Ayat Tentang Ekonomi Dan Penjelasannya




AYAT-AYAT EKONOMO


(DASAR EKONOMI ISLAM)


PENDAHULUAN



A.






Rataan Belakang MASALAH

Sejak Manusia dilahirkan dan beramah-tamah, tumbuhlah satu masalah yang harus dipecahkan berbarengan, adalah setiap manusia memenuhi kebutuhan arwah mereka saban? Karena kebutuhan roh seseorang tidak mengkin dapat dipenuhi oleh dirinya sendiri. Bertambah luas pergaulan mereka bertambah kuatlah ketagihan antara satu proporsional lain kerjakan memnuhi kebutuhan itu.


[1]



Kebutuhan hidup membuat manusia disebut umpama pelaku ekonomi, berkembang manusia menjadi banyak populasi dan tersebar di berbagai belahan bumi menciptakan menjadikan ekonomi semakin berkembang. Teori akan halnya bagaimana kaidah insan menunaikan janji kebutuhan hidupnya menjadi suatu disiplin hobatan, kemudian ilmu berkembang berpangkal paham-perseptif pakar ekonomi terdahulu seperti
kapitalis, komunis,

dan
sosialis,

namun teori-teori berbunga beberapa diseminasi ini memiliki banyak kesuntukan untuk diterpakan kerumahtanggaan perekenomian manusia.

Turunya agama Selam yang di panggul makanya Nabi Muhammad Saw, agama tauhid dari Sang pencipta Swt yang mengatur segal aspek roh individu, termasuk aspek ekonomi. Seiring dengan lahirnya agama Islam, maka lahirlah teori ekonomi baru yang langsung dipraktekan oleh Rasulullah Saw merupakan Ekonomi Selam, ekonomi nan berbasis pada cara ketuhanan. Hingga momen ini agama islam berkembang dan memiliki banyak pemuja yang disebut bagaikan kaum muslimin.

Hadirnya ekomi islam bagi kaum mulsimin ialah anugerah yang silam besar semenjak Almalik Swt, dimana sepanjang ini ummat manusia menganut aliran ekonomi yang tidak independen seperti rotasi kapitalis. Namun demikian haingga sekarang aliran
kapitalis
masih di terpakan dibeberapa negara di Dunia, demikian revolusi ekonomi
soialis.
Bagi suku bangsa muslimin penting bagi kita buat membedakan mana yang syariah dan mana nan konvesional n domestik ekonomi, buat itu kita harus berpegangan plong prinsip pangkal ekonomi Islam yaitu berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang ialah kitab sucinya suku bangsa muslimin. Cak semau beberpa ayat dari al-Qur’an mengenai prinsip-prinsip dasar ekonomi, bukan hanya prinsip dasar ekonomi Islam aspek ekonomi bukan sebagai halnya menciptakan ketenteraman agama dan sosialis, kewajiban manusia berkreasi dan mengakui kepemilikan individual. Semua ayat-ayat adapun aspek tersebut akan di telaah intern makalah ini.


B.




Rumusan Penyakit

Rumusan komplikasi dalam penajaman ini adalah sebagai berikut:


1.




Bagaimana takrif al-Qur’an Surah AL-Miadah (5) ayat 2 nan Merangkan tentang Prinsip-Pendirian Dasar Ekonomi, menciptakan kesejahteraan agama dan sosial?


2.




Bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an menerangkan pikulan manusia berkarya, menghindari pengangguran, dan mengakui kepemilikan pribadi?


C.




Kemujaraban Penulisan

Diharapkan penulisan makalah ini bermanfaat untuk makin mengerti dan mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an intern aspek ekonomi, sehingga bisa diterapakan dan disosialisasikan dimasyarakat. Disamping penulisan makalah diharapkan dapat memenuhi tugas perkuliahan prespektif Al-Qur’an dan Hadits akan halnya ekonomi.

BAB II

PEMABAHASAN


A.




Ayat Adapun Kaidah-Prinsip Bawah Ekonomi, Menciptakan Kesentosaan Agama dan Sosial.

Sebagai ekonomi yang berbasis syariat Islam tentunya punya beberapa mandu yang nantinya akan menjadi rujukan bakal setiap mukminat, adapun prinsip ekonomi akan dijelaskan pada Firman Allah dalam Surah al-Maidah ayat 2 berikut ini:

Artinya:
“Hai orang-orang nan beriktikad, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Tuhan, dan jangan menabrak kesucian wulan-bulan ilegal, jangan (mengganggu) hewan-hewan tenggat-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu hamba allah-makhluk yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan bersumber Tuhannya dan apabila kamu telah mengatasi ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi anda berbunga Masjidil haram, mendorongmu berbuat ikab (kepada mereka). dan bantu-menolonglah kamu dalam (melakukan) kebajikan dan takwa, dan jangan bertolong-tolongan n domestik berbuat dosa dan pengingkaran. dan bertakwalah dia kepada Sang pencipta, Sepantasnya Allah Amat berat ikab-Nya”.



[2]





Asbabun Nuzul: Ibnnu Jarir mengetengahkan sebuah hadits penyiar ikrimah yang telah berkisah: “Bahwa Hatman kacang Hindun al-Bakri cak bertengger kemaadinah berserta kafilahnya nan mengirimkan sasaran makana. Kemudian ia menjual lalu ia masuk kemadinah pergok Nabisaw; setelah itu kamu membaiatnya dan masuk Islam. Tatkala ia minta diri untuk keluar pulang, Rasul memandangnya berasal pinggul kemudian beliau bersabda kepada orang-orang nan berlimpah di sektiarnya, “ Sememangnya ia sudah mengahadap kepadaku dengan muka yang terpampang durhaka, dan engkau pamit dengan muka yang khianat.’ Tatkala al-Bakri setakat di yamamah, dia pun murtad dari agama islam. Kemudian plong wulan zulkaidah ia keluar bersama khalifahnya dengan harapan mekah. Tatkala para sahabat Utusan tuhan saw mendengar beritanya maka golongan sabah dari kabilah muhajirin dan kaum ansor bersiap-siap keluar madinah untuk menyergap yang berada da,am kalifahnya itu. Kamudian Allah Swt menutukan ayat, hai orang-orang yang berkeyakinan janganlah anda menarung syiar-syiar Allah…(QS. Al-Maidah : 2). Kemudian para sahabat mengurungkan niatnya (demi menghormati bulan haji). Hadis serupa ini mutakadim ditemukan juga oleh Asadiy.” Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Zaid kacang Adlam yang mengatakan, “ Bahwa Rasulullah saw. besama para sahabat tatkala berada di Hudaibiyah, yatu seawaktu orang-orang musyrik berbunga pemukim jihat timu jazirah arab silam cak bagi intensi melakukan umrah. Para sahabt Utusan tuhan Saw barkata, ‘Marilah kita mengahalangi mereka seperti mana (pasangan-tara mereka) mereka kembali menghalanngi kita.’


[3]



Kemudian Allah menurunkan ayat, ‘Janglah sekali-sekali mendorongmu berbuat siksa kepada mereka…”


[4]



Ayat tersebut dapat dtafsirkan sebgai berikut:

Makna ’syiar-syiar Allah’ yang paling dekat dengan ingatan ketika mengaji ayat ini yaitu syiar-syiar haji dan umrah dengan segala sesuatu yang diharamkan atas orang yang semenjana berbuat ihram haji dan umrah hingga hajinya selesai dengan mendabih kurban nan dibawa ke Baitul Bawah tangan. Maka, semua itu tidak halal buat orang yang sedang ihram, karena menghalalkannya pada waktu itu berarti menghina syiar Halikuljabbar yang telah mensyariatkannya. Dinisbatkannya syiar-syiar ini oleh Al-Qur’an kepada Allah adalah untuk menunjukkan kegaungannya dan perumpamaan pantangan berpunca menghalalkannya.

Dan yang dimaksud dengan bulan-bulan gelap merupakan bulan Rajab, Dzulqa’idah, Dzulhijjah, dan Muharram. Yang mahakuasa sudah mengharamkan bergelut plong bulan-wulan ini. Bangsa Arab sebelum islam pun mengharamkannya, hanya mereka mempermainkannya sesuai kehendak hawa nafsunya.

Al-hadyu merupakan sato kurban yang dibawa oleh cucu adam-individu yang menunaikan haji atau umrah. Dengan demikian berakhirlah syiar-syiar haji ataupun umrahnya. Al-hadyu adalah gamal, sapi, atau kambing.

Al-qalaa’id yaitu sato-hewan ternak yang dikalungi oleh pemiliknya pada lehernya sebagai pertanda bahwa binatang tersebut sudah lalu dinazarkan untuk Sang pencipta, dan dilepaskan merumput dengan objektif hingga disembelih plong musim dan panggung nazar.

Allah sekali lagi mengharamkan mengganggu orang-turunan yang mengunjungi Baitullah cak bagi mengejar karunia dan keridhaanNya. Mereka adalah khalayak-bani adam yang mengunjungi Baitul Haram untuk melakukan bazar nan legal dan mencari keridhaan Allah dengan melakukan haji maupun lainnya. Allah menyerahkan keamanan kepada mereka di Baitul Haram-Nya. Kemudian dihalalkanlah berburu selepas jatuh tempo ihram, di luar Baitul Gelap, sedangkan berburu di Baitul Haram tetap tidak diperbolehkan. Ini adalah kawasan keamanan yang ditetapkan Allah di Baitul Haram-Nya
.


[5]




Pada ayat tersebut diatas, menerangkan bilang kaidah ekonomi yaitu: Menciptakan Kesentosaan Agama dan Sosial, Agama Islam adalah agama nan damai, untuk itu dalam aspek ekonomi dimana jika terserah makhluk yang berniaga dan ia perpautan beraniaya terhadap kita pada saat sebelumnya, Allah melarang situasi aniaya tersebut. Semua ini membuktikan bahwa selam sangat mengedepankan aspek kesejahteraan dalam agama dan juga sosial.

Ekonomi Islam berfungsi sosial. Islam jika dilihat berbunga pribahasa yaitu
muamalah,
perhubungan usia yang dipertalikan oleh materi dan inilah yang dinamakan ekonomi.
Muamalah Adabiyyah
ialah korespondensi hidup yang dipertalikan oleh kepentingan moral, rasa kamanusiaan, dan ini yang dinamakan sosial.


[6]



Berdasarkan pengertian yang luas ini, Ali Fikri mengarang bebrapa jilid trik yang berjudul
Al-Muamalat.
engkau memandang bahwa tanya ekonomi atau muamalah maddiyah sanagt terik, namun memegang peranan penting sekali, karena berhubungan dengan benda dan uang yang sangat dicintai dab berhak dihati manusia. Ekonomi itulah sumber segala pekerjaan, pusat berpunca susunan alam, dan dengan ekonomi sekali lagi, manusia mencapai tingkat yang paling tinggi dari kemajuan dan kebahagian.


[7]




B.




Kewajiban Bekerja

Setiap anak adam harus berkarya cak bagi menunaikan janji kebutuhan hidupnya, karena dengan berkreasi setiap manusia akan memperoleh sesuatu yang diinginkan, mengenai kewajiban bekerja telah dijelaskan melangkaui Firman Tuhan Swt surah Al-Isra’ ayat 31 berikut:


Ÿ


w


u


r








(


#


þ


q


è


=


ç


G


ø


)


s


?








ö


Cakrawala


ä


.


y





»


s


9


÷


r


r


&








s


p


u





ô


±


y


z








9


,


»


n


=


ø


B


Î


)








(








ß


`


ø


t


ª


U








ö


N


ß


g


è


%


ã





ö





ufuk


R








ö


/


ä


.


$


­


ƒ


Î


)


u


r








4








¨


b


Î


)








ö


N


ß


g


n


=


÷


F


s


%








t


b


%


Ÿ


2








$


\


«


ô


Ü


Å


z








#


Z


Ž





Î


6


x


.






Artinya: “dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena mengalir perlahan-lahan kemiskinan. kamilah yang akan menjatah rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sepantasnya membunuh mereka yakni suatu dosa nan ki akbar.”


[8]





Pada ayat tersebut atas menyucikan bahwa Allah melarang kepada kita bakal membunuh anak keterunan kita, dikarenakan takut akan kemiskinan. Tuhan Swt menjamin rezeki setiap hambanya, setiap basyar dan semua mkhluk Almalik yang lahir ke Dunia telah di pesiapkan rezkinya. Namun demikian, rezki didapat melalui ikhtiar (usaha), Allah memerintahkan kepada manusia untuk berkarya jika mereka ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti kebutuhan akan perut dan minuman, seperti mana firman Allah intern surah al-Jumuah ayat 10:


#


s


Œ


Î


*


s


ù








Ï


M


u


Š


Å


Ò


è


%








ä


udara murni


4


q


n


=


¢


Á


9


$


#








(


#


r


ã





Ï


±


t


F


R


$


$


s


ù











Î


û








Ç


Ú


ö





F


{


$


#








(


#


q


ä


ó


kaki langit


G


ö


/


$


#


u


r








`


Ï


B








È


@


ô


Ò


s


ù








«


!


$


#








(


#


r


ã





ä


.


ø


Œ


$


#


u


r








©


!


$


#








#


Z


Ž





Ï


W


x


.








ö


/


ä


3


¯


=


y


è


©


9








t


b


q


ß


s


Î


=


ø


ÿ


è


?








Ç


Ê


É


È






Artinya: “apabila mutakadim ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di wajah bumi; dan carilah karunia Almalik dan ingatlah Allah banyak-banyak biar kamu beruntung”.



Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk mencari peranakan berpokok Allah nan telah Allah persiapkan kepada kita diseluruh permukaan bumi, dengan demikian bekerja adalah jalan yang utama intern mendapatkan rezeki tersebut. Anak, isteri dan batih telah Allah jamin akan rezekinya sahaja rezeki merupakan suatu takdir yang harus digali dan dicari kerjakan mendapatkanya, jika berusaha maka pasti akan mendapatkan, membuhuh merupakan dosa raksasa dan bukanlah jalan keluar bersumber menghindari kemiskinan.

Kemudian Firman Almalik Swt surah al-Najm ayat 39 berikut:


b


r


&


u


r








}


§


ø


Š


©


9








Ç


`


»


|


¡


S


M


~


Ï


9








ž


w


Î


)








$


t


B








4


Ó


cakrawala


ë


y











Ç


Ì


Ò


È






Artinya: “dan bahwasanya seorang anak adam tiada memperoleh selain apa yang sudah lalu diusahakannya”.



[9]





Mengenai ayat diatas seorang shahabat Nabi, Ahli kata tambahan yang utama, yang kontak didoakan secara khusus oleh Nabi sepatutnya ahli menakwilkan al Qur’an


[10]




.

yakni  Anak laki-laki Abbas Berkata : “Ayat tersebut mutakadim
dinasakh
(dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Sang pencipta:


t


û


ï


Ï


%


©


!


$


#


u


r








(


#


q


ã


Z


t


B


#


u


ä








ö


N


å


k


÷


J


y


è


horizon


7


¨


?


$


#


u


r








N


å


k


ç


J


­


ƒ


Í


h





è


Œ








?


`


»


y


J


ƒ


Î


*


Î


/








$


u


Z


ø


)


p


t


ø


:


r


&








ö


N


Í


k


Í


5








ö


N


å


k


t


J


­


ƒ


Í


h





è


Œ








!


$


tepi langit


B


u


r








Ufuk


ß


g


»


ozon


Y


÷


G


s


9


r


&








ô


`


Ï


i


B








O


Î


g


Î


=


u


H


x


å








`


Ï


i


B








&


ä


ó


Ó


x


«








4











@


ä


.








¤





Í





ö


D


$


#








$


udara murni


ÿ


Ï


3








|


=


|


¡


x


.








×


û


ü


Ï


d


u











Ç


Ë


Ê


È






Artinya: “dan orang-oranng yang beriman, dan yang momongan cucu mereka mengajuk mereka privat religiositas, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap anak adam terpukau dengan apa yang dikerjakannya


.”



[11]





Kata keterangan Khazin:

قال ابن عباس هذا منسوخ الحكم في هذه الشريعة بقوله تعالى: أَلْحَقْنا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ



.

وقيل كان ذلك لقوم إبراهيم وموسى فأما هذه الأمة فلها ما سعوا وما سعى لهم غيرهم


.

Artinya: Berkata Ibnu Abbas : (ayat) ini mansukh hukumnya dalam syariat agama ini, merupakan dinasakh dengan firman Allah ta’ala ‘kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka’.
Dan dikatakan sekali lagi, ini berperan bagi umat Ibrahim dan Musa, adapun bikin umat ini, baginya yang mereka usahakan dan yang diusahakan makanya anak adam lain.


[12]



Ayat-ayat diatas menyucikan bahwa, makhluk tidaklah mendapatkan apa-segala dalam memenuhi kebutuhan hidupnya kecuali barang apa yang diusahakan, jika seseorang kreatif dalam keadaan yang terpuruk dan miskin, kehidupannya tidak akan pertautan berubah seandainya dia enggak berusaha bagi merubahnya sendiri.

Selanjutnya akan diterangkan dalam surah al-Mudatsir ayat 38 berikut:





@


ä


.








¤


§


ø


ÿ


n


R








$


y


J


Î


/








ô


M


t


6


|


¡


x


.








î


p


o


Y





Ï


d


u











Ç


Ì


Ñ


È






Artinya : “tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang mutakadim diperbuatnya”.



[13]





Ayat ini merangkan bahwa, manusia akan diminta pertagungjawabanya akan harta, momongan, dan jabatanya. Jika kita renungkan, semua yang kita harta miliki sahaja kiriman dari Yang mahakuasa Swt, agar kita bisa memanfaatkanya dan mengelolanya, suatu detik nanti Allah nan maha n kepunyaan akan mengambil segala apa yang dititipkan kepada kita dan memnita informasi pertanggung jawaban terhadap titipan harta itu.


C.




Ayat mengakaui Kepemilikan Makhluk

Firman Almalik Swt, dalam suroh ayat 31-32:


*








û


Ó


Í


_


t


6


»


t


ƒ








t


P


y


Š


#


u


ä








(


#


r


ä





è


{








ö


/


ä


3


t


G


t


^


ƒ


Î











y





Z


Ï


ã








È


e


@


ä


.








7





É


f


ó


¡


t


B








(


#


q


è


=


à


2


u


r








(


#


q


ç


/


u


Ž


õ


°


$


#


u


r








Ÿ


w


u


r








(


#


þ


q


è


ù


Î


Ž


ô


£


è


@








4








¼


ç


m


¯


R


Î


)








Ÿ


w











=


Ï


ufuk


ä











lengkung langit


û


ü


Ï


ù


Î


Ž


ô


£


ß


J


ø


9


$


#








Ç


Ì


Ê


È










ö


@


è


%








ô


`


falak


B








lengkung langit


P


§





y


m








s


p


udara murni


Y


ƒ


Î











«


!


$


#








û


Ó


É


L


©


9


$


#








y


l


horizon





÷


z


r


&








¾


Í


n


Ï


Š


$


horizon


7


Ï


è


Ï


9








Ï


M


»


t


6


Í


h





©


Ü


9


$


#


u


r








z


`


Ï


B








É





ø





Ì


h





9


$


#








4








ö


@


è


%








}





Ï


d








t


û


ï


Ï


%


©


#


Ï


9








(


#


q


ã


Z


tepi langit


B


#


u


ä











Î


û








Í


o


4


q


u


Š


y


s


ø


9


$


#








$


u





÷


R








9


$


#








Z


p


|


Á


Ï


9


%


s


{








t


P


ö


q


n


ƒ








Ï


p


y


J


»


u


Š


É


)


ø


9


$


#








3








y


7


Ï


9


º


x





x


.








ã


@


Å


_


Á


x


ÿ


ç


R








Ï


M


»


t


ƒ


F


y


$


#








5


Q


ö


q


s


)


Ï


9








falak


b


q


ç


H


s


>


ô


è


t


ƒ








Ç


Ì


Ë


È






Artinya:
“Hai anak Lanang, pakailah pakaianmu nan indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Senyatanya Allah enggak menyukai orang-anak adam yang berlebih-lebihan. Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Sang pencipta yang telah dikeluarkan-Nya buat hamba-hamba-Nya dan (kelihatannya pulakah yang mengharamkan) rezki nan baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-bani adam yang beriman dalam hidup dunia, khusus (bakal mereka semata-mata) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menguraikan ayat-ayat itu bagi hamba allah-orang nan mengetahui.”



[14]





Internal ayat menerangkan bahwa selam mengamini adanya kepemilikan, dimana Allah mutakadim meluangkan perut, minuman dan perhiasan didalam bumi Allah swt dan akan menjadi milik orang-orang yang mendapatkan dan menggalinya. Perhiasan-perhiasan dari Allah dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di manjapada ini oleh orang-insan yang beriman dan orang-cucu adam yang tidak beriman, sedang di darul baka nanti merupakan saja bikin orang-orang yang berkepastian belaka.

Pengakuan akan kepemilikan kerumahtanggaan Islam n kepunyaan bebrap konsep merupakan:


[15]



kepemilikan yakni satu pergaulan seseorang dengan kepunyaan miliknya nan disyahkan syariah. Menurut hukum sumber akar nan nammanya harta, syah dimilki kecuali harta-harta yang telah disiapkan bikin kepentingan mahajana. Sebab-sebab kepemilikan kerumahtanggaan fiqh Islam terjadi karena:


[16]




1.




Menjaga Hukum


2.




Transaksi Pemindahan Nasib baik


3.




Perlintasan Posisi Penyerobotan

BAB III

Penali

Prinsip Dasar Ekonomi dalam al-Qur’an adalah harta yakni lemak dan pesanan dari Yang mahakuasa, prinsip bawah ekonomi juga menjaga kemaslahatan agama dan menjaga hubungan antar hamba allah maupun sosial. Kemudian mesti untuk anak adam-insan mukmin bagi berkreasi mencari lambung semenjak Allah karena Allah telah mempersiapkan buat setiap makhluk-Nya, menjagal anak atau tanggungan takut akan kefakiran tidaklah dibenarkan syariah karena itu ialah dosa ki akbar. Islam memufakati adanya kepemilikan dengan beberapa sebab yakni: Menjaga Hukum, Transaksi Hijrah Hoki dan Pertukaran Posisi Pencaplokan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Zakky Al-Kaff. Ekonomi Privat Prespektif Islam, (Jakarta: CV. Pustaka Ki ajek, 2002). Hlm.11

QS. Al-Maidah (5) : 2

Jalaluddin aS-Suyuthi. Asbabun Nuzul: sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an.Diterjemahkan oleh Tim Abdul Haayi. Cet. I (Jakarta: Gema Insani, 2008).

Shihab, M. Quraish,.
Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keharmonisan Al-Qur’an. (Piutang 5. Jakarta: Loleng Hati. 2002)

.

Al-Bayan dalam http://ad-dai.blogspot.com/2010/06/surah-najm.html/ akses 02/11/2012

Kata keterangan Khazim (4/213), dalam http://ad-pendakwah.blogspot.com/2010/06/surah-najm.html/ akses 02/11/2012

Sayyid Syekh, Teori Ekonomi Islam Prespektif Mikro dan Makro. Jurnal dan Diktat amata kuliyah Jurusan Ekonomi Islam Pasca Cendekiawan IAIN STS Jambi 2022.

Depatemen Agama RI, 2000. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra.






[1]



Abdullah Zakky Al-Kaff. Ekonomi Dalam Prespektif Islam, (Jakarta: CV. Teks Setia, 2002). Hlm.11




[2]



QS. Al-Maidah (5) : 2




[3]



Jalaluddin aS-Suyuthi. Asbabun Nuzul: sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an.
Diterjemahkan maka dari itu Tim Abdul Haayi. Cet. I (Jakarta: Gema Insani, 2008). Hlm. 212




[5]



Shihab, M. Quraish,.
Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. (Volume 5. Jakarta: Lentera Lever. 2002)
.
Hal.
202

.




[6]



Muhammad Zakky Al-Kaff,
Ekonomi Dalam Prespektif Islam.
Hlm 16




[8]



Q.S al-Isra’ (17) : 31




[9]



Q.S. An-Najm (53) ; 39




[10]



Al-Bayan dalam http://ad-pendakwah.blogspot.com/2010/06/surah-najm.html/ akses 02/11/2012




[11]



Q.S. at-Thur (52) ; 21




[12]



Tafsir Khazim (4/213), kerumahtanggaan http://ad-dai.blogspot.com/2010/06/surah-najm.html/ akses 02/11/2012




[13]



Q.S. al-Mudatsir
(74) : 38




[14]



Q.S. al-A’raf (7) : 31-32




[15]



Sayyid Syekh, Teori Ekonomi Islam Prespektif Mikro dan Makro. Jurnal dan Diktat amata kuliyah Jurusan Ekonomi Islam Pasca Intelektual IAIN STS Jambi 2022. Hlm. 29

Source: https://ekonomiqusyariah.blogspot.com/2012/12/ayat-ayat-dasar-ekonomi.html