Contoh Cerpen Pendidikan Beserta Sinopsisnya

Cerpen alias cerita sumir bisa menjadi hiburan bagi para pembaca. Tetapi tak tetapi itu saja, cerpen juga mengandung pesan yang kepingin disampaikan dabir kepada pembaca. Contohnya adalah cerpen-cerpen yang bertema pendidikan nan bisa memberikan spirit membiasakan.

Cerpen sendiri tersusun berpunca atom instrinsik maupun unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur pembina yang harus cak semau di intern cerpen. Misalnya, tema, tokoh dan penokohan, galur, satah, sudut pandang, dan amanat.

Terlampau apakah kamu penasaran seperti apa cerpen pendidikan beserta unsur instrinsiknya? Ayo baca dan perhatikan cerpen-cerpen di bawah ya.

Daftar Isi

  • 1
    Mahfuz Tono

    • 1.1
      Anasir Instrinsik Cerpen Hafalan Tono
  • 2
    Berlatih di Kala Pandemi

    • 2.1
      Elemen Intrinsik Cerpen Belajar di Kala Pandemi


Hafalan Tono

Hafalan Tono
Sumber foto: Ibnuamaru bersumber Pixabay

“Pancasila, Satu ketuhanan yang maha Esa. Dua, Kemanusiaan bakal seluruh rakyat Indonesia,”

Baca juga:
Contoh Cerpen Pendidikan

Suara lantang Tono diteriaki dan ditertawakan oleh semua pelajar di inferior. Lantaran, sira salah menyebutkan sila kedua nan tercantum di Pancasila. Bu Retno selaku hawa kelas 3 SD pun geleng-geleng pemimpin sambil tersenyum.

Materi tentang Pancasila sudah dijelaskan dari dua minggu nan lalu. Cuma, Tono belum juga hafal. Padahal, pasangan-inversi yang lain dempet semuanya sudah lalu bisa menghafal Pancasila.

“Tidak segala apa-apa Tono , kamu hapalkan lagi ya. Sekarang beliau boleh duduk di bangkumu” Bu Retno  berbicara subtil.

Tono tidak bergeming. Ia taat rani di depan kelas, di samping meja Bu Retno. “Tapi, Bu, berarti aku bukan penghuni negara yang baik dong, soalnya nggak hafal Pancasila?”

Bu Retno kembali  tersenyum kembali, lantai anda berbicara dan memasrahkan penjelasan.

“Yang hafal Pancasila belum pasti bisa mengamalkannya. Dan warga negara nan baik nggak namun menghafal, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Contohnya, bisa aja Ridwan telah hafal Pancasila, tapi, dia masih males ibadah dan berbohong Nah, keadaan kayak gitu yang enggak melaksanakan biji Pancasila kerjakan sila yang pertama.”

Tono mengangguk mengerti, lalu teman-teman sekelasnya kembali ikut mengangguk juga. Lantas ia pun embali ke tempat duduk dan mengikuti pelajaran setakat waktu belajar selesai.

Ketika jam sekolah usai, Tono mengajak Ridwan lekas keluar papan bawah. Mereka tidak buru-buru pulang, tapi ke mushola sekolah untuk menunaikan sholat dzuhur. Bu Retno yang melihat mereka berpunca kejauhan pula tersenyum berbangga.

Unsur Instrinsik Cerpen Hafalan Tono

  • Tema: Pendidikan kepribadian anak asuh
  • Tokoh: Tono, Bu Retno, Ridwan
  • Penokohan: Tono (asli, pelupa, ingin luang banyak hal), Bu Retno (Palamarta, panjang hati, dan ramah), Ridwan (agak bandel, tapi penurut)
  • Latar: di dalam kelas, pagi hari
  • Alur cerita: maju
  • Tesmak pandang: manusia ketiga karena ditandai dengan menggunakan pronomina seperti ‘ia’ dan ‘dia’
  • Takrif: Pendidikan Pancasila harus ditanamkan sejak dini serta mengerjakan nilai-poin Pancasila adalah cara menjadi warga negara yang baik.


 Belajar di Kala Epidemi

Belajar di kala pandemi
Sumber foto: Anil sharma berpokok Pixabay

Aku duduk tak berkapasitas sebagaimana kehabisan tenaga. Pak Yanto, pengasuh kelasku memberitahukan dengan tegas bahwa pendedahan harus dilaksanakan di rumah. Itu berarti, seluruh aktivitas sekolah akan dihentikan sementara. Hanya, entah sampai kapan.

Semua ini terjadi gara-gara virus nan hadir di distrik kami. Lakukan menghentikan penyebaran virus tersebut, terpaksa sekolah harus dihentikan dan melakukan pembelajaran jarak jauh.

Baca sekali lagi:
Cerpen Perkawanan Dengan Berbagai Pesan

Tetapi, baru hari ketiga pengajian pengkajian terhambat. Aku dan lawan-temanku yang punya keterbatasan ekonomi harus pelik payah membeli kuota dan gadget. Karena pembelajaran dilakukan melalui laptop maupun smartphone yang membutuhkan internet.

“Mak, dapat nggak beliin aku hp yang lebih bagus?” pintaku ke Induk, sungguhpun aku tak tega karena hasil jualan tempe di pasar namun cukup bakal sehari-periode.

“Nanti ya Lina, Emak nabung dulu,” jawab Induk pelan.

Aku hanya kadang-kadang bisa mengikuti pembelajaran lewat handphone yang mutakadim usang. Terkadang aku tidak bisa mengikuti video pembelajaran. Aku mencari cara agar aku setia boleh mengikuti pelajaran. Lewat aku teringat dengan Dira. Jodoh sekelasku nan berilmu dan kaya, kebetulan rumahnya pun dekat dengan rumahku. Saja, ketika aku mengetuk bab rumahnya, anda dengan menggadang seperti mengusirku.

“Kamu mau numpang belajar Lin?”

“Iyah Dir bisa nggak ngeliat di laptop kamu? Kita bareng-bareng gitu belajarnya.”

“Hmm gimana ya, tapi aku mau ke rumah nenekku sekarang..” ujar dia pelan dan aku mengetahui bahwa ia hanya mencari-cari alasan.

“Oh gitu, iya gapapa Dira. Lever-lever ke rumah neneknya ya,” aku langsung berbalik badan dan kudengar ia pun langsung menutup portal rumah.

Untunglah satu ahad sesudahnya maktab desa menyediakan laptop dan wifi gratis. Aku boleh menggunakannya sesuai dengan jam tuntunan. Kutemui juga tampin-temanku yang bernasib sebanding di kantor desa. Aku dan mereka semangat mengikuti pelajaran meskipun n domestik kondisi semacam ini.

Unsur Intrinsik Cerpen Sparing di Kala Endemi

  • Tema: Pendidikan
  • Tokoh: Lina, Selongsong Yanto, Induk, Dira
  • Rataan: ruang kelas, rumah Lina, rumah Dira, dan kantor desa
  • Penokohan: Lina (baik, nasib, pantang tungkul), Induk (sabar dan penyayang), Dira (bermegah dan pelit), Paket Yanto (baik dan tegas)
  • Alur kisahan: Maju
  • Sudut pandang: Orang permulaan karena ditandai dengan menggunakan pengenalan ‘Aku’
  • Kabar: Meraih pendidikan dan mengikuti pembelajaran di sekolah harus ki ajek semangat di kondisi apapun.

Itulah dua abstrak cerpen pendidikan beserta penjelasan unsur instrinsik. Seharusnya dapat membantumu dalam belajar membuat cerpen sekaligus memahami unsur instrinsiknya, ya. Semangat belajar! 🙂

Source: https://tambahpinter.com/cerpen-pendidikan-dan-unsur-intrinsiknya/