Contoh Teks Ulasan Album Lagu

medcom.id, Jakarta:
Sheila On 7 hasilnya merilis rekaman terakhir mereka di dasar bendera Sony Music Indonesia. Sebuah album yang mengakhiri pengembaraan tinggi delapan album bersama riuk satu label rekaman paling besar di Indonesia.

  Pasti anak-anak Sheila sudah lalu kenyang dengan pengalaman 16 perian di industri musik Indonesia. Semua gabungan mereka rasakan. Menginjak dari album yang laku tak berkesudahan, transisi personel, melewati masa bakir pembajakan lagu, kas dapur sesaat berasal Ring Back Tone, dan peristiwa tidak nan koneksi melanda industri musik dalam kurun musim dua dasawarsa keladak.

 
Ulasan Album Terbaru Sheila On 7 Musim yang Baik

Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito



Bagaimana tanggapan engkau adapun artikel ini?

Saat jumpa pers peluncuran album yang diberi judul “Musim yang Baik” ini, Duta yang mewakili teman-teman bandnya mengatakan bahwa mereka sudah puas bereksperimen dengan nada di memori-album sebelumnya. Oleh karena itu, album yang dirilis pada Peparu, 10 Desember 2022, itu dikonsep lebih sederhana.

  “Kami sudah maksimalkan (eksperimen) digital setakat di album ‘Berlayar’. Sampai pada balasannya kita jenuh. Kreativitas kita dipicu ke arah enggak. Gimana memasukan musik hanya pada main track. Kita lagi enggak individualis, kalau kita tidak bisa memainkan musik kita di live ya lain kita masukin di rekaman,” terang Konsul.

  Takdirnya album sebelumnya Eross berusaha memasukkan suara dua mandolin meski tanpa Sakti, waktu ini sira makin menonjolkan suara satu gitar akustik saja. Hal ini membuat musik Sheila kali ini terdengar sederhana namun masak. Mereka membentuk irama nan boleh dipertanggungjawabkan di penghadapan penggemarnya serempak dalam konser.

 
Ulasan Album Terbaru Sheila On 7 Musim yang Baik

Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito

  Album ini selayaknya sudah mereka kerjakan sejak tahun 2022. Karena suatu dan bukan peristiwa, “Musim yang Baik” baru dirilis puas tahun ini.

  16 waktu di bawah naungan stempel besar tak membuat Sheila menjadi band “manja”. Mereka justru semakin abadi. Seperti remaja yang berumur 16 tahun, Sheila tergiring dengan hal-hal baru yang menantang. Singkatnya, mereka memutuskan sebagai band netral setelah keluar dari label mayor.

  Wakil sempat mengklarifikasi, seandainya pun mereka risikonya menempuh jalur independen, itu yaitu hasil pertimbangan nan matang. Duta menggambarkan Sheila bukan secara “bodoh” akan ikut ke dunia yang tidak diketahuinya. Tetapi dengan pengalaman yang masak, Sheila sudah lalu mengetahui gelanggang industri irama. Jalur apapun yang dipilih Sheila nantinya, itu adalah pilihan yang telah dipertimbangkan masak-menguning.

  Berusul segi bungkusan album, tampak bahwa yang terakhir dipersiapkan sebaik mungkin. Sheila menunjuk desainer asal Yogyakarta, Farid Stevy Asta -cucu adam yang sekali lagi mewujudkan tanda hijau PT KAI- bagi menggarap artwork memori. Teks lagu dicetak tiap-tiap makao, lengkap dengan tulangtulangan parafrase desainer terhadap masing-masing lagu

  Rancangan sampul yang didominasi ikatan bunga yang bermekaran seolah menyiratkan kematangan Sheila umpama sebuah band yang sudah “jadi”. Band yang sudah lalu mekar dan mewangi.

  Ki kenangan “perpecahan” Sheila dengan labelnya ini diisi deka- puisi. Tentu tidak rawak tembang yang dipilih. Mengutip pernyataan Duta, “Rekaman perpisahan harus keren lah”.

 
Ulasan Album Terbaru Sheila On 7 Musim yang Baik

Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito

  1. “Selamat Datang”

  Sesuai judulnya, lagu ini dipilih menjadi lagu pembuka. Suara bass Laki-laki sangat terasa di lagu ini. Sangat dinamis dan udik. Ki seirama dengan celaan gitar Eross yang terdengar natural minus efek berlebih. Kritik siulan dan harmonika memuati part-part sonder lirik. Di adegan harmonika dan siulan, seolah lagu ini yaitu lagu folk, hanya itu semua berubah ketika suara Duta kembali datang.

  Dari segi lirik, lagu ini sangat penting aktual. Penggalan lirik “Ini lagumu, yang ku tuliskan lakukan temani di manapun kau Loyal sukma,” seolah sengaja dibuat agar lagu pembuka ini mampu duduk disamping sidang pendengar untuk memberi rasa optimis, bukan menggurui. Bagian coda nan diisi dengan lirik bahasa Inggris, “For all the times, And all the bad times, I’ll follow you with this song.”

  2. “Satu Langkah”

  Masuk ke track ke-dua, tempo semakin meningkat.Gumam suara Duta di mulanya lagu sangat catchy terndengar. Tidak ada eksplorasi nada berlebih privat lagu ini, bermartabat-benar terdengar “four-piece”. Mengintensifkan perlengkapan musik terbit tiap-tiap pegawai. Dalam lagu ini juga terdengar upaya penyederhanaan Eross dalam pengisian gitar. Jika di rekaman-album sebelumnya terdengar suara miring dua gitar listrik nan “penuh”, puas lagu ini jelas terdengar sekadar satu track gitar.

  Lirik lagu ini bertemakan gegares, dengan satu kalimat bahasa Inggris sebagai klimaks lagu, “When I say ‘I Love You’, please baby say you love me too.”

  3. “Buka Mata Buka Kuping”

  Lagu ini terdengar berbeda dari lagu-lagu Sheila On 7 lainnya. Pukulan drum yang stagnan dengan iringan electone plus bass yang terus bergerak dinamis akan takhlik badan Anda sedikit berbuai. Di intiha lagu, Eross mengisi bagian pembuka bridge dengan solo gitarnya yang khas. Bernuansa blues rock intern tempo sedang. Tak lama Eross memuati bagian melodi itu, suara Duta mengisi dan lagu kembali seperti sediakala dengan barang apa kedinamisannya.

  “Beber Mata Urai Alat pendengar” diciptakan oleh Duta, liriknya seolah berisi undangan lakukan merefleksikan peran kita dalam sukma. Sekaligus meyakinkan demap cak semau alasan kita diciptakan.

  4. “Malu-malu”

  Lagu ini diciptakan oleh Eross, terdengar sangat catchy. Pelan, dulu pop, dan menghadirkan reffrain khas Sheila On 7. Terdapat sedikit sentuhan suara brass section di pembuka dan pelana-sadel lagu ini. Tapi privat porsi nan minim dan sangat tepat. Irama nan sederhana n domestik lagu ini lebih-lebih membuatnya semakin easy listening, dan menjadi kandidat kuat sebagai lagu hit di album ini.

  “Sungkan” menceritakan bagaimana canggungnya diri ketika bertarung pujaan lever. Lirik yang dipilih sangat tercecer, “Menyapamu di keramaian, beraksi semua terkendalikan, atur nafas atur musik, dan memberimu invalid senyuman.” Penggalan lirik itu seolah mengingatkan saat-ketika dimabuk asmara momen cukup umur. Sinkron pembuktian bahwa anak asuh-momongan Sheila On 7 kukuh bisa membentuk lagu yang relevan untuk para remaja detik ini, meski usia Eross Cs sudah lain remaja juga.

 
Ulasan Album Terbaru Sheila On 7 Musim yang Baik

Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito

  5. “My Lovely”

  Meski lagu ini memakai tajuk bahasa Inggris, isinya tetap berbahasa Indonesia. Dibuka dengan adv minim riff dari Eross. Lirik lagu ciptaan Adam ini mengingatkan pada lagu “Lihat Dengar Rasakan” dari rekaman “Cerita Klasik Untuk Masa Depan” nan pula diciptakan Adam. Tema yang dipilih Lelaki seolah tentang nurani dalam merasakan apa yang dirasakan orang lain. Hamba allah enggak nan menengah mengalami keprihatinan.

  6. “Beruntungnya Aku”

  Permainan gitar Eross di awal lagu seolah mengingatkan permainan gitar Richie Sambora di lagu “Wanted Dead or Alive”. Biar hanya sekilas, petikan gitarnya tinggal tipikal. Selebihnya, musik lega lagu ini seperti lagu sebelumnya, benar-ter-hormat mengeksplorasi peranti dari masing-masing fungsionaris. Sekiranya kembali cak semau tambahan, hanya sekedar suara electone.

  Lirik lagu ini sama dengan lagu Duta sebelumnya, seolah umpama lagu hasil refleksi sang vokalis. Simak penggalan berikut, “Mengenal dirimu, menjalani denganmu,  saat marah aku lupa semua kelebihanmu,” kalimat pada bridge itu seolah menggambarkan penyesalan seseoran pasca- dibakar amarah. “Akan kubawa cermin ini, kalau teristiadat hingga mati, semoga aku bukan lagi lalai slalu mensyukuri hari ini,” kalimat pada bridge verse 2 itu seolah menjadi zenit refleksi nan menangisi amarah yang terjadi, yang diceritakan di tadinya lagu.

  7. “Lapang Dada”

  Lagu ini dipilih menjadi singel pertama album “Tahun nan Baik”. Sangat cathy dan mudah diingat. Terutama pada adegan reff. Lagu yang mengajak pendengarnya untuk dapat ‘move on’ dan menjalani segala yang mutakadim terjadi dengan perasaan ikhlas dan tentu berlapang dada.

  Eross mengaku terinspirasi dari bani adam ayahnya dalam menggarap lagu ini. “Terinspirasi semenjak ayah saya yang meninggal tahun 2000. Saya semakin merasa kehabisan ayah saya sehabis punya anak. Semakin saya intim dengan anak, semakin saya terpikirkan ayah saya. Masih banyak yang belum tersampaikan antara saya dan ayah saya. Bisa jadi dia kurang bisa berkomunikasi dengan anaknya. Bintang sartan, inti lagu itu nan telah, sudah (biarkan berlalu),” kata Eross menjelaskan lagu ini.

  8. “Belum”

  Sejenang dengar, awal lagu ini mengingatkan pada lagu “Kamus Hidupku” yang terdapat dalam album “Melaut” properti Sheila On 7. Lagu ciptaan Konsul ini mendongeng adapun nasib yang buruk. Kesialan kadang terjadi kronologis. Intern lagu ini diceritakan, penolakan yang terjadi bersumber orang yang sudah kita cintai, sedangkan kita sudah berupaya semaksimal mungkin. Kecelakaan belum usai, perut dugal dan motor lumpuh menambah derita.

  Duta tampak berupaya menceritakan kesialan dan patah hati suntuk cara yang berbeda. Tidak dengan lirik yang terlampau terjadwal dengan bahasa nan terdengar begitu melankolis.

 
Ulasan Album Terbaru Sheila On 7 Musim yang Baik

Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito

  9. “Musim yang Baik”

  Titel lagu ciptaan Eross ini juga menjadi judul sejarah. Lirik yang faktual dipadu musik yang asik dengan tempo cepat, seolah dahulu tepat menggambarkan musim yang baik. Lagu ini seolah mengintensifkan fantasi atas sebuah kondominium sederhana yang memiliki kebun luas. Kebun nan ditanam berbagai rupa sayur dan buah-buahan. Musik up-beat plong bagian reff lagu ini seolah menjadi meres musik seorang orang tani nan membuka pintu rumahnya dan melihat apa yang ditanamnya sudah boleh dipanen.

  Duta sempat menjabarkan bahwa “Hari yang Baik” bermakna pada operasi keras kita yang terkadang tidak berbuah tepat pada waktu yang kita inginkan. Tetapi, semua akan sani pada waktunya, pada “musim nan baik”.

  “Kita kadang merasa sudah menyelamatkan dengan bermartabat, itu pun tidak menjamin bisa memanen hasil di detik nan kita kepingin. Mudah-mudahan ini saat yang baik bagi Sheila On 7 kerjakan mengeluarkan rekaman (menuai),” terang Konsul.

  10. “Sampai Jumpa”

  Jika salam pembuka rekaman ini “selamat Cak bertengger”, maka salam perpisahan lagu ini adalah “Sampai Jumpa”. Lagu ini memiliki makna yang beragam. Selain andai lagu penutup, makna “Sampai Temu” juga bisa dimaknai sebagai salam perpisahan Sheila On 7 dengan Sony Music Indonesia. Keunggulan yang telah menjadi apartemen band asal Yogyakarta ini sejauh 16 periode.

  Suara iringan gitar listrik akustik berusul Eross didampingi gesekan violin menaik lestari kesan perpisahan.

  Ini bukan lagu pertama berpokok Sheila On 7 yang menyiraktan parak. Sebelumnya, sudah ada “Sebuah Kisah Klasik” dari sejarah “Kisah Klasik bakal Hari Depan” dan lagu “Hari yang Tepat untuk Berpisah” dari album “07 Des”.

  “Selamat kronologi, selamat kronologi teman, selamat jalan sampai jumpa,” seruan Konsul dalam bridge lagu ini.

 
Ulasan Album Terbaru Sheila On 7 Musim yang Baik

Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito

Source: https://www.medcom.id/hiburan/musik/JKRDYzQb-ulasan-album-terbaru-sheila-on-7-musim-yang-baik