Contoh Soal Tentang Memahami Konsep Belajar Dan Pembelajaran













1. Jelaskan apa hakekat berpunca belajar dan penelaahan. Bagaimana peran dan tugas guru dalam proses pembelajaran?

Jawab

Banyak penjelasan terkait pengertian belajar, diantaranya yang disampaikan oleh beberapa ahli berikut ini :


Ø



Moh. Syamsu (1997), belajar diartikan bak

suatu proses yang dilakukan oleh anak adam bakal memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, bagaikan hasil pecah asam garam individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.


Ø



Witherington (1952) : belajar merupakan perlintasan dalam budi yang dimanifestasikan ibarat acuan-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, resan, pengetahuan dan kecakapan.


Ø



Di Vesta dan Thompson (1970) : belajar adalah perubahan perilaku yang nisbi berkampung sebagai hasil dari camar duka.


Ø



Gage & Berliner : belajar adalah suatu proses pertukaran perilaku yang yang muncul karena pengalaman

Berlandaskan pengertian tersebut boleh dikatakan bahwa sparing

merupakan proses masukan kemampuan nan berasal berbunga pengalaman, yang menghasilkan kemampuan, perolehan kelincahan dan perubahan sikap yang boleh dikuasai manusia secara bertahap maupun belajar merupakansuatu perubahan perilaku yang terjadi berdasarkan proses/pengalaman.

sedangkan penelaahan merupakan serangkaian kegiatan atau proses interaksi siswa didik dan pendidik serta perigi membiasakan yang terjadi sreg suatu lingkungan belajar nan menyebabkan terjadinya proses belajar.

Peran dan tugas temperatur dalam proses pembelajaran diantaranya :


a)



Bak
konservator
(pemelihara), dimana guru bertugas memelihara sistem
kredit yang yaitu sumber norma kedewasaan. Tak namun mentransfer deklarasi tetapi suhu sekali lagi berperan mengolah siswa lega keadaan-hal nan baik, yang sesuai dengan norma atau aturan;


b)



Sebagai
trasnmitor
(penerus) sistem skor-nilai yang dianggap baik agar boleh diterapkan oleh siswa;


c)



Sebagai
transformer
(penerjemah) sistem nila-nilai nan sudah suka-suka menerobos sebut bahasa dan perilakunya;


d)



Andai
planner
(perencana) seperti mana master berperan mempersiapkan apa yang akan dilakukan didalam proses pembelajaran;


e)



Sebagai
manajer
proses penelaahan, dimana guru bertugas mengelola proses operasional pembelajaran, mulai berpangkal mempersiapkan, mengorganisasikan, melaksanakan hingga mengevaluasi;


f)



Perumpamaan
director
(pemandu) bertugas menunjukkan arah dari tujuan penataran;


g)



Sebagai
organisator
(penyenggara) bertugas mengorganisasikan seluruh kegiatan pengajian pengkajian, start dari memimpin, sensual, menggerakkan sampai mengarahkan sesuai lembaga kegiatan pembelajaran nan tela dibuat;


h)



Bagaikan
komunikator
bertugas mengkomunikasikan pelajar dengan berbagai sumur belajar;


i)



Seumpama
penyedia
bertugas memberikan kemudahan bagi murid dalam melaksanakan pengajian pengkajian;


j)



Perumpamaan
motivator
bertugas memberikan dorongan berlatih,


k)



Sebagai
evaluator (penilai) bertugas mengenali, mengumpulkan, menganalisis dan mempertimbangkan tingkat keberhasilan belajar berdasarkan standar nan telah ditetapkan.



2.





Jelaskan segala nan dimaksud sebagai pembelajaran sebagai suatu sistem dan penerimaan seumpama suatu proses?

Jawab

Pembelajaran sebagai suatu sistem merupakan

pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir antara tak tujuan penerimaan , materi pembelajaran , garis haluan dan metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga , aktivasi kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran (remedial dan pengayaan).

Sedangkan pembelajaran sebagai suatu proses adalah

Pembelajaran
merupakan rangkaian upaya atau kegiatan hawa dalam rangka takhlik siswa belaja, meliputi:







Anju

, merencanakan programa indoktrinasi
tahunan, semester, dan penyusunan persiapan mengajar (lesson plan) dan
penyiapan perangkat kelengkapannya antara lain gawai peraga, dan alat evaluasi, sendi
atau media cetak lainnya.







Melaksanakan kegiatan pembelajaran



dengan mengacu puas persiapan penerimaan
yang telah dibuatnya. Banyak dipengaruhi maka itu pendekatan atau strategi dan metode-metode penataran yang telah dipilih dan dirancang penerapannya, serta filosofi kerja dan komitmen suhu , persepsi, dan sikapnya terhadap siswa;







Menindaklanjuti pembelajaran



nan telah dikelolanya. Kegiatan pasca pembelajaran ini boleh berbentuk
enrichment
(pengayaan), bisa pula berupa kasih layanan
remedial teaching
bagi murid yang berkesulitan berlatih.



3.






Jelaskan empat pilar pendidikan yang dikeluarkan oleh UNESCO?

Jawab

Bakal menghadapi dan menyesuaikan diri dengan aplikasi perkembangan marcapada yang tinggal cepat, UNESCO (Nana Saodih Sukmadinata, 2005) memformulasikan empat pilar pendidikan, diantaranya : belajara mengetahui
(learning to know), belajar berkarya/mengamalkan (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together) dan belajar berkembang secara utuh (learning to be)


1. Belajar mengetahui (learning to know)

Berlatih

mengetahui berkenaan dengan pemerolehan, perebutan dan pendayagunaan informasi. Membiasakan mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pemberitaan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya masukan publikasi, menerobos membaca, mengakses internet, bertanya, mengajuk kuliah, dll. Publikasi dikuasai melintasi hafalan, cak bertanya-jawab, diskusi, latihan pemisahan kelainan, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan cak bagi mengaras majemuk tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, mengamankan kelainan, belajar lebih lanjut, dll. Menurut Jacques Delors (1996) terdaat dua faedah bersumber pesiaran, yaitu pengetahuan sebagai perangkat (mean) dan wara-wara sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan lakukan pencapaian berbagai tujuan, seperti: memaklumi lingkungan, hidup patut sesuai kondisi lingkungan, pengembangan ketangkasan bekerja, berkomunikasi. Sebagai hasil, pengetahuan mereka dasar kerjakan kepuasaan mengerti, mencerna dan menemukan.

Wara-wara terus berkembang, setiap momen ditemukan pengetahuan bau kencur. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi
knowing much
(berusaha tahu banyak).


2. Belajar berkarya
(learning to do)


Seharusnya congah menyepadankan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka turunan perlu membiasakan berkreasi. Sparing berkarya berhubungan intim dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari kelakuan. Internal konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini memiliki makna khusus, yaitu kerumahtanggaan kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau sparing menguasai kesigapan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan kronologi industri dan perusahaan, maka keterampilan dan pertandingan kerja ini, juga berkembang semakin tahapan, lain hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis ataupun operasional, semata-mata sampai dengan kompetensi profesional. Karena permintaan jalan hidup didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/maupun telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus berharta
doing
much
(berusaha berkarya banyak).


3. Belajar umur bersama
(learning to live together)


Dalam jiwa global, kita tidak tetapi berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sebagaimana aneka kelompok tersebut. Seyogiannya rani berinteraksi, berkomonikasi, berkomplot dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki rataan belakang pendidikan, kebudayaan, pagar adat, dan tahap perkembangan yang farik, agar bisa bekerjasama dan usia rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama,
being sociable
(berusaha membina atma bersama)


4. Belajar berkembang utuh
(learning to be)


Tantangan vitalitas nan berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Individu yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun tata krama. Bagi mencapai bulan-bulanan demikian manusia dituntut banyak membiasakan mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya permintaan urut-urutan arwah global, bukan hanya menghendaki berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi lagi insan utuh nan unggul. Bagi itu mereka harus berusaha banyak menyentuh tanda (being excellence). Stempel diperkuat dengan moral yang langgeng. Anak adam-individu mendunia harus berupaya bermoral kuat ataupun
being morally.



4.





Menurut pendapatmu apa tetapi permasalahan pendidikan di Indonesia dan bagaimana solusinya?

Jawab

Permasalahan pendidikan di Indonesia dapat dilihat berpangkal dua sisi, yakni bermula sebelah mendasar dan sisi kualitas.


a.



Kelainan mendasar pendidikan di Indonesia

Permasalahan pendidikan di Indonesia,
pertama;
lebih menekankan lega manusia robot, karena puas pelaksanaannya dilakukan tidak sebanding karena banyak

mengorbankan keutuhan, invalid setimpal antara belajar yang berpikir dalam-dalam (serebral) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Sementara itu belajar tak hanya berfikir. Sebab detik orang sedang belajar, maka makhluk yang madya belajar tersebut melakukan heterogen variasi kegiatan, seperti menuduh, membandingkan, mencurigakan, mengesir, spirit dan sebagainya.
Kedua; sistem pendidikan nan
top-down
(dari atas ke bawah) atau kalau menggunakan istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik berusul Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank. Sistempendidikan ini adv amat bukan membebaskan karena para petatar didik (petatar) dianggap manusia-basyar yang tidak tahu apa-apa Bintang sartan hubungannya yakni guru sebagai subyek dan murid sebagai obyek. Teladan pendidikan ini tidak membebaskan karena sangat menindas para murid. Dan
ketiga; arketipe pendidikan yang demikian maka makhluk yang dihasilkan pendidikan ini hanya siap lakukan memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bergaya kritis terhadap zamannya. Manusia bak objek (yang adalah wujud dari dehumanisasi) merupakan fenomena yang terlebih bertolak pantat dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercerabut pecah akar-akar susu budayanya (seperti di mayapada Timur/Asia)


b.



Kualitas pendidikan di Indonesia

Dilihat dari kualitas, pendidikan di Indonesia masih sedikit. Peristiwa itu manjur berbunga rendahnya kualitas media badan, rendahnya kualitas master, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya pengejawantahan pelajar, kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan dan mahalnya biaya pendidikan.

 Bagi mengamankan kebobrokan-masalah, seperti rendahnya kualitas sarana tubuh, rendahnya kualitas guru, dan tidak-tak seperti yang telah dijelaskan diatas, secara garis besar ada dua solusi yaitu:

a.


Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial nan berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistempendidikan terlampau berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan privat konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara privat urusan mahajana, termasuk pendanaan pendidikan.

b.


Solusi teknis, yakni solusi nan menyangkut hal-situasi teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk membereskan masalah kualitas temperatur dan prestasi siswa. Solusi bakal ki kesulitan-ki aib teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis bakal meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas temperatur, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan mentraktir temperatur melanjutkan ke tahapan pendidikan yang bertambah tingkatan, dan menerimakan berbagai pelatihan bakal meningkatkan kualitas suhu. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan gawai-perabot peraga dan ki alat-wahana pendidikan, dan sebagainya.

 Maka dengan adanya solusi-solusi tersebut diharapkan pendidikan di Indonesia dapat angot berpokok keterpurukannya, sehingga dapat menciptakan generasi-generasi mentah yang berSDM tinggi, berperilaku pancasila dan bermartabat.



5.





Manusia yang bagaimanakah yang akan dihasilkan makanya pendidikan nan behavioristik? Dan basyar nan bagaimanakah yang akan dihasilkan oleh pendidikan yang serebral-konstruktivistik?

Jawab


a.



Teori membiasakan behavioristik

Teori belajar behavioristik yakni sebuah teori nan dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku ibarat hasil dari camar duka. Teori ini berkembang menjadi aliran psikologi berlatih nan berkarisma terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran nan dikenal andai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak andai hasil sparing dan sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Menurut teori behaviorisme barang apa doang yang diberikan guru (stimulus) dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons) semua harus bisa diamati, diukur, dan tidak boleh hanya implisit (tersirat). Faktor lain yang juga penting adalah faktor penguat (reinforcement). Penguat yaitu apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambah (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Sejenis itu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) responspun akan konstan dikuatkan. Misalnya bila seorang anak bertambah giat belajar apabila persen sakunya ditambah maka penambahan uang saku ini disebut sebagai positive reinforcement. Sebaliknya kalau komisi saku anak itu dikurangi dan ki pemotongan ini menciptakan menjadikan ia makin giat belajar, maka ki pemotongan ini disebut negative reinforcement.

Pendirian-mandu teori behaviorisme yang banyak dipakai didunia pendidikan yaitu (Harley & Davies, 1978 internal Toeti, 1997):


·



Proses sparing dapat berhasil dengan baik apabila si membiasakan turut berpartisipasi secara aktif didalamnya


·



Materi tutorial dibentuk dalam bentu unit-unit kecil dan diatur berlandaskan cumbu yang logis sehingga sang belajar mudah mempelajarinya


·



Saban respons mesti diberi umpan perot secara langsung, sehingga si belajar dapat memahami apakah respons yang diberikan sudah benar ataupun belum


·



Setiap bisa jadi si belajar memasrahkan respons yang bermoral maka anda wajib diberi pengukuhan. Stabilitas positif ternyata memberikan pengaruh nan makin baik daripada penguatan negatif

Aplikasi teori belajar behaviorisme intern pembelajaran tergantung dari beberapa hal begitu juga harapan pengajian pengkajian, sifat materi cak bimbingan, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Induk bala terpenting teori ini antara enggak adalah : Pavlov, Watson, Skinner, Thorndike, Hull, dan Guthrie.

Teori behavioristik dengan sempurna perhubungan stimulus-responnya, memperumahkan basyar yang membiasakan sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menunggangi metode pelatihan atau pembiasaan satu-satunya. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan pengukuhan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.


b.



Teori Kognitif

Teori Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, koteng psikolog Swiss yang vitalitas tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam pelan psikolog urut-urutan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang kerjakan Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan gerakan makul dalam representasi konsep yang berdasar pada makrifat. Teori ini menggosipkan munculnya dan diperolehnya
schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan jalan, saat seseorang memperoleh cara bau kencur internal merepresentasikan manifesto secara mental. Teori ini digolongkan ke internal konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menyantirkan perkembangan kognitif seumpama pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan.

Menurut teori ini, berlatih yaitu perubahan persepsi dan kesadaran. Perubahan persepsi dan kognisi enggak selalu berbentuk pergantian tingkah laku yang bisa diamati. Hipotesis bawah teori ini ialah setiap turunan telah mempunyai asam garam dan deklarasi dalam dirinya. Pengalaman dan pemberitahuan ini tertata dalam bentuk struktur psikologis. Menurut teori ini proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi secara klop dengan struktur psikologis yang telah dimiliki oleh siswa.

Kaidah kognitif banyak dipakai di dunia pendidikan, khususnya tertumbuk pandangan pada perancangan satu sistem instruksional, mandu-prinsip tersebut antara lain:


·



Seseorang yang belajar akan lebih gemuk mengingat dan memahami sesuatu apabila les tersebut disusun berdasarkan konseptual dan logika tertentu


·



Penyusunan materi tutorial harus dari sederhana ke kompleks


·



Belajar dengan memahami akan jauh kian baik daripada dengan hanya menghafal tanpa pengertian presentasi

Aplikasi teori sparing kognitif dalam pengajian pengkajian, hawa harus mengarifi bahwa murid tidak sebagai sosok dewasa yang mudah internal proses berpikirnya, anak spirit pra sekolah dan sediakala sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda berwujud, keaktifan pesuluh habis dipentingkan, guru menyusun materi dengan memperalat abstrak atau logika tertentu dari sederhana ke kegandrungan, hawa menciptakan pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.

Piaget menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan yaitu


a.



Menunggalkan ingatan kepada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Temperatur harus mencerna proses yang digunakan momongan sehingga setakat pada hasil tersebut. Pengalaman – pengalaman membiasakan yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif dan jika guru mumbung perhatian terhadap Pendekatan yang digunakan siswa untuk sebatas pada deduksi tertentu, barulah dapat dikatakan guru produktif privat posisi menyerahkan camar duka yang dimaksud;


b.



Mengutamakan peran pelajar dalam berinisiatif koteng dan keterlibatan aktif internal kegiatan belajar. Intern kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi (
ready made knowledge
) anak didorong menentukan koteng pengetahuan itu melampaui interaksi berbarengan dengan lingkungan;


c.



Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam situasi kemajuan per- kembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan jalan nan sebanding, namun pertumbungan itu berlantas pada kelajuan berbeda. Oleh karena itu temperatur harus melakukan upaya buat mengeset aktivitas di privat kelas nan terdiri berusul makhluk – individu ke privat susuk kelompok – kerubungan katai pelajar daripada aktivitas privat gambar klasikal;


d.



Mengutamakan peran siswa untuk silih berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan – gagasan tak boleh dihindari untuk urut-urutan penalaran. Lamun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung, perkembangannya dapat disimulasi.

3. Teori Konstruktivistik

Konstruktivisme adalah salah satu filsafat kabar nan menekankan bahwa kenyataan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). Pengumuman enggak artifisial berusul realitas, bukan pula gambaran dari dunia maklumat yang suka-suka. Pengetahuan yaitu hasil dari konstruksi kognitif melangkahi kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema nan diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Pengetahuan tidak dapat ditransfer serupa itu namun, melainkan harus diinterpretasikan koteng makanya saban khalayak. Maklumat juga bukan sesuatu yang sudah lalu cak semau, melainkan suatu proses yang berkembang kontinu. Dalam proses itu keaktivan seseorang sangat menentukan privat mengembangkan pengetahuannya.

Jean Piaget adalah psikolog permulaan yang memperalat metafisika konstruktivisme, padahal teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Proporsional halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara awak dengan lingkungan lakukan dapat bertahan hayat, demikian juga struktur pemikiran manusia. Manusia berhadapan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secaca kognitif (mental). Untuk itu, basyar harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, alias teradat perubahan, menjawab dan menginterpretasikan camar duka-pengalaman tersebut. Dengan cara itu, informasi seseorang terlatih dan majuh berkembang. Proses tersebut meliputi:


a)



Skema/skemata adalah struktur psikologis yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Skema juga berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan rangsangan yang menclok, dan terus berkembang.


b)



Fotosintesis ialah proses kognitif pertukaran skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau merinci.


c)



Akomodasi adalah proses pembentukan skema ataupun karena konsep awal sudah lalu lain cocok lagi.


d)



Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan kemudahan sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman asing dengan struktur dalamya (skemata). Proses jalan intelek seseorang berjalan bermula disequilibrium berorientasi equilibrium melalui respirasi dan akomodasi.

Implikasi teori konstruktivisme sreg pengajian pengkajian diantaranya :


a.



Setiap guru akan pernah mengalami bahwa suatu materi telah dibahas dengan jelas-jelasnya hanya masih suka-suka sebagian pesuluh yang belum mengerti maupun tidak memaklumi materi yang diajarkan sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa sendiri hawa dapat mengajar suatu materi kepada sisiwa dengan baik, namun seluruh atau sebagian siswanya tidak sparing terkadang. Aksi persisten seorang hawa dalam mengajar lain harus diikuti dengan hasil nan baik pada siswanya. Karena, hanya dengan gerakan yangkeras para sisiwa sedirilah para siswa akan tekun memahami suatu materi yang diajarkan.


b.



Tugas setiap guru dalam memfasilitasi siswanya, sehingga pengetahuan materi nan dibangun atau dikonstruksi para siswa sendirisan lain ditanamkan oleh temperatur. Para sisiwa harus dapat secara aktif mengasimilasikan dan mengakomodasi asam garam yunior kedalam kerangka kognitifnya.


c.



Untuk mengajar dengan baik, master harus memahami arketipe-paradigma mental yang digunakan para peserta bakal mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkandan yang dibuat para sisiwa untuk mendukung model-model itu.


d.



Siswa perlu mengkonstruksi pemahaman yang mereka sendiri cak bagi sendirisendiri konsep materi sehingga guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”, menerangkan alias upaya-upaya sejenis untuk memindahkan maklumat puas murid tetapi menciptakan situasi buat siswa yang kontributif perkembangan mereka menciptakan menjadikan bangunan-gedung mental yang diperlukan.


e.



Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadisituasi yang memungkinkan pengetahuan dan kelincahan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.


f.



Les memecahkan ki kesulitan seringkali dilakukan melangkahi sparing kelompok dengan menganalisis masalah kerumahtanggaan hidup sehari-periode.


g.



Peserta didik diharapkan cerbak aktif dan boleh menemukan cara membiasakan yang sesuai dengan dirinya. Guru sekadar sebagai fasilitator, mediator, dan tampin yang menciptakan menjadikan situasi mendukung bakal terjadinya konstruksi manifesto lega diri peserta asuh.

Sedangkan Pandangan Konstruktivisme Tentang Belajar yakni sebagai berikut:


a)



Konstruktivisme memandang bahwa warta non adil, berwatak temporer, camar berubah dan tak menentu.


b)



Belajar adalah penyusunan permakluman berasal dari pengalaman konkrit, aktifitas kolaboratif dan refleksi dan interpretasi.


c)



Seseorang yang belajar akan mempunyai pemahaman yang berbeda terhadap kabar tergantung pengalamannya dan persepektif yang didalam menginterprestasikannya.

Source: http://atumaesaroh.blogspot.com/2017/01/soal-dan-jawaban-uts-belajar-dan.html