Contoh Soal Pemanfatan Buku Sebagai Sumber Belajar

SUMBER Berlatih, Wahana DAN ALAT PERAGA

A. PENDAHULUAN


Bergulirnya  Kurikulum kala nanti yakni kurikulum berbasis Kompetensi atau KBK, pada dasarnya harus menjadi tantangan bagi semua pihak berbuat beberapa anju dan pembenahan, diantaranya dalam mempersiapkan desain dan inovasi-inovasi dibidang sumur belajar, sarana pembelajaran dan alat peraga.

Kecondongan dunia daya kreasi berasal para pendidik buat rataan-bidang ini akan ditantang, sejauhmana mereka mampu membalas peliknya rumusan-rumusan standar kompetensi yang harus dicapai pelajar dalam menempuh KBK ini. Atas pemikiran inilah maka penulis merasa teristiadat untuk menetengahkan pula bahan diskusi dalam kertas kerja boncel ini, sebagai stimulus bagi kita semua bikin kembali mampu mempertimbangkan, mengerjakan-memproduksi, mengujicobakan serta menilainya. Dengan demikian apa yang menjadi tujuan dalam KBK ini diantaranya berharta dioptimalkan pencapaiannya menerobos penggunaan dan pemanfaatan sumur belajar, media dan alat peraga.

Akan doang internal pelaksanaannya terutama sreg tahap pembukaan dan pemetaan dari ketiga konsep ini, yaitu
sumber belajar, media penataran dan perabot peraga,
kadang barangkali masih simpang siur. Bakal itu pada semula pembicaraan ini notulis akan memulainya dengan keseleo satu ilustrasi yang barangkali bisa mengapalkan menjadi bahan diskusi kita untuk kembali mengerjakan analisis secara lebih cermat.

B. ILUSTRASI DALAM MEMAHAMI  Perigi BELAJAR, MEDIA DAN ALAT PERAGA

Ketika sendiri guru bernama pak Ahmad akan mengajarkan sebuah kompetensi dasar, denga judul  ”pulang ingatan urat kayu ” pada cak bimbingan matematika, maka guru tersebut  mencoba untuk  menyiapkan  sebuah kubus, kawat dan bilah dengan dimensi-matra nan telah ditetapkan.  Pertama-tama Sampul Ahmad  menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut serta aktivitas yang harus dilakukan siswa sejauh penelaahan berlantas. Kemudian Pak Ahmad menjelaskan makrifat  yang penting tentang Kubus tersebut, berangkat bersumber panjang, lebar dan tingkatan, diagonal urat kayu dan satuan serta ukuran-ukuran yang penting kepada siswa. Selama menguraikan Pak Ahmad  camar mengikutinya  dengan cara menunjukkan babak-adegan nan penitng dari ciri-ciri kubus tersebut pada  Kubus yang ia pegang. Siswapun meperhatikannya dengan mumbung seksama. Bertepatan sesekali  Pak Ahmad menusukkan kawat-benang besi nan dipeganggnya  ke dalam kubus tersebut pak Ahmad terus menjelaskan tentang apa nan dilakukannya kepada peserta. Setelah bilang lama petatar disuruh mengambil mistar , kemudian Paket Ahmad  mengajak seorang siswa ke depan kelas kerjakan mengukur  tangga kawat yang dimasukkan secara silang dalam karton tersebut mulai berusul kacamata kiri atas hingga terobos ke sudut kanan pangkal seperti terlihat plong gambar di bawah ini.





Proses Menyukat Diagonal Ruang Sebuah Kubus

Saat itu pula siswa mengukurnya kemudian siswa tersebut menyebutkan berapa tangga benang kuningan yang masuk tersebut kepada teman-temannya. Selepas itu siswa  yang tak menjawabnya dengan serempak . Pak Ahmad pun tersenyum  lega, ternyata  jawaban murid serta upaya siswa nan disuruhnya telah melakukan tugasnya dengan baik.

Dari ilustrasi di atas, maka terdapat beberapa peranan berjasa yang dapat dipahami, mana nan teragendakan sumber berlatih, mana, media dan mana yang disebut alat peraga. Ketiga peranan tersebut yaitu: (1) Pak Ahmad sebagai guru matematika  memberikan penjelasan dan pimpinan kepada siswa; (2) Dus dan dawai nan dipegang dan dipakai Cangkang Ahmad untuk menjelaskan materi pembelajaran; (3) jidar  atau penggaris yang dipakai siswa bikin mengukur panjang benang kuningan umpama diagonal ruang kubus. Maka sesuai dengan situasi dan kondisi serta proses pembelajaran yang berlangsung seperti diatas, dapat ditemukan bahwa peranan (1), (2) dan (3) termasuk ke kerumahtanggaan sumber sparing. Peranan (2) termasuk ke internal wahana pembelajaran , karena informasi penataran yang diberikan kepada siswa disampaikan melewati alat penampil  adalah karton dan dawai. Peranan (3) termasuk ke dalam perabot peraga, karena mistar digunakan bakal membuktikan taksiran an perkiraaan panjang dari diagonal ira kardus tersebut nan diperagakan pesuluh.

Akan doang penatapan ketiga peraga nan dihubungkan dengan perbedaan antara sumber membiasakan, media dan perangkat peraga plong ilustrasi di atas mungkin akan memunculkan pendapat-pendapat lain. Barangkali sekali lagi kubus dapat dijadikan sebagai alat peraga juga, atau kawat  yang dipegang Kelongsong Ahmad dapat juga termaktub ke dalam ki alat. Kejadian ini telah suatu kenyataan di lapangan bahwa memang semuanya tidak salah. Akan tetapi perlu dijadikan kriteria bahwa yang dimaksud dengan Sumur Belajar itu lebih luas, ketimbang media dan perangkat peraga. Untuk lebih jelasnya perbedaan ketiganya boleh dilihat berasal konteks maksud penggunaan, dan konteks materi pembelajaran yang diajarkan.

C. PEMETAAN ANTARA Sendang BELAJAR, Ki alat DAN ALAT PERAGA


Berikut ini pencatat mencoba mempersoalkan pun pemikiran-pemikiran pokok tentang ketiga konsep di atas baik antara sumber belajar, sarana pengajian pengkajian maupun alat peraga.


1. Sumber Belajar

Suatu pandangan yang keliru takdirnya sumber sparing berarti di asing apa yang dimiliki guru, atau  siswa. Guru merupakan sumber sparing yang terdahulu, yaitu dengan segala apa kemampuan, wawasan saintifik, keterampilan dan pengetahuan yang luas, maka segala maklumat penataran bisa diperoleh dari hawa tersebut. Peserta, siswa memiliki sejumlah variasi aktivitas berlatih, camar duka belajar, laporan dan keterampilan, maka privat konteks tertentu apa nan terdapat pada diri siswa apat dijadikan bagaikan sumber belajar privat mempelajari suatu pengalaman-pengalaman belajar yang baru.

Sumber sparing pada dasarnya banyak sekali baik yang terdapat di lingkungan inferior, sekolah, sekeliling sekolah lebih-lebih di umum, tanggungan, di pasar, kota,desa, wana dan sebagainya. Yang perlu dipahami n domestik keadaan ini adalah masalah pemanfaatannya yang akan terampai kepada kreativitas dan budaya mengajar guru atau pendidika itu sendiri.

Vernon S. Gerlach &  Donald P. Ely (1971) menegaskan pada awalnya terletak jenis sumber sparing yakni

manusia, target, lingkungan, alat dan perlengkapan,  serta aktivitas.

a. Manusia

Manusia dapat dijadikan perumpamaan sumber berlatih, peranannya sebagai mata air belajar bisa dibagi ke n domestik dua kelompok. Kerubungan pertama adalah makhluk atau orang yang sudah dipersiapkan eksklusif sebagai sumber membiasakan melalui pendidikan yang spesial pula, sama dengan master, konselor, administrator pendidikan, tutor dan sebagainya. Kelompok Kedua yaitu turunan atau insan yang tidak dipersiapkan secara spesial cak bagi  menjadi seorang nara sumber akan tetapi punya  kepiawaian yang n kepunyaan kaitan hampir dengan programa penataran yang akan disampaikan, misalnya sinse, penyuluh kesehatan, petani, polisi dan sebagainya.



Pencatuan Manusia Sebagai perigi Membiasakan

b. Bulan-bulanan

Bahan yang dimaksud ialah segala sesuatu yang mengirimkan wanti-wanti/ permakluman untuk pembelajaran. Baik wanti-wanti itu dikemas n domestik rajah  trik cangkang, video, film, bola dunia, tabel, CD interaktif dan sebagainya. Kelompok ini biasany disebut dengan media pembelajaran. Demikian halnya dengan bahan ini, bahwa dalam penggunaannya bakal suatu proses pembelajaran dapat dibedakan menjadi du akelompok yakni bahan yang didesain khusus cak bagi pembelajaran, dan terserah lagi bahan/media yang dimanfaatkan bakal memasrahkan penjelasan materi pendedahan yang relevan.

c. Lingkungan

Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan yang kaya memberikan pengkondisian berlatih. Mileu ini juga di lakukan dua gerombolan yaitu mileu yang didesain tunggal lakukan pembelajaran, seperti laboratorium, kelas dan sejenisnya. Sementara itu  lingkungan yang dimanfaatkan kerjakan mendukung kejayaan pengutaraan materi pendedahan, di antaranyai lingkungan museum, kebun fauna dan sejenisnya.

d. Alat dan perlengkapan

Perigi belajar dalam tulangtulangan alat atau perlengkapan adalah alat dan perlengkapan yang dimanfaatkan lakukan produksi atau mencadangkan sumber-sendang belajar lainnya. Sebagai halnya TV  bikin membuat programa belajar jarak jauh, komputer lakukan membuat pembelajaran berbasis komputer, tape recorder untuk membuat programa pembelajaran audio dalam tuntunan bahasa Inggris, terutama untuk  mengemukakan kabar pembelajaran adapun

listening
(mendengarkan),
dan sejenisnya.

e. Aktivitas

Biasanya aktivitas nan dapat diajdikan sumber belajar adalah aktivitas yang kondusif pencapaian maksud pembelajaran, di mana didalamnya terwalak perpaduan antara teknik penyajian dengan sendang belajar lainnya yang memuluskan siswa sparing.  Seperti aktivitas intern bentuk diskusi, mengamati, sparing tutorial, dan sejenisnya.


2. Media Pembelajaran

Internal media pengajian pengkajian terdapat dua partikel yang terkandung , yaitu (a) pesan atau bahan pengajaran yang akan disampaikan atau perangkat lunak, dan (b) peranti penampil atau perangkat berkanjang. Sebagaii transendental  temperatur akan mengajarkan  bagaimana usap persuasi melakukan sholat. Kemudian temperatur tersebut menuangkan ide-idenya dalam susuk kerangka ke dalam selembar kertas, ia melukiskan setiap persuasi sholat tersebut n domestik jeluang tersebut, saat di kelas dia menjelaskannya kepada siswa bagaimana aksi sholat tersebut dengan mandu memperlihatkan poster yang bergambarkan gerakan-gerakan yang telah ia bagi sebelumnya. Kemudian siswapun melakukan persuasi sholati dengan segala yang terwalak dalam poster tersebut. N domestik perkembangan lebih lanjut plakat ini tertera ke kerumahtanggaan ki alat sederhana.

Dalam perkembangannya dan pemanfaatannya wahana penerimaan ini bisa dibagi bersendikan jenisnya, daya liputnya, bahan pembuatannya, yakni sebagai berikut :






Pembagian Jenis Media Pembelajaran


3. Alat Peraga

Kata kunci kerumahtanggaan memahami perlengkapan peraga dalam konteks penataran ialah
Angka Manfaat
, privat khasiat barang apa sesuatu  alat yang boleh menunjang kepentingan dan efesiensi penyampaian, pengembangan dan pemahaman deklarasi atau pesan pendedahan.  Terserah istilah lain berpangkal alat  peraga ini, diantaranya sering disebut sebagai
sarana belajar.

Seumpama ilustrasi, misalnya Pak Karakter akan mengajarkan bagaimana gambar dalam televisi  boleh terpandang di layar, maka Paket Karakter membawa televisi ke kelas, kemudian ia membukanya di depan kelas bawah, kemudian menjelaskan suatu-persatu kelebihan bermula sendirisendiri komponen televisi tersebut kepada siswa sehingga siswa mencerna kenapa rencana terlihat pad alayar televisi. Dalam ilustrasi tersebut kedudukan televisi yakni misal alat peraga , tak sebagai sarana.

D. ESENSI DARI Sumur Sparing, MEDIA DAN Organ PERAGA.

Pada dasarnya baik sumber belajar, kendaraan maupun gawai peraga memiliki esensi berarti takdirnya ketiganya diintegrasikan privat proses pendedahan. Di mana pati pentingnya adalah
informasi.

Makara informasi nan terkandung, nan melalui, yang diolah, ataupun yang disampaikan, semuanya akan mempengaruhi  daya dukung keberhasilan ketiganya dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang dimaksud. Dengan introduksi lain ketiganya harus memperhatian karakteristik dari informasi itu koteng, privat hal ini Santoso S. Hamodjoyo (2001) menyatakannya,  yaitu:

  • Dimensi
    Accessibility
    ( Daya Jangkau/Akses Wara-wara)

Informasi yang terdapat, atau dimuat dalam sumber belajra, media dan instrumen mestinya memperhatikan trik jangkau. Hal ini  menjadi masukan untuk pendidikan bagaimana mampu menunggangi dan memanfaatkan sendang belajara ki alat dan organ peraga agar informasi pembelajaran bisa mengaras kualitas akses yang optimal.

  • Format
    Speed (Kecepatan Informasi)

Pemakaian dan pemanfaatan mata air  belajar, wahana dan alat pera setidaknya harus mampu menambah ataupun membantu alias menjembatani karakteristik pemberitaan yang cepat, akan cuma mampu didengan cepat pula difahami oleh petatar didik dengan cepat pula.

  • Ukuran
    Amount (Jumlah/ Kuantitas Warta)

Keluasan dan varisi keterangan penelaahan yang mengalutkan peserta untuk memahaminya, maka diperlukan pula sumber, media, dan peranti peraga yang mampu menampungnya. Dengan demikian serumit apapun informasi pembelajran tertentu, maka dengan adanya penggunaan dan penggunaan perigi berlatih, wahana dan alat peraga yang mendukung, maka mualamat tersebut akan dapat diterima peserta didik  dengan bersistem.

  • Dimensi
    Cognitive Effectiveness (Keefektifan Memperoleh Takrif)

Keterangan yang tepat, sesuai dengan incaran yang dipelajari maka pencapaian siaran yang dibutuhkan akan dengan efektif dicapai melangkaui pemanfaatan sumber sparing, alat angkut dan alat peraga. Kecenderungan informasi yang bersifat  kognitif akan kongkrit  dan makin berguna kalau menggunakan sendang  belajar, media ataupun perkakas peraga yang kongkrit.

  • Dimensi
    Relevance (Kesesuaian Informasi)

Informasi pembelajaran yang sesuai kebutuhan siswa akan kian bermakna dan akan lebih lama tersimpan intern album peserta tuntun. Keadaan ini terutama akan cepat terlampiaskan sekiranya  informasi tersebut diperolehnya menerobos pancaindera baik optis, pendengaran maupun perabaan. Dalam kaitannya dengan hal tersbeut, maka sumber belajar, media dan perangkat peraga yang digunakan perlu hendaknya diperhatikan relevansinya.

  • Dimensi
    Motivating (motivasi )

Informasi  yang terlahir pecah proses berpikir orang akan mempunyai latar pinggul  kebutuhan untuk  kesamarataan nanang. Spesies dan bentuk  kenyataan yang dikemas, atau yang terkandung dari perigi belajar, ki alat, dan perangkat peraga akan mampu memberikan motivasi bagi peserta pelihara.

E.  PEMILIHAN  DAN PEMBERDAYAAN SUMBER BELAJAR, MEDIA DAN Perkakas PERAGA


Kiranya  sumber berlatih, kendaraan dan alat peraga yang digunakan privat proses pembelajaran dapat kontributif pencapaian kualitas penelaahan, maka perlu diketahui beberapa patokan, transendental, kriteria atau prinsip masing-masing. Demikian juga dalam mengamalkan pemberdayaannya maka seorang guru harus memperhitungkan aspek-aspek yang mendukungnya.

1.  Pemilihan Sumber Sparing, Meida dan Radas Peraga

a.  Pemilihan Sumur Sparing


Dalam pemilihan mata air sparing tergantung kepada (1) motivasi; (2) kemampuan guru kerumahtanggaan penggunaannya. Selanjutnya akan ditentukan bersendikan :

    1. Program Pengajaran
    2. Kondisi Mileu
    3. Karakteristik siswa
    4. Karakteristik  sumber  membiasakan

Kelima hal tersebut harus menjadi kriteria dalam memilih sumber belajar yang akan dimanfaatkan dalam proses pendedahan.

b. Pemilihan Media Penerimaan


Dalam pemilihan media pendedahan harus dikaitkan dengan : (1) kompetensi dasar; (2) garis haluan pembelajaran; (3) sistem evaluasi nan digunakan.
Kaidah Pemilihan media:
a) Tujuan Pemilihan; b)karakteristik media; 3)alternatif seleksi.
Faktor yang perlu diperhatikan :
1) keobjektifan; 2) program indoktrinasi; 3) Sasaran acara (siswa); 4) situasi dan kondisi; 5) kualitas teknis; 6) keefektifan dan efesiensi pengusahaan.
Patokan Seleksi
, mencakup:

  1. Topik menarik minat pelajar.
  2. Materi dalam media terdahulu bakal siswa.
  3. Relevan dengan kurikulum nan dolan.
  4. Apakah materinya autentik dan substansial.
  5. Apakah fakta atau konsepnya bermoral.
  6. Format sistematis dan mantiki.
  7. Objektif penyesuaian kebutuhan siswa.
  8. Narasi, bentuk, bilyet, rona dan sebagainya memenuhi syarat kualitas.
  9. Bahasa, tanda baca dan ilustrasi cukup komunikatif.
  10. Telah bonafide ki akal dukungnya.


c.  Seleksi Alat Peraga


Terdapat tolok nan teristiadat diperhatikan dalam pemilihan alat peraga untuk pembelajaran masa kini terutama kalau melihat karakteristik KBK, merupakan mencakup:

  1. kesesuaian instrumen pengajaran yang dipilih dengan materi pengajaran atau macam kegiatan nan akan  dilakukan oleh siswa;
  2. kemudahan dalam memperoleh alatnya dan kemudian dalam perancangannya;
  3. kemudahan dalam penggunaannya;
  4. terjamin keamanan privat penggunaannya;
  5. kemampuan dana;
  6. kemudahan internal penyimpanan, pemeliharaan dan sebagainya.

2. Pemberdayaan Sumber Belajar, Alat angkut dan Alat Peraga

Dengan ketersediaan ataupun hasil produksi, maka penggunaan sumber belajar, media dna alat peraga tidak hanya dilakukan semacam itu saja dari tahun ke waktu. Untuk itu perlu upaya pihak guru, sekolah, siswa, basyar tua, komiter sekolah dan dewan sekolah bikin mengerjakan upaya-upaya pemberdayaan kearah yang makin optimal. Hal ini dulu penting hendaknya penggunaannya bukan monoton.


Asep Herry (2002), mencadangkan beberapa ideal upaya pemberdayaan sumber belajar yang mudah, murah dan efektif terhadap pencapaian tujuan pembelajaran, diantaranya :

  1. Barang Mantan (Babe), seperti keluaran, bungkus rokok, korek api, jeluang, kotak bungkus, dan sebagainya bisa dimanfaatkan dalam proses penerimaan sebagaimana kerumahtanggaan melakukan pembekalan kecekatan privat  menghias, menggunting, dan kerjasama.
  2. Realitas (sekolah, rumah , pemukiman), misalnya akan efektif dalam memasrahkan pengalaman mengenai perjalanan siswa mulai sejak rumah smapai ke sekolah.
  3. Benda yang mempunyai nilai khusus, dapat digunakan buat menyorongkan materi mengenai perilaku, sikap dan moral pelajar didik yang nilai-nilainya diambil pecah perlakukan mereka terhadap benda-benda terebut.

Pemberdayaan sumber belajar, kendaraan dan alat peraga dapat dilakukan pada tahapan :

  1. diawal pembelajaran
  2. sejauh proses pembelajaran
  3. intiha proses penerimaan
  4. di luar masa pembelajaran

Dalam hubungannya dengan upaya memelihara sumur belajar, media dan perabot peraga di sekolah, maka perlu dilakukan kerjasama antara , guru dengan Kepala Sekolah dan tenaga kependidikan lainnya, penyelia akademis, supervisor, ayah bunda, dewan sekolah, sampai-sampai siswa itu sendiri.

F.  PRODUKSI DAN Ekspansi  SUMBER Belajar, Alat angkut DAN Perangkat PERAGA


Terletak beberapa media terlambat yang dapat dikembangkan guru bagi maslahat yang buru-buru dipenuhi, misalnya  membuat sarana-alat angkut tercecer seperti poster,  ceritera berlukis dengan memperalat foto, OHT,
sejarah ceritera (penerimaan melalui audio), papan planel dan sejenisnya. Berikut ini adalah komplet langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memproduksi beberapa jenis media sederhana.

1. Langkah Produksi Poster dalam Penerimaan Mantra Sosial

Privat memproduksi sebuah poster, maka ada bilang hal yang harus diperhatikan, yaitu: a)objek bulan-bulanan; b)tempat penyajian; c)lama presentasi; d)perhatikan pembukaan kunci dan simbol nan sesuai; e)harus mampu dibaca dengan singkat.

Anju internal membuat poster yakni perumpamaan berikut :

  1. Menetapkan rancangan isi : tema poster; tujuan khusus; pokok-pokok materi yang akan dituangkan dalam surat tempelan.
  2. Merancang susuk sketsa.
  3. Memperjelas/ memperbesar sketsa.
  4. Hadiah warna.
  5. Latering yang berisi pesan teks sreg poster.

2. Langkah Produksi OHT

Langkah yang ditempuh tiba dari :

1)    membuat silabus pembelajran

2)    membuat sketsa tranfaran lega kertas

3)    membuat transfaransi dengan menuangkan prolog-pengenalan kunci dari materi pokok.

4)    Pembuatan birai, dengan berbagai teknik  presentasi:

  • Disclosure, yaitu oht dengan penyajian penutupan bagian yang belum dijelaskan serta meperlihatkan fragmen nan menengah dijelaskan.
  • Overlays , yaitu oht dengan penyampaian bagian demi fragmen yang silih melengkapi dengan sistem tumpuk, dimulai dari bagian siasat materi (gambar –proses) kemudian dilengkapi dengan putaran gambar selanjutnya berusul oht berikutnya sebatas terpelajar rancangan-proses yang transendental.

5)    Penyimpanan tranfaransi dalam album bernomor.

Pada dasarnya masih banyak sumber belajar, alat angkut dan gawai peraga tercecer nan dapat diproduksi  oleh kita. Mulai sejak uraian di atas kita bisa mencobanya secara lebih baik.

G. Penutup


Plong dasarnya jabaran pengetahuan pelatihan n domestik makalah kerdil ini saja saja merupakan
rethinking
(relaksasi pemikiran pula) sreg diri kita semua terhadap segala apa yang telah stereotip dilakukan. Akan tetapi dari apa yang sudah didiskusikan akan fertil memberikan dorongan bagi kita semua untuk kian produktif meningkatkan kualitas pembelajaran di era KBK ini melangkaui penggunaan dan pemanfaatan sumber membiasakan, media dan alat peraga secara lebih tepat dan  optimal.

H. DAFTAR Referensi

  • Ase S. Muchyidin, 2001. Kajian Kebutuhan Sumber  Pengumuman dan Sumur Belajar. , Bahan Diklat e- Learning Propinsi Baten  tahun 2001. Dinas Pendidikan Propinsi Banten
  • Asep Herry Hernawan. 2001. Sumber Sparing: Bahan Diklat e- Learning Propinsi Baten  tahun 2001. Biro Pendidikan Propinsi Banten.
  • Gerlach S. Vernon & Donald P. Ely,  1971, Teaching & Media : A Systematic Approach.New Jersey:  Prentice peristiwa- Company.
  • Depdiknas Propinsi  Banten, 2002, Pelatihan g Guru Papan bawah Sekolah Sumber akar, Banten: Jawatan Pendidikan propinsi Banten.
  • Santoso S. Hamidjoyo dalam Deni Darmawan, 2001,
    Computer Mediated Communication dalam Meningkatkan Kualitas output SDm Divlat PT. Telkom.

    Bandung : Pascasarjana Unpad.
  • Sudirman, dkk, 1991, I Aji-aji Pendidikan. Bandung : Mulai dewasa Rosdakarya.
  • Triggs Teal. 1995.  Communicating Design in Visual Communication. London: Basford Ltd.

Source: https://sites.google.com/site/tirtayasa/sumber-belajar-media-dan-alat-peraga