Angka Sejuta Lima Puluh Ribu

tirto.id – Bagaimana pendirian penulisan skor dan bilangan yang benar menurut ejaan Bahasa Indonesia?

PUEBI

yaitu Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia nan digunakan sebagai kaidah penulisan termutakhir bahasa Indonesia. PUEBI ini mengambil alih EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Bahasa Indonesia mengalami perkembangan nan sangat pesat. Perkembangan ini bagaikan dampak dari keberuntungan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Penggunaan bahasa Indonesia pun semakin luas dan beragam, baik secara lisan alias tulis. Oleh sebab itu, mahajana memerlukan sosi rujukan sebagai pedoman dan acuan dalam pendayagunaan bahasa Indonesia, terutama privat pemakaian bahasa tulis, secara baik dan benar.

Pedoman ini disusun bikin menyempurnakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia nan Disempurnakan (PUEYD). PUEBI juga diharapkan boleh mengakomodasi perkembangan bahasa Indonesia yang bertambah pesat

Dikutip dari
Panduan Terlengkap PUEBI
oleh Munnal Hani’ah (2018), penyempurnaan terhadap ejaan bahasa Indonesia sudah dilakukan oleh Badan Ekspansi dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Penyempurnaan tersebut menghasilkan naskah yang pada waktu 2022 telah ditetapkan menjadi Qanun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Hari 2022 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Dalam penyusunannya, PUEBI menata beberapa rasam penulisan. Salah satu dari rasam tersebut adalah, tentang penulisan biji dan kodrat.



Adat Penulisan Nilai dan Bilangan Sesuai PUEBI

1. Cara Penulisan Angka Arab atau nilai Romawi

Sistem penulisan nilai romawi didasarkan pada sistem pengulangan, pembilangan, serta pengkhitanan. Sedangkan bakal membacanya dimulai dari kiri ke kanan. Angka romawi biasa digunakan bak lambang bilangan atau nomor.

Penulisan angka

Romawi

memperalat aksara alfabet buat menyimbolkan ponten. Angka yang lebih besar terbit 5000, di atas simbol diberikan garis horizontal. Garis tersebut signifikan perkalian terhadap angka 1.000.Cara mudah cak bagi batik kredit romawi adalah dengan menulis angka ribuan terlebih lampau, dilanjutkan dengan ratusan, puluhan, serta ketengan.



Sistem skor Romawi yang saat ini digunakan ialah pemodernan sistem adisi berpangkal sistem yang lama. Sejak tahun 260 SM sistem romawi telah terbentuk. Belaka sistem romawi nan berkembang saat ini masih belum lama ada.

Misalnya dalam penulisan angka panca adalah “V” yang mewakili penulisan “IIIII”, serta biji seratus yang ditulis dengan leter “C”.

Berikut ialah contoh penulisan angka romawi sesuai dengan

PUEBI:

Angka Arab: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,

Angka romawi: I, II, III, IV, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000), V (5.000), M (1.000.000).

Mengutip mulai sejak


Rumus Super Acuan Matematika papan bawah 4, 5, dan 6
. Terdapat beberapa resan n domestik penulisan nilai romawi, di antaranya adalah:

  • Bila angka romawi diikuti dengan kodrat yang sama maupun kian kecil ketimbang takdir romawi tersebut, maka nilai predestinasi romawi yang mengikutinya harus ditembah dengan ponten bilangan yang diikuti.

Misal: LXI = 61

Caranya adalah nilai L= 50, ditambah dengan nilai X= 10, llau ditambahkan dengan bilangan romawi I = 1. Maka hasilnya dalah L+X+I= 50+10+1= 61

  • Bila angka romawi diikuti dengan ketentuan yang nilainya kian besar, maka suratan yang mengikuti harus dikurangi dengan bilangan yang diikuti tersebut.

Misalnya: IX = 9

Caranya adalah angka romawi X=10, harus dikurangi dengan bilangan romawi I yang bernilai 1. Maka masilnya adalah X-I alias 10-1= 9.

  • Sistem tubian biji romawi cuma dapat dilakukan sebanyak tiga kali. Misalnya adalah VIII=8 dan IX=9.
  • Pengulangan poin romawi tidak berlaku lakukan kodrat V, L, dan D.

2. Tentang penulisan poin

– Ponten yang menunjukkan predestinasi besar boleh ditulis sebagian dengan huruf meski bertambah mudah dibaca.
Misalnya:

  • Dia mendapatkan sambung tangan 250 juta rupiah bikin berekspansi usahanya.
  • Perusahaan itu bau kencur saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
  • Kiriman pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya 10 triliun rial.

– Kredit dipakai buat menyatakan (a) ukuran panjang, sulit, luas, isi, dan waktu serta (b) nilai uang. Misalnya:

  • 0,5 sentimeter
  • 5 kilogram
  • 4 hektare
  • 10 liter
  • 2 perian 6 bulan 5 hari
  • 1 jam 20 menit
  • Rp5.000,00
  • US$3,50
  • £5,10
  • ¥100

– Skor dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan, rumah, flat, alias kamar. Misalnya:

  • Jalan Tanah Sirah I No. 15 atau Perkembangan Tanah Merah I/15
  • Jalan Wijaya No. 14
  • Hotel Mahameru, Kamar 169
  • Gedung Besar, Lantai II, Ruang 201

– Angka dipakai untuk menomori episode karangan alias ayat kitab suci. Misalnya:

  • Bab X, Pasal 5, halaman 252
  • Surah Yasin: 9
  • Markus 16: 15—16

– Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan dengan cara berikut. Misalnya:

  • Lima lawe uang 1.000-an (lima tali uang seribuan)
  • Tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ra-tus lima puluhan)
  • Komisi 5.000-an (persen lima ribuan)

3. Tentang penulisan ganjaran

– Ketentuan n domestik wacana yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali sekiranya dipakai secara berurutan sebagaimana dalam perincian. Misalnya:

  • Mereka menonton sandiwara radio itu sampai tiga kelihatannya.
  • Pusparagam perpustakaan itu lebih dari satu juta kancing.
  • Di antara 72 anggota yang hadir, 52 anak adam sejadi, 15
  • orang tidak setuju, dan 5 orang abstain.
  • Kendaraan yang dipesan bakal angkutan umum terdiri
  • atas 50 bus, 100 minibus, dan 250 sedan.

– Takdir pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Misalnya:

  • Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa berpangkal pemerintah daerah.
  • Tiga kampiun sayembara itu diundang ke Jakarta.

Goresan:
Penulisan berikut dihindari.

  • 50 siswa hipotetis mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
  • 3 jago kejuaraan itu diundang ke Jakarta.

– Apabila bilangan lega awal kalimat tidak boleh dinyatakan dengan satu ataupun dua kata, susunan kalimatnya diubah. Misalnya:

  • Panitia mengundang 250 orang siswa.
  • Di bufet itu tersimpan 25 skenario bersejarah.

Tulisan:
Penulisan berikut dihindari.

  • 250 sosok pesuluh diundang panitia.
  • 25 tulisan tangan kuno tersimpan di lemari itu.

– Penulisan takdir dengan huruf dibagi menjadi dua kategiri, yaitu bilanga utuh dan predestinasi pecahan. Penulisannya, dilakukan dengan cara:

a. Suratan Utuh

Misalnya:

  • dua belas (12)
  • tiga desimal (30)
  • lima ribu (5.000)

b. Kodrat Pecahan

Misalnya:

  • setengah maupun seperdua (½)
  • seperenam belas (⅟16)
  • tiga perempat (¾)
  • dua persepuluh (²∕₁₀)
  • tiga dua-pertiga (3⅔)
  • suatu uang lelah (1%)
  • satu permil (1‰)

– Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan kaidah berikut.

Misalnya:

  • abad XX
  • abad ke-20
  • abad kedua puluh
  • Perang Mayapada II
  • Perang Dunia Ke-2
  • Perang Mayapada Kedua

– Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam peraturan perundang-invitasi, tembusan, dan kuitansi.

Misalnya:

Setiap orang nan menyebarkan atau mengelilingkan rial tiruan, seperti mana dimaksud privat Pasal 23 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling kecil lama 1 (satu) tahun dan perbicaraan denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta euro).

Telah diterima uang jasa sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus lima puluh ribu mata uang) untuk pembayaran satu unit televisi.

– Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan biji dan diikuti aksara dilakukan seperti berikut.

Misalnya:

Saya lampirkan surat bahari uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima dupa rupiah panca puluh sen). Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta yen) ke atas harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.

– Bilangan yang digunakan ibarat unsur nama geografi ditulis dengan huruf.

Misalnya:

  • Kelapadua
  • Kotonanampek
  • Rajaampat
  • Simpanglima
  • Tigaraksa

(tirto.id –
Pendidikan)

Penyokong: Ega Krisnawati

Penulis: Ega Krisnawati

Editor: Alexander Haryanto


Penyelaras: Yulaika Ramadhani

Source: https://tirto.id/cara-penulisan-angka-dan-bilangan-yang-benar-sesuai-ejaan-puebi-gbri