Drama Cerita Rakyat 4 Orang

Naskah sandiwara tradisional
“Legenda Rayuan Menangis”.

Disuatu desa, hiduplah seorang ibu paruh baya bersama anak perempuannya nan dahulu rupawan tetapi angkuh. Pada suatu periode, sang ibu hendak menyingkir ke pasar dan ingin mengajak anak gadisnya itu.

Ibu: Nak, ibu ingin pergi ke pasar. Tapi belanjaan ibu tahun ini agak banyak. Ayo temani ibu, nak.

Putri: Malas ah bu. Rata-rata pula bisa pergi seorang.

Ibu: Iya nak, tapi kelihatannya ini ibu burung bantuanmu.

Putri: Oke oke. Tapi suka-suka syaratnya.

Ibu: Syarat? Kok pake syarat nak?

Perawan: Kalau ibu lain mau ya sudah lalu, aku kembali bukan mau menjauhi.

Ibu: Baiklah. Apa syaratnya nak?

Putri: Ketika melanglang, ibu harus berjalan beberapa langkah di belakangku, dan jangan sekali-kali ibu sejumlah jika aku ini anak asuh ibu.

Ibu: Baiklah nak.

Putri: Ya sudah ayo kita meninggalkan.

Si anak perawan dan ibunya pun menjauhi ke pasar. Sejauh dalam pertualangan, sang ibu selalu jalan di belakang anaknya. Saat di pasar semua insan berdecak kagum akan kecantikan amoi itu dan penasaran bisa jadi ibu yang berjalan di belakangnya.

Pak Tio: Wah cantik sekali kamu nak. Siapa ibu di belakangmu? Apakah ia ibumu?

Upik: Bukan. Beliau bukan ibuku. Dia adalah pembantuku. Mana mungkin nona semolek aku n kepunyaan ibu seperti anda.

Buntelan Tio: Bapak tebak dia ibumu. Seandainya ia ibumu jangan melangkah terlalu cepat. Kasihan dia, sira burung laut tertinggal di belakang.

Putri: Ah… Barang apa urusan beliau mengatur-atur saya!

Pak Tio: Bapak hanya memberi saran nak. Seandainya memang dia bukan ibumu silahkan lanjutkan perjalananmu.

Sang gadispun melanjutkan perjalananya. Kemudian, ada koteng pemuda tampan nan tertarik dan menyoal pada gadis itu.

Lanang: Gadis cantik, kelihatannya namamu? Apakah ibu yang berjalan di belakang yakni ibumu?

Dayang: Namaku putri. Sira bukan ibuku. Ia merupakan pembantuku.

Sang ibupun sangat sedih dan tidak tahan dengan perlakuan putrinya. Ia pun berdoa kepada Tuhan cak bagi menghukum putrinya. Tiba-tiba, langit bergemuruh. Sang gadispun merasakan suka-suka yang aneh dari tubuhnya.

Putri: Kenapa dengan kakiku. Mengapa aku tidak bisa menggerakkannya.

Ibu: Aku mutakadim beribadat kepada tuhan bagi menghukummu nak. Kamu sudah sangat keterlaluan.

Lelaki: Jadi dia ini ibumu? Kenapa dia berbohong? Cepatlah lamar ampun padanya.

Putri: Ibu maafkan aku ibu. Aku menyesal. Aku lain akan mengulangi perbuatanku sekali lagi. (sambil menangis sesenggukan)

Ibu: Telah tertinggal nak.

Si kuntum pun perlahan berubah menjadi batu. Dari batu tersebut selalu mengeluarkan air yang dipercaya sebagai air indra penglihatan pecah sang anak.

Pembahasan

Naskah drama
merupakan teks nan berisi dialog antar dedengkot berpunca sebuah cerita. Sebelum menuliskan dialog, terdapat prolog yang bertujuan bikin memperkenalkan narasi yang akan dilakonkan.

Pelajari bertambah lanjut

  1. Materi tentang pengertian sandiwara brainly.co.id/tugas/6254858
  2. Materi akan halnya kamil drama brainly.co.id/tugas/3068383
  3. Materi akan halnya naskah sandiwara tradisional brainly.co.id/tugas/424883

Detail jawaban

Kelas: XI

Mapel: Bahasa Indonesia

Portal: 8

Kode: 11.1.8

#AyoBelajar

Source: https://brainly.co.id/tugas/21855459