Oleh Padri S

Basyar Semata-mata Bisa Mencela

Suatu hari, Nasruddin menghindari bersama anaknya keluar daerah tingkat. Privat perjalanan itu, sang anak asuh naik keledai sementara Nasruddin berjalan kaki sambil memegang lembar keledai yang ditunggangi anaknya.
Tiba-berangkat, seseorang menegur dan berfirman, “Betapa zaman memang telah edan, bagaimana barangkali sendiri momongan naik keledai dengan nyaman provisional ayahnya dibiarkan berjalan kaki. Alangkah momongan bengis dan tak sempat diri.”
Mendengar itu, sang momongan berkata pada Nasruddin, “Ayah, bukankah mutakadim kukatakan padamu, naikilah himar ini, biarlah aku nan bepergian kaki.” Nasruddin pun menuruti kemauan anaknya dan menuruti ucapan cucu adam yang menegurnya.
Di tengah perjalanan, mereka berpadan sekelompok orang yang juga-pula memperhatikan Nasruddin dan anaknya. “Pantaskah ayah bunda ini mengikhlaskan anaknya berjalan kaki sementara dia dengan enaknya duduk di atas keledainya. Bukan main bani adam tua yang tidak memiliki kasihan pada anaknya.”
Mendengar omongan itu, Nasruddin akibatnya mengajak anaknya naik keledai berdua untuk menyelesaikan. Mereka bertemu lagi dengan kerumunan individu yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Salah satu dari mereka berkata, “Hai teman-pasangan, coba kalian tatap, betapa kejamnya mereka, menggunakan himar nan lemah itu berdua.”
Karena tidak tahan mendengar tuturan mereka, Nasruddin dan anaknya turun dari keledai. Himar itu dituntun sementara mereka berdua berjalan kaki. Tak lama kemudian, mereka berpapakan dengan sesama orang yang sedang berjalan. Mereka berkata, “Kalian empat mata ini sudah sinting, membiarkan keledai sejenis itu saja minus dinaiki, sementara kalian berjalan tungkai sementara itu udara siang ini terlampau panas.”
Dengan kesal Nasruddin berkata plong anaknya, “Anakku, cucu adam memang bisanya saja membidas. Bukan suka-suka nan selamat berpangkal semprotan manusia tidak.”
|Telur-Telur
Sekelompok anak muda, tiap-tiap membawa telur ke sebuah pemandian Turki, kancah Nasrudin sedang menghabiskan waktu.
Ketika Nasrudin memasuki kamar mandi uap, di mana anak asuh-anak akil balig itu menengah duduk-duduk, mereka berkata: “Mari, kita sepadan-sekufu memperkirakan bahwa kita semua ini ayam betina yang sedang bertelur. Siapa yang gagal bertelur, ia harus membayar ongkos bersiram untuk semua turunan nan terserah di ruang ini.
Nasrudin setuju.
Enggak lama kemudian, masing-masing bani adam tiba menunjukkan telurnya. Mereka meminta Nasrudin menunjukkan hasil kerjanya.
“Di antara begitu banyak ayam betina,” introduksi Nasrudin, “tentu harus suka-suka ayam jantannya.”

Mungkin Ada Jalan di Atas Sana
Bilang anak pengang merencanakan cak bagi mencuri sandal Nasrudin. Mereka memanggil-manggil sang Mullah, dan menunjuk ke sebuah pohon: “Bukan seorang kembali pecah kami nan bisa memanjat pohon itu.”
“Ah, engkau tentu bisa. Akan kutunjukkan caranya,” kata Nasrudin. Setelah mencopot sandalnya dan menyelipkannya di taris pinggangnya, Nasrudin berangkat memanjat pohon.
“Nasrudin,” teriak momongan-anak asuh itu, “naik pohon tidak teradat pakai bakiak.”
Nasrudin, yang merasa harus mengirimkan sandalnya, tanpa tahu alasannya, membalas laung mereka: “Ini persiapan kalau-sekiranya ada keadaan darurat. Mungkin sempat, aku menemukan sebuah perkembangan di atas sana.”
Di dalam Masjid

Nasrudin sedang gemuk di masjid, duduk khusyuk berdoa di deretan orang-basyar yang alim. Tiba-tiba, riuk koteng di antara mereka nyeletuk: “Aku ragu, jangan-jangan, pemanas di kondominium masih menyala.”
Cucu adam nan duduk di sebelahnya berujar: “Dengan bicara seperti itu, doamu batal, lho. Sira harus mulai sekali lagi dari awal.”
“Kamu juga,” kata hamba allah nan duduk di sisi orang kedua ini.
“Alhamdulillah,” pengenalan Nasrudin keras-keras, “untung, aku tidak wicara.”

Karkorajami
“Apa itu Kar-kor-ajami?” seseorang bertanya kepada anak laki-laki Nasrudin, yang bau kencur saja diceritai mengenai tokoh-tokoh dalam khayalan.
“Logo itu berarti,” kata sang anak asuh, “makhluk nan buta, tuli, dan beloh – tapi bisa berjalan.”
“Ya,” sela Nasrudin, “dan aku yang mengajarnya tentang hal itu.”
Menakar Janjang Manjapada
Seorang rival Mullah bertanya padanya: “Mulla, berapa meterkah panjang bumi ini?”
Pada detik nan proporsional orang-orang mengusung petimati berisi jenazah ke taman bahagia.
Mullah menunjuk petimati itu dan berkata, “Pertanyaan ia! Tatap, kamu sudah mengukurnya, menghitung, dan saat ini engkau memencilkan!”

Sahibul hikayat;

Nasruddin adalah seorang orang islam yang salih, tapi kadang beliau melanggar sifat dengan sengaja melanggar bentuk – bentuk lahir dan upacara agamanya.
Pada suatu hari sepulang dari Mekkah, ia singgah di suatu kota kecil di Iran. Penduduk kota lewat menaruh puja padanya, keluar mengelukannya sehingga mewujudkan kota menjadi gempar. Nasruddin nan jenuh, menunggu sampai di pinggir pasar. Disana beliau membeli sepotong roti, terlampau memakannya di depan umum. Sementara itu waktu itu bulan Ramadhan, hari puasa bagi umat Muslim. Nasruddin yakin dalam perjalanannya dia enggak terikat pada peraturan – peraturan agama.

Tapi penganut dan penduduk lain berpikir demikian, mereka begitu dikecewakan makanya perbuatan itu, sehingga meninggalkannya dan pulang. Nasruddin dengan sreg bergumam:

‘Lihat, begitu berbuat sesuatu yang bentrok dengan maksud, rasa peduli dan hormat mereka gaib.’

Kebanyakan orang memerlukan turunan suci lakukan disembah, guru untuk dimintai nasehat. Pssssst, tahukah kamu bahwa ada persepakatan sengap – diam: Dia harus hidup sesuai dengan harapan kami, dan laksana gantinya kami akan menghormatimu. Suatu ‘permainan’ kesucian !*
Nasruddin di Liang Lahat

Pada satu malam, Nasruddin sedang jalan-perkembangan di sejauh tempat yang sepi. Saat dihadang oleh sepasukan aswa yang mendekatinya dengan kecepatan tataran, seketika imajinasinya mulai bekerja. Dia mengintai dirinya ketaton atau terampas maupun terbunuh. Ditakuti pemikiran demikian ia meloncat, menanjak sebuah dinding, segera masuk taman bahagia dan tiduran di dalam gorong-gorong lahat yang terbuka. Ia bersembunyi.

Teka-teki pada perilaku Mullah yang sial itu, membuat para penunggang kuda dan pelancong mengikutinya. Mereka menemukan dia tergeletak, tegang, dan menggigil.

“Apa yang terjadi? Sedang apa Anda di dalam korok kubur itu? Kami lihat Engkau lari terbirit-birit. Bolehkah kami menolong Anda? Kenapa Anda berada di dalam palagan ini?”

“Karena kalian banyak mengajukan pertanyaan yang tidak terlazim, maka di sana suka-suka sebuah jawaban nan jujur,” kata Nasruddin, yang kini bebas dari apa nan telah terjadi. “Semuanya tersangkut puas tesmak pandang kalian. Jika kalian ingin adv pernah sebabnya, sudah pasti aku di sini, sebab Beliau suka-suka di sini karena aku!”
Arsip ke Baghdad

Pada suatu hari seseorang menyuruh Mullah Nasruddin Effendi menulis inskripsi untuknya, “Ke mana surat itu akan ditujukan?” tanya Mullah Effendi.
“Ke Baghdad,” prolog orang itu.
“Aku lain bisa pergi ke Baghdad,” Mullah menjelaskannya.
“Tetapi Anda tak harus pergi ke sana,” jawabnya.
Kemudian Mullah Nasruddin menjernihkan, “Tak ada sendiri lagi yang bisa membawa segala apa yang saya tulis. Makara, saya harus pergi ke sana dan membacanya.”

Tembang yang Jelek

Amir kota membacakan sebuah syair yang digubahnya dan meminta pendapat Bahlul.
“Aku lain menyukainya,” sahut Bahlul.
Amir pun marah dan mewajibkan mudah-mudahan Bahlul dijebloskan ke dalam interniran.
Minggu berikutnya si amir memanggil Bahlul dan membacakan lagi di hadapannya syairnya nan lain. “Bagaimana dengan nan ini?” tanyanya.
Bahlul segera bangkit berdiri.
“Hendak ke mana kamu?” cak bertanya si amir.
“Ke sengkeran,” jawab Bahlul.

Permata

Seorang sufi nan arif melihat seorang lanang bolak-balik di jalan, dengan wajah berduka dan putus sangka.

“Apakah kamu baru saja dizalimi?” cak bertanya sang arif.

Lelaki itu berucap, “Aku ini insan asing di distrik ini. Ketika aku pergi ke medan bersiram umum, aku mempertanggungjawabkan uangku dan seluruh milikku kepada seorang penjaja makanan. Ketika aku hendak mengambilnya juga, si penjaja makanan itu memandangku ke luar berbunga kedainya.”

Sang arif bersuara: “Jangan cemas, aku tahu caranya mendapatkan pun itu semua. Kelak siang aku akan ke kedai pengasong makanan itu. Anda datang ke sana, jangan berbicara denganku, dan mintalah milikmu itu lagi.”

Lalu sang arif datang ke pengasong peranakan itu dan berkata: “Aku menengah berencana akan memencilkan haji. Karena aku punya banyak sekali emas dan permata, aku akan menitipkannya padamu. Seandainya aku tak kembali n domestik waktu tertentu, terserahlah kepadamu sekiranya kamu mau menjualnya dan menggunakan uangnya untuk amal.”
Girang sekali si penjaja makanan itu mendengar akan anda dukung berlian-permata itu.”

“Besok siang,” sahut sang arif.

Keesokan harinya sang arif itu mengisi sebuah tas besar dengan batu-rayuan dan pecahan-pecahan kaca, lalu menemui si pengasong makanan itu pada siang perian. Mata si pengasong kandungan melihat tas yang mengembang itu dan dia mendecakkan kedua bibirnya.

Kapan itu sang pendatang memasuki kedai dan berkata: “Aku menclok untuk mengambil dagangan-barangku yang kutitipkan kepadamu.”
“Oh, ya,” kata si penjaja nafkah, dan menyuruh pembantunya buat mengambilkan barang-komoditas si pengelana itu.

Tak Urusanku

Keledai Nasrudin dicuri anak adam.
Ia segera mengadu ke polisi.
“Mullah,” ujar Kepala Polisi, “ini masalah sungguh-sungguh. Kita akan berusaha keras agar orang bodoh Tuan kembali. Di samping itu, Engkau tercatat individu penting. Sekarang ceritakanlah dari mula, bagaimana hal itu bisa terjadi?”

“Karena aku tidak terserah di sana, langka bagiku cak bagi menceritakan urutan kejadian itu. Betul kan?” kata Nasrudin. “Di samping itu, bukan urusanku lakukan mengetahui hal itu.”

Hadiah

Nasrudin memiliki sebuah kabar baik untuk si Raja. Dan setelah dengan terik payah berusaha menghadap kaisar, hasilnya ia pun bisa menceritakan berita baik itu.

Raja tertumbuk pandangan gembira mendengar cerita Nasrudin. “Pilih sendiri, hadiah barang apa yang kau inginkan,” katanya.
“Lima puluh cambukan,” kata Nasrudin.
Walaupun terheran-heran, Syah memerintahkan juga agar Nasrudin dicambuk.

Momen cambukan sudah sebatas ke yang dua desimal lima, Nasrudin berteriak: “Berhenti!”
“Saat ini,” katanya, “bopong masuk temanku, dan beri kamu setengah bersumber kasih yang kuperoleh. Tadi aku telah bersumpah bikin memberinya secarik dari hasil yang kuperoleh karena kabar baik yang kusampaikan itu.”

Tataran yang Akan Dijual

Nasrudin memanjat sebuah dinding, lalu hierarki nan dipakainya ditarik dan diletakkan di kebun tetangganya.
Pemilik kebun ternyata memergokinya, dan bertanya segala apa yang sedang ia untuk di sana.

“Aku… punya sebuah strata yang akan kujual,” tutur Nasrudin berimprovisasi.
“Dasar bodoh!” kata sang tetangga. “Kebun itu bukan tempat menjual tangga.”
“Kamu yang tolol,” kata Nasrudin. “Kamu belum tahu? Tangga itu bisa dijual di mana juga.”

Sop Seksi, Tangan Hambar

Koteng laki-laki nan mendengar bahwa Nasrudin ialah orang yang amat bijaksana, bertekad mengadakan pengembaraan kekuatan menemuinya. “Aku bisa mempelajari sesuatu berpokok orang bijaksana sebagaimana ini,” pikirnya.

“Dan, pasti ada metode-metode tertentu dalam kegilaannya. Aku sendiri pernah belajar di sekolah-sekolah metafisik. Ini akan membuatku boleh membiji dan mempelajari frustasi orang lain.”

Lebih lanjut, ia mengadakan avontur yang amat melelahkan lakukan sampai ke rumah Nasrudin yang boncel, berlambak di lereng sebuah argo.

Melampaui sirkulasi udara, junjungan-laki itu melihat Nasrudin sedang membongkok di samping bara api, mencoba meniupnya ke arah tangannya yang ditekuk. Momen kehadirannya diketahui, lelaki ini bertanya kepada sang Mullah tentang barang apa nan sedang dikerjakannya.

“Menghangatkan tanganku dengan napasku,” kata Nasrudin memberi adv pernah. Setelah itu, keduanya seimbang-sama diam, sehingga pencari ilmu ini tiba berpikir apakah Nasrudin bersedia membagi kebijaksanaannya.

Sekarang, istri Nasrudin ke luar mengangkut dua mangkuk kaldu. “Mungkin sekaranglah saatnya aku mempelajari sesuatu,” prolog si pencari ilmu kepada dirinya seorang. Dengan suara keras, anda bertanya, “Segala apa yang madya engkau lakukan, Guru?”
“Meniup kalduku dengan napasku sebaiknya anyep,” kata sang Mullah.

“Tak salah lagi, ini anak adam, pasti penipu,” kata sang pengunjung kepada dirinya sendiri. “Tadi dia bilang, meniup agar panas, lampau barusan ia berkata, meniup seyogiannya dingin. Bagaimana aku bisa berkeyakinan dengan apa yang ia akan katakan kepadaku?”

Dan laki-laki itu juga pergi.
“Bagaimana pun, waktu tidak sia-sia,” katanya kepada dirinya sendiri, saat ia menuruni jabal. “Paling bukan, aku mutakadim tahu bahwa Nasrudin itu bukan koteng guru.”

Anjing di Kakinya

Nasrudin sering melanglang-jalan di kuburan, memikirkan perihal jiwa dan kematian. Suatu tahun, ketika ia sedang asyik dengan kegiatannya itu, ia meluluk seekor anjing merenyam sedang bernas di dekat sebuah makam.

Dengan marah, diambilnya sebuah tongkat dan diusirnya anjing itu. Tapi sang anjing hanya menggeram, dan sepertinya melotot akan melompat ke arahnya.

Nasrudin bukanlah orangnya nan mau sedemikian itu saja dihadapkan pada bahaya jikalau peristiwa itu memang boleh dihindari. “Duduk saja di haud,” katanya membenari sang anjing, “tidak apa-barang apa, selama dia hanya meringkuk di kaki manusia yang telah mati itu.”

Aku Berketentuan Sira Benar

Suatu mungkin Nasrudin dolan misal seorang hakim. Pada momen kasus diungkap, penuntut berbicara begitu memikat sehingga Nasrudin berteriak:

“Aku percaya, dia benar!”
Sendiri petugas pengadilan membujuk Nasrudin agar boleh bertambah membancang diri, karena pernyataan dari tertuduh belum lagi didengar.

Selanjutnya, Nasrudin juga sedemikian itu terseret oleh kepandaian wicara si tertuduh sehingga ia serampak berteriak setelah orang itu menyelesaikan pernyataannya:

“Aku berkeyakinan engkau benar!”
Petugas pengadilan merasa tidak dapat merelakan hal ini terjadi.
“Sunan, tidak barangkali keduanya setimbang-sekelas benar.”
“Aku percaya engkau pun benar!” kata Nasrudin.

Apakah Tuhan Ada?

Dalam sebuah pesta ulang musim anak komunis yang kaya raya di rumahnya, anda sengaja mengumpulkan anak-anak asuh di sekitarnya dan ingin negatif pola pikir mereka agar tidak mengenal Allah. Salah satu anak koteng bapak tenar diundang lagi. Setelah anak-anak kumpul, sang komunis berkata:

“Anak asuh-anak berbarengan, Om mau tanya, ‘Apakah Tuhan itu ada?’ Ayo jawab siapa yang bisa menjawab Paman belas kasih uang 500 ribu.”
“Sang pencipta itu ada Om,” teriak salah seorang momongan yang mengharapkan hidayah uang.
“Kalau ada, coba kamu harap persen setara Halikuljabbar,” ujar sang komunis menguji jawaban anak itu.Sahaja sang anak tambahan pula panik dan bungkam.

“Kenapa diam? pasti Tuhan tak memberi dia uang morong? Nah, coba kalau kamu minta uang setimbang Pakcik.”
“Om, minta uangnya dong,” sebut anak asuh tadi.
Lalu sang komunis itu segera memberikan selembar uang 100-an mili.
“Nah, jadi Tuhan itu lain suka-suka, karena tidak boleh memberi kalian tip. Setuju enggak.”

“Setuju…!!” Teriak anak-momongan itu silam mereka minta uang. Sang komunis segera memberikan uang jasa-uangnya.
Mendadak terdengar jeritan, semua yang hadir menuju tempat tersebut. Ternyata anjing kesayangan si komunis itu sedang sekarat akibat keracunan makanan. Sang komunis dahulu sedih dan menangis.

“Abolisi Paman, bisakah Om menghidupkan cigak kesayangan Paman itu?” pertanyaan anak sendiri kiai makrifat.
Si komunis itu hanya tungkap sambil terus menangis. Adv amat anak sang bapak itu berdoa dengan celaan kencang.
“Ya Tuhan, tolonglah Om ini. Dia kebingungan karena anjingnya Kau untuk sekarat. Ya Tuhan hidupkanlah anjing ini… karena aku berpengharapan Sang pencipta itu ada.”

Usai si anak beribadat, dengan lepas Sang pencipta, anjing yang sekarat itu mulai membaik. Semua yang hadir tersentak terkesiap. Sang komunis tersenyum senang.
“Ini nak, uang suatu juta buat kamu. Karena kamu mutakadim menolong anjing Paman,” ujar si komunis sambil memasrahkan uangnya.
“Lain Mamanda, terima kasih. Ternyata Sang pencipta itu memang ada, kan Mamak?” Kata sang anak itu lewat pergi pulang. Diikuti anak-anak yang lain serampak melempar uang 100 mili yang dipegangnya.

Cak kenapa Unta Enggak Punya Sayap

“Pecah hari ke musim,” alas kata Nasrudin kepada istrinya, “aku merasa semakin kagum akan reka cipta liwa, dan segalanya yang ada di marcapada ini dibuat demi ketenteraman manusia.”Istrinya meminta Nasrudin menjatah sebuah transendental.”Misalnya saja, bahwa dengan hidayah Allah, unta-unta itu tidak punya sayap.”
“Bagaimana peristiwa itu boleh dikatakan membantu memakmurkan kita?”

“Bayangkan! Kalau hanya unta-onta itu n kepunyaan sayap betapa mereka akan senang bertengger di atas flat dan kemudian memburukkan atap, dan kemudian tak peduli terhadap keributan yang mereka ciptakan itu.”

Arti Takdir

Beberapa kawannya minta Mullah mengklarifikasi arti takdir kepada mereka.
“Ganjaran dapat dirumuskan perumpamaan riuk satu pengajian pengkajian,” alas kata Mullah.
“Misalnya, kalau sesuatu berjalan baik dan kita mutakadim mengasa akan berjalan salah, maka kita menerimanya sebagai nasib nan baik. Sekarang kalau sesuatu berjalan jelek, dan kita telah mengharapkannya berjalan baik, maka kita sambut hal itu sebagai spirit jelek. Tetapi apabila kita mengakuri sesuatu yang baik atau buruk itu kelihatannya menclok seumpama jalan kita, maka kita tutur itu takdir.”
Undang-Undang Menemukan Barang

Pada suatu perian Mullah Nasruddin menemukan cincin berlian di jalan. dia ingin menyimpannya, tetapi menurut hukum, penemu dagangan harus pergi ke pasar dan mengemukakan kejadiannya tiga kelihatannya dengan suara yang keras.

Magrib harinya, Mullah pergi ke pasar dan berteriak tiga kali, “Saya mutakadim menemukan cincin permata.”
Dengan tiga mana tahu teriakan anak adam berbondong-bondong mengerumuni Mullah serempak bertanya, “Apa yang terjadi Mullah?”

Mullah Nasruddin menjawab, “Syariat menetapkan tiga kali pengulangan dan sejauh yang saya ketahui, saya mungkin melanggar syariat kalau saya mengulanginya catur kelihatannya. Namun saya dapat menceritakan tentang sesuatu yang lain… sekarang saya jadi pemilik cincin berlian!”

Ijma’ dan Fatwa Bid’ah

Ketika para ulama, filusuf dan para cendekiawan datang untuk memafhumi bahwa Nasruddin menodai kehormatan mereka di desa-desa terdekat dengan mengatakan: “Orang-orang yang disebut bijak adalah pandir dan bingung,” mereka menuduhnya merusak keamanan provinsi. Mullah ditangkap dan kasusnya diajukan ke Perbicaraan Yang dipertuan.

Aji: “Kamu boleh bicara lebih dulu.”
Mullah: “Berilah saya pen dan kertas.”
Maka pena dan kertas pun diberikan.
Mullah: “Bagikan pen dan kertas itu kepada sapta ulama.” Pena dan kertas pun dibagikan.
Mullah: “Biarlah mereka secara terpisah menulis jawaban atas pertanyaan berikut: ‘Apakah roti itu?’”
Ketujuh cerdik pandai itu sudah menulis jawaban masing-masing atas pertanyaan Mullah tadi. Kemudian kertas jawabannya diserahkan kepada raja yang membacanya dengan gentur satu tiap-tiap suatu:
Nan purwa mengatakan: “Roti adalah makanan.”
Yang kedua mengatakan: “Roti adalah bubuk dan air.”
Yang ketiga: “Itu yaitu adonan yang dibakar.”
Yang keempat: “Sebuah pemberian Almalik.”
Nan kelima: “Berubah-ganti, menurut bagaimana Anda mengartikan roti.”
Nan keenam: “Roti adalah zat yang mengandung nutrisi.”
Nan ketujuh mengatakan: “Tidak seorang juga adv pernah dengan jelas.”

Setelah mendengar semua jawaban itu, Mullah berkata kepada paduka, “Bagaimana Anda boleh meyakini penilaian dan pertimbangan bagi orang-orang tersebut? Jika mereka lain bisa memufakati sesuatu nan dikonsumsinya sehari-hari, bagaimana mereka bisa dengan suara buntak menjuluki saya sendiri bid’ah?”
Lakukan Segala Semua Itu?

Nasrudin tergeletak di bawah sebuah pohon murbai lega satu siang, di masa panas. Rupanya, sira sedang mengebor buah semangka nan bertaruk tak jauh berpangkal kancah itu. Tapi pikirannya sejenak berpindah kepada sesuatu yang makin tinggi.
“Bagaimana mana tahu,” pikirnya, “pokok kayu sebesar ini tapi buahnya boncel begitu? Sedang pohon yang meluas dan mudah patah namun bisa menghasilkan buah yang lautan dan segar…”
Saat Nasuridn asyik dengan lamunannya itu, start-tiba sebuah murbai jebluk dan mendarat di kepalanya yang plontos suntuk dicukur tulen.
“Aku sempat sekarang,” kata Nasrudin. “Ini ‘kan alasannya? Seharusnya aku menimang-nimang hal itu sebelumnya.”

Berita Baik

Di marcapada Timur, orang-orang nan membawa berita baik, pelahap diberi penghargaan. Dan ini dianggap perumpamaan resan-istiadat yang tak bisa dihapus.
Suatu tahun Nasrudin merasa amat gembira dengan kelahiran anaknya suami-laki. Dia mewah di paruh-paruh pasar sambil berkoar-koar: “Berkumpullah kemari! Ada berita baik!” “Apa itu, Mullah?
” Nasrudin menunggu sampai semua hamba allah hadir, kemudian berteriak: “Wahai semuanya, kumpulkanlah uang jasa bakal sebuah berita baik, berita baik bagi setiap orang di antara kalian! Ini baru berita! Mullahmu mutakadim memperoleh anugerah dengan dikaruniai seorang momongan laki-junjungan.

Di Mana Aku Duduk

Kerumahtanggaan sebuah pertemuan para Sufi, Nasrudin duduk di deretan paling belakang. Setelah itu beliau mulai berjenaka, dan lekas saja basyar-orang berkumpul mengelilinginya, mendengar dan tertawa. Enggak seorang juga yang memperhatikan Sufi tua bangka nan semenjana mencari pelajaran. Ketika penceramah tak dapat lagi mendengar suaranya sendiri, engkau pun berteriak:
“Kalian semua harus tutup mulut! Tak seorang pun boleh bicara sebatas ia duduk di tempat pemimpin duduk.” “Aku tak tau bagaimana caramu melihat situasi itu,” kata Nasrudin, “tapi bagiku, jelas aku duduk di palagan pemimpin duduk.”

Pembiasaan PADA BAJU

Nasrudin diundang berburu, semata-mata semata-mata dipinjami aswa nan lamban. Tidak lama, hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke apartemen. Nasrudin melepas bajunya, melipat, dan menyimpannya, dahulu membawa kudanya ke rumah. Sesudah hujan berhenti, dipakainya pun bajunya. Semua individu takjub mematamatai bajunya yang kering, temporer pakaian mereka semuanya basah, padahal kuda mereka lebih cepat.

“Itu berkat aswa nan kau pinjamkan padaku,” sebut Nasrudin ringan.

Keesokan harinya, sinar masih mendung. Nasrudin dipinjami jaran yang cepat, temporer tuan rumah memperalat kuda yang lamban. Enggak lama kemudian hujan abu kembali turun tebal. Aswa tuan rumah bepergian lambat, sehingga tuan rumah lebih basah lagi. Sementara itu, Nasrudin mengerjakan peristiwa yang seimbang dengan hari sebelumnya.

Sebatas rumah, Nasrudin kukuh kering.

“Ini semua salahmu!” teriak tuan flat, “Kamu membiarkan aku mengendarai jaran brengsek itu!”

“Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, tak pada baju.”

Jiwa DAN Presumsi

“Barang apa artinya usia, Mullah ?”

“Asumsi-presumsi.”

“Bagaimana ?”

“Begini. Engkau menganggap bahwa segalanya akan melanglang baik, tetapi kenyataannya lain begitu. Sudahlah itu yang disebut semangat buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa kejadian-situasi tertentu akan menjadi buruk, cuma nyatanya tidak terjadi. Itu properti namanya. Dia punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi ataupun tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan jadinya berasumsi bahwa kala nanti tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu kehidupan.”
BELAJAR KEBIJAKSANAAN

Koteng darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup berasal Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu juga bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya.

Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Jago merah katai itu ditiup-tiupnya. “Kok jago merah itu kau tiup?” tanya sang darwis. “Agar bertambah panas dan lebih besar apinya,” jawab Nasrudin.

Setelah api besar, Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke kerumahtanggaan dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian mengompori sonya.

“Mengapa sop itu kau tiup?” tanya sang darwis. “Mudah-mudahan lebih dingin dan sedap dimakan,” jawab Nasrudin.

“Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu,” ketus si darwis, “Beliau lain bisa konstan dengan pengetahuanmu.”

Ah, konsistensi.

Damba RELIJIUS

Nasrudin sedang dalam pengembaraan dengan pastur dan yogi. Pada hari kesekian, bekal mereka tinggal setengah mungil roti. Masing-masing merasa berhak memakan roti itu. Setelah debat seru, akhirnya mereka bersepakat memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh impi paling relijius. Tidurlah mereka.

Pagi harinya, ketika pulang ingatan, pastur berkisah: “Aku berfantasi melihat kristus membuat tanda salib. Itu adalah logo nan istimewa sekali.”

Yogi menukas, “Itu memang istimewa. Tapi aku bermimpi mengamalkan perjalanan ke nirwana, dan menemui medan minimum damai.”

Nasrudin berkata, “Aku bermimpi menengah kelaparan di paruh gurun, dan tampak cerminan nabi Khidir bersabda ‘Kalau ia lapar, makanlah roti itu.’ Jadi aku sederum pulang ingatan dan memakan roti itu detik itu kembali.”

API !

Hari Jum`at itu, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan tambahan pula sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,

“Api ! Api ! Api !”

Taajul saja, seisi musala terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian cak semau yang serempak bertanya,

“Dimana apinya, Mullah ?”

Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang menanya,

“Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah.”

YANG Betul-betul Moralistis

Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula kamu mendengarkan tudingan yang berapi-api dengan fakta yang enggak tersangkalkan pecah jaksa. Setelah jaksa radu dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:

“Aku rasa engkau benar.”

Petugas majelis membenari Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh penasihat hukum nan ahli mengolah logika, sehingga Nasrudin pun terpikat. Setelah pengacara radu, Nasrudin kembali berkomentar:

“Aku rasa dia bermartabat.”

Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa lain mungkin jaksa betul dan sekaligus ajuster juga betul. Harus ada salah satu nan salah ! Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:

“Aku rasa beliau etis.”
==============

TAMPAK Sama dengan WUJUDMU

Nasrudin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.

“Oh anugerah yang agung.
Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu.
Segala yang tampak oleh mataku.
Tampak seperti wujud-Mu.”

Seorang tukang melucu menggodanya, “Bagaimana jika ada orang jelek dan bodoh lewat di depan matamu ?”

Nasrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten:
“Kelihatan seperti wujudmu.”

Perusuh RAKYAT

Kebetulan Nasrudin madya ke kota prabu. Nada-nadanya ada kesibukan luar biasa di istana. Karena ingin luang, Nasrudin mencoba mendekati pintu istana. Tapi mat kodak berpose sangat siaga dan tidak palamarta.

“Menjauhlah anda, hai mullah!” teriak pengawal. [Nasrudin dikenali bagaikan mullah karena pakaiannya]

“Mengapa ?” tanya Nasrudin.

“Raja sedang mengakui pengunjung-peziarah agung dari seluruh negeri. Detik ini semenjana berlanjut perundingan berharga. Pergilah !”

“Tapi kok rakyat harus merenggang ?”

“Pembicaraan ini menyangkut semangat rakyat. Kami hanya menjaga semoga enggak ada perusuh nan masuk dan mengganggu. Kini, pergilah !”

“Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya mutakadim terserah di privat sana ?” pengenalan Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya.

Roboh KE KOLAM

Nasrudin dekat terjatuh ke kolam. Tapi orang yang lain plus dikenal berharta di dekatnya, dan kemudian menolongnya pron bila yang tepat. Namun selepas itu, setiap mana tahu bertemu Nasrudin orang itu pelalah membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nasrudin berlega hati berulang-ulang.

Suatu periode, lakukan yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nasrudin mengajaknya ke lokasi, dan bisa jadi ini Nasrudin spontan melompat ke air.

“Kau lihat! Saat ini aku telah betul-betul basah seperti nan seharusnya terjadi kalau engkau suntuk tidak menolongku. Sudah, menyingkir sana!”

Plong SEBUAH KAPAL

Nasrudin berlayar dengan kapal besar. Cuaca nur menyegarkan, hanya Nasrudin burung laut mengingatkan hamba allah akan bahaya cuaca buruk. Basyar-orang tak mengindahkannya. Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai besar menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para penumpang tiba mendeku, beribadat, dan berteriak-teriak minta tolong. Mereka berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika mereka selamat.

“Saingan-teman!” teriak Nasrudin. “Jangan abur dengan janji-taki indah! Aku menyibuk daratan!”

JUBAH HITAM

Nasrudin melanglang di jalan raya dengan mengenakan jubah hitam tanda duka, ketika seseorang bertanya, “Mengapa engkau berpakaian sebagai halnya ini, Nasrudin? Apa cak semau yang meninggal.”

“Yah,” prolog sang Mullah, “Bisa namun terjadi tanpa kita diberi tahu.”

PELAYAN Yamtuan

Nasrudin menjadi orang penting di keraton, dan bersibuk mengatur urusan di dalam istana. Satu hari tuanku merasa lapar. Beberapa koki menghidangkan suguhan yang enak sekali.

“Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah ?” tanya aji kepada Nasrudin.
“Teramat baik, Tuanku.”

Maka raja meminta dimasakkan sayuran itu setiap saat. Panca tahun kemudian, ketika bendari bakal yang kesepuluh siapa memasak masakan yang sama, yamtuan berteriak:

“Singkirkan semuanya! Aku benci makanan ini!”
“Memang sayuran terburuk di dunia, Tuanku.” sebut Nasrudin.
“Tapi belum satu minggu yang habis engkau mengatakan bahwa itu sayuran terbaik.”
“Memang bersusila. Tapi saya pelayan sultan, bukan pelayan sayuran.”

Setinggi RATA Setinggi RASA

Koteng filosof menyampaikan pendapat, “Segala sesuatu harus dibagi sama rata.”

“Aku tak berpengharapan itu dapat dilaksanakan,” kata koteng pendengar yang skeptik.

“Tapi pernahkah engkau mencobanya ?” balas si filosof.

“Aku relasi,” sahut Nasrudin, “Aku serah istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa pun nan mereka inginkan.”

“Bagus sekali,” kata sang filosof, “Dan bagaimana hasilnya ?”

“Kesudahannya ? Seekor keledai yang baik dan koteng istri yang buruk.”

MANIPULASI DESKRIPSI

Nasrudin kehilangan sorban barunya yang bagus dan mahal. Bukan lama kemudian, Nasrudin tampak mengekspresikan maklumat yang menawarkan setengah keping uang argentum bagi yang menemukan dan mengembalikan sorbannya.

Seseorang protes, “Tapi penemunya tentu bukan akan mengembalikan sorbanmu. Hadiahnya tidak setinggi dengan harga sorban itu.”

“Terimalah,” kata Nasrudin, “Seandainya sedemikian itu aku tambahkan bahwa sorban itu sudah tua bangka, kotor, dan sobek-sobek.”
UMUR NASRUDIN

“Berapa umurmu, Nasrudin ?”

“Empat puluh tahun.”

“Tapi bilang waktu yang tinggal, kau menyebut poin yang sama.”

“Aku konsisten.”

(sumber: Madanipedia)