Contoh Cerita Bergambar Tentang Hewan

Woazy.com –
Kisah Cerita binatang Satwa Pendek, Cerita Dongeng Anak asuh Sebelum Tidur. Antologi kisah pendek berikut ini ialah cerita yang dikumpulkan sebagai objek bacaan anak yang menarik dan mengandung pesan moral.

Pada setiap cerita dongeng privat kerangka cerita binatang binatang berikut terdapat poin-biji moral nan terkandung kerumahtanggaan setiap ceritanya, yang boleh dipakai umpama kampanye, nasehat dan arahan secara tidak langsung untuk anak. Silahkan disimak!

***

Kisah Buaya Yang Serakah

cerita dongeng buaya yang serakah

Di marginal sungai ada seekor buaya yang madya kelaparan, sudah tiga hari Buaya itu belum makan perutnya terasa la sekali ingin tidak ingin hari ini ia harus makan sebab takdirnya tidak bisa-bisa ia akan mati kelaparan. Buaya itu segera timbrung ke dalam Sungai ia berenang perlahan-persil menyusuri sungai mencari target.

Bicokok melihat seekor bebek yang juga medium berenang di sungai, Bebek tahu ia sedang diawasi oleh Buaya, sira segera menepi. Melihat mangsanya akan kabur Buaya segera mengejar dan akhirnya Bebekpun tertangkap.

Ampun Buaya katak, bantu jangan mangsa aku, dagingku sedikit, kenapa kamu enggak memang sa kambing cuma di dalam pangan,” ucapnya seraya menagis ketakutan

“Baik, sekarang kau antar aku ke tempat persembunyian Kambing itu,” perintah buaya dengan menunjukkan taring yang suntuk radikal.

Ki berjebah enggak jauh berpokok tempat itu ada lapangan mentah panggung Kambing berburu makan, dan benar saja di sana terserah banyak Kambing yang sedang lahap memakan suket.

“Pergi sanah, aku mau memangsa Wedus saja,” Bebek nan merasa gemar, kemudian berlari dengan kederasan penuh.

Setelah mengawasi beberapa lama, akhirnya Buaya mendapatkan satu ekor anak Kambing nan siap sira santap. “Sokong, jangan bersantap aku, dagingku lain banyak, aku masih kecil, kenpa engkau tak makan gajah saja yang dagingnya bertambah banyak, aku dapat mengantarkan ia ke sana”.

“Baik, buru-buru antarkan aku ke sana!” Anak asuh Wedus itu mengajak buaya katak ke tepi haud yang luas, di sana ada anak asuh Gajah nan segara. Buaya simultan mengejar dan menggigit kaki anak asuh Gajah itu. Walau ki akbar, tapi kulit Gajah itu sangat tebal, bintang sartan tidak bisa melukainya.

Anak Gajah itu berteriak meminang bantu kepada ibunya. Buaya terus saja berusaha mengibuli anak Gajah itu, tapi sayang konstan tidak dapat. Mendengar tempik anaknya, sekumpulan Gajah menuju dan tiba Buaya itu sampai tak dapat bernafas. Bicokok itu tidak bisa menyamai, karena ukuran ibu Gajah itu tinggal besar, ditambah dia juga gontai karena belum bersantap. Buaya itu kehabisan tenaga dan senyap.
Pesan kesopansantunan Buaya Yang Serakah

Pesan moral dan pelajaran yang boleh kita ambil ialah jika kita sudah menerima apapun meskipun katai maupun lamun sedikit berterimakasihlah dan bersyukurlah dengan apa yang sudah kita dapat.

Kisah Fabel: Ulat Yang Angkuh

Di sebuah wana nan lebat, hiduplah 2 ekor ulat. Nan satu bernama Fintu yang bersifat ramah, sedikit hati dan baik. Sedangkan nan satunya bernama Tuvi yang berwatak angkuh dan suka meremehkan satwa tak.

Pada satu hari, saat Fintu sedang berburu makanan, ia beradu Tuvi.
“Hai Tuvi, bolehkah aku mempersunting kurang makananmu?” pinta Fintu.
“Hey, Fintu! Ini makananku dan patuh makananku. Sana cari lambung nan lain!” tolak Tuvi.
“B-baiklah…” Fintu menunduk dan berlalu.

Tak periode, akan suka-suka pesta hutan. Semua binatang diundang. Putha sang burung mambang dengan gesitnya membagikan invitasi nyata daun itu dimalam waktu dan menaruhnya di depan pintu kondominium para fauna.

Belakang hari harinya, terdengar sorakan dari para sato.
“Asyik! Karuan di sana cak semau banyak alat pencernaan! Aku bisa makan sepuasnya!” sorak Cattya si anak kucing.
“Aku pula bisa makan angka-bijian, kan? Oh ya, buat para bernga kalian tenang tetapi, aku tak akan memakan kalian, mengapa!” pekik Chacky sang ayam jago.
Fintu hanya tersenyum mendengar pernyataan antiwirawan-temannya itu

Sekadar tahu-tahu…
“Ah, ini sekadar pesta kecil! Lihat tetapi, satu saat tulat, aku akan membuat pesta yang lebih besar!” Dengan angkuh Tuvi berkata.
“Tuvi! Kau tak dapat begitu!” seru Piku sang beruang madu.
“Huh! Biarkan saja!” balas Tuvi sederum pergi.

Bilang tahun kemudian, Tuvi dan Fintu sudah menjadi kepompong. Mereka menjalani kehidupan bagaikan kepompong biasa.

Bilang ahad kemudian, mereka sudah lalu keluar bermula kepompongnya. Tak disangka, sayap Tuvi ternyata berwarna hitam! Sedangkan Fintu justru bercelup-warni.
Tuvi tahu, ini akibat keangkuhannya. Sira sangat menyesal.

Tamat

Cerita Gajah, Munding dan Macan

Suatu hari ada seekor kerbau mencari gajah didalam hutan. Kerbau tersebut mencari gajah bagi menemaninya mencari makanan dihutan. Pasca- lama berburu hasilnya kerbau mematamatai gajah yang sedang melanglang. Gajah tersebut ingin menemani munding cak bagi mencari perut, tetapi sebelum berbenturan gajah si mahesa mendapati harimau terlebih dahulu. Sang mahesa juga meminta macan lakukan menemaninya berburu makanan dihutan dan harimau mengakui ajakannya. Sesudah kerbau mengumpulkan gajah dan harimau. Kemudian mereka berusaha melakukan perburuan kandungan bersama. Mereka berusaha menangkap hewan hewan lain dan merebut peranakan hewan lain juga. Ketiga sato itu bekerja proporsional untuk memburu makanan dihutan.

Hewan dabat tersebut mulai dari pagi sampai senja mencari makanan. Mereka berdampak menangkap dabat lain dan merebut makanannya. Beraneka rupa jenis makanan dikumpulkan mulai dari biji kemaluan buahan sampai fauna sato roh. Harimau menunjuk kerbau bikin membagi makanannya. Munding tersebut menghitung banyaknya lambung dan membagi tiga dengan objektif. Si macan merasa tidak netral dan marah, akhirnya ia menerkam mahesa dan tumpukan makanannya menjadi bertambah. Setelah itu harimau menunjuk gajah bikin memberi makanannya. Akhirnya karena harimau merasa masih sedikit akhirnya beliau juga mencekau gajah. Harimau tersebut serakah karena merasa kekurangan lambung dan menerkam kedua temannya tadi.

Pesan moral bersumber contoh
cerita cerita binatang
singkat diatas ialah jangan memiliki resan serakah dan kurang hendaknya tidak dijauhi oleh orang lain. Karena pada suatu hari kita akan membutuhkan bantuan manusia tak juga. Belaka pada jadinya orang lain lain mau cak bagi membantu kita.

Fabel: Semut dan Belalang

cerita hewan semut dan belalang

Di periode panas yang suam dan kilap sedikit menggoda Belalang untuk memainkan biola kesayangan sambil bergamat dan menari. Hampir setiap harinya itulah yang dilakukan belalang. Ia tidak terpikir untuk melakukan aktifitas lainnya seperti bekerja maupun bersiap untuk mengumpulkan bekal hari dingin.

Minus pun enggak perkariban terniat dalam benak belalang bahwa musim semok yang sedang dinikmatinya sekarang sudah akan berakhir. Musim sensual yang membuatnya ceria telah akan berganti ke musim dingin, dimana hujan abu akan anjlok dengan lebat disertai suhu udara yang sangat rendah.

Disaat belalang madya asiknya bermain biola, dia melihat semut yang semenjana giat melewati rumahnya. Belalang nan masih riang tersebut ingin mengajak semut bermain bersama dan semut pun diundangnya untuk bersenang-senang ke kediaman belalang.

Tidak disangka walang ternyata semut menolak undangan belalang dengan santun, semut berucap puas walang,
“Pemaafan Walang, aku masih ingin bekerja buat pelepas di musim dingin. Aku harus mengumpulkan cadangan rezeki nan banyak serta memperbaiki gelanggang tinggal agar lebih suam.”

“Berhentilah memikirkan hal nan tidak utama semut, mari kita bernyanyi dan bersenang-gemar, ayolah nikmati hidup kita”, Bantah belalang. Belalang pun masih dengan kebiasaannya untuk bersenang-gemar tanpa memikirkan apapun.

Lain disangka perian panas berakhir jauh lebih cepat berpokok pada kebanyakan. Belalang yang teradat gembira lantas nanar enggak main. Dia tidak memiliki persediaan makanan yang patut ditambah rumahnya nan kemungkus dan tak layak huni karena diterjang badai.

Dengan harapan tinggi dan letoi walang menuju flat semut dan menanyakan uluran tangan untuk diperbolehkan sangat bersama dan meminta makan. Mendengar petisi tersebut semut menjawab, “Maafkan aku belalang aku enggak bisa membantumu, rumahku terlalu sempit untukmu, dan bekalku doang pas buat keluargaku semata-mata”.
Belalang hasilnya lagi menyingkir kondominium semut dengan rasa menyesal dan tersentuh perasaan. Dalam hati dia bergumam, “Andai namun aku mengikuti nasihat semut detik itu bakal bekerja keras, pasti saat ini aku boleh kenyang dan tidur nyenyak di n domestik kondominium”.

Tamat.

Pesan akhlak mulai sejak cerita fabel ini: Gunakan waktumu sesegak baiknya untuk hal nan bermanfaat, karena apa nan terjadi jemah musim kita bukan relasi tahu.

Cerita Dabat: Keharuan Seekor Anjing

Pagi yang sejenis itu kotong dengan rasa si Anjing dalam menanamkan hatinya pada rama-rama yang semenjana menari-nari di taman detik si Anjing menjaga rumah majikannya nan bernama pak Bolot. Keharuan sang Monyet datang di saat joget kupu-kupu semakin indah dan semakin lucu.

Si Anjing mengepas untuk menirukan tarian kupu-kupu, saja tidak boleh dicapainya. Cigak berbicara.
“Kenapa aku lain bisa seperti mereka., sementara itu kata pak Bolot aku cantik?” kata si Kera kesal
“Percuma aku cantik kalau tidak dapat berjoget.” Si Beruk tetap mengepas mengimak kupu-kupu semata-mata ia taat lain boleh.
Dengan keharuan itu si Anjing menangis. Si Kupu menyirat celaan tangisan sang Anjing, sangat mendekatinya.
“Ketek, kenapa kau menangis?” pertanyaan sang Kupu.
“Aku tidak bisa goyang badan dan pusing sepertimu! Sedangkan pengenalan majikanku aku dahulu cantik.” Jawab si Anjing. Si Kupu mencoba menasehati si Anjing. Tidak lama kemudian turunlah hujan. Si Kupu bersama lawan-temannya segera meninggalkan mencari tempat berteduh.

Selepas beberapa hari. Si Anjing merusak ujana di sekeliling rumah paket Bolot, sepatutnya sang Kupu bersama antitesis-temannya tidak pula dapat ki berbahagia di taman. Setelah beberapa lama, datanglah si Kupu bersama antitesis-temannya. Si Kupu melihat si Anjing yang sedang merusak ujana menjadi marah.

“Tunggu…, kenapa kamu merusak taman disini?” tanya si Kupu
“Memangnya kenapa? Ini ketel tama kepunyaan majikanku? Bukan milikmu?”
“Memang ini bukan tamanku! Tapi kau telah subversif pokok kayu yang tidak bersalah!” pertengkaran semakin gaduh, sahaja tekor mereda saat pak Bolot datang dengan tampang berang karena melihat tamannya yang indah menjadi ropak-rapik.
“Kali yang telah merusak tamanku ini?” tanya buntelan Bolot. Sang Anjing kemudian mengaku jika anda yang negatif taman. Ia juga memberikan alasannya.

Ternyata si Anjing mutakadim menganggap takdirnya kupu-kupu sudah lalu maling madu nan cak semau pada bunga. Pak Bolot tersenyum, ia kemudian menjelaskan bahwa rama-rama tidak mencuri madu. Juru goyang pinggul, histeris dan menghisap madu adalah kodrat setiap kupu-kupu. Si Anjing kini siuman akan kesalahannya. Ia taajul minta maaf puas si Kupu dan teman-temannya, ataupun pada pak Bolot.

Cerita Cerita binatang: Dengki Hati Si merpati

Seharian ini, Merpati iri hati pada Tekukur. Merpati merasa jatah jagungnya makin sedikit dibandingkan dengan Tekukur. Merpati menganggap pemiliknya sudah enggak menyayanginya pun.

“Pemilikku lebih cak acap Tekukur,” batin Merpati spontan memperhatikan si pemilik nan kian banyak memberikan jagung di tempat makan Tekukur. Merpati pun sedih.

Mau rasanya ia kabur dari sangkar. Tapi ia tak mau melakukannya, karena esok ada perlombaan balap Merpati yang harus diikuti. Ia pun berpretensi memenangi perlombaan kiranya boleh membanggakan pemiliknya.

Tahu-tahu, Merpati mendengar suara di kebun mentimun di belakang kondominium. Beliau melihat Kancil yang hendak mengambil buah mentimun.

“Kancil…” panggil Merpati.

Kancil terkejut dipergoki Merpati.

“Magfirah, aku lapar. Nanti aku gendong bijinya sebgai silih,” kata Napuh pelan.

“Bukan itu, aku butuh saranmu,” pembukaan Merpati.

Kancil lalu menumpu sangkar Merpati. Merpati menceritakan kegundahan yang sedang dirasakannya. Dengan seksama Pelanduk mendengarkan keluh kesah Merpati.

Selesai Merpati bercerita, Kancil menjatah saran.

“Jangan seperti itu Merpati, mungkin pemilikmu bukan mau dia terlalu gemuk.”

“Memangnya kenapa kalau aku jadi berada lusa?”

“Nanti terbangmu lambat.”

Merpati menggeleng. “Itu tidak mungkin. Aku malah bisa keruh lebih cepat,” kata Merpati dengan sombongnya.

Kancil saja tersenyum lalu beranjak menjauhi. Namun, Merpati mencegahnya.

“Kancil, anda hendak ke mana?”

“Kembali ke hutan. Aku kan sudah memberi saran sebagai halnya maumu.”

“Tak itu saran yang kumau.”

“Lalu barang apa keinginanmu?”

“Aku mau makan lebih banyak jagung seperti Puter.”

Kancil berpikir dalam-dalam sejenang. Lalu bertutur, “Ia makan di sangkarnya Puter.”

“Caranya?”

“Dia bujuk Tekukur kendati sira kepingin bertukar sangkar saat bersantap milu.”

Merpati mengangguk. Napuh pun mohon diri pergi.

***

Sehabis Kancil pergi, Merpati membujuk Tekukur untuk bertukar medan saat bersantap. Awalnya Tekukur enggak bersedia. Tapi karena Merpati terus memaksanya, maka Dederuk lagi terpaksa menuruti.

Kemudian hari harinya selepas si tuan pergi seusai membagi bersantap jagung. Merpati dan Terkukur bertukar sangkar. Di sangkar Puter, Merpati lahap memakan jagung yang berjumlah banyak. Merpati menjadi kekenyangan. Dengan terbengkil-bengkil, Merpati kembali ke sangkarnya.

Bukan lama kemudian, sang pemilik mengeluarkan Merpati yang masih kekenyangan dari sangkar. Lalu membawanya ke kompetisi balap Merpati.

Sayang, di perlombaan Merpati yang masih kekenyangan tak bisa terbang cepat sehingga kalah. Sang empunya pula ke rumah dengan durja sedih. Merpati dikembalikan ke sangkarnya.

Di internal sangkarnya, Merpati terpandang menyesal tak menuruti saran Kancil. Beliau menceritakan kekalahannya puas Tekukur.

“Merpati, kamu mudah-mudahan bukan perlu iri lever. Pemilik kita sengaja memberimu sedikit jagung agar kamu boleh terbang cepat dan menang,” celethuk Dederuk dari dalam sangkarnya.

Merpati sipu dan tersentuh perasaan mendengarnya. Sira pun menyesali sesuatu nan sudah lalu tidak ada gunaya

baca sekali lagi: 10 Cerita Motivasi Inspirasi, Kisah Bijak Ringkas Pemberi Vitalitas

Kisahan Fabel: Madukara dan Semut

cerita fabel lebah dan semut

Dahulu sreg zaman Rasul Sulaiman, hidup banyak sekali lebah. Salah satu di antaranya yaitu Dodo. Dodo adalah anak kerawai yang sudah ditinggal lengang ibunya. Waktu itu ibunya meninggal digigit ketonggeng. Sekarang sira hidup sebatang kara. Maka dari itu karena itulah ia memutuskan lakukan arwah menjajat. Hingga akhirnya ia tiba di gurun pasir nan luas. Di paruh gurun itu Dodo merasa haus dan lapar.

“Aku harus taajul mencari bersantap dan air, tapi aku harus berburu di mana?” pikir Dodo. Tetapi Dodo tidak mau menyerah. Ia tarik urat mencari makanan dan air. Setelah cukup lama kusut, mulai sejak kejauhan Dodo mengaram air dan kandungan. Namun pasca- mendekat, ternyata yang dilihatnya hanyalah hamparan kersik halus nan luas. Maka dengan kekesalan, Dodo juga mangut menyelusuri sahara. Tidak berapa lama kemudian ia bersesuai seekor semut nan madya kesusahan mengirimkan telurnya. Dodo kembali mendekati semut itu.

“Hai, semut. Siapakah namamu?”
“Namaku Didi. Namamu siapa?”
“Aku Dodo. Beliau cak hendak jadi sahabatku?” Didi menganggut senang.
“Baguslah! Kalau sejenis itu mari kita berburu air dan makanan bersama?” Didi lagi menganggut.

Mereka bergegas pergi bagi mengejar makanan. Setelah pas lama menyusuri gurun, mereka menemukan sebuah alat penglihatan air yang berair bersih dan segar. Di samping netra air itu terletak sebatang tanaman kurma yang berakibat lebat dan sangat manis. Didi dan Dodo sangat gembira. Mereka segera minum dan makan sepuasnya.

Setelah mereka betul-betul kenyang, mereka segera mencari palagan suntuk. Dua hari kemudian mereka menemukan arena lalu yang menurut mereka tepat. Yakni di sebuah padang rumput yang luas. Mereka tidak akan kekurangan perut karena di siring padang suket itu terdapat banyak tanaman buah-buahan dan sebuah netra air yang lampau bersih. Didi dan Dodo hidup dengan berdamai. Semakin hari persahabatan mereka semakin rapat persaudaraan. Mereka kembali nyawa dengan aman, tenteram dan bahagia.

Narasi Takhayul Rusa dan Labi-labi

Hiduplah seekor menjangan pada zaman sangat. Ia habis sok lagi pemarah. Majuh ia meremehkan kemampuan sato enggak.

Pada satu hari si menjangan berjalan-jalan di pinggir tasik. Ia berbenturan dengan labi-labi yang terlihat hanya mondar-mandir hanya. “Kura-kura, apa yang sedang engkau lakukan di sini?”

“Aku sedang berburu sumber penghidupan,” jawab si katung-katung.

Si menjangan tiba-tiba marah mendengar jawaban si lelabi. “Jangan beraga beliau, hei kura- penyu! Engkau namun mondar-mandir saja doang rangah tengah mencari perigi penghidupan!”

Si kura-kura berusaha mengklarifikasi, semata-mata sang rusa taat murka. Lebih-lebih, si rusa mengancam akan mulai tubuh si kura-kura. Si lelabi yang jengkel hasilnya menantang untuk mengadu kemujaraban betis tungkai.

Si rusa adv amat murka mendengar tantangan sang kura-kura untuk mengadu betis. Ia juga meminta mudah-mudahan sang kura-kura menyepak betisnya terlebih dahulu. “Tendanglah sejadi-jadinya, sebisa yang engkau bisa buat!”

Si kura-katung tak bersedia melakukannya. Katanya, “Jika aku menendang betismu, anda akan jatuh dan tidak bisa membalas menendangku.”

Si rusa kian marah mendengar mulut si kambar- limpa. Ia pun bersiap-siap lakukan mendepak. Kamu berancang-ancang. Ketika dirasanya tepat, ia pun menendang dengan kaki depannya sehebat-hebatnya.

Ketika si rusa membacokkan kakinya, si penyu-kura segera memasukkan kaki-kakinya ke dalam tempurungnya. Tendangan kijang saja tentang tempat kosong. Sang rusa dulu marah mendapati tendangannya tidak mengena. Ia lantas start tempurung si kura-kura dengan awet. Akibatnya tubuh si lelabi terbenam ke n domestik tanah. Si Kijang menyangka sang labi-labi telah mati. Ia pun menjauhi si kura-kambar.

Si lelabi berusaha keras keluar terbit tanah. Sehabis seminggu berusaha, si kura-kambar akhirnya berhasil keluar dari kapling. Ia lampau berburu sang rusa. Ditemukannya si rusa sehabis beberapa hari mencari. “Bersiaplah Menjangan, kini giliranku bagi menendang.”

Si menjangan hanya memandang remeh kemampuan si lelabi. “Kerahkan segenap kemampuanmu bakal menendang betisku. Ayo, jangan ragu-ragu!”

Si kambar-kura bersiaga dan mengambil awalan-ancang di medan jenjang. Ia sangat menggelindingkan tubuhnya. Momen hampir mulai di damping tubuh si kijang, ia pun menaikkan tubuhnya hingga tubuhnya menyimpang. Si lelabi mengincar hidung si rusa. Serupa itu kerasnya tempurung si limpa-katung mengena setakat alat pencium sang menjangan abtar. Seketika itu sang kijang nan berlagak itu lagi tenang.

Pesan Kepatutan dari Kisah Dongeng Binatang Fabel Rusa dan Lelabi adalah jangan menggadang dan meremehkan kemampuan orang lain. kecongkakan semata-mata akan mendatangkan kemalangan dan penyesalan di kemudian periode.

Cerita Dongeng: Kera yang Cerdik

Periode hujan sudah datang seminggu terakhir. Kera-kunyuk nan tinggal di lereng ancala sedang bimbang. Mereka pusing, haruskan mencari tempat lain yang aman? Atau mengungsi ke rumah-rumah warga kampung di sumber akar lereng? Mereka adv pernah, lahan di lereng giri telah gundul dan kera-kera lanjut akal itu merasa sekejap lagi akan longsor karena hujan abu.

Di pangan kerumahtanggaan lereng gunung tempat tinggal kera-ketek itu, hiduplah seekor ular bura sanca ki akbar. Ular ari sanca ialah pemangsa nan hebat. Beliau membuat sarang di lulusan pohon yang ditebang. Ular cindai sanca arwah menyendiri, tenang, dan menunggu sesuatu kerjakan dimangsa. Ketika lapar tiba, ular air sanca berwarna cokelat motif batik itu keluar dari sarang.

“Mendung!” gumam si sanca. “Mulai gerimis! Sececah sekali lagi hujan pasti lebat. Aku suka sekali. Saat seperti ini banyak sesuatu nan boleh kumangsa.”

Ular itu adv pernah setiap hujan abu jatuh satwa-binatang penghuni hutan di lereng ancala hanya boleh bernaung, kadang di bawah tumbuhan, kadang di goa-goa kecil bekas persembunyian mereka. Tidak banyak yang bisa mereka bagi selain bernaung menunggu hujan reda.

Sang sanca segera melata, mengendus aroma daging calon mangsanya. Lidahnya menjulur-julur lucu. Saat berjalan santai di asal hujan, si piton kembali mematamatai seekor kera mungil nan sedang beristirahat di dasar pohon aren. Cengkok itu menggigil.

“Ah, santap siang yang enak ini,” gemam Sanca. Dia sudah lalu memisalkan kelezatan setiap dim tubuh kera yang renyah. Pasti gurih! batinnya. Andai doang semua itu bisa dilakukannya dengan mudah. Kemudian beliau berburu-cari kebijakan buat segera menyergap si kera agar tepat sasaran.

Sesampainya di dekat kunyuk boncel itu, si piton mendengar si kunyuk sedang merintih, seperti kesakitan. Si piton berangkat-tiba berubah pikiran. Ah, sakit apa engkau? Soal Piton dalam lever.

Piton pun melata mendekati beruk nan menggigil dan merintih sendirian.

“Hei, Kera? Kau menggigil? Kau merintih? Kau lindu? Demam?” tanya Sanca sehabis menampakkan diri di depan ketek kecil itu.

“Piton? Kau membuatku terperangah. Cak hendak ke mana kau, hujan-hujan angin seperti ini?”

“A-aku. Aku ingin terlampau saja. Aku gemar hujan-hujanan. Karena aku boleh bermain air. Kau belum jawab pertanyaanku, Maskapai?” pembukaan Piton lagi.

“Hmm, ya, kakiku memang sedang gempa bumi. Seseorang tadi membuat perangkap di ujung pangan. Aku sempat terjepit jebakan besi. Aku dikira tikus barang apa, ya? Dijebak dengan benda mirip perangkap tikus. Lihat ini, kakiku luka. Untung aku dapat melepaskan diri,” erang Kera.

“Aih, lukamu lumayan parah, Perseroan. Darah masih membasut, tuh! Jikalau kau bukan bersihkan bisa membusuk kakimu.”

“Benar juga. Akan cak semau banyak kuman sepertinya. Dan sekarang aku sudah merasakan ada kuman-kuman menjalar di tubuhku. Ah, jangan-jangan sebentar juga aku sirep memburuk, berbelatung. Bagaimana ini, Piton? Ah, kenapa kau bukan bersantap aku sekadar? Cepatlah!” kata Kera memelas.

Sanca rendah bimbang. Kamu merasakan dilema, perutnya memang lapar, tetapi ia risi memisalkan anjing itu telah dipenuhi bakteri yang selintas lagi membusuk.

“Ah, lain, lain. Aku tak tega, Kongsi. Kau sedang teraniaya. Enggak boleh memangsa tandingan nan sedang teraniaya.”

Padahal dalam hati, Piton meleleh jikalau kuman internal kera itu akan berpindah ke tubuhnya. Selera makan Piton hilang tahu-tahu.

“Oh, begitukah, Kawan?”

“Ya, tentu sekadar!’

“Baiklah, kalau serupa itu aku akan mencari air di kali besar bikin menerangkan lukaku ini. Bisa aku mohon diri?”

“Baiklah. Kau mati saja, Kawan. Lain siapa aku tak akan memburumu. Walaupun kau sudah sehat kembali.”

“Kau janji, Piton?”

“Iya. Aku taki. Sana, pergilah. Sembuhkan lukamu suntuk. Aku pun kepingin melanjutkan perjalananku. Aku cak hendak cari tupai saja. Sebenarnya aku sedang lapar,” tutur Sanca.

“Hmm, baiklah. Selamat berburu, Perseroan! Mudah-mudahan kau bisa tupai yang gemuk.”

“Peroleh karunia, Kunyuk.”

Ular sanca itu melata bertambah dulu, menjauhi cigak mungil yang banyak akal. Sang Kera saat ini terbengong-bengong. Intern hati anda tertawa sederum bergurau, “Begitu mudah menanam diri dari gertakan bedudak. Tak kusangka, meski tampilannya menyeramkan kadang ia baik juga. Pantas, waktu ini petuah seperti piton itu buruk perut diburu basyar, dijadikan satwa piaraan. Ya, ternyata mereka memang lucu dan sedikit lompong. Mungkin karena itulah mereka mudah dijinakkan. Ah, terserah saja lah.”

Cerita Hewan: Kera Gunung, Keledai dan Macan tutul

Satu hari seekor keledai menghindari mencari seekor cigak ardi ke sebuah giri yang sangat tinggi, orang bodoh itu sengaja mencari beruk dolok bagi berburu bersama di sebuah wana yang cukup lebat dan tak lama keledai itu menaiki gunung kesannya beliau menemukan seekor ketek bukit sedang melanglang. Kemudian monyet itu engkau jakal kerjakan berburu bersama dan akhirnya cengkok argo itu mengakuri pelawaan dari sang keledai, sekarang sang keledai dan beruk bukit meninggalkan ke alas lebat itu semata-mata sebelum mereka memasuki pangan itu si keledai menangkap tangan seekor mancan noktah yang sedang tergeletak di sebuah tumbuhan besar. Si orang bodoh kemudian mengajak macan tutul itu pergi berburu bersama dan maung noktah itupun menerima ajakan sang orang bodoh.

Setelah sang keledai mengumpulkan n antipoda berburunya yaitu Anjing gunung dan Macan Tutul masa ini mereka pergi bersama-sama memasuki hutan lebat bikin mengejar bersama, mereka menangkap hewan-hewan dengan kerjasama yang baik dabat apapun bisa mereka tangkap dengan mudah mereka berburu mulai pecah pagi periode sampai dengan sore hari. Mereka bertelur mengumpulkan sato-sato tangkapannya kemudian mereka bawa ke tempat terbuka dan mereka tumpuk hewan-hewan hasil buruan mereka. Fauna hasil buruan mereka terdiri dari seekor kelinci, kambing, rusa, kerbau, kijang dan uncal, masa ini waktunya mereka membagi-bgaikan satwa tangkapan mereka.


baca lagi:
10 Cerita Rakyat Indonesia, Cerita Mitos Daerah Yang Paling Naik daun


Sang macan titik menunjuk si keledai untuk menjatah fauna-binatang itu “Keledai silahkan kau bagi ki gua garba-makanan itu” Perintah si macan tutul habis keledai itu menotal dengan gemi hewan tangkapan itu, setelah si keledai menotal anda membagikan hewan-dabat itu secara objektif dengan membagi tiga bagian yang sama banyak. Melihat pembagian itu sang maung tutul sangat marah kemudian dia merangkam sang keledai hingga himar itu mati dan saat ini tumpukan makanan telah lebih. Kemudian si macan tutul menoleh ke arah anjing argo “Sekarang ia bagikan hewan-binatang itu”. Perintahnya dengan murka, kini sang kunyuk jabal memfokus rezeki itu anda menumpukan pun binatang-binatang yang telah dibagikan oleh si kedelai menjadi tumpukan yang besar kemudian dia menggigit seekor kelinci di mulutnya untuk dirinya sendiri, itupun saja seekor kelinci yang dagingnya sangat mungil dan tidak begitu berharga bikin sang macan tutul.

Harimau akar nan tadinya marah masa ini mulai reda beliau mematamatai keputusan sang anjing gunung dengan mesem “Kau suntuk juru intern mengambil sebuah keputusan wahai cengkok gunung, kau membagikan makanan ini dengan sangat adil apakah kau mempelajarinya dari sang keledai?”. Cak bertanya sang macan tutul “Ya aku membiasakan berasal sang orang bodoh” jawab anjing bukit itu bertepatan menghindari dari hadapan sang maung tutul “aku juga bukan mau mengulangi nasib setinggi dengan keledai itu” celetuk sang anjing. Privat hatinya kera bukit sangat kecewa dengan kerakusan harimau tutul, anda berikrar tidak akan bekerjasama dan kondusif harimau tutul di kemudian hari.

Pesan Moral dari narasi fabel Cengkok Dolok, Keledai dan Macan tutul ini adalah sifat serakah dan curang akan membuat orang lain menjauhi kita. Dan plong suatu ketika kita kalam bantuan orang lain mereka tidak akan mau kondusif.

Cerita Sato: Gagak dan Elang

cerita anak gagak dan elang

Pada satu hari di hutan lereng gunung, ada seekor burung gagak yang sedang mencari makan. Penis gagak itu memiliki anak namanya Jasad, seekor anak burung gagak yang lewat paksa dan pantang takluk. Kemanapun orang tuanya menjauhi, Tubuh majuh ikut dan membantu berburu makanan.

Ke esokan perian, Ibu Bodi keluar mau mengejar makanan, Badan waktu itu nan masih terpejamkan tiba-tiba terbangun.
“Ibu mau kemana?” tanya Jasad.
“Ibu kepingin mencari rezeki buat anak bini kita” jawab Ibu gagak.
“Awak ikut, bu. Raga mau mencari cacing kesukaan Awak” pinta Raga.
“Iya nak, tapi engkau harus konstan waspada, jangan jauh-jauh berpunca ibu” tutur ibu gagak.
“baik bu” jawab Raga.

Padi itu mereka terbang ke jihat timur, mereka jatuh dari sawah-kesawah lakukan berburu tikus sawah. Raga dengan cerdiknya mendapatkan banyak cacing sawah. Namun tiba-tiba berusul atas ada seekor elang nan pun mencari bersantap, elang itu memang terkenal comar merebut makanan dendang. Ketika gagak mau mencengkeram seekor tikus, sekonyongkonyong nasar menyahutnya berusul atas.

“Hai nasar, mengapa engkau gemar merebut makananku?” senggak gagak.
“Beliau dahulu lamban gagak, siapa cepat beliau dapat” ejek elang.
“cak kenapa kamu tidak mencari makanan sendiri, dasar pengganggu” ucap gagak.
Padahal, Raga yang mematamatai ibunya sedang kesal seimbang nasar, berangkat-tiba terbang ke atas kemudian turun menyahut pun seeokor tikus dari tangan di nasar.
“Hey, anak gagak. Segala apa yang kamu lakukan?, kembalikan makananku” teriak elang.
“Aku cuma merebut kembali lambung ini bermula ibuku, aku tidak mencuri berpokok ia” sebut Fisik.
“Dasar dendang mungil, cepat kembalikan” sebut elang tampak marah.
“Tidak, ini adalah properti kami, dia yang mencarinya dan anda telah mencurinya dari kamu” jawab Tubuh.
Ibu dendang hanya terkelu, dia lalu bangga sekali memiliki anak yang pemberani dan lanjut pikiran. Elang yang mulai tampak kesal, tampak sudang bersiap-siap menyerang gagak.
“Aku tidak takut sekelas kamu, selama kami bermoral” ucap Awak.
“Baiklah kalau itu mau mu, kini rasakan pembalasanku” teriak Raga.
Tahu-tahu ibu gagak menyusup, tak ingin anaknya dalam masalah, ibu gagak simultan menghadang.
“Segala anda tidak malu elang?, beraninya sama anak mungil” ejek ibu gagak.
“Kalau dia pemberani, hadapi aku” tambah ibu gaok.
“Kalian berdua maju semuanya, aku enggak agak kelam” ujar elang.
Disaat elang bersiap-siap mengkritik Tubuh dan ibunya, tiba-start kontingen burung gagak kliyengan melewati mereka dan memangkal.
“Elang, ia bagi masalah lagi?” tanya pelecok satu gagak.
Elang hanya tungkap dan merembah karena ketakjuban, Raga dan ibunya lega karna elang itu telah menyingkir.
“Songsong hidayah atas uluran tangan kalian” tutur ibu gagak.
“Sebabat-sama, anakmu cukup berani melawan si nasar. Aku salut padanya” jawab salah satu gaok.
“Terima karunia om, Raga nekat sekiranya benar. Itu nan ibu ajarkan” ucap Raga.
Hasilnya rombongan burung dandang itu pamit cak hendak melanjutkan perjalanannya. Raga dan ibunya histeris pulang ke flat mereka. Ibu berbesar hati sekali Raga sekarang tumbuh menjadi anak yang bagak dalam kebenaran dan lanjut pikiran.

Pesan Moral: “Validitas harus diperjuangkan dengan bukan main-bukan main. Kalau enggak maka kebenaran tentu dikalahkan oleh kebatilan.”

Cerita Fabel: Cecak tanah dan I beludak Air

Disebuah kolam yang sepan besar dan dalam seekor bengkarung sedang melanglang di marginal kolam kadal itu sedang mencari kegiatan baru kadal itu adv amat mau menyedang sesuati yang baru, dia sangat kepingin berpetualang ketika dia berjalan dipinggiran tambak langsung mengeluarkan lidahnya dia melihat sesuatu muncul berpunca dalam air kejadian pertama yang dilihat maka itu bengkarung itu yakni sebuah pejabat nan melenggak lenggok kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu kemudian kadal itu mendekati mahkluk nan muncul dari dalam air itu dan dia sedikit kaget ternyata sira melihat seekor i beludak air.

Ketika itu ular air juga menyibuk keikhlasan sang kadal sangat mendekatinya, setelah sampai dempang dengan si bengkarung dumung itu memekakkan kepalanya dan berkata :”Apa nan sedang dilakukan makanya seekor bengkarung berharta ini dipinggiran tambak?” kadal itu menjarang dari sang ular karena dia takut dimangsa olehnya “Aku hanya medium mencari kegiatan baru, aku hanya cak hendak mengejar sebuah petualangan”. Introduksi sang cecak tanah. “Kenapa kau menghindar dariku? Aku enggak gado mu aku sudah kenyang memakan iwak kecil yang suka-suka di kolam itu” alas kata sang i beludak “makara kau kepingin sebuah petualangan nan seru” pembukaan dumung bertepatan mendesis “Ya itu moralistis aku ingin sekali mencoba sesuatu yang baru” kata sang kadal dengan penuh roh “apa kau pernah melewati tambak ini sendiri?” Cak bertanya sang ular babi.

“Aku tidak koneksi melewatinya kolam ini terlalu luas bikin aku sebrangi meskipun aku boleh sedikit berenang tapi aku takut untuk menyebrangi tebat ini dari satu tepian ketepian lainnya”. Jawan sang kadal “apa kau ingin menyebaranginya aku akan membantunya” anjing hutan sang ular cindai. Sang cecak tanah sangat mau sekali menyebranginya dan tanpa berpikir panjang kadal itu mengakui ajakan bersumber sang ular bura “Baiklah kalo begitu carilah sesuatu yang bisa dijadikan laksana untai!” Pinta sang ular bakau “Kerjakan apa kenur itu?” Tanya sang bengkarung dengan heran “Tali itu untuk kau ikatkan ke ekorku momen kita berenang menyebrangi empang ini kau tidak akan tenggelam, aku akan menarikmu kepermukaan”. jelas sang ular bura.

Lalu sang kadal mencari tali di pinggiran empang dan dia mendapatkan nya, setelah itu si bengkarung menalikan suku depannya ke ekor si ular belang dengan dahulu kuat. Selesai itu kini sang dumung dan si kadal berenang menyebrangi tambak luas itu namun di paruh-tengah kolam sang ular ari berpikir untuk menggagalkan sang kadal sebelum mencapai tepian, momen kejadian itu akan dilakukan oleh sang ular ari tiba-tiba tibuhnya tertarik ke atas dia mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga namun keadaan itu cuma-cuma ternyata sang cecak tanah disambar maka itu seekor burung alap-alap sehingga awak ular itu bergelantungan di awan. Momen itu sang alap-alap melihat tidak hanya kadal namun yang dia tangkap namun sebagai halnya seekor ular babi air dimana ekornya terikat puas kaki si kadal.

Pesan Moral dari kisah Kadal dan Ular cabai ini adalah jauhkanlah diri kita mulai sejak niat buruk, karena saja akan mudarat kita dikemudian hari.

Cerita Dongeng Terwelu dan Anjing Peladang

Disebuah perkebunan jagung yang cukup luas terwalak seekor anjing petani sedang mencari kelinci yang berkeliaran untuk dimangsa. Anjing itu dilatih buat mengejar dabat pengganggu perkebunan jagung detik milu masih muda. Patera jagung itu majuh dimakan makanya kelinci sehingga tanaman milu itu bukan boleh tumbuh dengan baik dan jika pokok kayu itu enggak bertunas dengan baik hasil panen jagung juga akan lewat berkurang, maka dari itu sang petani menempatkan seekor monyet terlatih di perkebunan itu. Setiap hari anjing itu gelayaran mengusut hewan pengganggu pohon jagung di perkebunan pekebun.

Sreg suatu pagi cengkok itu bangun berpokok tidurnya kemudian dia bepergian mengitari pertanian jagung itu sambil mengendus-ngendus bau hewan lain dengan indra nya, penciuman kera itu lalu drastis bahkan cengkok itu mampu melanggar bau kucing tupai dari jarak yang silam jauh, ketika ia bepergian anjing itu mencium bau kelinci berusul kejauhan cengkok itu mengikuti arah bau itu sampai akhirnya dia melihat seekor kelinci menengah asik memakan pucuk jagung yang masih muda. Kunyuk itu berjalan perlahan merentang kelinci tersebut ketika dia sudah lalu dekat dengan kelinci itu sang kera sedarun mengejarnya dengan sangat cepat, semata-mata sang kelinci mendengar ancang anjing itu karena kelinci punya telinga yang pangkat dan lalu peka terhadap celaan. Kelinci itu menhindari sang kunyuk dengan cepat dia nocat dengan sangat cepat dan lompatan terwelu itu sangat jauh.

Sang anjing terus mengejarnya meskipun kelinci itu semakin menjauh dari jarak sang anjing doang sang anjing tidak menyerah begitu saja. Monyet itu memiliki kemampuan berlari tanpa henti sehingga dia mampu mengejar si terwelu tanpa kepenatan. Walaupun demikian si kelinci nan adv amat cepat meloncat menghindari kejaran anjing itu membentuk kunyuk itu kehilangan jejaknya, kunyuk itu menginjak mengendus-ngendus bau si kelinci dan tidak lama kemudian beliau menemukan kucing belanda itu masa ini dia mengejarnya kian cepat terbit sebelumnya doang sang kelinci itu enggak dapat dia kejar setakat akhirnya anjing itu tungkul dan tidak mengerjakan pengejaran terhadap kelinci itu sekali lagi. Ternyata hal itu ditonton maka dari itu seekor burung gagak nan sedang bertengger di sebuah tanaman nan daunnya semenjana gugur ketika monyet itu melintasi pohon tersebut sang gagak menanya kepadanya “Ternyata kelinci itu lebih kencang dibandingkan dengan dirimu” kemudian sang anjing berujar dengan hening “Segala kau tidak menyibuk perbedaan nan begitu radikal antara aku dengan kelinci itu?” si gagak menjawab “aku enggak mengaram perbedaan itu, memang apa perbedaan nan kau maksudkan itu?” Sang anjing menjawab “Aku berlari untuk menangkap perut sedangkan dia berlari mempertahankan hidupnya, sebuah keinginan akan menentukan kerasnya sebuah persuasi”.

Pesan Kesusilaan dari cerita takhayul cerita binatang ini adalah jika kita memiliki keinginan dan hayat nan kuat untuk mewujudkan barang apa yang kita inginkan, maka cepat ataupun lambat keinginan itu karuan akan terpuaskan.

Cerita binatang: Bancet dan Ular Piton

Disebuah danau hiduplah dua binatang bernama katak dan ular cindai air. Katak tersebut nocat lompat disekitar danau karena beliau terjadwal satwa yang senang mau tahu. Berudu tersebut ingin mencari kegiatan baru dengan mandu berpetualang disekitar danau. Dengan senangnya sang katak melompat lompat menjauhi danau. Iapun terkejut karena ada semak belukar yang goyang. Ternyata dibalik semak belukar tersebut muncullah ular belang piton. Katakpun terkinjat dan berusaha menjauhi ular piton, kemudian ia berusaha kembali ke danau pun. Sebelum katak memencilkan ular bura, ternyata si piton menyadari keberadaan katak. I beludak tersebut berusaha mendekati bancet dan meluncur dengan cepat.

Setelah ular bura dekat dengan katak, anda segera mengangkat kepalanya dengan panjang dan bersabda, “ Hai katak berada apa yang kau untuk dihutan ini?” Katak tersebut seram dengan dumung dan berusaha untuk merenggang. Si ular bura pula berkata bahwa beliau tak akan meratah katak karena ia sudah memakan kelinci mungil. Kemudian si kata berucap, “ Aku ingin berpetulang dan mencari kegiatan baru”. Sang ular ari menawarkan petualangan nan seru dan katakpun mau. Apabila katak cak hendak menyedang petualangan hijau, ia harus menjelajahi alas sorangan. Katakpun belum sangkutan menyerempet sekitar hutan karena kamu meleleh dimangsa hewan sato buas lainnya.

Sang bedudak meawarkan bantuan untuk menemani kodok menjelajahi hutan. Ia berkata,” Duhai ular carilah tali dan ikatkan puas ekorku.” Si kata menanya, “ Bakal apa tali itu?” Tali tersebut untuk menjaga agar katak tidak tersisa jauh momen dihutan, jadi ia konstan kerukunan bersama ular. Katak tersebut tidak pikir panjang dan memufakati tawaran ular. Katakpun berburu benang dan mengikatkan perutnya dengan ekor si ular cabai. Pasca- itu mereka berjalan mengarungi hutan, sampai ditengah hutan sang ular memiliki niat buruk. Ia kepingin berusaha merawitkan berudu. Ular tesebut berusaha membelit katak namun tubuh kecebong disambar maka itu elang dan digelantungkan di udara. Elang tadi menyadari bahwa ia kembali menangkap sanca karena ekornya terikat dengan katak.

Pesan moral berusul pola cerita fabel singkat diatas merupakan jauhilah karsa buruk terhadap manusia tidak karena dikemudian musim akan mudarat kita.

Kisahan Satwa: Kuda yang memakai kulit harimau

Seekor kuda sedang berjalan dari sebuah tipar sorgum menuju sebuah hutan yang rimbun, jaran itu sudah lalu sreg meratah garai yang terserah di tipar itu dia terlihat gembira karena tidak suka-suka petambak gandum menjaga ladangnya.

Ketika ia memfokus hutan tebal di tengah jalan si kuda mengawasi sesuatu dengan heran seperti sebuah jangat macan lalu kuda itu mendekatinya dan ternyata memang benar apa yang dia tatap adalah sebuah kulit harimau nan lain sengaja ditinggalkan maka itu para pemburu maung. Kuda itu menyedang memakai kulit harimau itu dan ternyata memadai ditubuhnya.

Dulu terbayang di sumsum kuda itu cak bagi menakuti hewan-fauna hutan nan melewati dirinya, kuda itu bergegas mencari tempat kerjakan bersembunyi. Tempat itu harus terlihat bawah tangan dan caruk dilalui oleh beberapa dabat rimba. Akhirnya dia menemukan semak-samun yang layak gelap untuk bersembunyi dan kuda itupun masuk ke samun-belukar dengan menunggangi selerang harimaunya, di semak-semak kuda itu bersembunyi menunggu hewan hutan yang melewatinya dan tidak lama kemudian beberpa domba argo melanglang ke jihat dirinya aswa itu kini bersiap-siap untuk melompat.

Ketika kambing arab-kambing arab itu melalui kuda yang semenjana bersembunyi aswa itu meloncat ke arah domba-domba itu dan sedarun biri-biri-domba itu berlarian kesana kemari mereka ketakukan dengan kulit harimau yang di pakai oleh aswa itu. Sang kuda cuma tertawa selepas domba-domba itu berlarian dia amat senang sekali menjaili domba-doma itu.

Lalu sang jaran kembali bersembunyi kedalam belukar-samun anda menunggu hewan tidak cak bertengger melalui semak-semak itu berpokok kejauhan terlihat seekor tapir berjalan sambil mengunyah sesuatu dimulutnya, badak tampung itu berjalan dengan silam lambat menghadap semak-semak namun ketika kuda itu meloncat ke sisi tapir itu si tapir terkejut dan lari sekencang-kencangnya menghindari menghindari jaran yang memakai alat peraba harimau itu. Sang jaran sekarang semakin senang mengganggu hewan-fauna lainnya dan sira kembali ke semak-semak itu menunggu hewan bukan kerjakan sira kagetkan.

Masa ini sang kuda menunggu lebih lama dari biasanya namun hal itu tidak membuatnya bosan menginjak-start seekor kucing wana berlari langsung membawa seekor tikus dimulutnya. Kucing itu tidak melewati samun-belukar kucing itu belaka duduk menyantap tikus nan sira tangkap di dekat pohon besar, melihat hal itu si kuda berinisiatif cak bagi mengagetkannya pecah arah belakang. Kuda itu keluar dari semak-semak dan berjalan dengan hati hati seyogiannya makin dekat dengan sang kucing ketika sudah adv amat akrab dengan sang kucing, kuda itu mengaum sama dengan halnya seekor macan namun kuda itu enggak sadar bahwa suara aumannya bukanlah suara maung melainkan suara seekor jaran, mendengar keadaan itu sang meong menoleh ke belakang dan dia melihat kuda itu dengan indra peraba maung hanya bersuara kuda.

Peristiwa itu mewujudkan si kucing tertawa terbahak-berdekah-dekah “Apabila aku melihatmu memakai kulit harimau itu aku akan lari kegentaran tapi auman suaramu itu tetap bukan kritik harimau melainkan celaan seekor kuda”.

Pesan Budi pekerti bersumber cerita fabel Kuda nan memakai indra peraba maung ini adalah sepandai-pandainya kita berpura-jala-jala maka suatu momen akan terlihat juga kebohongannya. Keterusterangan merupakan prolog yang paling kecil sani di dunia ini.

***

Demikianlah kompilasi
kisah takhayul anak asuh
dalam bentuk
cerita fabel hewan
yang dapat dibagikan sreg postingan kali ini. Hendaknya cerita sumir ini boleh menjadi sumber wacana menggelandang dan pesan kesusilaan yang terkandung di dalamnya bisa tersampaikan kepada anak asuh lewat keseruan ceritanya. Terimakasih!

Source: https://woazy.com/2018/06/03/17-cerita-fabel-hewan-pendek-cerita-dongeng-anak-sebelum-tidur/