Contoh Karya Ilmiah Tentang Komunikasi


Perkenalan awal pengantar


Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang sudah memberikan kekuatan tekad kepada carik sehingga boleh mengatasi karya tulis ilmiah ini. Sholawat serta salam tetap pelunis curah limpahkan kepada jungjungan alam Rosulullah Nabi Muhammad SAW. nan telah menyerahkan cahaya terhadap dunia sarjana.

Karya tulis ini tercipta karena rasa prihatinnya kekeluargaan santri
dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo
nan sedikit mementingkan rasa ketegaran sesama santri. Yang mudah mudahan bisa berubahkarena keberadaan karya tulis ini.

Penulis juga menyadari kepenulisan ini masih terdapa banyak kesalahan. Oleh, penulis berharap adanya sumbangsih pemikiran terhadap kepenulisan karya tulis ilmiyah ini.

Penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat memasrahkan manfaa khususnya kepada penulis sendiri justru kepada pembaca sekalian.

Sekian dari penulis.


Wassalamualaikum Wr.Wb

Sukorejo, 10 Mei 2022


Raden M. Muhtar Ghozali

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………………….. 1

Daftar isi……………………………………………………………………………………………………… 2

Tanwujud……………………………………………………………………………………………………….. 3

Ki I pendahuluan………………………………………………………………………………………… 4

A.

Meres pantat…………………………………………………………………………………… 4

B.

Rumusan masalah………………………………………………………………………………. 6

C.

Pamrih penelitian……………………………………………………………………………….. 6

D.

Manfaat penggalian……………………………………………………………………………… 6

E.

Metode pengkhususan………………………………………………………………………………. 6

Gapura II analisis teoritis………………………………………………………………………………………. 8

A.

Signifikasi komunikasi antar budaya……………………………………………………… 8

B.

Proses komunikasi antar budaya…………………………………………………………… 13

Bab III Pembahasan………………………………………………………………………………………. 14

A.

Contoh kasus…………………………………………………………………………………….. 14

B.

Yuridiksi komunikasi antar budaya madura dengan budaya sunda…………….. 14

Gerbang III pengunci…………………………………………………………………………………………….. 17

A.

Kesimpulan……………………………………………………………………………………….. 17

B.

Saran………………………………………………………………………………………………… 17

Daftar teks……………………………………………………………………………………………… 18


Niskala

Indonesia memiliki
1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010,


[1]




begitu pula dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Terdapat sekitar 15.000 santri mulai sejak kurang lebih 13 daerah berpokok penjuru Indonesia berkumpul di pesantren ini.


[2]




Kerumahtanggaan menjalani kehidupannya sehari-tahun bagaikan kelompok sosial, akan terdapat ketergantungan yang mana hal itu akan terpenuhi bila mana terjadinya suatu interaksi. Kegiatan Komunikasi antar budaya ini yang kerap kali menimbulkan kesalah pahaman disebabkan perbedaan watak nan melekat lega pribadi seseorang yang berbeda daerah.





Bab I Pendahuluan

Erat setiap manusia membutuhkan komunikasi. Sebagai mahluk sosial manusia menjadikan komunikasi sebagai media petukaran pesan, keinginan dan kebutuhan. Hal ini telah dikemukakan oleh Mulyana dan Rahmat (2006:12). Hampir setiap basyar membutuhkan hubungan sosial dengan insan enggak dan kebutuhan ini terpenuhi melalui komunikasi yang berfungsi sebagai titian kerjakan mempersatukan bani adam.

Sahaja, disamping bani adam seumpama mahluk sosial, sosok juga merupakan suatu sosok nan menyandang indentitas turunan dari suatu suku, ras, budaya dan agama. Malah dapat dibedakan kerumahtanggaan hal pemikiran alias dalam persepsi tertentu. Dengan mengetahui bahwa manusia ibarat mahluk sosial dan basyar, perlu adanya saling mengerti dalam komunikasi antar individu.

Komunikasi  seorang  merupakan hal nan  paling  krusial internal kehidupan ini. Sebuah interaksi sosial dapat tidak berarti segala apa-apa jika komunikasi didalamnya tidak berjalan sreg semestinya. Oleh karena itu komunikasi  merupakan  hal  yang  paling  terdepan  bagi  cucu adam dalam  melakukan  interaksi.  Kadang  kala  bani adam  merasakan  komunikasi itu tak efektif, yang dikarenakan adanya keseleo penafsiran oleh sang pemeroleh pesan (komunikan), dan kesalahan penafsiran tersebut dikarenakan keonaran oleh setiap individu yang berbeda-beda. Agar komunikasi berlangsug efektif dan pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator boleh dituruti dan dipahami dengan baik oleh sendiri komunikan, maka seorang komunikator perlu mematok pola komunikasi yang baik pula.


[3]




Acuan berkomunikasi adalah cara atau “seni” penyampaian suatu pesan yang dilakukan koteng komunikator sedemikian rupa, sehingga menimbulkan dampak tertentu pada komunikan. Pesan yang disampaikan  komunikator  adalah  pernyataan  seumpama  fusi  pikir  dan pikiran,  dapat  berupa  ide,  takrif,  keluhan,  keyakinan,  imbauan, anjuran dan sebagainya.


[4]




            Sedangkan Komunikasi  antarbudaya  yaitu  sebuah  hal  nan  terjadi  bila pengirim wanti-wanti ialah anggota satu budaya dan penerima pesannya adalah anggota dari  suatu kelompok budaya yang berbeda.  Dalam keadaan demikian  komunikan atau  komunikator  dihadapkan  kepada  ki kesulitan-masalah  dimana  suatu  wanti-wanti  disandikan  dalam  suatu  budaya  yang harus disandi balik ke intern budaya lain.


[5]






            Aspek-aspek budaya dalam komunikasi sebagai halnya bahasa, isyarat, non verbal, sikap kepercayaan, watak, nilai, dan pembiasaan perhatian akan lebih banyak ditemukan sebagai perbedaan besar nan sering menyebabkan distorsi intern berkomunikasi. Namun, dalam masyarakat yang berbeda kebudayaan juga, tetaplah akan terwalak khasiat-kepentingan bersama untuk melakukan komunikasi.


[6]














Dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, terdapat ribuan santri dari berbagai penjuru Indonesia yang menutupi berbagai suku, tiba berasal suku Madura sampai pada Sunda. Hal ini sudah lalu dapat dipastikan pribadi terbit setiap santri mempunyai dan mengangkut budaya yang berbeda-cedera pula. Dari prinsip berkomunikasinya pun karuan berbeda dan watak yang tertuju pun karuan farik.

Suku Madura adalah kaki yang ada di kepulauan Madura hingga ke area Kasut kuda.

Bahasa provinsi yang digunakan yaitu bahasa Madura.

Karakter sosial yang melekat pada orang Madura adalah  cak acap menjungjung janjang

Martabat, lagi paling terdahulu kerumahtanggaan jiwa orang Madura, mereka memiliki sebuah adagium
lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (kudrati tulang) daripada malu (putih alat penglihatan). Sifat nan begitu juga ini melahirkan tali peranti


carok




pada umum Madura, sekadar tradisi ini lambat laun melemah seiring dengan terdidiknya kabilah cukup umur di pelosok desa, dahulu mereka mempekerjakan kekuatan emosional dan tenaga saja, namun masa ini mereka lebih
arif
internal menyikapi bermacam-macam persoalan nan ada.

Jati diri yang mempersatukan turunan Sunda ialahbahasanyadan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat yakin, ramah, bermartabat, riang dan bersahaja.  TurunanPortugismengingat-ingat dalamSuma Orientalbahwa orang Sunda berwatak jujur dan pemberani.
Ikatan kekeluargaan yang abadi dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi tali peranti mewarnai seluruh gerendel arwah suku Sunda.




[7]


Perbedaan watak diantara suku Sunda dengan Madura menimbulkan perbedaan cara dalam berkomunikasi, baik secara verbal ataupun non ferbal. Walaupun pada dasarnya, kerumahtanggaan menjalani spirit sehari-hari sebagai anggota keramaian mulai sejak Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerjo yang berbeda suku dan budaya, akan seselalu terserah kecanduan diantara mereka.

Kejadian ini yang membuat penulis mengamalkan riset sederhana terhadap
Pengaruh Komunikasi Antar Santri bersuku Madura Terhadap Santri bersuku Sunda Dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.


B.



Rumusan ki aib

Supremsi berbunga perbedaan budaya terhadap santri sumber akar sunda?

1.

Untuk mengerti cara berinteraksi antara suku Sunda dengan suku Madura
dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

2.

Menemukan titik tekan diantara kedua suku tersebut.

3.

Agar kian menonjolnya sikap toleransi understanding dalam berkomunikasi terhadap santri bawah suku Sunda.


D.



Kelebihan Investigasi


1.



Kelebihan Teoritis


Eksplorasi ini diharapkan dapat memberi sumbangsih pemikiran kerjakan urut-urutan guna-guna pengetahuan, terutama di parasan Mantra Komunikasi.


2.



Manfaat Praktis


Sebagai media pembelajaran untuk penyadur dalam melakukan kegiatan-kegiatan penelitian berikutnya, serta sebagai media penguatan kesadaran baik internal pangkat teori dan strata implementasi umur.


b.



Untuk Saung Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.


Sebagai referensi tambahan dalam menentukan setiap kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pembahasan pada penelitian kali ini. Selain itu, senagai upaya menumbuhkan rasa ketegaran dan kekompakan sesama santri.


Seumpama referensi apendiks untuk mahasiswa selanjutnya yang hendak mengadakan penelitian yang berkaitan dengan pembahasan penelitian kelihatannya ini.


E.



Metode penelitian


1.



Metode Studi


Menurut Poerwadarminta, Metode penelitan artinya kegiatan pengumpulan, pengajuan data penggodokan dan analisis nan dilakukan secara sistematis dan obyektif lakukan memecahkan suatu permasalahan atau menguji suatu dugaan untuk mengembangkan prinsip-kaidah umum.


[8]




Diversifikasi penelitian yang digunakan oleh pengkaji ialah study kasus, yaitu penajaman yang khusyuk tentang arketipe komunikasi yang dilakukan santri
Teratak Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo
nan pecah dari suku Sunda dengan suku Madura.



Untuk memperoleh data digunakan sumber  data sebagai berikut :


a. Mata air Primer, yaitu data nan didapatkan langsung dari  Responden. Sebagai halnya data  nan diperoleh mulai sejak santri yang terbit dari suku Sunda
.


 b. Sumber Sekunder, ialah data yang diperoleh selain dari Responden. Misalnya dari buku-buku, dokumen, majalah, kronik, pustaka enggak yang berkaitan dan pengamatan secara intensif.


4.



Teknik Akumulasi Data





Dalam teknik pengumpulan data penyelidik menggunakan sejumlah metode andai berikut :


Observasi ini penulis lakukan se-objektif mungkin terhadap incaran penelitian yaitu santri nan terbit bermula kaki Sunda dan satri yang berusul semenjak suku Madura.

Metode sederhana yang juru tulis cak bagi terhadap seorang santri yang berasal suku Sunda, hal ini dilakukan buat memaklumi pengaruh santri nan berasal dari kaki Madura terhadap santri yang terbit suku Sunda.


Portal II



Kajian Teoritis


A.



Pengertian Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi Antar Budaya dapat diartikan menerobos bilang pernyataan bak berikut (Liliweri,2004:9):


a.

Komunikasi Antar Budaya adalah pernyataan diri antarpribadi nan paling efektif antara dua orang yang ganti berlainan latar belakang suku dan budaya.

b.

Komunikasi Antar Budaya ialah pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara verbal, tertulis, tambahan pula secara
imajiner
antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.

c.

Komunikasi Antar Budaya yakni pembagian pesan yang berbentuk informasi atau hiburan nan disampaikan secara oral ataupun tertulis ataupun metode lainnya nan dilakukan oleh dua orang yang berlainan latar balakang budayanya.


1.



Pengertian Komunikasi

Secara etimologis, menurut Onong Uchjana Effendi, istilah komunikasi berasal berpangkal bahasa ingris “comunication”
yang bersumber berusul bahasa latin
“communication”
yang signifikan “pemberitahuan” atau peralihan pikiran. Maka makna hakiki dari
communication
ini adalah
communis
yang berguna “sama” ataupun “kesamaan arti”.


[9]




Sedangkan ditinjau dari terminologis para ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi antara lain sebagai berikut:

Wilbur Schramm dalam uraiannya mengatakan bahwa sebenarnya, definisi komunikasi terbit dari bahasa latin
“communis”.
Bila mana kita melakukan komunikasi itu artinya kita mencoba untuk berbagi makrifat, ide, maupun sikap. Kaprikornus, bibit komunikasi itu adalah menjadikan si pengirim dapat berhubungan bersama dengan si penyambut kurnia menyampaikan isi pesan.


[10]





2.



Pengertian



Budaya






Budayaialah suatu mandu spirit nan berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok turunan dan diwariskan berbunga generasi ke generasi.


[11]



Budaya terdidik pecah banyak unsur yang rumit, termasuk

sistem



agama



dan

politik
, resan istiadat,

bahasa
, perkakas,

pakaian
,

bangunan
, dan karya

seni
.


[12]





Bahasa
, seperti mana kembali budaya, ialah putaran tak terpisahkan terbit diri bani adam sehingga banyak cucu adam berorientasi menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha ber
komunikasi



dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.


[13]



budaya berkepribadian kompleks, maya, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.



[14]




Tamadun sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski membentangkan bahwa segala sesuatu nan terletak internal masyarakat ditentukan oleh peradaban yang dimiliki oleh publik itu sendiri. Istilah bakal pendapat itu adalah
Cultural-Determinism.

Herskovits memandang peradaban sebagai sesuatu yang jebluk temurun berbunga suatu generasi ke generasi yang bukan, yang kemudian disebut seumpama
superorganic.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian biji sosial, norma sosial, guna-guna laporan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain, tambahan lagi barang apa pernyataan sarjana dan artistik yang menjadi ciri khas suatu awam.

Berasal berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai tamadun adalah sesuatu nan akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide alias gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-perian, kebudayaan itu bertabiat khayali.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai manusia yang berbudaya, aktual perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan usia, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-bukan, yang kesemuanya ditujukan buat mendukung manusia internal melangsungkan kehidupan bermasyarakat.


3.



Signifikasi



Tungkai



Madura





Kependudukan basyar Madura tersebar di penjuru provinsi, begitu jugaGili Raja,Sapudi,Raas, danKangean. Selain itu, khalayak Madura lampau di episode timurJawa Timurlumrah disebut wilayahTapal Jaran, dariPasuruansampai paksinaBanyuwangi. Manusia Madura yang berada diSitubondo,Bondowoso, sebelah timurProbolinggo, utaraLumajang, dan utaraJember, jumlahnya minimal banyak dan jarang nan dapatberbahasa Jawa, juga Surabaya paksina, serta sebagian Malang. terserah juga yang berkampung diBawean, di negeri setanggaMalaysia,Timor Leste,Brunei Darussalammisalnya juga ada, mereka ada yang menjadi penghuni tetap (sudah lalu dapat IC/ salinan tinggal selamanya.), Bahkan ada juga di negara negaraTimur Paruh.

Mayoritas mahajana intim 100 % suku Madura adalah pengikut Selam bahkan suku Madura yang lewat di Madura bisa dikatakan 100 % muslim. tungkai Madura terkenal sangat setia dalam beragama selam. Suku Madura naik daun karena gaya bicaranya yang blak-blakan. Juga dikenal irit, disiplin, dan rajin bekerja.

Harga diri, juga paling penting dalam spirit orang Madura, mereka memiliki sebuah petitih “
lebbi bagus pote tollang, atembang pote ain.” Artinya, bertambah baik sepi (putih lemak tulang) daripada malu (putih indra penglihatan). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi
carok
puas masyarakat Madura, sahaja tradisi ini lambat laun melemah seiring dengan terdidiknya kaum remaja di pelosok desa, adv amat mereka mengaryakan kemustajaban sentimental dan tenaga semata-mata, namun kini mereka lebih arif dalam menyikapi bermacam rupa persoalan yang ada.


[15]


Adat dan kepribadian sosok Madura yakni titik tolak terbentuknya watak dengan pendirian konsisten yang dipengaruhi oleh karakteristik geografis daerahnya. Satu cara yang menjadi fenomena orang Madura, ialah dikenal sebagai orang yang berada menjeput dan menarik manfaat nan dilakukan bermula hasil budi hamba allah tak, tanpa mengorbankan kepribadiannya koteng. Demikian juga hamba allah Madura pada lazimnya menghargai dan menjunjung panjang rasa kebersamaan kepada orang lain.

Sebagai tungkai yang hidup di kepualauan, manusia Madura dijaman dulu sedikit mendapat kesempatan bakal berinteraksi dengan mayapada luar. Mereka tinggal berhati-hati, dan akibatnya sesuatu nan menclok dari luar merupakan gertakan bagi dirinya. Meskipun pada dasarnya mereka konservatif, yakni berusaha memelihara dan menjamin kredit-nilai yang mengakar dalam dirinya. Tapi dalam segi yang tidak, orang Madura menunjukkan firasat nan kuat untuk menjamin dan bertahan kontinuitas nyawa, karena mereka didorong bagi mengakui dan memanfaatkan nilai-nilai yang terserap semenjak luar.

Umpama lengkap yang paling gamblang, momen tentara Bali mengakuri kekalahan di Sumenep, mereka dihargai sebagai tamu dan andai uri untuk kemudian memperkenalkan cara-cara bertani garam. Maka paling awal itu orang-orang setempat menyebarkan keseluruh Madura.

Demikian pula, dengan kedatangan para saudagar Gujarat nan menyiarkan agama Islam di Madura, mampu dan bertelur mengislamkan para penasihat dan bangsawan Madura sampai menyebar keseluruh pelosok Madura. Dengan bukti-bukti tersebut, maka lain bermartabat bila watak dan sikap hidup Madura bebal dan sulit diajak kerja sebabat. Lebih-lebih sebaliknya, sampai-sampai mereka lebih akrab, longo kerumahtanggaan kondisi apapuna.

Belaka kemungkinan besar, kalaupun terjadi polemis, terletak pada terputusnya komunikasi bahasa yang orang luar menganggap angkuh dan bertahan. Padahal sebenarnya, bila seseorang mengenal lebih lanjut dan berkomunikasi lancer dengan orang Madura maka akan sirna bayangan keras dan bringas itu. Kecuali terhadap pendatang yang menggadang, menyinggung manah dan kepingin negatif pamor dan hak kepentingannya, maka tak segan-segan mereka akan merenjeng lidah melalui kekerasan. Ataupun dengan kata bukan, meski dengan wajah sauh dan bringas belum tentu berharga berprilaku kasar atau keras.


4.



Pengertian Kaki Sunda

secara etimologi kata Sunda berasal dari akar tunggang alas kata Sund ataupun pembukaan Suddha dalam bahasa Sansekerta nan n kepunyaan pengertian menyinar, terang, berkilau, salih.


[16]



Privat bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terletak kata Sunda, dengan konotasi: asli, suci, asli, bukan tercacat/bercoreng, air, tumpukan, hierarki, waspada.


[17]



Makhluk Sunda meyakini bahwa memiliki etos maupun karakter Kasundaan, laksana jalan menuju keutamaan hidup. Budi orang Sunda yang dimaksud adalah

cageur

(sehat),

bageur

(baik),

bener
(benar),

singer
(mawas diri),
wanter
(berani) dan
pinter
(cerdas). Fiil ini sudah dijalankan maka itu mahajana Sunda sejak zamanImperium Salakanagara,Kekaisaran Tarumanagara,Kekaisaran Sunda-Galuh,Kerajaan Pajajaranhingga sekarang.

Penglihatan spirit Selain agama yang dijadikan sikap hidup, orang Sunda pun mempunyai sikap hidup yang diwariskan oleh nini moyangnya. Sikap hidup tersebut tidak antagonistis dengan agama nan dianutnya karena secara tertera dan tersirat dikandung pun internal wahyu agamanya, khususnya visiun agama Selam.

Dalam percakapan sehari-hari, suku Sunda banyak menggunakan bahasa Sunda. Saja kini telah banyak masyarakat Sunda terutama nan tinggal di perkotaan tidak lagi menggunakan bahasa Sunda dalam bersuara kata.


[18]



Seperti yang terjadi di daya-pusat keramaian kotaBandung,Bogor, danTangerang, dimana banyak masyarakat yang bukan lagi menggunakan bahasa Sunda.

Hubungan antara manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat Sunda lega dasarnya harus dilandasi oleh sikap
“silih asah, silih didik, dan silih asih”, artinya harus ganti mengasah atau mengajari, saling momong ataupun membimbing dan tukar mengasihi sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kesepakatan, kesentosaan, ketentraman, dan kekeluargaan.

B.

Proses Komunikasi Antar Budaya

Proses terjadinya komunikasi antar budaya dipondok Pesantren salafiyah Syai’iyah Sukorejo, seperti yang diungkapkan oleh

Liliweri

bahwa proses komunikasi antar budaya terjadi ketika interaksi antarpribadi yang dilakukan maka itu beberapa orang yang memiliki latar pantat peradaban yang farik (2003, p. 13). Komunikasi antar budaya Sunda dengan Madura ini terjadi manakalah kedua kebudayaan tersebut terlibat kerumahtanggaan kegiatan komunikasi yang mengangkut serta latar belakang budaya masing-masing berupa pengalaman, wara-wara, dan nilai


[19]


.

Banyak masalah komunikasi antarbudaya acap kali timbul hanya karena cucu adam kurang menyadari dan tidak kreatif mengusahakan cara efektif dalam berkomunikasi antarbudaya.


[20]




Menurut William Howel (1982, privat Liliweri,2004:225), setiap individu memiliki tingkat kesadaran dan kemampuan yang berbeda-beda n domestik berkomunikasi antarbudaya. Tingkat kesadaran dan kemampuan itu terdiri atas catur kebolehjadian, yaitu:

1.

Koteng sadar bahwa anda bukan mampu memaklumi budaya khalayak tidak. Keadaan ini terjadi karena dia tahu diri bahwa anda enggak berlimpah memahami perbedaan-perbedaan budaya yang dihadapi. Kesadaran ini dapat mendorong orang untuk mengerjakan eksperimen bikin komunikaksi antarbudaya yang efektif.

2.

Kamu pulang ingatan bahwa sira berkecukupan memafhumi budaya khalayak lain. Situasi ini merupakan yang ideal artinya pemahaman akan kemampuan itu dapat mendorong untuk mengetahui, melaksanakan, memelihara dan mengatasi komunikasi antarbudaya.

3.

Dia lain sadar bahwa anda mampu memahami budaya turunan lain. Kejadian ini dihadapi manakala anak adam tidak siuman bahwa sira sepantasnya mampu mengamalkan untuk memafhumi perilaku bani adam lain, mungkin orang lain mencatat perilaku komunikasi dia.

4.

Kamu tidak siuman bahwa kamu enggak mampu mengahadapi perbedaan anatarbudaya, keadaan ini terjadi manakala seseorang adakalanya tidak mengingat-ingat bahwa sebenarnya dia tidak mampu menghadapi perilaku budaya sosok tidak.

Pintu III

Pembahasan


Pengaruh Komunkasi Antar Santri Bersuku Madura dengan Santri Bersuku Sunda dipondok Pesantren Salafiyah Syaf’iyah Sukorejo



Dika Maulana, santri
Teratak Pesantren Salafiyah Syaf’iyah Sukorejo
asal Majalengka, Jawa Barat. Beliau ikut kepesantren yang mempunyai santri mayoritas berkebudayaan suku madura ini plong musim 2022. Saat di interview, beliau mengakui kesulitan internal berkomunikasi kepada santri bawah madura disebabkan kurang mengetahui sempurna berkomunikasi dengan orang Madura. Dengan berkebudayaan Sunda, santri disekitarnya merasa risih akan perbedaan perbedaan watak dan sifatyang dimiliki dika.

Kesulitan kerumahtanggaan berkomunikasi ini ternyata berimplikasi sreg keseharian dika n domestik menjalani proses kegiatan belajarnya. Sampai-sampai, terkadang terjadi kesalahpahaman ketika berkomunikasi. Seperti, pewatakan bani adam madura yang gigih terkadang menyinggung perasaan dika

serta perbedaan cara berkomunikasi seperti pemakaian kosa kata, intonasi dan mimik wajah.


Tetapi start terbit kesulitan berkomunikasi, Dika mempelajari tamadun kaki Madura. Seiring berjalannya waktu, hingga saat ini, meskipun hanya memahami beberapa perbendaharaan kata dan kepribadian orang Madura, Dika mengarifi pola komunikasi ysng digunakan saat berinteraksi dengan santri assal Madura.

Lingkungan yang berbau tungkai Madura, ternyata mempengaruhi kepribadiannya misal orang Sunda, ini kerap kali menimbulkan perasaan pusing akan terdorong kedalam perwatakan suku Madura.

Namun perlu diakui, sedikitnya dia merasa berterima kasih terhadap keberadaan berjenis-jenis kebudayaan dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Disamping mengetahui perwatakan kebudayaan selain suku Sunda, menambah sikap toleransi, juga membusut ke-pekaan ketika berinteraksi dengan sesorang yang berlainan kebudayaan.


B.



Dominasi Komunikasi Antar santri bersuku Madura dengan santri bersuku Sunda dipondok Pesantren Salafiyah Syaf’iyah Sukorejo.

Definisi nan pertama dikemukakan didalam buku “Intercultural Communication: A Reader” dimana dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah wanti-wanti (message) nan harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu bagi konsumsi anggota bermula budaya yang lain (Samovar & Porter, 1994, p. 19).

Komunikasi antar budaya ialah proses dimana dialihkan ide atau gagasan suatu budaya yang suatu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dan hal ini bisa antar dua kebudayaan yang terkait ataupun makin, tujuannya bikin ubah mempengaruhi satu setara lainnya, baik itu untuk kebaikan sebuah peradaban atau lakukan menyakatkan perahu satu tamadun, atau dapat kaprikornus sebagai tahap awal berpunca proses akulturasi (pemberkasan dua kultur atau lebih yang menghasilkan kebudayaan nan hijau). Menurut Fiber Luce (1991) hakikat studi lintas budaya adalah studi komparatif yang bertujuan membandingkan :

a.

laur budaya tertentu

b.

konsekuensi atau akibat dari pengaruh kultur, bermula dua konteks kebudayaan atau lebih.

Harapannya dengan studi ini, setiap cucu adam akan memahami kebudayaannya sendiri dan menerima bahwa ada isu kebudyaan nan dominan nan dimiliki makhluk bukan intern relasi antarbudaya. Artinya komunikasi antar budaya dapat dilakukan kalau kita mengetahui kebudayaan kita dan peradaban khalayak lain.

Praktek komunikasi antar budaya yang dilakukan maka itu

Antar santri bersuku Madura dengan santri bersuku Sunda dipondok Pesantren Salafiyah Syaf’iyah Sukorejo


(komunikasi multikultural)


yang menghasilkan efek-efek yang berlainan (Carley H.Dood, 1982)

akan mempengaruhi secara spontan baik pengaruh yang bersifat
kognitif
ataupun yang bertabiat
afektif
merupakan (Litvin dalam Purwasito, 2003:47):

1.

Memberi kepekaan terhadap diri seseorang tentang budaya asing sehingga dapat erotis pemahaman yang lebih baik mengenai budaya seorang dan mengetahui distorsi-biasnya,

2.

Memperoleh kemampuan untuk serius terlibat dalam tindak komunikasi dengan orang lain yang berbeda-beda latar belakang budayanya sehingga tercipta interaksi yang harmonis dan langgeng,

3.

Memperluas cakrawala budaya asing atau budaya anak adam lain, sehingga lebih mengoptimalkan empati dan pengalaman seseorang, nan berbenda mengintensifkan dan memiara pustaka dan makna kekompakan

4.

Membantu penyadaran diri bahwa sistem nilai dan budaya nan berlainan boleh dipelajari secara berstruktur, dapat dibandingkan an dipahami.

Cuma dibalik adanya sebelah nyata, tentu ada arah kontradiktif terhadap sisi tersebut. Berikut Dampak merusak komunikasi antarbudaya dalam umum :

a.

Mengakibatkan terjadinya pencarian ekuivalensi dalam operasi lakukan mencari insan nan mempunyai paritas budaya, kedaerahan dan lainnya sangat berkumpul dalam satu kelompok.

b.

Penarikan diri: penarikan diri dari interaksi bersemuka, atau bersumber satu kekerabatan.

c.

Kegelisahan: perasaan psikologis yang secara tiba-berangkat menghasilkan sebuah kejadian baru yang kurang aman/nyaman.

d.

Bertambahnya ketidakpastian: tidak ada usaha untuk mengurangi ketidakpastian atau dengan berusaha memprediksi perilaku barang apa nan akan dilakukan inversi bicara ketika berinteraksi.

e.

Stereotip: Penggeneralisasian makhluk-orang (kelompok etnis lain) berdasarkan sedikit info dan membentuk dugaan mengenai mereka berdasarkan kewargaan mereka dalam suatu kelompok.

f.

Prasangka: keyakinan yang didasarkan puas gagasan nan justru dahulu disederhanakan, digeneralisasi atau dilebih-lebihkan pada sekelompok orang.

g.

Etnosentrisme: menganggap kerumunan budaya/etnisnya nan lebih baik (superior) hingga bisa menimbulkan rasisme yaitu pengkategorisasian anak adam berlandaskan rona kulit, rambut, dan lainnya.

h.

 Culture Shock:kecemasan yang dihasilkan mulai sejak ingatan kehilangan tanda tanggungan dan simbol berusul kombinasi sosial, goyah budaya terjadi ketika kita memasuki lingkungan baru yang berbeda budaya.


Bab IV



Penutup

Komunikasi antar budaya lampau diperlukan di negara ini. Mengingat bangsa indonesia punya bermacam-diversifikasi budaya, akan lewat kondusif kerumahtanggaan internal kegiatan berkomunikasi.

Komunikasi antar budaya juga terlampau diperlukan dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Dengan mempunyai kurang lebig 15.000 santri. Menghafaz perbedaan watak dari setiap budaya yang melekat plong diri santri tentu hal ini mempermudah bagi santri bakal patuh berkomunikasi dengan sesama n domestik memenui kebutuhannya.

Sebagaimana yang telah dicontohkan diatas, bahwa perbedaan nan signifikan antara santri asal sunda dengan asal madura dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo menghasilkan sekuritas nan bermacam-keberagaman. Faktor penyebabnya adalah berasal kegiatan komunikasi itu seorang yang menyangsang pola-pola komunikasi. Kesalahan internal memahami pola komunikasi atau pesan nan tersirat yang disampaikan maka dari itu sendiri santri yang berbeda budaya bisa berimplikasi pada kesalah pahaman yang berujung pada peristiwa-hal yang enggak dinginkan.

Lakukan mencapai kemajuan dalam berkomunikasi, sesorang santri harus mempelajari dan mengepas saling memahami perbedaan nan ada serta menambah rasa toleran dan solidaritas terhadap sesama santri Dangau Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Komunikasi antar budaya dipondok pesantren salafiyah syafi’iyah sukorejo kembali menimbulkan bilyet baik berupa maupun negatif. Diantara efek psitif nan dihasilkan dari komunikasi antar budaya adalah wawasan koteng santri diperkaya terhadap kebudayaan yang belum diketahuinya. Efek negatif berasal komunikasi antar budaya adalah persilihan putih diri seseorang secara perlahan.

Seorang santri agar bertambah memahami pola-pola dalam berkomunikasi antar budaya, sebaiknya terciptanya suasana yang tentram, rukun serta mumbung rasa ketahanan sesama santri dipondok pesantren salafiyah syafi’iyah sukorejo.


Daftar bacaan

Anandakusuma,

(
1986: 185-186
)
; Mardiwarsito,

(
1990: 569-570
)
; Winter,

(
1928: 219)


Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat.
Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Bani adam-Turunan Berbeda Budaya. 2006. Bandung:Remaja Rosdakarya.peristiwa.25

Hasbullah, Moeflich.
Tergerusnya Kebudayaan Sunda. Kompas Cetak.


http://Suku%20Sunda%20-%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas.html



https://id.scribd.com/doc/161886014/Bilyet-KOMUNIKASI-ANTAR-BUDAYA

https://mfth12.wordpress.com/2016/11/30/supremsi-komunikasi-antarbudaya-dalam-komunikasi-antarpribadi-makalah-mahasiswa


Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi




Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi




Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi

Liliweri, 2004:254


Onong Uchjana Effendi,
Dinamika Komunikasi,
(Bandung, Remaja Rosda Karya, 1992) hal.6



Onong Uchjana Effendi,
Jangkauan Komunikasi,
(Bandung: Bandar Beradab, 1992) hlm.14



Rouffaer (1905: 16) Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289)
.

Samovar dan Porter, 1972


WJS. Poerwadarminta,

Kamus Masyarakat Bahasa Indonesia
, (Jakarta : Balai Pustaka, 1976), h.235

Asnawir dan Basyirudin Ustman,
kendaraan pembelajaran
, Jakarta: ciputat press, 2002 situasi. 45



Onong Uchana Effendy, Dinamika Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 hlm. 6.


Deddy Mulyana & Jalaludin Hadiah, Komunikasi Antar Budaya, Hal 20


Alex. H. Rumondor dkk, komunkasi antar budaya, (Jakarta: kunci penerbitan universitas terbuka, 2001). Hlm. 117


https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda









[2]





http://santri.net/informasi/pesantren-indonesia/pondok-pesantren-salafiyah-syafiiyah-asembagus-situbondo-jatim/





[3]





Asnawir dan Basyirudin Ustman,
sarana pembelajaran
, Jakarta: ciputat press, 2002 peristiwa. 45





[4]





Onong Uchana Effendy, Dinamika Komunikasi (Bandung: Mulai dewasa Rosdakarya, 2004 hlm. 6.







[5]





Deddy Mulyana & Jalaludin Rahmat, Komunikasi Antar Budaya, Hal 20







[6]





Alex. H. Rumondor dkk, komunkasi antar budaya, (Jakarta: sosi penerbitan universitas melenggong, 2001). Hlm. 117





[7]





https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda





[8]





WJS. Poerwadarminta,

Kamus Umum Bahasa Indonesia
, (Jakarta : Auditorium Teks, 1976),
h.235





[9]





Onong Uchjana Effendi,
Skop Komunikasi,
(Bandung: Bandar Maju, 1992) hlm.14






[10]





Onong Uchjana Effendi,
Dinamika Komunikasi,
(Bandung, Remaja Rosda Karya, 1992) peristiwa.6






[11]










Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi







[12]






Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi








[13]






Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi








[14]






Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat.
Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. 2006. Bandung:Muda Rosdakarya.hal.25





[16]






Rouffaer (1905: 16) Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289).





[17]






Anandakusuma,
(1986: 185-186); Mardiwarsito,
(1990: 569-570); Winter,
(1928: 219)





[18]





Hasbullah, Moeflich.
Tergerusnya Kebudayaan Sunda. Kompas Cetak.





[19]






Samovar dan Porter, 1972


Source: https://artikelfakultasdakwah.blogspot.com/2018/04/contoh-karya-tulis-ilmiah-komunikasi.html