat Mekkah.[55]
Dia dihormati atas sifatnya nan boleh dipercaya dan keputusan-keputusannya terhadap persengketaan; dia dikenal dengan gelarnya
al-Amīn, “yang boleh dipercaya”.[65]
Keterbukaan itu komplet dengan kesukaannya merenung yang alhasil membuat dia teristiadat menyendiri di Lubang Hira’–yang berjarak intim dua mil di utara Mekkah–saat usianya menuju empat puluh tahun.[66]

Di sini, n domestik musim nan lama membebaskan diri, dia merenungkan kehidupannya dan problem yang menjalari masyarakatnya.[55]
Di sini, di usianya yang keempat puluh pada bulan Ramadan, sreg malam yang disebut Lailatul Qadar, “malam mahamulia”, Muhammad menerima wahyu mula-mula berpokok Allah melalui blantik Malaikat Jibril.[67]
Wahyu nan turun adalah panca ayat permulaan Surat al-‘Alaq.[68]

(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَAya-1.png
(2) Kamu telah menciptakan manusia pecah segumpal talenta.
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍAya-2.png
(3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُAya-3.png
(4) Yang mengajar (manusia) dengan pena.
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِAya-4.png
(5) Dia mengajarkan insan apa yang tidak diketahuinya.
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْAya-5.png
—Qur’an Al-‘Alaq:1-5

Dengan turunnya wahi ini, Muhammad diangkat menjadi nabi sebagai halnya nabi-utusan tuhan yang dikenal internal agama-agama samawi.[69]
Sesudah wahyu yang berikutnya jatuh setelah selang antara beberapa hari,[d]
yaitu sapta ayat mula-mula Sahifah Al-Muddassir, Muhammad hijau diutus bak koteng rasul (“utusan”) yang diperintah untuk mendakwahkan tauhid (monoteisme) dan memperingatkan masyarakatnya mulai sejak kesyirikan (politeisme).[70]
Selama 22 periode (610-632), Muhammad terus menerima visiun nan kemudian dikumpulkan dan ditulis menjadi Al-Qur’an (“bacaan”).[69]

(1) Wahai orang yang berkemul (berselimut)!
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُAya-1.png
(2) bangunlah, lalu berilah peringatan!
قُمْ فَأَنذِرْAya-2.png
(3) dan agungkanlah Tuhanmu,
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْAya-3.png
(4) dan bersihkanlah pakaianmu,
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْAya-4.png
(5) dan tinggalkanlah segala (ulah) nan keji,
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْAya-5.png
(6) dan janganlah sira (Muhammad) memberi (dengan pamrih) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُAya-6.png
(7) Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْAya-7.png
—Qur’an Al-Muddassir:1-7

Hadis dari Aisyah, cem-ceman kedua Muhammad di kemudian tahun, menceritakan sungguh Muhammad keheranan detik ditemui malaikat Jibril, yang sosoknya tidak rangkaian dia lihat sebelumnya.[71]
Sira kembali tidak begitu yakin dengan segala yang baru saja terjadi; apakah dia tidak waras atau majenun jin.[69]
Khadijah menenangkannya dan meyakinkannya bahwa beliau tidaklah edan maupun kerasukan jin.[72]
Khadijah segera mengajak suaminya itu menemui keseleo seorang sepupunya yang menganut Masehi, Waraqah bin Naufal,[e]
dan Muhammad menceritakan kejadian yang hijau saja menimpanya.[72]
Mendengar itu, Waraqah mengatakan,

Itu yakni makhluk kepercayaan Allah[f]
(Jibril) yang sudah lalu Allah utus kepada Rasul Musa! Laksana semata-mata aku masih segak dan akil balig ketika itu! Laksana sekadar aku masih sukma ketika engkau diusir oleh kaummu! … enggak seorang pun yang mengangkut sebagaimana nan engkau bawa ini melainkan akan dimusuhi, dan sekiranya aku masih hayat kapan itu niscaya aku akan membelamu dengan segenap nasib ragaku.[73]

Dakwah di Mekkah

Bukanlah hal nan mudah mendakwahkan pesan akan halnya Tuhan Yang Maha Esa di Kota Mekkah karena kota ini merupakan gerendel agama.[74]
Muhammad mengawali dakwahnya secara umpet-sembunyi sejauh tiga waktu bakal menjauhi hal yang akan memancing repetan penghuni Daerah tingkat Mekkah.[75]
Di antara yang pertama menyepakati ajakannya adalah Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantunya yang saat itu masih kanak-kanak, dan Serdak Bakar, mertuanya di kemudian masa dan khalifah pertama.[76]
Setelah itu, dia secara bertahap berdakwah secara terang-terangan mulai berpangkal keluarga terdamping bermula Ibni Hasyim sampai akhirnya kepada penduduk Mekkah secara umum.[77]

Meskipun cak semau sejumlah orang yang timbrung Islam mengakuri dakwahnya, perdurhakaan yang sira songsong selama dakwahnya sangat hebat.[78]
Buat masyarakat oligarki Mekkah yang produktif dan kuat, pesan mengenai keekaan Tuhan, beserta penentangan terhadap mode hidup Mekkah yang tidak merata secara sosioekonomis, telah memunculkan tangkisan serempak tidak belaka terhadap agama tradisi nan politeistik, tetapi juga terhadap yuridiksi dan prerogatif yang telah mereka nikmati, serta mengancam kepentingan politik, sosial, dan ekonomi mereka.[78]
Nabi Muhammad mencela transaksi-transaksi bukan sopan, riba, serta pencuaian dan pendayagunaan terhadap janda dan anak asuh yatim.[78]
Beliau membela eigendom-peruntungan khalayak-basyar miskin dan orang-hamba allah tertindas, menekankan bahwa orang-sosok kaya n kepunyaan kewajiban atas orang-manusia miskin.[78]
Laksana bentuk komitmen atas kewajiban itu, ditetapkanlah zakat atas harta dan produk pertanian dan perkebunan.[78]
Persis sebagai halnya Amos dan Yeremia sebelum dia, Muhammad merupakan seorang “pemberi peringatan” berpokok Allah bikin menegur para pendengarnya bikin bertobat dan bertakwa kepada-Nya, karena tahun penghakiman telah dekat:

(49) Katakanlah (Muhammad), “Wahai cucu adam! Sepantasnya aku (diutus) kepadamu umpama pemberi peringatan yang nyata.”
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌAya-49.png
(50) Maka orang-orang nan beriman dan berbuat amal, mereka mem-cak dapat absolusi dan nafkah yang indah.
فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌAya-50.png
(51) Tetapi orang-anak adam yang berusaha condong ayat-ayat Kami dengan maksud melemahkan (kerinduan untuk berkepastian), mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka Jahim.
وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِAya-51.png
—Qur’an Al-Hajj:49-51[78]

Awalnya, pemukim Mekkah hanya berusaha semoga orang-insan berbunga luar Mekkah enggak mendengar dakwah itu dan melakukan perlawanan verbal dengan argumentasi dan celaan.[79]
Mortalitas om dan pelindungnya, Abu Thalib, dan Khadijah pada perian 619 menaik kesedihannya.[80]
Perlawanan meningkat menjadi tindakan-tindakan persekusi sebatas pemboikotan massal.[81]
Karena kondisi di Mekkah memburuk, Muhammad mengizinkan para pengikutnya untuk hijrah ke luar Mekkah, seperti Habasyah (Etiopia) yang merupakan distrik Kristen, lakukan mendapat keamanan.[80]

Dakwah di Madinah

Di Madinah, Muhammad mempunyai kesempatan sangat luas kerjakan membentuk pemerintahan dan menyebarluaskan dakwah atas perintah Allah, berkat posisinya waktu ini sebagai nabi dan pemimpin masyarakat bermula Negara-kota Madinah.[80]

Mata air syariat dan ajaran Islam

Contoh pelataran gemblengan Al-Qur’an, tertentang jerambah berisi Surah Al-Fatihah. Surah tersebut merupakan surah pertama dalam Al-Qur’an.

Fikih (hukum) yakni kajian keilmuan primer n domestik Islam.[82]
Sekiranya dalam kekristenan doktrin adalah amatan primernya, dalam Islam, seperti halnya dalam Yudaisme, hukum lebih menjadi noktah berat karena
islam
berarti tunduk kepada syariat Allah.[83]
Meskipun demikian, penekanan lega ajaran hukum yang berkepribadian praktis tidaklah mengesampingkan wahyu asisten.[83]
Ajudan (iman) dan praktek yang benar (amal shalih) saling berkaitan.[83]

N domestik masa pembentukannya, yaitu sepanjang masa kenabian, ajaran-ilham dan hukum-hukum Islam diambil dari dua wahyu seumpama sumber primer: Al-Qur’an dan sunnah.[84]
Al-Qur’an berlaku sebagai sumber sosi dan cetak biru kerjakan usia Islami, sementara itu atma sehari-hari Utusan tuhan (sunnah) berlaku bagi menerangkan prinsip-mandu dalam cetak biru tersebut serta untuk menunjukkan cara mengaplikasikannya.[85]
Lega masa sahabat saat mereka bersentuhan dengan sistem tadbir, budaya, dan teoretis perilaku mahajana yang baru yang belum pernah disinggung semasa kenabian, para khalifah dan sahabat tak harus memperalat proses pengutipan keputusan berdasarkan ijmak (“konsensus”) dan ijtihad.[86]
Dalam tahap perkembangannya puas masa Kekhalifahan Abbasiyah, madzhab fikih bermunculan.[87]
Para imam mazhab, sebagai halnya Imam asy-Syafi’i, dan cerdik pandai lainnya taat menitikberatkan sreg penggunaan Al-Qur’an dan sunnah perumpamaan sumber primer sebelum merujuk pada pendapat sahabat, baik pendapat konsensus atau oknum, dan sumber ataupun metode penetapan syariat lainnya berupa
qiyās
(“analogi”),
istiḥsān
(“preferensi syariat”), dan
‘urf
(“adat resan”).[88]


Al-Qur’an

Al-Qur’an ialah muslihat berbunga semua argumentasi dan dalil.[19]
Al-Qur’an adalah dalil nan membuktikan kebenaran risalah Utusan tuhan Muhammad, dalil yang membuktikan benar dan tidaknya suatu ilham. Al-Qur’an juga adalah kitab Yang mahakuasa terakhir nan memfokuskan wanti-wanti-pesan kitab-kitab samawi sebelumnya. Allah mensyariatkan dalam Al-Qur’an hendaknya kaum Muslim senantiasa mengimbangi permasalahan yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya:

(59) Duhai basyar-orang nan percaya! Taatilah Allah dan taatilah Utusan tuhan (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kontrol) di antara engkau. Kemudian, jika dia berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Almalik dan tahun kemudian. Nan demikian itu kian terdepan (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًاAya-59.png
—Qur’an An-Nisa’:59[78]

Mengembalikan persoalan kepada Almalik, berarti mengembalikannya kepada Al-Qur’an.[19]
Sedangkan menyamai persoalan kepada Rasul berarti mengembalikannya kepada hadits/sunnah Rasul.

Meskipun Al-Qur’an menyatakan diri, “Inilah (Al-Qur’an) suatu keterangan nan jelas untuk semua orang, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa,”[Ali Imran:138]
nan disebutkan di dalamnya bukanlah sifat syariat nan komprehensif.[89]
Fragmen demi episode Al-Qur’an diturunkan secara berkelanjutan selama juluran musim 22 tahun kian cak bagi memecahkan persoalan nan dihadapi oleh Rasul Muhammad dan para sahabatnya.[90]


Sabda/Sunnah

Prinsip-prinsip dan nilai-ponten intern Al-Qur’an dibakukan dan diejawantahkan oleh sunnah Utusan tuhan Muhammad, perilaku preskriptif Utusan tuhan Muhammad nan berfungsi seumpama konseptual dan teladan.[91]
Karena sama-sama merupakan wahyu kendatipun internal wujud yang farik dari Al-Qur’an, sunnah pula menjadi sumur hukum; yang kebanyakannya merupakan jawaban dari tanya para sahabat atau penjelasan atas peristiwa yang tengah terjadi.[92]
Takhta penting sunnah ini telah Al-Qur’an nyatakan dengan buram kalimat perintah, “Taatilah Tuhan dan taatilah Rasul (Muhammad), … jika kamu berlainan pendapat akan halnya sesuatu, maka kembalikanlah kepada Sang pencipta (Al-Qur’an) dan Utusan tuhan (sunnahnya),”[An-Nisa’:59]
maupun dengan bentuk kalimat berita, “Betapa, telah terserah sreg (diri) Rasulullah itu suri paradigma yang baik bagimu (yaitu) bagi anak adam yang mengharap (rahmat) Almalik dan (kehadiran) musim Kiamat dan yang banyak menghafal Almalik.”[Al-Ahzab:21]
[93]
[94]

Ijmak

Ijmak adalah kesepakatan para cerdik pandai privat menetapkan satu hukum hukum internal agama berdasarkan Al-Qur’an dan Perkataan nabi privat suatu perkara yang terjadi.

Kias

Analogi yakni penetapan suatu hukum dan perkara baru yang belum cak semau sreg masa sebelumnya tetapi mempunyai kufu n domestik sebab, guna, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara penting sehingga dihukumi sekufu.

Album

Masa pra Islam

Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Selam merupakan sebuah area perlintasan perniagaan privat Jalur lawai yang menghubungkan antara Indo Eropa dengan kawasan Asia di timur.[95]
Biasanya manusia Arab yakni penyembah berhala dan suka-suka sebagian nan merupakan pengikut agama-agama Masehi dan Ibrani.[96]
Mekkah adalah medan yang suci bagi bangsa Arab ketika itu,[97]
karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka, haud Zamzam, dan yang terpenting adalah Ka’bah.[98]
Masyarakat ini disebut pula jahiliyah, artinya bodoh, lain dalam hal intelegensia namun dalam pemikiran moral.[99]
Warga Quraisy adalah masyarakat nan doyan berpuisi, dan menjadikan tembang sebagai salah suatu hiburan di saat berkumpul di palagan-tempat ramai.[100]



609-632: masa kenabian

Islam bermula sreg tahun 609 ketika wahyu pertama diturunkan kepada Muhammad di Gua Hira’, 2 mil dari Mekah.[101]

Muhammad dilahirkan di Mekkah pada copot 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571). Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu start mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Setelah tiga tahun menghamburkan Selam secara sembunyi-sembunyi, dia kesannya menganjurkan petunjuk Selam secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah, nan mana sebagian menyepakati dan sebagian lainnya menentangnya.

Lega perian 622, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah. Kejadian ini disebut eksodus dan menjadi asal teladan permulaan estimasi kalender Islam, yaitu Kalender Hijriah. Di Madinah, Muhammad dapat menyatukan insan-orang anshar (suku bangsa muslimin bermula Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin berbunga Mekkah), sehingga umat Islam semakin menebal. Dalam setiap pertentangan yang dilakukan melawan insan-hamba allah kafir, umat Selam selalu mendapatkan keberhasilan. Dalam fase semula ini, bukan terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.

Etiket diplomasi nabi Muhammad bilamana perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan umat Islam memasuki fase yang dahulu menentukan. Banyak pemukim Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian melantun memeluk Islam, sehingga saat penaklukan kota Mekkah oleh umat Selam tak terjadi pertumpahan bakat. Ketika Muhammad wafat di nyawa yang ke-61, erat seluruh Jazirah Arab mutakadim memeluk Selam.

632-661: Khalifah Rasyidin

Khalifah Rasyidin
atau Khulafaur Rasyidin memilki kelebihan pembesar yang diberi petunjuk, diawali dengan kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan maka dari itu kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib.[102]
[103]
[104]
[105]
Pada masa ini umat Selam menyentuh kestabilan garis haluan dan ekonomi.[106]
Abu Bakar mempererat asal-sumber akar kenegaraan umat Selam dan menyelesaikan perdurhakaan bilang kaki-suku Arab yang terjadi pasca- meninggalnya Muhammad. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali kacang Abu Thalib berhasil menganjuri balatentara dan kabilah Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak. Dengan takluknya negeri-daerah tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat diraih oleh umat Islam.[107]

632-Abad ke-20: Masa kekhalifahan selanjutnya

Pasca- masa Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti mulai sejak tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut “khalifah”, atau kadang kala disebut “amirul mukminin”, “aji”, dan sebagainya. Puas musim ini khalifah lain lagi ditentukan beralaskan orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara bebuyutan intern suatu dinasti (bahasa Arab:
bani) sehingga banyak yang menyamakannya dengan imperium; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah, Ibnu Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah yang kesemuanya diwariskan berdasarkan zuriat.

Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam mutakadim menjadikannya salah suatu keistimewaan politik yang terkuat dan terbesar di dunia kapan itu. Timbulnya tempat-wadah pembelajaran mantra-ilmu agama, filsafat, sains, dan sintaksis Arab di berbagai daerah dunia Islam telah membuat satu kesinambungan kultur Selam yang agung. Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan bermunculan dari bermacam rupa negeri-provinsi Islam, terutamanya lega zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 serani.

Luasnya kewedanan penyebaran agama Islam dan terpecahnya supremsi kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya beraneka rupa otoritas-pengaruh kekuasaan terpisah yang berbentuk “sultanat”; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Sultanat Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, nan telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kontrol nan kuat dan terkenal di dunia. Meskipun mempunyai yuridiksi terpisah, sultanat-sultanat tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.

Pada kurun ke-18 dan ke-19 masehi, banyak kawasan-kawasan Selam jatuh ke tangan kolonialis Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) nan secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam buncit, hasilnya tumbang pasca- Perang Dunia I. Kerajaan ottoman sreg ketika itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap minus tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh Mustafa Kemal Pasya atau Kemal Atatürk, sistem kekaisaran dirombak dan diganti menjadi republik.

Masyarakat dan budaya Islam

Demografi dan Denominasi

Populasi Muslim dunia. Makanya: Pew Forum.

Sebuah data riset tahun 2022 memperkirakan 1.752.620.000 jiwa (24,1%) bersumber populasi dunia adalah muslim dengan angka pertumbuhan sejak 2010 adalah 31%.[108]
Mayoritas muslim (61%) dulu di negara-negara Asia-Pasifik; di Timur Tengah dan Afrika Utara adalah 20%; di Sub-Sahara adalah 16%, dan 3% di Eropa.[108]
Total muslim diperkirakan akan meningkat 70% pada tahun 2060 menjadi 2.987.390.000 jiwa; adapun Serani diperkirakan mencapai 3.054.460.000 nyawa pada masa yang sebabat.[108]

Sunni

Rotasi Sunni atau
Ahlu Sunnah wal Jamaah, adalah aliran nan dianut mayoritas (75-90 %) Orang islam di dunia.[109]
Istilah “Sunni” dapat diartikan misal golongan yang mengikuti Sunnah (tradisi) berpokok Utusan tuhan Muhammad.[110]

Sejumlah mazhab fiqih (hukum Selam) utama kerumahtanggaan aliran Sunni adalah Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi.[111]
Akan namun, terdapat pemikiran Salafisme kerumahtanggaan sirkuit Sunni nan menunda mengikuti (taqlid) kepada mazhab-mazhab tersebut.[112]

Sufisme Suluk n domestik peredaran Sunni didefinisikan sebagai ajaran pendalaman batin (asketisme) kepada Allah, semisal dalam buram dzikir.[113]
Terdapat pula pemikiran Wahhabisme yang dicetuskan oleh Muhammad ibn Abd al-Wahhab seumpama paham ultra-konservatif nan dengan penajaman kepada “ajaran monoteisme zakiah” yang bersih dari barang apa “ketidakmurnian” seperti praktik-praktik yang mereka anggap bid’ah, syirik dan khurafat.[114]
[115]
Wahhabisme menjadi kritis Sunni yang berkembang di Arab Saudi dan Qatar.

Syiah

Berbeda dengan aliran Sunni, revolusi ini memercayai bahwa penerus Muhammad adalah khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai menantu dan keturunan sekaligus Bani Hasyim, keluarga nabi Muhammad, temporer Abu Bakar, Umar, dan Usman tidak diakui ibarat khalifah umat Islam maka dari itu pengikut Syiah.[116]

Syiah dianut umpama agama mayoritas di Iran dan Azerbaijan.[117]
[118]

Perian raya dan hari besar

Masa perayaan dalam Islam secara umum dapat dibagi menjadi hari raya keyakinan dan perian besar lainnya. Hari raya keagamaan Selam cak semau dua, yaitu:[g]
[119]
[120]

  • Idul Fitri
  • Idul Adha

Padahal periode besar Selam lainnya, antara lain yaitu:

  • Isra Mikraj
  • Maulid Rasul Muhammad
  • Waktu Hijau Hijriyah

Medan ibadah

Masjid (bentuk bukan normal: mesjid) adalah rumah gelanggang ibadah umat Islam. Zawiat artinya tempat sujud, sebutan enggak yang berkaitan dengan masjid di Indonesia adalah langgar, langgar, ataupun surau; istilah tersebut diperuntukkan untuk bangunan menyerupai masjid yang tidak digunakan bakal salat Jumat, iktikaf, dan galibnya bertakaran katai. Selain digunakan sebagai panggung ibadah, masjid pula adalah resep kehidupan komunitas mukminat. Kegiatan-kegiatan perayaan masa besar, diskusi, amatan agama, syarah dan berlatih Al-Qur’an cerbak dilaksanakan di Masjid. Bahkan internal sejarah Islam, masjid ikut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan sampai kemiliteran.[121]

Nubuat

Dimenangkan atas barang apa agama

Petunjuk atas kemenangan Islam atas segala apa agama disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 33. Ayat ini sakti firman Sang pencipta bahwa Selam akan dimenangkan atas barang apa agama. Kejayaan Islam ini diawali oleh pengutusan utusan tuhan yang membawa wahyu substansial Al-Qur’an. Ayat ini kembali menyatakan bahwa makhluk-orang musyrik bukan mengesir kemenangan tersebut. Petunjuk tentang kemenangan Islam lagi disampaikan dalam Surah As-Saff ayat 9 dan Surah Al-Fath ayat 28 dengan sidang pengarang yang mirip. Kemenangan yang dimaksudkan dalam ayat-ayat tersebut tidak berkaitan dengan pertentangan. Kemenangan nan dimaksud adalah embaran bahwa diikutinya ajaran-wahyu Islam meskipun kaum musyrik tidak menyukainya. Mereka akan mengajuk ramalan Selam dengan menganggapnya sebagai kebenaran dan tidak sahaja sebagai bagan loyalitas amung.[122]

Tatap pula

  • Din
  • Ar-Rabb, Al-Malik, Ilah
  • Bersuci dari hadas
  • Sarjana Muslim
  • Daftar topik agama Islam
  • Masa Asyura
  • Hidayatullah
  • Isra’ Mi’raj
  • Kemurtadan
  • Nabi Islam
  • Perbankan syariah
  • Puasa (Selam)
  • Rasulullah
  • Seni rupa Islam
  • Shiratal Mustaqim
  • Ulama
  • Masa bawah tangan puasa
  • Salafus Shalih
  • Sejarah Islam di Indonesia

Referensi

Tulisan kaki


  1. ^


    Browne, Edward G. (1889).
    Bábism.





  2. ^


    “World’s Baha’i connect with past in Israel”. 20 Januari 2007 – via Reuters.




  3. ^


    Hunter, Shireen (2010).
    The Politics of Islamic Revivalism: Diversity and Unity: Center for Strategic and International Studies (Washington, D.C.), Georgetown University. Center for Strategic and International Studies. University of Michigan Press. hlm. 33. ISBN 9780253345493.
    Druze – Simpang dari Syiah; penganutnya tidak diakui sebagai Muslim oleh kaum ortodoksi.





  4. ^


    Yazbeck Haddad, Yvonne (2014).
    The Oxford Handbook of American Islam. Oxford University Press. hlm. 142. ISBN 9780199862634.
    Sementara kebanyakan mazhab serupa dengan Islam yang preskriptif, Druze lebih seperti mana agama mandiri dengan parafrase kitab yang berbeda. Druze dianggap pula farik dari Ismaili dan tangan kanan Muslim lainnya… penyembah Druze kembali tidak mengaku sebagai Muslim…





  5. ^

    Esposito 1988, hlm. 3.

  6. ^


    “Religious Composition by Country, 2010-2050”.
    Pew Research Center. 2 April 2022. Diakses tanggal
    21 Desember
    2022
    .





  7. ^


    Reeves, J. C. (2004).
    Bible and Qurʼān: Essays in scriptural intertextuality. Leiden: Brill. hlm. 177. ISBN 90-04-12726-7.





  8. ^


    “Universal Connections . Religion | PBS”.
    www.pbs.org
    . Diakses copot
    2022-05-09
    .





  9. ^


    Esposito, John L. (ed.).
    “Eschatology”
    Perlu langganan berbayar

    .
    The Oxford Dictionary of Islam
    – via Oxford Islamic Studies Online.





  10. ^


    Coulson, Noel James.
    “Sharīʿah”
    Perlu langganan berbayar

    .
    Encyclopædia Britannica
    . Diakses tanggal
    17 September
    2022
    .




    (See also: “sharia” via
    Lexico.)

  11. ^

    Trofimov, Yaroslav. 2008.
    The Siege of Mecca: The 1979 Uprising at Selam’s Holiest Shrine. Knopf. New York. ISBN 978-0-307-47290-8. p. 79.

  12. ^

    Wasik 2022, hlm. 227.
  13. ^


    a




    b




    c



    Cornell 2007, hlm. 6.

  14. ^


    Cornell 2007, hlm. 6; Syalabi 1985, hlm. 28.

  15. ^

    Hambali 2022, hlm. 17.

  16. ^

    Syalabi 1985, hlm. 28.

  17. ^

    Syalabi 1985, hlm. 5.
  18. ^


    a




    b




    c




    1978-, Anam, Choirul,.
    Pemikiran KH. Achmad Siddiq mengenai: aqidah, syari’ah dan tasawwuf, khitthah NU 1926, perpautan agama dan Pancasila, negara kesatuan RI bentuk final, watak sosial Ahlussunnah, seni dan agama. OCLC 945650142.




  19. ^


    a




    b




    c





    Risalah ahlussunnah wal-jama’ah : berasal adaptasi menuju pemahaman dan pleidoi akidah-amaliah NU. N.U.. Pengurus Wilayah Jawa Timur. Cak regu Aswaja (edisi ke-Cet. 1). Surabaya: Khalista. 2022. ISBN 978-979-1353-36-6. OCLC 808811005.




  20. ^


    a




    b




    Abdusshomad, Muhyiddin (2008).
    Hujjah NU : akidah, amaliah, tradisi
    (edisi ke-Cet. 1). Surabaya: Khalista. ISBN 978-979-1353-06-9. OCLC 606237527.





  21. ^

    Why Selam.

  22. ^


    Nuruddin, Muhammad (2021).
    Hal-Hal nan Membingungkan Seputar Tuhan. Depok: Keira. hlm. 78. ISBN 978-623-7754-64-0.





  23. ^

    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 16.

  24. ^

    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 15.
  25. ^


    a




    b




    c



    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 17.

  26. ^

    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 15-16.
  27. ^


    a




    b



    Al-Utsaimin 2000, hlm. 21.
  28. ^


    a




    b



    Zaki 2022.

  29. ^

    Al-Utsaimin 1984, hlm. 6-8.

  30. ^

    Al-Utsaimin 1984, hlm. 8.

  31. ^

    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 18.

  32. ^

    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 21.
  33. ^


    a




    b



    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 26.

  34. ^


    “The Names and Attributes of Allah”.
    WhyIslam?. 25 October 2022. Diarsipkan berpangkal versi asli copot 2022-03-09. Diakses tanggal
    18 Maret
    2022
    .





  35. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. I/697, I/703, II/7.

  36. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. I/697-8.

  37. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. I/702.

  38. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. I/697.

  39. ^

    Jawas 2005, hlm. 5.

  40. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. II/7.

  41. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. 9-10.
  42. ^


    a




    b



    At-Tuwaijiri 2009, hlm. II/10.

  43. ^

    At-Taqwa Sabab Kull Khair.

  44. ^

    Al-Asyqar 2022, hlm. 9-10.

  45. ^

    Al-Asyqar 2022, hlm. 11.

  46. ^

    Asy-Syarif 2022.
  47. ^


    a




    b



    Philips 2006, hlm. 26.

  48. ^

    Syalabi 1985, hlm. 29.

  49. ^

    Philips 2006, hlm. 26-27.

  50. ^

    Al-Asyqar 1994, hlm. 147.
  51. ^


    a




    b




    c



    Al-Jazairy 1964.

  52. ^

    Al-Asyqar 1994.
  53. ^


    a




    b



    Esposito 1988, hlm. 7.

  54. ^

    Esposito 1988, hlm. 7-8.
  55. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f



    Esposito 1988, hlm. 8.

  56. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Sinai & Watt 2022.

  57. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 63.

  58. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 69.

  59. ^


    Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 73; Esposito 1988, hlm. 8.

  60. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 74; Sinai & Watt 2022.

  61. ^


    Sinai & Watt 2022; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 74.

  62. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 75; Sinai & Watt 2022.

  63. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2022.

  64. ^

    Al-Mubarakfuri 2022.

  65. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 77-79.

  66. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 81.

  67. ^

    Esposito 1988, hlm. 8-9.

  68. ^


    Esposito 1988, hlm. 9; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 84; Sinai & Watt 2022.
  69. ^


    a




    b




    c



    Esposito 1988, hlm. 9.

  70. ^


    Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 85-6; Al-Barrak 2010, hlm. 38.

  71. ^


    Esposito 1988, hlm. 9; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 83-4.
  72. ^


    a




    b




    Esposito 1988, hlm. 9; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 84.

  73. ^

    Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 84-5.

  74. ^


    Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 92; Esposito 1988, hlm. 10.

  75. ^

    Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 92.

  76. ^


    Esposito 1988, hlm. 10; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 92-3.

  77. ^

    Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 96-10.
  78. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g



    Esposito 1988, hlm. 10.

  79. ^

    Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 100-6.
  80. ^


    a




    b




    c



    Esposito 1988, hlm. 11.

  81. ^


    Esposito 1988, hlm. 11; Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 152-4.

  82. ^

    Esposito 1988, hlm. 75.
  83. ^


    a




    b




    c



    Esposito 1988, hlm. 68.

  84. ^


    Al-Asyqar 1994, hlm. 222; Philips 2006, hlm. 19.

  85. ^


    Philips 2006; Asy-Syatsri 2007, hlm. 218.

  86. ^

    Philips 2006, hlm. 55.

  87. ^

    Philips 2006, hlm. 73.

  88. ^

    Philips & 2006 82-4.

  89. ^

    Esposito 1988, hlm. 79-80.

  90. ^

    Philips 2006, hlm. 19.

  91. ^

    Esposito 1988, hlm. 80.

  92. ^

    Philips 2006, hlm. 21.

  93. ^

    Esposito 1988, hlm. 80-1.

  94. ^


    “MARKAZSUNNAH.COM | MENEBAR SUNNAH MENUAI HIKMAH”.
    Markaz Sunnah
    . Diakses tanggal
    2022-06-05
    .





  95. ^

    Jerry Bentley, Old World Encounters: Cross-Cultural Contacts and Exchanges in Pre-Modern Times Diarsipkan 2022-08-07 di Wayback Machine. (New York: Oxford University Press, 1993), 32.

  96. ^

    Abdurrahman 2022, hlm. 16-20.

  97. ^

    Translated by C H Oldfather,
    Diodorus Of Sicily, Volume II, William Heinemann Ltd., London & Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts, MCMXXXV, p. 217.

  98. ^


    Hawting, G. R. (1980). “The Disappearance and Rediscovery of Zamzam and the ‘Well of the Ka’ba“.
    Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London.
    43
    (1): 44–54 (44). doi:10.1017/S0041977X00110523. JSTOR 616125.





  99. ^

    Amros, Arne A. and Stephan Pocházka 2004:
    A Concise Dictionary of Koranic Arabic Diarsipkan 2022-08-07 di Wayback Machine., Reichert Verlag, Wiesbaden

  100. ^


    Nu’semen, Syekh Maulana Shilbi (2015).
    Best Stories Umar Kacang Khaththab. Puspa Swara. hlm. 19. ISBN 979-1479-85-2, 9789791479851. Diarsipkan dari versi tulus terlepas 2022-08-07. Diakses tanggal
    2016-06-02
    .





  101. ^

    Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 82.

  102. ^


    Azyumardi Azra (2006).
    Indonesia, Islam, and Democracy: Dynamics in a Global Context. Equinox Publishing (London). hlm. 9. ISBN 9789799988812.





  103. ^


    C. T. R. Hewer; Allan Anderson (2006).
    Understanding Selam: The First Ten Steps
    (edisi ke-illustrated). Hymns Ancient and Maju Ltd. hlm. 37. ISBN 9780334040323.





  104. ^


    Anheier, Helmut K.; Juergensmeyer, Mark, ed. (2012).
    Encyclopedia of Global Studies. Sage Publications. hlm. 151. ISBN 9781412994224.





  105. ^


    Claire Alkouatli (2007).

    Islam

    Perlu mendaftar (gratis)


    (edisi ke-illustrated, annotated). Marshall Cavendish. hlm. 44. ISBN 9780761421207.





  106. ^


    Ali, Jawwad (2019) [1956-1960]. Kurnianto, Fajar, ed.
    كتاب المفصل في تاريخ العرب قبل الإسلام
    [Rekaman Arab Sebelum Selam–Buku 5: Politik, Hukum, dan Tata Pemerintahan]. Diterjemahkan oleh Ali, Jamaluddin M.; Hendiko, Jemmy. Tangerang Kidul: PT Pustaka Alvabet. hlm. 165–166. ISBN 978-602-6577-28-3. Diarsipkan terbit versi tahir sungkap 2022-08-08. Diakses rontok
    2020-09-27
    .





  107. ^


    Rein Taagepera (September 1997). “Expansion and Contraction Patterns of Large Polities: Context for Russia”.
    International Studies Quarterly.
    41
    (3): 495. doi:10.1111/0020-8833.00053. JSTOR 2600793. Diarsipkan semenjak versi polos tanggal 2022-11-19. Diakses rontok
    2021-09-28
    .




  108. ^


    a




    b




    c



    Hackett & Stonawski 2022.

  109. ^


    “Mapping the Global Muslim Population: A Report on the Size and Distribution of the World’s Muslim Population”.
    Pew Research Center. October 7, 2009. Diarsipkan dari varian murni tanggal 2022-12-25. Diakses rontok
    2013-09-24
    .
    Of the total Muslim population, 10–13% are Shia Muslims and 87–90% are Sunni Muslims.





  110. ^


    John L. Esposito, ed. (2014). “Sunni Islam”.
    The Oxford Dictionary of Islam. Oxford: Oxford University Press. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-10-05. Diakses tanggal
    2020-01-20
    .





  111. ^


    Rabb, Intisar A. (2009). “Fiqh”. Dalam John L. Esposito.
    The Oxford Encyclopedia of the Islamic World. Oxford: Oxford University Press. doi:10.1093/acref/9780195305135.001.0001. ISBN 9780195305135.





  112. ^


    Al-Yaqoubi, Muhammad (2015).
    Refuting ISIS: A Rebuttal Of Its Religious And Ideological Foundations. Sacred Knowledge. hlm. xiii. ISBN 978-1908224125.





  113. ^


    A Prayer for Spiritual Elevation and Protection
    (2007) by Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Suha Susuh-Farouki

  114. ^


    Commins, David (2006).
    The Wahhabi Mission and Saudi Arabia. I.B. Tauris. hlm. vi. ISBN 9781845110802.





  115. ^

    Abu Mujahid & Haneef Oliver, Virus Wahabi, Toobagus Publishing, 2010, situasi. 120 – 121.

  116. ^


    Momen, Moojan (1985).
    An Introduction to Shi’i Selam: The History and Doctrines of Twelve. Yale University Press. ISBN 0-300-03531-4.





  117. ^


    Walter Martin (1 October 2003).
    Kingdom of the Cults, The. Baker Books. hlm. 421. ISBN 978-0-7642-2821-6. Diakses tanggal
    24 June
    2022
    .
    Ninety-five percent of Iran’s Muslims are Shi’ites.





  118. ^


    Bhabani Sen Gupta (1987).
    The Persian Gulf and South Asia: prospects and problems of inter-regional cooperation. South Asian Publishers. hlm. 158. ISBN 978-81-7003-077-5.
    Shias constitute seventy-five percent of the population of the Gulf. Of this, ninety-five percent of Iranians and sixty of Iraqis are Shias.





  119. ^


    William H. McNeill; Jerry H. Bentley; David Christian, ed. (2005).

    Berkshire Encyclopedia of World History

    Perlu mendaftar (gratis)

    . Berkshire Publishing Group. ISBN 978-0-9743091-0-1.





  120. ^


    Esposito, John, ed. (2003).

    The Oxford Dictionary of Selam

    Perlu mendaftar (gratis)

    . Oxford University Press. ISBN 978-0-19-512558-0.



    DOI:10.1093/acref/9780195125580.001.0001 – via Oxford Reference.

  121. ^


    Hillenbrand, R. “Masdjid. I. In the central Islamic lands”. Dalam P.J. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel and W.P. Heinrichs.
    Encyclopaedia of Islam Online. Brill Academic Publishers. ISSN 1573-3912.





  122. ^


    asy-Sya’syamsu, M. Mutawalli (2007). Basyarahil, U., dan Legita, I. R., ed.
    Dia Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan oleh al-Mansur, Abu Abdillah. Jakarta: Gema Insani. hlm. 8. ISBN 978-602-250-866-3.




Kutipan


  1. ^

    Istilah klasik:
    ‘ibādah nāqiṣah. Istilah kontemporer:
    ‘ibādah maḥḍah.

  2. ^

    Istilah klasik:
    ‘ibādah muta‘addiyyah. Istilah masa kini:
    ‘ibādah ghairu maḥḍah.

  3. ^

    Al-Mubarakfuri (2017:64) menyebutkan angka tahun kelahiran 571 M, lengkapnya 20 atau 22 April 571.

  4. ^

    Sejumlah riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa interval waktu antara wahyu pertama dengan ilham berikutnya yakni dua setengah atau tiga tahun.(Al-Mubarakfuri 2022, hlm. 85)

  5. ^

    Atau Waraqah bin Qushay (Esposito 1988, hlm. 9).

  6. ^

    Atau “Namus yang agung” (Esposito 1988, hlm. 9).

  7. ^

    Titah Rasulullah saw, diriwayatkan berasal Anas bin Malik,

    “Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah mempunyai dua hari raya bagi bersenang-senang dan bermain-main lega masa jahiliyah. Maka beliau berucap,
    “Aku datang kepada kalian dan kalian memiliki dua hari raya puas perian Jahiliyah yang kalian isi dengan berperan-main. Allah mutakadim menukar keduanya dengan yang lebih baik untuk kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)“

    (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Mukminat sebagai halnya kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Daftar bacaan

Abdurrahman, Dudung (2012). Siti Maryam, ed.
Rekaman Peradaban Islam: Berpunca Hari Klasik hingga Modern. LESFI. hlm. 16-20. ISBN 9795670247. Diarsipkan berusul varian asli tanggal 2022-04-06. Diakses tanggal
2019-04-06
.



Accad, Martin (2003).
“The Gospels in the Muslim Discourse of the Ninth to the Fourteenth Centuries: An Exegetical Inventorial Table (Part I)”
Perlu langganan berbayar

.
Islam and Christian-Orang islam Relations
(dalam bahasa Inggris).
14
(1). ISSN 0959-6410.



Objektif, Hajjah Amina (2002).
Muhammad: The Messenger of Islam
(dalam bahasa Inggris). Islamic Supreme Council of America. ISBN 978-1-930409-11-8.



Ahmed, Akbar (1999).
Islam Today: A Short Introduction to the Muslim World
(intern bahasa Inggris) (edisi ke-2.00). I. B. Tauris. ISBN 978-1-86064-257-9.



Al-Asyqar, Umar Sulaiman (1994).
Naḥw Ṡaqāfah Islamīyah Aṣīlah
(dalam bahasa Arab). Amman, Yordania: Darun Nafais. Diarsipkan dari varian asli tanggal 2022-05-24. Diakses tanggal
2019-04-06
.



———— (2012).
Al-Taqwā Ta‘rīfuhā Wafaḍluhā Wamaḥḋūrātuhā Waqaṣaṣ min Aḥwālihā
(dalam bahasa Arab). Amman, Yordania: Darun Nafais. Diarsipkan semenjak versi kalis tanggal 2022-07-16. Diakses copot
2019-04-06
.



Al-Barrak, Abdurrahman Nashir (2010). Abdurrahman as-Sudais, ed.
Syarḥ Ṡalāṡat al-Uṣūl. Syarḥ al-Qawā‘id al-Arba‘ Wal-Uṣūl al-Ṡalāṡah Wanawāqiḍ al-Islām Wakasyf al-Syubuhāt (intern bahasa Arab). Riyadh: Darut Tadmuriyyah. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-08-09. Diakses tanggal
2020-04-21
.



Al-Jazairy, Abu Bakar Jabir (1964).
Minhāj al-Muslim
(dalam bahasa Arab). Kairo: Darus Salam.



Al-Julayyil, Abdulaziz kedelai Nashir (2017).
Walillāh al-’Asmā’ al-Ḥusnā Fad‘ūhu Bihā
(dalam bahasa Arab). Iskandariyah: Al-Qisthawi. ISBN 978-977-430-226-8.



Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyurrahman (2017) [2001 (edisi revisi)].
Ahmar Nabawiyah
(edisi ke-22). Jakarta: Darussalam. ISBN 978-979-3407-71-5.



Al-Utsaimin, Muhammad ash-Shalih (1984).
Syarḥ Lum‘at al-I‘tiqād al-Hādī ilā Sabīl al-Rasyād
(dalam bahasa Arab). Damaskus: Muassasatur Risalah, Maktabatur Rusyd. Diarsipkan dari versi tahir rontok 2022-08-12. Diakses copot
2019-10-09
.



———— (2000).
Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāṣiṭīyah
(n domestik bahasa Arab).
1. Riyadh: Dar Ibnul Jauzy. Diarsipkan dari versi asli rontok 2022-09-10. Diakses tanggal
2019-04-26
.



Asy-Syarif, Isham polong Muhammad (24 October 2022). “Ahmīyah al-Taqwā fī Ḥayāh al-Muslim”.
Alukah
(internal bahasa Arab). Diarsipkan dari versi kudrati tanggal 2022-04-06. Diakses tanggal
6 April
2022
.



Asy-Syatsri, Sa’ad bin Nashir bin Abdul-Aziz, Dr. (2007).
Syarḥ al-Mukhtaṣar fī Uṣūl al-Fiqh
(dalam bahasa Arab). Riyadh, KSA: Daru Kunuz Eshbelia. Diarsipkan dari versi nirmala tanggal 2022-07-16. Diakses sungkap
2019-05-11
.



At-Tuwaijiri, Muhammad bin Ibrahim kedelai Abdullah (2009).
Mawsū‘at al-Fiqh al-Islāmī
(internal bahasa Arab). Amman: Baitul Afkarid Dauliyah. Diarsipkan berusul versi asli tanggal 2022-09-11. Diakses tanggal
2019-10-09
.



———— (2010).
Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān was-Sunnah
(kerumahtanggaan bahasa Arab). Qasim, Arab Saudi: Dar Ashdaa`il Mujtama’. Diarsipkan dari versi sejati tanggal 2022-05-16. Diakses copot
2019-04-19
.



Brockopp, Jonathan E. (2003).
Islamic Ethics of Life: abortion, war and euthanasia
(kerumahtanggaan bahasa Inggris). University of South Carolina press. ISBN 1-57003-471-0.



Clark, Malcolm (2011).
Selam for Dummies. Indiana: Wiley Publishing Inc. Diarsipkan dari versi kalis tanggal 2022-10-14. Diakses tanggal
2016-06-01
.



Cohen-Mor, Dalya (2001).
A Matter of Fate: The Concept of Fate in the Arab World as Reflected in Modern Arabic Literature
(internal bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 0-19-513398-6.



Cornell, Vincent J. (2007).
Voices of Islam: Voices of tradition
(intern bahasa Inggris).
1
(edisi ke-berilustrasi). Greenwood Publishing Group. ISBN 0-275-98733-7. Diarsipkan terbit versi asli tanggal 2022-08-07. Diakses sungkap
2016-06-01
.




id, 9780275987336
Curtis, Patricia A. (2005).
A Guide to Food Laws and Regulations
(dalam bahasa Inggris). Blackwell Publishing Professional. ISBN 978-0-8138-1946-4.



Eglash, Ron (1999).
African Fractals: Modern Computing and Indigenous Design
(dalam bahasa Inggris). Rutgers University Press. ISBN 0-8135-2614-0.



Ernst, Carl (2004).
Following Muhammad: Rethinking Islam in the Contemporary World
(intern bahasa Inggris). University of North Carolina Press. ISBN 0-8078-5577-4.



Esposito, John (1988).
Islam: The Straight Path
(dalam bahasa Inggris). New York: Oxford University Press. ISBN 9780195043990. Diarsipkan pecah versi nirmala terlepas 2022-10-10. Diakses tanggal
2019-10-10
.



Farah, Caesar (1994).
Islam: Beliefs and Observances
(intern bahasa Inggris) (edisi ke-5th). Barron’s Educational Series. ISBN 978-0-8120-1853-0.



———— (2003).
Islam: Beliefs and Observances
(dalam bahasa Inggris) (edisi ke-7th). Barron’s Educational Series. ISBN 978-0-7641-2226-2.



Firestone, Rueven (1999).
Jihad: The Origin of Holy War in Islam
(dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 0-19-512580-0.



Friedmann, Yohanan (2003).
Tolerance and Coercion in Islam: Interfaith Relations in the Mukmin Tradition
(dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-02699-4.



Ghamidi, Javed (2001).
Tula. Dar al-Ishraq. OCLC 52901690.



Goldschmidt, Jr., Arthur (2005).
A Concise History of the Middle East
(kerumahtanggaan bahasa Inggris) (edisi ke-8th). Westview Press. ISBN 978-0-8133-4275-7.



Griffith, Ruth Marie (2006).
Women and Religion in the African Diaspora: Knowledge, Power, and Performance
(dalam bahasa Inggris). Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-8370-9.



Hackett, Conrad; McClendon, David (5 April 2022). “Christians remain world’s largest religious group, but they are declining in Europe”.
Pew Research Center
(dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi ikhlas tanggal 2022-11-24. Diakses tanggal
31 Maret
2022
.



Hackett, Conrad; Stonawski, Marcin (5 April 2022). The Changing Global Religious Landscape
(PDF)
(Laporan). Pew Research Center. Diarsipkan
(PDF)
berusul varian kalis tanggal 2022-12-21. Diakses tanggal
2019-04-19
.
Babies born to Muslims will begin to outnumber Christian births by 2035; people with no religion face a birth dearth.



Hawting, G. R. (2000).
The First Dynasty of Selam: The Umayyad Caliphate AD 661–750
(kerumahtanggaan bahasa Inggris). Routledge. ISBN 0-415-24073-5.



Hedayetullah, Muhammad (2006).
Dynamics of Islam: An Exposition
(privat bahasa Inggris). Trafford Publishing. ISBN 978-1-55369-842-5.



Holt, P. M.; Lewis, Bernard (1977a).
Cambridge History of Islam, Vol. 1
(kerumahtanggaan bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 0-521-29136-4.



————; Lambton, Ann K. S.; Lewis, Bernard (1977b).
Cambridge History of Islam, Vol. 2
(kerumahtanggaan bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 0-521-29137-2.



Hourani, Albert (2003).
A History of the Arab Peoples
(dalam bahasa Inggris). Belknap Press; Revised edition. ISBN 978-0-674-01017-8.



Humphreys, Stephen (2005).
Between Memory and Desire
(privat bahasa Inggris). University of California Press. ISBN 0-520-24691-8.



Ibnu Baz, Abdul Aziz bin Abdullah (nd). “Ta’rīf bi Dīn al-Islām”.
Al-Imam Kedelai Baz
(dalam bahasa Arab). Diarsipkan berpokok versi kudus terlepas 2022-11-10. Diakses rontok
10 November
2022
.



———— (nd). “At-Taqwā Sabab Kull Khair”.
Al-Padri Kacang Baz
(dalam bahasa Arab). Diarsipkan mulai sejak versi tulus tanggal 2022-09-22. Diakses tanggal
6 April
2022
.



“Selam Explained”.
Why Islam?
(dalam bahasa Inggris). Diarsipkan bersumber varian asli copot 2022-11-13. Diakses tanggal
2019-04-06
.



Jawas, Yazid bin Abdul Qadir (2005).
Do’a & Takbir: Mengobati Faedah-guna dan Sihir Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah. Jakarta: Bacaan Imam Asy-Syafi’i. ISBN 978-979-3536-18-7.



Kobeisy, Ahmed Nezar (2004).
Counseling American Muslims: Understanding the Faith and Helping the People
(privat bahasa Inggris). Praeger Publishers. ISBN 978-0-313-32472-7.



Koprulu, Mehmed Fuad (1992).
The Origins of the Ottoman Empire
(dalam bahasa Inggris). SUNY Press. ISBN 0-7914-0819-1.



Kramer, Martin (1987).
Shi’Ism, Resistance, and Revolution
(dalam bahasa Inggris). Westview Press. ISBN 978-0-8133-0453-3.



Kugle, Scott Alan (2006).
Rebel Between Spirit And Law: Ahmad Zarruq, Sainthood, And Authority in Islam
(n domestik bahasa Inggris). Indiana University Press. ISBN 0-253-34711-4.



Lapidus, Ira (2002).
A History of Islamic Societies
(kerumahtanggaan bahasa Inggris) (edisi ke-2nd). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-77933-3.



Madelung, Wilferd (1996).
The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate
(dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 0-521-64696-0.



Malik, Jamal (2006).
Sufism in the West
(dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 0-415-27408-7.



Menski, Werner F. (2006).
Comparative Law in a Menyeluruh Context: The Baku Systems of Asia and Africa
(internal bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 0-521-85859-3.



Mohammad, Noor (1985). “The Doctrine of Jihad: An Introduction”.
Journal of Law and Religion
(n domestik bahasa Inggris).
3
(2).



Saat, Moojan (1987).
An Introduction to Shi`i Selam: The History and Doctrines of Twelver Shi`ism
(dalam bahasa Inggris). Yale University Press. ISBN 978-0-300-03531-5.



Nasr, Seyed Muhammad (1994).
Our Religions: The Seven World Religions Introduced by Preeminent Scholars from Each Tradition (Chapter 7)
(dalam bahasa Inggris). HarperCollins. ISBN 0-06-067700-7.



Nigosian, Solomon A. (2004).
Islam: Its History, Teaching, and Practices. Indiana: Indiana University Press. ISBN 0-253-21627-3. Diarsipkan terbit versi kudus tanggal 2022-05-03. Diakses tanggal
2016-06-01
.



Philips, Abu Ameenah Modin, Dr. (2006).
The Evolution of FIQH (Islamic Law and the Madh-habs)
(dalam bahasa Inggris). Riyadh: International Islamic Publishing House. ISBN 9960-9533-3-5.



Sinai, Nicolai; Watt, William Montgomerry (19 March 2022). “Muhammad: Prophet of Selam”.
Encyclopædia Britannica
(dalam bahasa Inggris). Diarsipkan terbit versi sejati tanggal 2022-02-09. Diakses rontok
20 April
2022
.



Syalabi, Muhammad Musthafa (1985).
Al-Madkhal fī Fiqh al-Islāmī
(dalam bahasa Arab). Beirut: Addarul Jami’iyyah. Diarsipkan terbit versi asli tanggal 2022-06-26. Diakses sungkap
2019-04-15
.



Thalal, Wisam (1 August 2022). “Maa Huwa Ta’rīf al-Islām”.
Maudhū‘
(internal bahasa Arab). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-11-11. Diakses tanggal
10 November
2022
.



Wasik, Moh. Ali (2016). “Islam Agama Semua Nabi” dalam Perspektif Al-Qur’an”.
ESENSIA: Buletin Hobatan-Guna-guna Ushuluddin. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
17
(2). ISSN 1411-3775. Diarsipkan mulai sejak versi jati tanggal 2022-11-10. Diakses tanggal
10 November
2022
.



Zaki, Ahmad (14 January 2022). “Mā Huwa Tawḥīd al-Rubūbīyah”.
Maudhū‘
(dalam bahasa Arab). Diarsipkan terbit varian sejati tanggal 2022-04-05. Diakses tanggal
26 April
2022
.



Bacaan lanjutan

  • Arberry, A. J. (1996).
    The Koran Interpreted: A Translation
    (edisi ke-1st). Touchstone. ISBN 978-0-684-82507-6.



  • Hawting, Gerald R. (2000).
    The First Dynasty of Islam: The Umayyard Caliphate AD 661–750. Routledge. ISBN 0-415-24072-7.



  • Khan, Muhammad Muhsin (1999).
    Noble Alquran
    (edisi ke-1st). Dar-us-Salam Publications. ISBN 978-9960-740-79-9.



  • Kramer (ed.), Martin (1999).
    The Jewish Discovery of Islam: Studies in Honor of Bernard Lewis. Syracuse University. ISBN 978-965-224-040-8.



  • Kuban, Dogan (1974).
    Muslim Religious Architecture. Brill Academic Publishers. ISBN 90-04-03813-2.



  • Lewis, Bernard (1984).
    The Jews of Islam. Routledge & Kegan Paul. ISBN 0-7102-0462-0.



  • ———— (1993).
    The Arabs in History. Oxford University Press. ISBN 0-19-285258-2.



  • ———— (1993).
    Islam in History: Ideas, People, and Events in the Middle East. Open Court. ISBN 978-0-8126-9217-4.



  • ———— (1994).
    Islam and the West. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-509061-1.



  • ———— (1996).
    Cultures in Conflict: Christians, Muslims, and Jews in the Age of Discovery. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-510283-3.



  • ———— (1997).
    The Middle East. Scribner. ISBN 978-0-684-83280-7.



  • ———— (2003).
    What Went Wrong?: The Clash Between Selam and Modernity in the Middle East
    (edisi ke-Reprint). Harper Perennial. ISBN 978-0-06-051605-5.



  • ———— (2004).
    The Crisis of Selam: Holy War and Unholy Terror. Random House, Inc., New York. ISBN 978-0-8129-6785-2.



  • Najeebabadi, Akbar Shah (2001).
    History of Islam. Dar-us-Salam Publications. ISBN 978-1-59144-034-5.



  • Nigosian, S. A. (2004).
    Islam: Its History, Teaching, and Practices
    (edisi ke-New Edition). Indiana University Press. ISBN 978-0-253-21627-4.



  • Rahman, Fazlur (1979).
    Islam
    (edisi ke-2nd). University of Chicago Press. ISBN 0-226-70281-2.



  • Walker, Benjamin (1998).
    Foundations of Selam: The Making of a World Faith. Peter Owen Publishers. ISBN 978-0-7206-1038-3.





Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Islam