Filipi 1 Ayat 3 5


ALTERNATIF Pengalihbahasaan FILIPI 1:3-5


    * Filipi 1:3-5

    1:3 LAI TB,
    Aku mengucap syukur kepada Allahku saban-saban aku mengingat kamu.
    KJV,
    I thank my God upon every remembrance of you,TR,
    Εὐχαριστῶ τῷ θεῷ μου ἐπὶ πάσῃ τῇ μνείᾳ ὑμῶν
    Translit interlinear,
    , eukharistô {aku mengucap terima kasih} tô theô {kepada Allah} mou {-ku} epi {atas} pasê {semua} tê mneia {perasaan/ pelafalan dalam doa} humôn {akan kalian}1:4 LAI TB,
    Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku cak acap berdoa dengan sukacita.
    KJV,
    Always in every prayer of mine for you all making request with joy,
    TR,

    πάντοτε ἐν πάσῃ δεήσει μου ὑπὲρ πάντων ὑμῶν μετὰ χαρᾶς τὴν δέησιν ποιούμενος
    Translit interlinear,
    pantote {sayang} en {di privat} pasê {setiap} deêsei {tahlil} mou {-ku} huper {untuk pantôn {semua} humôn {kalian} meta {dengan} kharas {demen cita} tên deêsin {berdoa} poioumenos {mengerjakan}1:5 LAI TB,
    Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu internal Berita Bibel start dari hari pertama sebatas kini ini
    KJV,
    For your fellowship in the gospel from the first day until now;
    TR,

    ἐπὶ τῇ κοινωνίᾳ ὑμῶν εἰς τὸ εὐαγγέλιον ἀπὸ πρώτης ἡμέρας ἄχρι τοῦ νῦν
    Translit interlinear,
    epi {atas} tê koinônia {persekutuan} humôn {kalian} eis {dalam} to euaggelion {injil} apo {dari} tês prôtês {yang pertama} hêmeras {hari} akhri {sampai} tou nun {waktu ini}

—–

Note:

    Tulisan ini dibacakan oleh Kuo-Wei Peng, seorang konsultan United Bible Societies di Taiwan, lega pertemuan ASPRETCON (Asia Pacific Region Translation Consultation) di Kinabalu, Malaysia, Juni 2001.

    Penerjemahannya dilakukan oleh Pdt. Dr. Wenas Kalangit, konsultan penerjemahan LAI.

Goresan ini berawal mulai sejak permohonan seorang mahasiswa dogma di Taiwan pada notulis bakal mengklarifikasi struktur gramatikal ayat-ayat di atas. Penulis menganalisisnya dan risikonya diberikan kepadanya. Tapi, dabir lalu bangun bahwa hasil analisis tersebut berbeda dengan semua terjemahan yang ada.

NRSV (1989)

menerjemahkannya demikian:
3 I thank my God every time I remember you,

4 constantly praying with joy in every one of my prayers for all of you,

5 because of your sharing in the gospel from the first day until now.

TEV (1994)

memberikan terjemahan:

3 I thank my God for you every time I think of you;

4 and every time I pray for you all, I pray with joy

5 because of the way in which you have helped me in the work of the gospel from the very first day until now.

Terjemahan CEV
adalah:
3 I thank my God for you every time I think of you;

4 and every time I pray for you all, I pray with joy

5 because of the way in which you have helped me in the work of the gospel from the very first day until now.

Terjemahan penulis koteng adalah seumpama berikut:

I thank my God because of your every remembrance [of berpenyakitan]. In every prayer of mine on behalf of you all, always I prayed with joy. [I thank my God also] because of your sharing for the Gospel cause from the first day mengangsur now.

(= Aku berlega hati kepada Allah karena beliau selalu mengingat [akan aku]. Dalam setiap doaku atas nama kamu, aku besar perut berdoa dengan sukacita. [Aku juga bersyukur kepada Allahku] karena kamu mengambil bagian intern [Berita] Injil sejak periode pertama sampai sekarang).

Dalam teks aslinya, ada dua klausa
epi
di sini, yakni n domestik ay. 3
“epi pasê tê mneia umôn”
) dan n domestik ay. 5
“epi tê koinônia umôn”
). Menurut cermat carik, kedua klausa itu memang ditempatkan dengan sengaja seperti itu bagi menjadi dasar atau alasan bagi frasa
“eucharistô tô theô mou”
‘Aku mengucap terima kasih kepada Allahku’, (TB-1,
red
) dalam awal ayat 3. Sementara itu, banyak parafrase tampaknya mempunyai alasan tertentu untuk tidak memandang penempatan klausa itu seperti demikian.

Handbook bagi penerjemahan Alkitab yang diterbitkan maka dari itu UBS (sudah lalu diadaptasi ke n domestik bahasa Indonesia maka dari itu LAI,
red) bagi surat Filipi menerimakan dua alasan mengapa tidak menerjemahkan
“epi pasê tê mneia umôn”
dengan
‘karena beliau selalu mengingat [aku]’:

Pertama, perkataan
of me
(‘akan aku’) tidak ditemukan n domestik teks Yunani.

Kedua, kata
‘remembrance’
‘mneia’
(menghafal) muncul berulang barangkali dalam ayat-ayat pembukaan dokumen-dokumen Paulus (Roma 1:9; Efesus 1:16; Filemon 4). Intern ayat-ayat tersebut, kata itu gandeng akrab dengan ‘tuturan terima kasih’ dan digunakan dalam kebaikan ‘menyapa kerumahtanggaan doa’ atau ‘memahfuzkan dalam doa’.

Pendapat yang sama ditemukan lagi kerumahtanggaan komentar Gerald F. Hawthorne terhadap surat Filipi dalam seri WBC (Word Book Commentary). Ia menekankan bahwa jikalau melihat penggunaan Paulus akan kata
‘mneia’
dengan kasus genitif nan ditemukan di mana-mana privat salinan-suratnya, jelas sekali bahwa dia sendirilah (atau beliau dan kebalikan-temannya) yang memahfuzkan ataupun menyebut orang enggak, dan bukan sebaliknya (Roma 1:9; Efesus 1:16; 1 Tesalonika 1:2; Filemon 4). Selain itu, Hawthorne juga menyerahkan semacam
Sitz im Leben
bahwa Paulus bisa jadi mencermati praktik di dalam PL di mana turunan-orang saleh berdoa puas serangkaian masa (bandingkan dengan Mazmur 5:3; Ezra 9:5; Mazmur 55:17; Daniel 6:10; 1 Tawarikh 23:30). Dan, bahwa
‘epi pasê’
kemungkinan menunjuk kepada semua yang dikatakan Paulus di dalam doanya setiap kali dia berdoa. Karena itu, meskipun Hawthorne mengakui kemungkinan pemertalan
‘karena beliau memahfuzkan (akan aku)’
, namun dia merasa bahwa data yang ada tampaknya enggak mendukung penafsiran demikian.

Bisa jadi memang ada alasannya mengapa penafsiran

‘karena anda mengingat (akan aku)’

belum dipakai maka itu banyak penerjemah Bibel lega hari silam. Akan tetapi, memadai kuatkah pertimbangan-pertimbangan ini dipergunakan untuk mengetepikan probabilitas bahwa frasa ini dapat dipahami sebagai ‘karena kamu menghafaz (akan aku)’? Penulis kira tidak begitu. Sebaiknya, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, kita bisa mengatakan bahwa makna klausa tersebut sepertinya adalah

‘ketika setiap kali aku mengingat kamu’
. Walaupun demikian, itu tidak harus mendorong kita menarik kesimpulan bahwa penafsiran ‘karena sira menghafaz (akan aku)’ seluruhnya menjadi bukan mana tahu.


Rukyah Alternatif dan Argumen

Berikut ini saya menawarkan sejumlah argumen genyot mengenai hal itu:

Permulaan, alasan bahwa mulut

‘akan aku’

lain ditemukan dalam naskah Yunani, bisa jadi tidak dapat dikatakan sebagai argumen yang kuat. Dikatakan demikian karena tata basa Yunani tak membolehkan penggunaan subjektif pecah kasus genitif untuk menaruh target dalam afiliasi kalimat itu, kecuali kalau nominalnya adalah sebuah partikel. Kerumahtanggaan hubungan dengan permasalahan di atas, yang digunakan yakni substantif
mneia
dan lain atom
mneimoneuonti. Karena itu, tidak ditemukannya ungkapan ‘akan aku’ tampaknya bukan boleh dihindarkan jika klausa ini menjadi sebuah kasus genitif subjektif.

Kedua, meskipun penggunaan kata
mneia
dan kasus genitif yang dikaitkan dengan yang terserah dalam Roma 1:9; Efesus 1:16; dan Filemon 4 dimaksudkan untuk dipahami umpama penggunaan genitif objektif, namun perlu dicermati bahwa tidak suatu sekali lagi nan muncul selepas kata depan
epi.

Dengan demikian, argumen ini bukan menentukan karena konteksnya bisa jadi mempunyai kontribusinya bagi semantik genitif.

Senyatanya, jika kita meneliti semua pemanfaatan rumusan
eucharistô tô theô mou
n domestik surat-surat Paulus (Roma 1:8; 1 Korintus 1:4; 14:18; Filipi 1:3; Filemon 4),maka hanya nan cak semau dalam 1 Korintus 1:4 dan Filipi 1:3 yang diikuti makanya
epi
dengan sebuah kasus datif nan dimodifikasi maka dari itu sebuah genitif. Nan menyentak lagi yaitu bahwa dalam 1 Korintus 1:4,
epi
bisa saja mengandung makna ‘karena’ dan kasus genitifnya harus dimengerti sebagai genitif subjektif (yakni: ‘karena kasih Allah yang diberikan-Nya kepada kamu’). Tentu sahaja, saja dengan satu teladan (1 Korintus 1:4), kita enggak dapat mengatakan bahwa kasus genitif n domestik Filipi 1:3 seharusnya dipahami sebagai kasus genitif subjektif. Bikin pencatat, adanya kasus ini menciptakan menjadikan keadaannya semakin lain dapat dipastikan.

Perlu juga diperhatikan di sini bahwa Nigel Turner, dalam bukunya yang berjudul
A Grammar of New Testament Greek: Vol. III Syntax

menggunakan Filipi 1:3 sebagai contoh lakukan memperlihatkan ambiguitas kasus genitif dalam bahasa Yunani. Menurutnya, Filipi 1:3 dapat dikatakan sangka ambigu. Klausa
“epi pasê tê mneia umôno”
bisa sahaja dikategorikan bersifat (a) subjektif: ‘kapan lagi beliau menghafal aku’, ataupun objektif: ‘pada saat pun aku memikirkan sira’. Jikalau begitu, tanpa argumen nan sungguh-sungguh awet, tidaklah bijaksana jikalau kita mengabaikan keseleo suatu dari penafsiran ini.

Tampaknya sulit bikin kita untuk mengidas keseleo satu dari dua kebolehjadian terjemahan ini sahaja berdasarkan pada hasil pengkhususan linguistik semata. Maka dari itu karena itu, akan bertambah baik seandainya klausa ini dipahami dalam semarak konteks historisnya. Sebenarnya inilah yang coba diupayakan oleh Hawthorne ketika ia berbicara dari sudut pandang doa-doa dalam serangkaian kesempatan. Masalah dalam gabungan dengan pendekatan ini adalah apakah penglihatan tentang ‘doa-doa n domestik serangkaian kesempatan’ memang merupakan faktor kuno penting yang harus dipertimbangkan.

Bagi penulis, konteks sambil sahifah Filipi ini lebih relevan untuk digunakan dalam memahami klausa ini. Kalau kita memandang bahwa surat Filipi yakni semata surat Paulus yang ditulis setelah ia menerima sesuatu mulai sejak umat nan menjadi bulan-bulanan suratnya, ialah mungkin bahwa klausa
“epi pasê tê mneia umôn”
ini terhubung dengan apa yang diberikan oleh orang-orang Filipi kepada Paulus nan disebut n domestik 4:10, maupun semua nan sudah lalu mereka berikan sebelumnya (bnd. 4:15-18). Dengan semacam itu, Filipi adalah surat yang diantarai oleh rasa terima hadiah Paulus karena ketulusan hati orang-makhluk Filipi (1:3; pun 4:10-11, 15-18).

Alur penafsiran ini diikuti maka dari itu sejumlah katai pakar pada tahun-tahun anak bungsu ini. Peter Ozon’Brien, misalnya, memandang bahwa dalam adegan ucapan syukur sediakala ini, frasa adverbial ayat 3
“epi pasê tê mneia umôn”
(dengan penafsiran ‘karena kamu mengingat [akan aku]’) dan ayat 5
“epi tê koinônia umôn eis to euaggelion”
(dengan penafsiran

‘karena persekutuanmu n domestik Berita Injil’
) adalah dua dari tiga alasan mengucap terima kasih.

Ben Witherington III menerjemahkan ayat 3 dengan
“Aku berlega hati kepada Allahku karena kamu pelalah menghafal akan aku”, lalu menjatah komentar bahwa ‘Paulus di sini berpikir tentang keikhlasan hati lever orang-orang Filipi, karena mereka repetitif bisa jadi cekut episode dalam pemberitaan Bibel dengan membantu Paulus intern bidang keuangan’ (tatap 1 Tesalonika 4:16; 2 Korintus 11:19), dan karena itu Paulus menyinggung apa nan akan ia katakan secara kian mangap dalam 4:10.


Terjemahan Filipi 1:3

Rasanya pembahasan di atas sudah cukup untuk kita buat mempertimbangkan kembali cara pertal ayat ini. Pertama, dibutuhkan catatan tungkai untuk terjemahan alternatif, jika kita masih cak hendak menempatkan interpretasi ‘setiap kali aku menghafal kamu’ internal teks utama. Beralaskan argumen tadi, saya condong mengusulkan semoga terjemahan ‘karena anda menghafal akan aku’ privat pustaka utama dan menurunkan ‘setiap kali aku mengingat engkau’ seumpama terjemahan alternatif internal catatan suku. Saya belum cukup bahadur mengusulkan untuk mempergunakan terjemahan ‘karena kamu mengingat akan aku’ dalam bacaan utama tanpa parafrase alternatif, karena di kalangan pakar sekarang ini masih ada nan makin menyukai pandangan tradisional terhadap ayat ini. Maka itu karena belum ada kesepakatan di kalangan para pandai, sifat konservatif pemertalan Injil memang harus mencegah kita dari keberpihakan kepada riuk satu semenjak dua kemungkinan ini.

Kedua, jika kita memufakati ‘karena kamu mengingat akan aku’ dalam pustaka utama, kita dapat mematamatai ekuivalensi antara dua klausa
epi
kerumahtanggaan ayat 3 dan ayat 5 ibarat sejenis kemiripan retorikal bikin menandai dua alasan — yang berbeda sekadar saling terhubung — bagi Paulus untuk mengucap syukur untuk orang-orang Filipi. Puas jenjang permukaan, alasan yang pertama adalah menyangkut pemberian anak adam-orang Filipi (barangkali bantuan keuangan) kepada Paulus, sedangkan yang lainnya merupakan mengenai persekutuan mereka alias kekompakan mereka privat situasi pemberitaan Injil. Kedua alasan ini, pada tingkat nan kian internal, sesungguhnya saling terhubung karena pemberian kepada Paulus dimaksudkan kerjakan menolong Paulus menyebarluaskan Injil, dan puas pihak lain, persekutuan dan kebersamaan dengan Paulus menunda sosok-manusia Filipi mengirim ataupun menyediakan bantuan keuangan bikin mendukung Paulus. Karena itu, kesejajaran ini sepatutnya diberi investigasi internal terjemahan.

Sahaja, kemiripan ini mungkin tidak bisa direfleksikan dengan mudah dalam terjemahan, karena ayat 5 tak mengikuti sewaktu klausa utama ayat 3 (Aku berterima kasih kepada Allahku). Di antara dua klausa
epi, cak semau sisipan ay. 4, sebuah frasa elemen yang memodifikasi klausa utama n domestik ayat 3:
Aku bersyukur kepada Allahku. Pemisahan yang barangkali n domestik hal ini adalah dengan mengulangi klausa terdepan pada awal ayat 5, jikalau memang prinsip pengalihbahasaan mengizinkannya. Solusi lainnya dapat jadi adalah dengan mengedrop ayat 4 internal tanda kurung, sehingga pembaca boleh diingatkan pada hubungan yang erat antara ayat 3 dan ayat 5.

Source: https://www.sarapanpagi.org/alternatif-penerjemahan-filipi-1-3-5-vt362.html