Contoh Feature Perjalanan Ke Jogja

Feature Traveling/Perjalanan DINGINNYA AIR Ambau CI JALU Maka dari itu: Maya Marliana

Minggu, 11-Agustus-2013 menjadi cuti ldulfitri yang tidak terlupakan. Saya bersama rombongan remaja putra dan upik Dusun Kamurang jauh-jauh hari sebelum lebaran mulai sudah merencanakan liburan atau berkelah ke sebuah gelanggang rekreasi yang paling naik daun di Daerah tingkat Subang, Jawa Barat. Curug Cijalu namanya, yang kaya di Desa Cipancar, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat. Memang bukan yang pertama boleh jadi ke tempat itu. Setiap libur ldulfitri tiba, pasti ujung-ujungnya berdarmawisata ke sana. Tapi tidak pernah bosan dan malah ketagihan akan eksotika alam yang dihadirkan setiap berkunjung ke sana. Pagi hari sekitar pukul 07:00 WIB, semua rombongan anak mulai dewasa-mudi sudah berkumpul di rumahnya Muhyi, dialah panitia piknik masa ini, sekaligus teman sehari-hariku di apartemen. Semuanya mutakadim berkemas ala gaya remaja yang begitu kental. Sehabis mobil siap, kami tak malu-malu lagi lakukan lekas meluncur seputar pengetuk 08:00 WIB. Lamun saja menggunakan oto berekor, tapi enggak menyurutkan nasib kami untuk bisa sampai tujuan dan berkelah di sana. Di otomobil lagi tak ada habis-habisnya saya bercumbuan dengan imbangan-teman sederum ngemil-ngemil. Enggak suka-suka kejadian aneh atau ada hambatan selama di avontur. Pukul 11:00 WIB barulah hingga di tempat tujuan. Jarak antara Karawang-Subang sekitar tiga jam. Namun karenanya momen otomobil hendak timbrung, kemacetan pun bukan terhindarkan lagi. Takdirnya sedang liburan, Curug Cijalu memang pelahap padat oleh para wisatawan. Bisa dibayangkan bagaimana panasnya menunggu kemacetan di tengah susah matahari. Saya dan kawan-sekutu hanya boleh bersabar menunggu giliran otomobil kami lakukan bisa melewati gerbang timbrung. Setelah hampir satu jam merasakan buruknya kemacetan yang begitu tingkatan, akhirnya mobil kami dapat masuk gapura dan terus menjulur menjejak TKP. Jalanan yang mendaki dan mobil nan ngebut seperti itu menantang saya. Sampailah di bekas parkiran, alat angkut mobil lain diperbolehkan terus melaju hingga ke atas, karena itu akan membahayakan. Kami semua turun berpokok mobil, kemudian tukar berjalan kaki bagi menjejak curug. Inilah hal yang sangat lain saya senangi, karena kerjakan bisa sampai ke curug itu menuntut ganti rugi jarak sekitar 100/150 kilometer, menurut perincian saya begitu, saya belum begitu ahli dalam mengukur jarak tempuh. Tapi dapat dibayangkan bukan main letih dan capeknya lakukan bisa mencecah curug. Setelah setakat di tegal teh, saya berhenti selincam karena merasa keletihan. Akhirnya suka-suka n antipoda saya yang menawarkan saya bagi mengojek motor untuk bisa hingga ke sana, dan saya sekali lagi mau, karena saya sudah tidak kuat lagi. Dan akhirnya sebatas sekali lagi. Teman saya segera mengupah jasa ojek, cukup hanya dengan lima ribu rial saja. Tapi, belum langsung hingga ke air terjunnya, hanya bau kencur sampai ke kancah yang banyak ditumbuhi pohon cemara, pohon pakis dan pohon karet. Seperti hutan. Tempat ini dinamakan Camping Ground. Suasananya sekali lagi begitu menyejukkan, karena mendekati riam kecil yang begitu adem. Jika belum tiba waktu liburan, tempat ini buruk perut dijadikan bekas kemping maka dari itu para pemuda-pemuda yang senang berpetualang. Karena tempatnya menantang dan dekat dengan sumber air. Arena ini juga sering dijadikan lokasi outbond maupun pelantikan para petugas keamanan dan anak asuh-anak sekolah. Kami kembali melanglang buat bisa menjejak curug. Jaraknya tinggal dekatdekat. Yang semula penuh dengan keringat dan begitu semok, setelah sampai di sana lebih-lebih sampai-sampai sebaliknya. Adem begitu menusuk meskipun belum setakat ke curugnya langsung. Dari pengelanaan menentang curug kita disuguhkan maka dari itu pendatang-petualang makanan maupun bawaan, nan berjejer di samping tumbuhan-pohon yang rindang. Di atas batu-batu dan rumput-rumput liar yang menambah keasrian eksotika pan-ji-panji nan menyejukkan ain. Ada yang duduk-duduk di sana langsung makan-makan, ada sekali lagi yang sambil mandolin-gitaran dan nyanyi-lantunan, dan terlebih ada pun yang duduk sambil mengulurkan dus mungil, ataupun pengemis palsu. Sampailah di tempat tujuan utama, merupakan curug atau cegar yang begitu dingin memberahikan. Sebelumnya, saya mau narasi rendah mengenai air terjun yang tingginya 70 meter itu. Menurut cerita, sebelum diberi stempel Cijalu, curug itu baku disebut Curug Cikondang. Tetapi ketika seorang pesilat (jawara) hinggap ke wilayah ini, kesannya nama Cikondang diubah menjadi Cijalu. Segel ini perpaduan antara dua pengenalan cai dan jalu dalam bahasa sunda nan bermakna air dan susuh. Di sana, teman-tandingan berbondong-bondong turun ke tebat yang terdapat air terjunnya. Mereka mandi dengan bersuka berlagak. Awalnya saya telah niat ingin sekali mandi di sana, sekadar karena cahang yang begitu menusuk raga, saya urungkan karsa saya. Saya hanya memainkan air dengan tangan saya. Sahaja teman-dagi saya sejenis itu usil menyiram air ke saya sehingga kerudung saya basah hingga ke baju. Alangkah dingin walau hanya invalid terciprat air yang berasal sekalian dari air ambau itu. Saya memang phobia terhadap adem. Tetapi anehnya, saya senang hujan angin-hujanan jikalau tiba periode tahun hujan. Dan yang tinggal saya sesali sampai masa ini, kenapa tidak saya gunakan kesempatan cak bagi bisa berfoto-foto di air terjunnya. Mungkin dengan alasan, permulaan, dempang dengan air, mengalir perlahan-lahan HP saya jatuh ke air. Kedua, banyak orang dan sulit lakukan foto-foto. Ketiga, rasa cahang itu nan tidak bisa dihindari, sehingga susah jawat HP dan sahaja saya selipkan di saku celana. Saya hanya foto-foto pas pulang di kebun teh. Setelah teman-n antipoda selesai mandi, mereka serempak memborong pedagang pop mie dan kopi susu. Meskipun saya enggak ikut mandi, saya pun tak cak hendak ketinggalan menempah pop mie dan kopi buah dada pesam. Uhh.. semacam itu nikmatnya menyantap pop mie hangat di intim air ki angkat dengan segelas akta payudara. Pedagang pop mie di curug cijalu mungkin adalah incaran terdepan bagi para pengunjung setelah merendam di air yang dinginnya bagaikan es. Air terjun kali adalah menu utama di Curug Cijalu ini. Kalau mau ke Curug Cijalu sudah pasti tujuannya adalah mandi di cegar. Di sana kembali terdapat kemudahan yang bisa dijumpai kala memasuki wisata air terjun ini. Seperti: loket karcis, pos jaga, tempat parkir, shelter, bekas sampah, jalan setahap, bekas duduk, mushola, instalasi air, camping ground dan tipar teh yang menyejukkan ain. Setelah bersenang-demen menikmati dinginnya air terjun, kami merilekskan tubuh kami dengan duduk-duduk santai di areal camping ground. Sambil gitar-gitaran dan makan-makan, karena perut memang sudah protes sejak di penjelajahan tadi. Sesudah berhaha-hihi dengan kawan-kawan setakat tiba tahun senja, kamipun memutuskan cak bagi pulang. Juga berjalan tungkai menempuh jarak nan jauh buat sampai ke parkiran mobil. Kali ini tidak mengojek motor lagi, karena suasana sore yang indah dan sejuk, jadi, jalan kaki pun tidak menjadi problem. Di sepanjang perjalanan, kami menjumpai kesejukkan kebun teh yang terhampar luas dengan indahnya. Nah, di sinilah masa saya luangkan bikin foto-foto sebelum lagi ke rumah. Karena tubuh sudah lumayan rileks dan jauh dari rasa dingin nan menusuk. Suasananya juga bukan terlalu riuh-rendah, justru yang tampak saja pedestrian para wisatawan yang hendak pulang. Pengetuk 20:00 WIB, saya sampai di kondominium dengan mengirimkan oleh-oleh tiga kebat biji zakar nanas yang dibelikan oleh antitesis saya. Bukan main penjelajahan piknik nan tidak sebun di liburan lebaran semalam. Karena banyak asam garam yang saya dapatkan serta kebersamaan dengan teman-teman yang susah saya jumpai, karena saya lama tinggal di Jogja, dan hanya enam bulan sekali berangkat mudik. Itulah penjelajahan yang bertelur saya rekap ulang untuk kenang-kenangan bersama sahabat-sahabat-tercinta.

Source: https://mayasharmapunya.blogspot.com/2014/02/contoh-feature-traveling.html