Contoh Soal Ujian Pembelajaran Prespektif Global

GURU PROFESIONAL DI ERA  DIGITAL

Mujarad

                Suhu merupakan komponen pendidikan yang terdepan. Bineka komponen pendidikan lainnya, seperti kurikulum, kendaraan prasarana, dan lainnya tidak akan signifikan segala apa-segala apa, jika bukan terserah guru yang menerapkan dan menggunakannya. Karena demikian pentingnya koteng guru, mutakadim disepakati bahwa guru yakni tenaga profesional nan membutuhkan berbagai persyaratan yang menjamin profesinya itu dapat dilaksanakan dengan baik.  Persyaratan profesi tersebut terus berkembang sesuai dengan petisi zaman. Privat era digital seperti nan terjadi saat ini, guru profesional sekali lagi dipertanyatakan persyaratannya. Selain persyaratan-persyaratan yang telah dimiliki sebelumnya, ia mesti ditambah dengan persyaratan lainnya yang sesuai. Dengan merujuk berbagai literatur yang otoritatif dalam total nan memadai, serta disajikan secara deskriptif analitis, tulisan ini kian lanjut menggarisbawahi pembahasannya pada persyaratan guru profesional yang dibutuhkan di era digigital.

B.Tugas dan Fugngsi Guru

                Master yaitu pendidik profesional dengan utama godok, membimbing, mengarahkan, melatih, membiji dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan momongan atma prematur, sagur pendidikan lumrah, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sebagai tenaga profesional guru wajib punya kualifikasi akademik, kompetensi, dokumen pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta punya kemampuan untuk mewujudkan maksud pendidikan kebangsaan. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial  dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik meliputi 18 butir kemampuan, yaitu:Kognisi wwasan atau lingkaran pendidikan, kognisi terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum atau silabus, perencangan pembelajaran, pelaksanaan pendedahan yang mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evauasi hasil belajar, ekspansi siswa pelihara untuk mengaktualisasikan potensi yang dimulikinya. Padahal kompetensi fiil menghampari 13 granula kompetensi, merupakan: berkepastian dan betakwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi komplet bagi peserta pelihara dan masyarakat, mengembangkan diri secara mandiri dan membenang. Selanjutnya kompetensi sosial meliputi 13 kemampuan, yaitu:berkomunikasi secara lisan, tulisan dan/ataupun isyarat secara santun, menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, bergaul secara efektif dengan petatar didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan eceran pendidik, orang wreda atau penanggung jawab peserta asuh, beramah-tamah secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem biji nan berlaku dan menerapkan pendirian persaudaraan murni dan vitalitas kebersamaan. Sementara itu kompetensi profesional meliputi penguasaan materi pelajaran secara luas dan khusyuk, konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi alias seni yang relevant.

                Selanjutnya Soetjipto menjelaskan pengertian profesi yang ditandai oleh ciri-ciri laksana berikut: (a)Melayani masyarakat, yakni tiang penghidupan yang akan dilaksanakan sejauh hayat (tidak berpaling-silih pekerjaan); ((b)Memerlukan parasan mantra dan keterampilan tertentu di asing jangkauan khalayak gaduh (tidak setiap orang dapat melakukannya); (c)Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktek (teori baru dikembangkan bermula hasil penelitian); (d)Memerlukan latihan khusus dengan tahun yang janjang; (e)Terkendali beralaskan lisensi baku dan atau mempunyai persyaratan masuk (bakal menduduki jabatan tersebut memerlukan izin tertentu maupun ada persyaratan husus yang ditentukan untuk boleh mendudukinya); (f)Otonomi dalam membuat keputusan adapun ira jangkauan kerja tertentu (tak diatur maka itu basyar luar); (g)Menerima tanggung jawab terhadap keputusan ang diambil dan lakukan kerja yang ditampilkan nan berhubungan dengan layanan yang diberikan (langsung bertanggung jawab terhadap segala yang diputuskannya, bukan dopindahkan ke atas atasan atau instansi yang lebih tinggi; (h)Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien, dengan penajaman terhadap layanan yang aan diberikan; (i)Menunggangi administrasi untuk memudahkan profesinya, nisbi bebas dari supervisi privat jabatannya; (j)Punya organisasi nan diatur oleh anggota profesi sendiri; (k)Mempunyai perkariban profesi dan atau kerumunan “elit” bagi memahami dan mengakui keberhasilan anggotanya; (l)Mempunyia kode etik lakukan melakukan peristiwa-hal yang meragukan atau menyangsikan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan; (m)Memiliki kadar kepercayaan yang tinggi dari mahajana dan ajun diri setiap anggotanya; dan (n)Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi.


[1]


                Standar guru profesional tersebut sudah dimuat internal Pasal 1, 2 dan 3 Undang-undang Nomor 74 Tahun 2008 tentang Temperatur. Ini berarti bahwa secara nasional tolok guru profesional tersebut telah disepakati. Kesepakan kriteria guru profesional tersebut sudah yakni hasil amatan nan khusyuk oleh cak regu perancang undang-undang tersebut yang terdiri berpangkal para pakar, pejabat dan pekerja pendidikan. Analisis terhadap berbagai ragam literatur yang oritatif dan mustakim kerumahtanggaan rangka menetapkan patokan suhu profesional tersebut diyakini dan dipastikan telah dilakukan. Demikian pula sreg saat uji publik intern kaitan dengan kemungkinan penerapan kriteria tersebut bisa diterapkan sudah dibicakan secara mendalam.

                Saat ini masyarakat termuat para guru sudah memasuki era digital, adalah suatu era nan sudah melampaui era teknologi komputer. Menurut data nan diketahui, bahwa besaran penjualan komputer detik ini telah mendekati melandai dan terkalahkan oleh jumlah penjualan teknologi digital handphone. Hal ini antara lain disebabkan makanya adanya bilang kelebihan teknologi digital dibandingkan komputer jinjing alias laptop. Berpangkal segi isi atau programnya, teknologi digital handphone lebih lengkap dibandingkan komputer jinjing; dari segi pelacakan dan sistem kerjanya kerumahtanggaan mengejar data nampak bertambah cepat, bersumber segi harganya bertambah tercapai; dari segi bentuk dan besarannya lebih simpel dan bisa disimpan disaku rok, dari segi ongkos operasinalnya lebih ringan dan dari segi mobilitasnya lebih plastis. Dengan berbagai kondisi objektif, sudah dapat dipastikan, bahwa kuantitas masyarakat yang menggunakan teknologi digital akan jauh lebih banyak, mencapai peloksok pedesaan dibandingkan dengan penggunaan teknologi komputer. Tidak sekadar itu, ekspansi dan daya inovasi teknologi digital handhone jauh juga lebih cepat. Engkau serius mengikuti selera publik, bahkan jauh melebihi selera dan imajinasi masyarakat. Teknologi digital mutakadim menawarkan berbagai komunikasi, yakni  selain dalam  komunikasi dengan voice dan sms, juga bisa melalui face books, wash up, yo tobe, astagram, yo tube. Selain dapat mengirim data, teknologi digital juga boleh menggudangkan data hampir tanpa tenggat, menyediakan data melalui Google; boleh mendengarkan musik, bacaan ayat-ayat al-Qur’an, do’a, gruping tadarusan dan tahfidz al-Qur’an, kirima pesan puisi, doa, taushiyah, mengecek tabungan di bank, transaksi, dan lain sebagainya. Masyarakat saat ini telah memasui era digital.

C. Karakter Teknologi Digital

                Guru profesional yang ditandai makanya empat macam kompetensi (paedagogik, kepribadian, sosial dan profesinal) seperti tersebut di atas juga dipertanyakan. Adalah apakah kriteria kompetensi tersebut masih patut, atau sudah lain memadai lagi, sehingga mesti adanya penyempurnaan. Dilihat dari segi tahun dirumuskannya barometer tersebut, yakni seputar tahun 2008 yang berarti baru berusia 9 periode, nampak bahwa rumusan kriteria tersebut disusun pada masa  nan sudah masuk ke era digital. Dugaan ini etis adanya, karena di internal tolok kompetensi pedadogik dan kompetensi sosial begitu juga tersebut di atas sudah memasukan elemen teknologi digital. Pada kompetensi pedagogik sudah dimasukkan keharusan pemanfaatan teknologi pembelajaran; dan pada kompetensi sosial sudah dimasukan menggunakan teknologi komunikasi dan mualamat secara fungsional. Namun demikian, kriteria kompetensi pedagogik dan sosial tersebut masih perlu disempurnakan karena beberapa alasan. Permulaan, jarak periode sembilan perian yakni perian 2008 ketika Undang-undang Nomor 14 Hari 2008 sampai dengan kini untuk melihat kronologi teknologi digital sudah memadai lama, karena ekspansi dan ekselerasi terobosan teknologi digital pada setiap tahun selalu mengalami jalan yang luar jamak. Seseorang nan hidupnya selalu mengimak perkembangan teknologi digital akan tidak jalinan mengetem untuk menyediakan tahun, pikiran dan dana cak bagi mengadakan, mencari dan memburunya, karena tanpa itu, kecukupan sarana dan prasarana kehidupannya akan terasa kurang, dan social psychologinya akan terasa terganggu, ia merasa dirinya perumpamaan bani adam nan kurang up to date. Selanjutnya, walaupun standar temperatur profesional tersebut di atas mutakadim bernuansa teknologi digital, ialah menunggangi teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional serta eksploitasi teknologi pembelajaran, namun kriteria tersebut belum secara eksplisit menyebutkan teknologi digital.

                                Teknologi secara harfiah berarti ilmu tentang teknik. Kamu yaitu aplikasi dari senyawa sains atau natural sciencies dengan teknik. Sains yaitu hasil penelitian empirik berupa observasi dan eksperimen yang dirumuskan dengan bantuan akal pikiran. Sedangkan teknologi adalah aplikasi atau cara-cara penerapan sains intern realitas nyawa melalui eksperimen dan kegiatan piloting selama bertahun-perian. Dengan demikian teknologi adalah hasil peneletian terapan. Penelitian model sama dengan biaya memerlukan ketekunan, waktu dan biaya yang tinggi. Oleh sebab itu nan akan menguasai jalan teknologi adalah bangsa-bangsa yang n kepunyaan etos kerja keilmuan yang pangkat serta estimasi yang besar. Itulah sebabnya, negara-negara yang melahirkan dan mengembangkan teknologi adalah negara-negara yang sudah maju.  Amerika, Jepang, Korea,  Finlandia, dan China, misalnya termasuk negara yang melahirkan berbagai teknologi digital yang sangat dinamis, karena bangsa-bangsa tersebut di samping mempunyai modal, sekali lagi memiliki modal etos kerja dan keseriusan di atas umumnya bangsa lain.

                                                Teknologi memang imitasi insan, tetapi ketika teknologi tersebut lahir anda mempunyai resan, karakter, khuluk, ikhlas diri atau akhlaknya sendiri. Rasam-sifat tersebut lega mulanya dilahirkan dan dilekatkan oleh turunan pada teknologi tersebut. Dengan kata bukan, pada teknologi tersebut terdapat sebagian dari hasil cara berpikir bani adam. Sebagai hasil dari akal pikiran manusia seharusnya  teknologi  tunduk pada kemauan manusia. Semata-mata privat realitanya tidak demikian. Teknologi memiliki aturan, kepribadian, kepribadian, jati diri atau akhlaknya sendiri. Jika seseorang ingin memanfaatkan teknologi tersebut ia harus mengikuti rasam, budi, kepribadian, jati diri atau akhlaknya seorang. Sonder mau mengikuti sifat, karakter, fiil, jati diri atau akhlaknya, maka sosok tidak akan dapat memanfaatkan teknologi tersebut. Maka itu karena itu orang yang ingin memanfaatkan teknologi, harus malah dahulu diperkenalkan dan dibiasakan menggunakan teknologi tersebut, melalui kegiatan pelatihan, magang, learning by doing, dan sebagainya.

                                                Teknologi memiliki karakter dan budayanya sendiri. Sebuah cangkul misalnya, yakni teknologi tradisional yang amat sederhana. Namun detik seseorang akan menggunakannya ia harus mengikuti logikanya, misalnya cara memegangnya, pendirian mengayunkannya, posisi orang nan menggunakannya, arah nan dikenai sasaran dan sebagainya. Minus kepingin mengikuti logikanya, maka cangkul yang dibuatnya itu akan menjadi “senjata bersantap tuan”. Anda tak akan menghasilkan kapling yang gembur, melainkan kaki yang baba belur. Demikian pun teknologi digital, walaupun kamu tiruan orang, hanya ia memiliki logikanya sendiri. Manusia yang menggunakannya harus mengimak logikanya itu. Di antara akal sehat teknologi digital merupakan: (1)Sistemik. Yakni bahwa ia dirancang dalam sebuah sistem yang canggih, yaitu satu keadaan di mana antara satu bagian dengan penggalan lainnya ganti berkaitan dan berurutan. Suatu sistem akan tampil dan berfungsi begitu juga mestinya, apabila satu sistem yang enggak yang yakni patner nan merupakan pre-requisitenya sudah cak semau. Karena sistem tersebut sering di up date, maka seseorang yang akan menggunakannya harus terus meng update kemampuan memafhumi urut-urutan sistem tersebut. Misal satu sistem, teknologi digital bukan ubahnya seperti anggota tubuh orang yang antara suatu dan lainnya saling berkaitan. Ketika ada bagian anggota badan yang terluka, maka yang merasakannya bukan hanya episode anggota yang terkena luka itu doang, melainkan sekujur badan ikut merasakannya. Oleh karena itu, jika ada salah satu elemen yang kemungkus, terutama pada molekul yang kancing, maka teknologi digital tersebut tidak akan boleh bekerja, alias akan sunyi. Jika dalam tubuh manusia, suku cadang nan paling urgen adalah jantung, maka dalam  teknologi digital adalah chip-nya, kalau chipnya dicabut, maka teknologi digital akan memangkal berkarya. Agar seseorang dapat menggunakan teknologi digital secara bersusila, maka sira harus mempelajari sistemnya, sebagaimana diatur dalam manual books yang dikeluarkan oleh perusahaan alias industri yang mengecualikan teknologi digital tersebut. (2)Netral. Pada dasarnya teknologi digital atau teknologi apapun bersifat nonblok. Dia lain baik atau tak buruk oleh dirinya koteng, melainkan amat bergantung pada orang yang merancang dan menggunakannya. Jika makhluk nan merancangnya memasukan sistem, program alias menu yang lain baik, kotor, sebagaimana rencana, video atau film forno, atau tindakan kekerasan, maka teknologi tersebut menjadi kotor, dan orang yang menggunakannya akan terkena pengaruh buruk, misalnya sira terdorong bakal melakukan perbuatan buruk tersebut, sebagai halnya melakukan kegiatan makan besar seks, makan besar minuman gigih, tindakan kriminal, dan lain sebagainya. Sebaliknya, jika orang yang merancangnya memasukan sistem, programa atau menu nan baik, seperti menu bacaan alias hafalan al-Qur’an, bacaan do’a, taushiyah, kegiatan sosial keyakinan dan buram-gambar yang kobar spiritualitas, maka anak adam yang menggunakannya akan tertarik bagi melakukan hal-situasi yang baik. Dengan fiil teknologi digital yang demikian, maka pemanfaatan teknologi digital tergantung puas manusia yang merancang dan menggunakannya. Dalam kaitan ini, maka anugerah wawasan yang benar dan komprehensif mengenai teknologi digital, serta landasan kesopansantunan dan etik nan berbasis plong angka-nilai agama, budaya, adat istiadat, dan kearifan lokal, nasional dan sejagat perlu dimiliki oleh setiap bani adam yang menggunakannya. (3)Tekor. Walaupun teknologi digital tersebut sudah semakin panjang lidah dan sudah lalu dapat melayani kebutuhan bani adam terutama internal membangun komunikasi dan berbuat tukar mengganti informasi, namun ia ki ajek namun minus. Ia lain dapat berbuat sendiri, tidak bisa menentukan dirinya sendiri, ia tidak memiliki perasaan, keinginan, dan kehendak atas dirinya sendiri. Karena itu, sehebat apapun kemampuan teknologi digital, ia tak dapat sepenuhnya mengoper peran manusia. Teknologi sehebat apapun tak akan dimintakan pertanggung jawaban; yang dimintakan tanggung jawab yakni orang yang menggunakannya.

D. Teknologi Digital

                                                Seperti mana telah disebutkan di atas, bahwa sebagai salah satu syarat guru profesional di era digital, adalah seorang temperatur yang selain memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional sama dengan sudah disebutkan di atas, pula harus n kepunyaan wawasan, ketertarikan, kepedulian, kepekaan, kegembiraan, serta kemampuan dan keterampilan privat menggunakannya. Penggunaan teknologi digital ini demikian berharga, karena beberapa pertimbangan umpama berikut.

Pertama, bahwa loklok pendidikan di Indonesia, kepingin jauh tertinggal dibandingkan dengan mutu pendidikan di negara-negara tak. Di antara sebab ketertinggalnya ini karena rendahnya mutu tenaga guru, dan di antara sebab rendahnya dur guru dalam keadaan  wawasan, ketertarikan, kepedulian, kepekaan, kepelesiran, serta kemampuan dan kesigapan dalam menggunakan teknologi.  Sejumlah negara, seperti Mynmar, Singapura, Vietnam, Filipina, Brunnei Darussalam, Thailand, Malaysia. Pada tahun 2003, atau 14 periode yang lalu, Mynmar telah mematok pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi umpama bagian dari 10 granula strategi plong pendidikan dasar. Sementara itu pada jenjang perguruan hierarki terserah 36 program yang terfokus lega 6 negeri, yaitu pengembangan perigi ki akal manusia, pemakaian teknologi, eksplorasi, masyarakat berlatih sepanjang semangat, pertambahan mutu pendidikan dan pelestarian kredit-nilai dan identitas kebangsaan. Demikian pula Singapura, sejak tahun 1997 telah menjadwalkan untuk membawa bangsanya menjadi bangsa yang berfikir dan memeliki warga negara yang siap serta mampu menyerahkan kontribusi cak bagi jalan dan kesejahteraan Singapura. Cak bagi itu teknologi komunikasi dan makrifat, dengan penekanan puas komputer,  bukan lagi pada radio dan TV, digunakan secara luas bagi berekspansi kemampuan komunikasi dan belajar mandiri. Acara-program berbasis komputer jinjing sudah lalu digunakan di sekolah bakal mempersiapkan pesuluh-siswa menghadapi tantangan abad 21. (Arief S.Sadiman: 85 dan 88).

Kedua,
bahwa teknologi digital memiliki bermacam ragam fungsi yang relevan untuk diintegrasikan ke dalam kegiatan membiasakan mengajar. Sudarno Sudirdjo dan Eveline Siregar dalam  Mozaik Teknologi Pendidikan (2004:9-12), misalnya menyebutkan 8 kekuatan berbunga teknologi penelaahan termaktub digital ialah (1)memberikan pengetahuan adapun tujuan berlatih; (2)memotivasi siswa; (3)menyajikan makrifat; (4)seksi sawala, (5)mengincarkan kegiatan siswa; (6)melaksanakan les dan ulangan, (7)memerdukan belajar, dan (8)memberikan asam garam simulasi. Sedangkan Damian Ryan dalam Understanding Digital Marketing (1997:151) mengatakan:
Social kendaraan is the umbrella term for web based software  and servixe that allow used to come together online and exchange, discuss, communicates and participate in any form of social interaction. That interaction cam encompass text, audio, images, video, and other wahana, individually or in any combanion. It can involved the generation of nw contents, the recommendation of and sharing of existing content; reviewing and rating products, sevices and brands discussing the ht topics of the day; pursuing habbies, internets, and passions, sharing experience and expertise. In factm almost anything, that law be distributed and shared through digitak channels in fair game.


[2]



Artinya: Media sosial adalah sebuah istilah yang memayungi web yang berbasis lega instrumen lunak dan pelayanan yang membolehkan pada pengguna untuk menclok berbarengan lega online dan tukar menukar publikasi, diskusi, komunikasi dan partisipasi dalam beraneka ragam bentuknya nan terdapat dalam interaksi sosial. Interaksi tersebut, dapat mendorong pemanfaatan bahan pustaka, pendengaran, dongeng, vedio dan alat angkut lainnya, secara individual atau gabungan. Teknologi pun dapat menjangkau generasai pada isi yang baru, saran dan pemerolehan untuk saling ubah menukar laporan, menilai dan menata ulang suatu produk, pelayanan dan pendelegasian, mendiskusikan tentang beragam topik harian, meningkatkan gememaran, daya tarik dan passion, tukar menukar pengalaman dan kepiawaian. Faktanya, semua hal tersebut dapat didistribusikan and dikerjasamakan melintasi jaringan teknologi digital sebagai permainan yang adil.

Ketiga,
bahwa teknologi digital merupakan sebuah proses peredaran yang mau tidak cak hendak harus dijalani. Alvin Toffler misalnya memberi publik ke privat masyarakat agraris (agricultural society), masyarakat pabrik (industrial sociey) dan masyarakat keterangan (informatical society).Masyarakat agraris ditandai maka dari itu cermin hidup nan mendekati pada zaman dulu, invalid menghargai waktu, bekerja tanpa perencanaan, komunikasi secara face to face, format substansi pada kapling dan hewan ternak, dan menunggangi teknologi terbelakang yang boleh didaur ulang (re-cycle) dengan pataka secara cepat. Sedangkan masyarakat industri, ditandai maka itu pola hidup yang memfokus pada masa depan, terlampau menghargai perian, berkreasi dengan perencanaan, komunikasi jarak jauh, ukuran harta benda pada pendudukan mesin industri, dan menunggangi teknologi usil nan sulit didaur ulang. Sedangkan, mahajana informasi, selain ditandai oleh ciri-ciri masyarakat industri juga ditandai makanya eksploitasi teknologi penerima, penabung, pengolah dan pengirim  data yang usil (komputer dan laptop, dan masa ini teknologi digital yang boleh memainkan peran melebihi kemampuan komputer dan laptop dalam bermacam rupa aspeknya.


[3]



Dunia pendidikan di Indonesia saat ini, nampaknya harus menyajikan ketiga hipotetis masyarakat tersebut. Melayani arketipe masyarakat agraris lebih mudah dibandingkan menghadapi masyarakat pabrik, dan menghadapi umum informasi lebih selit belit dibandingkan dengan menghadapi masyarakat industri. Hadirnya ketiga model masyarakat ini, akan merubah paradigma nan memedomani plural onderdil pendidikan. Konsep sparing mengajar pada masyarakat proklamasi bukan kembali dengan cara transfer of knowedge atau transfer of skill, melainkan lebih ditekankan lega menggerakan, memotivasi, menjembatani, memfasilitasi, agar pelajar tuntun teruit berbuat heterogen kegiatan manfaat memperoleh pengetahuan nan dikehendakinya yang selanjutnya diberikan stabilitas, pengayaan, atau perbaikan oleh guru. Demikian pula pola yang mendasari konsep kurikulum dan silabus, perigi bahan didik, lingkungan dan evaluasi pendidikan sekali lagi mengalami peralihan, dan semua harus berbasis sesuai keadaan masyarakat. Jika sejauh ini para suhu teristiadat bertugas melaksanakan jalan hidup profesionalnya dengan eksemplar pendidikan nan berbasis masyarakat agraris dan industri, maka waktu ini, para guru harus melaksanakan pekerjaan profesionalnya dengan ideal pendidikan yang berbasis siaran digital. Merubah konseptual semenjak agraris ke pabrik, dan dari industri ke informasi, bukanlah tiang penghidupan nan mudah karena selain membutuhkan pergantian sikap mental, mindset, pola pikir, paradigma, juga membutuhkan wahana prasarana, biaya dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, para suhu harus siap bagi berani keluar dari kebiasaan lama (out of the box).

Keempat,
bahwa dilihat dari segi fungsinya, teknologi digital selain dapat bekerja lebih cepat, pun dapat menjangkau wilayah yang lebih cepat. Dengan menggunakan teknologi digital, batas-batas teritorial sudah tidak menjadi penghalang lagi. Sempadan-had wilayah walaupun fisiknya taat cak semau, namun fungsinya sudah enggak dapat menahan lagi (borderless). Dalam penggait ini tepat sekali segala apa nan dikatakan….. bagaikan berikut:
Because new technologyes become generallu avilable more quickly, tool has bocomr even more of a critical element in strategy. Nothing stay proprietary for long. And no puntalan played can guru every thing. Thus operating globally means oportunity with panters and that in turn means a fuitther spread of technology.



[4]





(Karena teknologi baru secara umum menyediakan percepatan bertambah banyak, maka waktu menjadi demikian elemen yang paling kritis dalam menentukan strategi. Enggak ada tempat tinggal yang dapat disediakan bakal sepanjang zaman. Lain terserah sendiri pemain yang dapat menadi suhu bagi semua situasi. Dengan demikian, pelaksanaan secara global bermanfaat bekerjasama dengan patner dan hal itu sudah demikian pada tahap lebih jauh menaburkan teknologi.

Dalam rangka pemerataan pendidikan yang ialah pelecok satu program nan penting dari pemerintah, karena yakni amanat Undang-undang Sumber akar 1945, maka penggunaan teknologi digital menjadi lewat penting. Hal nan demikian, disebabkan karena Indonesia adalah terdaftar keseleo satu negara terbesar di bumi yang ditandai oleh kepribadian wilayahnya yang bersifat kepulauan yang antara satu dan lainnya bubar, sulit ditempuh dengan urut-urutan darat. Problema teritori kerumahtanggaan kaitannya dengan pemerataan pendidikan ini akan bisa diatasi dengan pengusahaan teknologi digital. Untuk itu berbagai macam sarana infrastruktur dan infra struktur yang memungkinkan jaringan teknologi digital tersebut dapat ditransmisikan, seperi jaringan listrik, kusen penerang, kabe jaringan dan lainnya harus disiapkan. Beberapa area yang terpencil, seperti provinsi Indonesia Indonesia Timur, Kalimantan, Sulawesi dan lainnya perlu dibantu penyediaan sarana prasana dan infra struktur tersebut dalam kurun waktu yang tentu dan dilaksanakan secara terencana.

Kelima,
dewasa ini sumber sparing makin banyak dan varitif, baik bermula segi materinya, tipe ataupun bentuknya. Berbagai sumber belajar tersebut tidak mungkin sekali lagi dapat dikuasai oleh seorang yang waktu, tenaga, dan lainnya cacat. Sumber dan baha asuh saat ini sudah tersebar di berbagai alat angkut, seperi
google, face book, you tobe, email, faximile, sms, vido call
dan lain sebagainya.  Urut-urutan mata air belajar yang demikian itu telah merubah paradigma pengajian pengkajian dari yang bersifat manual atau face to face menjadi berperangai digital dan terjadi secara inter-connecting. Terkait dengan ini, menggelandang sekali apa yang dikatakan maka dari itu Damain Ryan: Social kendaraan website come in a wide variety of “flavours”, which are all broadly based around the premise of personal interaction; creating, exchanging and sharing contents, rating and discussing its relative merits as a community. The contents can be links to other website, new articles or blog post, photopraphs, audio, video, questions posed by other userts, anything, in fact, that can be distributed in digital form.


[5]


  (Media sosial website sudah habis berkembang luas yang semakin luas jangkauannya guna mendukung interaksi antara insan, menciptakan, tukar menukar and sharing pendapat, penyusunan dan diskusi tentang keunggiulan yang nisbi pada sebuah masyarakat. Isi tersebut dapat berhubungan dengan website yang lain, artikel yang bau kencur maupun post blog, potografi, audio, video, pertanyaan yang diterapkan oleh pengguna, apapun dalam faktanya dapat dibagikan melalui rangka digital.

Keenam, bahwa penggunaan teknologi digital n domestik bentuk online misalnya sudah merambah ke dalam kegiatan sosial, ekonomi, ketatanegaraan, budaya dan tak sebagainya. Penggerakan masa dan perakit opini awam yang biasanya dilakukan dengan cara operasi yang bersemuka sekaligus (face to face) dengan kelompok sasaran misalnya sudah dapat digantikan melangkaui blog, situs, web, face book, what’s up dan sebagainya. Selanjutnya mempengaruhi sosok untuk membeli sebuah jasa atau produk privat bentuk makanan, minuman, pakaian, peralatan kosmetik, peralatan teknologi, dan lainnya sudah dapat dilakukan melangkaui teknologi digital internal tulangtulangan on line. Seseorang yang membutuhkan jasa antara jemput dengan kendaraan pit dua, roda empat, kereta jago merah, kapal terbang dan lainnya sudah dapat diorder melalui jaringan on line. Sikap dan budaya masyarakat nan sudah demikian familiar atau akrab dengan teknologi digital dalam rangka on line adalah merupakan momentum yang tepat untuk dimanfaatan

Dengan menuding dan memikirkan bilang kondisi objektif dan gagasan-gagasan inovatif dan akseleratif intern rataan pelayann pendidikan yang berbasis digital technology, maka mau lain mau seorang guru profesional harus menguasai teknologi digital tersebut dan menggunakannya n domestik kegiatan penerimaan.

E.  Guru Profesional dan EdukasiNet

                Dari paparan tersebut di atas, sudah dapat diketahui, bahwa guru profesional di era digital adalah temperatur nan dalam melaksanakan tugas-tugasnya sama dengan disebutkan di atas berbasis plong penggunaan jaringan yang didukung teknologi digital. Kegiatan yang demikian itu selanjutnya dikenal dengan tanda EdukasiNet. Adalah sutus pembelajaran yang menyisihkan bulan-bulanan membiasakan berbasis web nan bersifat interaktif serta menyediakan fasilitas komunikasi antara penyuluh dengan murid didik, antara peserta didik, dan peserta ddik dengan sumur belajar lain.


[6]



Penggunaan teknologi digital bukan hanya dalam kegiatan belajar mengajar saja, melainkan juga intern melaksanakan tugas-tugas lainnya, seperti privat pengelolaan administrasi pendidikan, belas kasih tugas-tugas, pelaksanaan evaluasi dan tidak sebagainya. Selain itu, suhu yang dibutuhkan di era digital adalah master nan memiliki kemahiran dalam membiji penggunaan teknologi yang edukatif dan non eduktif. Guru hendaknya terus mengevaluasi kemampuan siswa yang dibutuhkan buat bersaing dalam ekonomi universal. Ia pun harus menjadi pembelajar sama tua kehidupan dan harus bersedia bagi berlatih tidak hanya berpokok rekan-rekan mereka, tetapi juga dari siswa mereka juga.


[7]


                Lebih lanjut Prof.Dr. H. Arief Rahman, MP, menyebutkan, bahwa hawa profesional di era digital adalah master yang mahir dan obsesif akan teknologi informasi dan bermacam-macam permintaan komputer. Bahkan informasi nan diakses oleh para generasi digital ini tak invalid pada deklarasi nan berkaitan dengan pendidikan cuma, melainkan kenyataan yang berkaitan dengan kepentingan pribadi mereka. Generasi tersebut memiliki bilang ciri yang bisa tampak dalam spirit sehari-harinya. Ciri-cirinya menurut Arief, sebagakmana dikutip Muhammad Khairil, adalah sebagaimana adv amat demen dan sering berkomunikasi dengan semua guri, khususnya lewat jejaring sosial, seperti facebook, twiter, atau sms. Melangkaui media tersebut mereka bertambah bebas berekpresi, baik barang apa nan mereka rasakan maupun pikirkan secara sekalian. Fungsi dari generasi tersebut memiliki daya kesabaran yang lebih osean terhadap perbedaan kebudayaan dan adv amat peduli pada lingkungan, serta makmur berbuat bermacam ragam aktivitas dalam waktu bersamaan, seperti mengaji kunci seraya mendengarkan musik. Padahal kelemahannya ialah sering menginginkan segala sesuatu secara cepat, tanpa bertele-tele atau berbelit-belit. Selain utu, generasi tersebut mendekati cacat privat komunikasi secara verbal, cenderung egosentris dan individualis, menentang ingin serba instan, lain sabaran, dan tidak menghargai proses.


[8]


Bermacam-macam kegiatan ini sesudah-sudahnya dapat dikemukakan sebagai berikut.

1.Kegiatan Belajar Mengajar

                Strategi pengajian pengkajian yang meliputi indoktrinasi, urun rembuk, mendaras, penugasan, presentasi dan evaluasi, secara umum keterlaksanaannya tersangkut dari satu atau lebih dari tiga gaya pangkal dialog/komunikasi dilakukan dengan cara dialog/komunikasi antara guru dengan pelajar; dialog/komunukasi antara pelajar dengan sumber membiasakan, dan dialog/komunikasi di antara siswa. Apabila ketiga aspek tersebut bisa diselenggarakan dengan komposisi yang serasi, maka diharapkan akan terjadi proses pembelajaran yang optimal.  Para ahli pendidikan menyatakan bahwa kemenangan pencapaian tjuan berusul pembelajaran adv amat ditentukan oleh keadilan antara ketiga aspek tersebut (Pelikan, 1992). Selain itu  dinyatakan pula bahwa perancangan suatu pembelajaran dengan mengutamakan keseimbangan antara ketiga dialog/komunikasi tersebut sangat terdepan pada lingkungan pembelajaran berbasis Web. Pecah sejumlah studi yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa internet memang bisa dipergunakan sebagai media penerimaan, seperti studi yang dilakukan oleh Center for Applied Special Technology (CAST) pada musim 1969 yang dilakukan terhadap sekitar 500 murid inferior 5 dan 6 sekolah dasar. Ke-500 murid tersebut dimasukan privat dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen yang dalam kegiatan belajarnya dilengkapi dengan akses ke internet dan kerubungan yuridiksi. Pasca- dua bulan menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mendapat angka yang lebih tataran bersendikan hasil tes akhir.


[9]


2.Penyelenggaraan Administrasi Pembelajaran

                Pengelolaan administrasi pembelajaran boleh diartikan suatu upaya mengerjakan penataan, pencatatan, penyimpanan dan peladenan terhadap berbagai hal nan berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, seperti daftar hadir siswa didik, kurikulum dan silabus, daftar kredit buletin, mingguan, bulanan dan smesteran, tanya ujian, objek-objek indoktrinasi,  dan lain sebagainya. Semua hal tersebut dapat disimpan dengan menggunakan teknologi digital, dan pada bagian-putaran tertentu boleh diakses maka itu peserta didik.

3.Pengutusan-penugasan

                Penugasan bisa diartikan segala sesuatu yang dirancang dan disiapkan makanya guru untuk tergarap oleh peserta ajar. Tugas-tugas tersebut di antaranya mengumpulkan goresan dari piagam embaran dan majalah, mengunjungi perpustakaan, laboratorium, workshop dan sebagainya bakal berbuat sebuah kegiatan pembelajaran seperti mana menjawab masalah yang sudah ditetapkan, membuktikan sebuah teori atau hipotesa dan sebagainya. Pelaksanaan tugas tersebut kemudian dilaporkan kepada master. Pelaporan tersebut boleh menggunakan information technology. Dalam pengait ini, seorang guru selain menguasai bahn yang akan ditugaskan pula harus menuntaskan teknologi informasi.

4.Penyampaian Makrifat

                Keseleo suatu kompetensi seorang guru profesional merupakan memiliki kompetensi sosial, merupakan kemampuan membangun komunikasi dan silaturahmi dengan peserta didik, orang tua peserta didik, pemimpin sekolah, sesama guru, dan masyarakat pada umumnya. Dalam komunikasi tersebut antara satu dan lainnya saling memberikan informasi, sehingga berbagai ide, pesan dan gagasan secara bertepatan. Dalam presentasi makrifat tersebut dapat menggunakan peralatan teknologi digital. Dalam hubungan ini, seorang guru juga boleh menganjurkan mangsa-bahan yang harus dibaca atau diolah.

5.Pelaksanaan Evaluasi

                Pelaksanaan evaluasi dengan berbagai rupa macamnya termasuk salah satu tugas seorang guru profesional. Evaluasi dilaksanakan secara objektif, transfaran, objektif, dan akuntable. Arti mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan ketelitian dan pengawasan yang ketat, sehingga tidak terjadi penyontrekan, plagiasi dan sebagainya. Melalui sistem digital, diharapkan dapat diciptakan sebuah sistem nan dengan mudah dapat mengerti, apakah jawaban dalam evaluasi yang diberikan para siswa didik putih karyanya sendiri, atau hasil nyontek atau plagiasi.

F. Tools yang Tepat

                Guru di era digital harus memiliki kualitas yang mumpuni agar dapat menjadi seorang pendidik yag inspiratif. Tetapi, kualifikasi guru yang demikian itu  tidak akan bepergian jika tidak didampingi oleh tools atau piranti yang tepat. Hendaknya dapat mendidik peserta jaga di era digital dibutuhkan tools berbasis inernet yang dapat dengan mudah diakses dan digunakan oleh mereka. Tentunya akses ini  tak hanya berisikan basis informasi dan materi perihal aji-aji yang paruh dipelajarinya. Selain itu, harus pula memiliki fitur lain yang pasinya membuat pesrta didik bertambah leluasa bereksperimen kerjakan membereskan suatu simpang ilmu tertentu. Oleh sebab itu, kehadiran Quipper di Indonesia misal platform pendidikan digital dirasa tepat sebagai tools bagi hawa kerjakan menjangkau peserta jaga yang tercatat generasi digital. Dengan visi “distributors of wisdom, Quipper sejatinya memiliki maksud lakukan meminimalisir kesenjangan pendidikan yang terjadi hampir di berbagai rekahan dunia melalui kanal-saluran digitalnya. Dua komoditas Quipper, yaitu Quipper School dan Quipper Video, memungkinkan guru dan peserta tuntun dapat berinteraksi dan melakukan kegiatan sparing mengajar secara online. Eksistensi Quipper itu, sejalan dengan metode pengajaran di era digital, yakni terpusat pada peserta didik. Dalam gancu ini, Quipper menyediakan soal-soal dan materi pengajaran.

                Namun demikian, digital technologi tersebut tidak sepenuhnya dapat menggantikan peran master. Hawa enggak hanya mengajar yang mentransfer aji-aji pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik, melainkan memberikan bimbingan, latihan, teladan, habituasi, dan kasih sayang dan cinta karunia serta menyentuh hati nurani dan pribadinya intern buram pembentukan karakter, mental dan kepatutan pesuluh didik. Prof. Dr. Arief Rachman mengatakan, bahwa guru ki ajek yang utama membimbing siswa saat belajar. Teknologi belaka alat angkut atau alat yang tergantung kepada tujuan pecah orang yang menggunakannya. Dengan demikian ada sebagian tugas yang diselesaikan guru, dan sebagian tugas lainnya didelegasikan kepada peralatan teknologi digital.

G.Penutup

                Bersendikan uraian dan analisa begitu juga tersebut di atas, bisa dikemukaan gubahan pengunci andai berikut.

                Pertama, guru profesional di era digital pada dasarnya yaitu guru nan memiliki kompetensi pedagogik, khuluk, sosial dan profesional. Cuma lega pelaksanaan keempat kompetensi tersebut memerlukan dukungan teknologi digital dengan berbagai diversifikasi dan ragamnya. Dengan demikian, temperatur profesional di era digital adalah master yang dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya berbasis pada teknologi digital.

                Kedua, penggunaan teknologi digital dapat dilakukan oleh temperatur plong kegiatan belajar mengajar, peladenan administrasi, penugasan dan evaluasi. Cak bagi itu, pengusaan guru terhadap sistem, website dan tool harus disediakan secara lengkap dan membenang.

                Ketiga, keberadaan teknologi digital sebagian dapat menggantikan ataupun membantu peran temperatur terutama pada aspek pengajaran yang bertumpu plong transfer of knowledge and tekhnology and skill, doang tidak dapat menggantikan peran master sebagai pendidik, yang bertugas membuat karakter, mental, budi, sikap dan tabi’at melewati reboisasi nilai-nilai luhur, yang berbasis pada agama dan  nilai-nilai budaya indah yang dilakukan dengan cinta kasih, melalui keteladanan, bimbingan, pelajaran, habituasi, dan sebagainya.

Daftar pustaka

Asmawi, Jamal Ma’ruf,
Great Teacher, (Yogyakarta:Diva Press, 2022), cet. I.

Bahri, Saiful, Djamhari,
Hawa dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif satu Pendekatan Teoritis Psikologis,
(Yogyakarta:Rineka Cipta, 2005), cet. III.

Bilali, Abdul Hamid,
Biografi Murabi Teladan, (Jakarta:An Nadwah, 1426 H./2005), cet. I.

Falah, Saiful, Guru ada Ustadz yaitu Guru Catatan Seorang Pendidik dengan Lebih pecah 10.000 Anak Pelihara, (Jakarta:Republika, 2022), cet. I.

Kasyadi, Suparlan, dkk, Strategi Belajar dan Pembelajaran, (Tangerang:Pustaka Mandiri, 2022), cet. I.

Miarso, Yusuf,
Membibit Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta:Prenada Media Kerjasama dengan Pusat Komunikasi dan Informasi Pendidikan Postekom, DIKNAS, 2004), cet. I.

Manis, Hilda, Learning is Easy,
Tip dan Prosedur Praktis seharusnya Belajar jadi Asyik, Edukatif dan Ki menenangkan amarah,
(Jakarta:Kompas Gramedia, 2010).

Miller, John P., dkk.,
Holistic Learning and Spirituality in Education,
(New York: State University of New York Press, 2005).

Mulyoto,
Strategi Pembelajaran di Era Kurikulum Perian 2022, (Jakarat:Kinerja Pustaka, 2022), cet. I.

Ohmae, Kenichi,
The Borderless Wolrd, Power and Strategy in the Interlinked Economy, (USA:Haprer Business A Division of Harper Collins Publishers, 1990).

Prawiradilaga, Dewi Salma dan Eveline Siregar, Mozak Teknologi Pendidikan,
(Jakarta: Prenada Ki alat dan Universitas Negeri Jakarta, 2004), cet. I.

Ryan, Damian,
Understanding Digital Marketing, Marketing Strategies for Engaging The Digita Generation,
(London, Philadelphia New Delhi: Kogan Page, 2022), First Edition.

Sadiman, Arief S., SEAMEO, “Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Negara Tetangga,” intern Yusuf Hadimiarso,
Membibit Benih Teknologi Pendidikan
, (Jakarta:Prenada Media Kerjasama dengan Pusat Komunikasi dan Laporan Pendidikan Postekom, DIKNAS, 2004), cet. I.

Sinamo, Jansen, Guru Etos Indonesia,
8 Etos Keguruan, (Jakarta:Darma Mahardika, 2010), Cet. II.

Suetjipto, dan Raflis Kosasi,
Profesi Keguruan, (Jakarta:Rineka Cipta, 2009), cet. I.

Toffler, Alvin Author of Future Schock,
The Third Wave, (New York: William Morrow and Company, Inc, 1980)

Al-Wa’iy, Taufik Yusuf,
Kekuatan Sang Murabbi, Menggurdi Energi Intelektual dan Personal Murabbi, (Jakarta:Al-‘Itishom Cahaya Umat, 2003), cet. I.

Undang-undang Nomor 74 Tahun 2008 akan halnya Guru, (Jakarta:Kementerian Pendidikan dan Peradaban, 2008), cet. I.

Yusuf, Taufik, al-Wa’yi,
Kekuatan
Sang Murabbi, Menggali Energi Jauhari dan Masuk akal Murabbi,
(Jakarta:al-‘Itishom Cahaya Umat, 2006).





[1]



Lihat Soetjipto dan Raflis Kosasi,
Profesi Keguruan, (Jakarta:Rineka Cipta dan Pusat Perbukuan Depdiknas, 2009), cet. IV, , hal. 15-16




[2]





[2]


Lihat Damian Ryan, Understanding Digital Marketing, Marketing Strategies for Enggaging the Digital Generation, (London, Philadelphia, New Delhi: KoganPage, 2022), hal. 151.




[3]



Tatap Alvin Toffler, The Third Wave, (New York:  William Morrow and Company, Inc, 1980, situasi. 312-330.




[4]



Kenichi Ohmae, The Borderless Wolrd, Power and Strategy in the Interlinked Economy, (United State of America:Harper Business A Division pf HarperCollins Publishers, 1990), hal. 5-6.




[5]



Lihat Damian Ryan,
Understanding Digital Marketing, Marketing Strategies for Enggaging the Digital Generation,
(London, Philadelphia, New Delhi: Kogan Page, 2022), kejadian. 156




[6]



Lihat  Harina  Yuhetty  dan Hardjitno, “Edukasi Net Pembelajaran Berbasis Internet: Tantangan dan Peluangnya,” dalam, Yusufhadi Miarso,
Menyemai Semen Teknologi Pendidikan, (Jakarta:Prenada Sarana Kerjasama dengan Sosi Komunikasi dan Pemberitaan Pendidikan Postekom, DIKNAS, 2004), cet. I., hal. 308.




[7]



Lihat http/www.kompasiana.com/1b3las-mk/profesi master-realitas- dan kebutuhan temperatur di era digital.




[8]



Lihat Muhammad Khairil, Perlunya Pertambahan Kualitas Guru di Era Digital, diunduh pada tanggal 31 Maret, 2007, kejadian. 1




[9]



Lihat  Harina  Yuhetty  dan Hardjitno, “Edukasi Net Pembelajaran Berbasis Internet: Tantangan dan Peluangnya,” kerumahtanggaan, Yusufhadi Miarso,
Membibit Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta:Prenada Alat angkut Kerjasama dengan Sentral Komunikasi dan Proklamasi Pendidikan Postekom, DIKNAS, 2004), cet. I., hal. 308-309.

Source: http://abuddin.lec.uinjkt.ac.id/articles/guru-profesional-di-era-digital