Hadits Iman Bertambah Dan Berkurang

Iman menurut jumhur ulama mencengam wara-wara dalam hati, mulut, dan perbuatan. Sebab cak semau hadits Nabi yang mengatakan :

   قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِيمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Iman itu adalah pemberitahuan di relung hati, perkataan dengan lisan, dan perbuatan dengan anggota badan.” ( Yamtuan Anak laki-laki Majah Hadits no. 64)

Para ahli tasawuf berpendapat bahwa pokok dari iman adalah syahadat verbal disertai dengan pembenaran hati. Adapun cabangnya adalah mengamalkan situasi yang bersifat fardhu. Penjelasan para ahli kebatinan tentang pokok iman sederajat halnya dengan pendapat ahli sunnah, yakni bahwa resep iman adalah konfirmasi dengan lever. (Tatap: Al-Kalabadzi, at-Ta’aruf li Madzhab ahl-Tashawuf [Beirut: Darul Kutub al-‘ilmiyyah] halaman 88)

Tentang perbedaan mereka dalam mengenai janji dengan oral dan amal yang melibatkan anggota badan laksana iman beserta kerukunan mereka tentang wajibnya melakukan keadaan-hal dhohir yang berkarakter fardhu dan kesunnahan amalan nan berwatak sunnah merupakan buat membantah dua pendapat nan farik.

Kedua pendapat tersebut adalah pendapat kerubungan Karamiyah yang menganggap bahwa iman itu hanya cukup dengan pengakuan lisan semata-mata biarpun mulut itu dilakukan dengan hati  yang safi atau doang sebagai bentuk kemunafikan. Begitu juga dengan kaum Qadariyah dan kaum Khawarij yang menganggap bahwa status mukmin seseorang akan hilang akibat perbuatan dosa. (Lihat: Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq [Beirut Dar-al-Afaq al-Jadidah] halaman 343)

Jika kita tela’ah seterusnya pendapat suku bangsa Karamiyah yang menganggap iman itu cukup dengan lisan doang, maka tidak suka-suka bedanya antara orang munafik dan mukmin. Sama dengan dengan Qadariyah dan Khawarij nan mengatakan bahwa gengsi muslim akan hilang jika melakukan dosa, maka kita akan jebluk dalam faham takfiriyah.
Penyakit Tentang Bertambah dan Berkurangnya Iman

Jamhur tasawuf berpendapat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Sedangkan perinciannya, Rohaniwan Junaid al-Baghdadi dan para pendahulunya berpendapat: bahwasanya pembenaran dengan hati (tashdiq) dapat lebih, tidak dapat menyusut, sebab kurangnya akan pengecekan atau ragu akan kebenaran segala yang diwahyukan maka dari itu Allah tercantum kufur.

Adapun segi tambahnya, bahwa iman seseorang dapat bertambah dengan kuatnya keyakinan. N domestik segi lisan tidak memiliki pengaruh atas tambah dan berkurangnya iman. Padahal amal perbuatan dapat bertambah alias memendek. (Lihat: Al-Kalabadzi, at-Ta’aruf li Madzhab ahl-Tashawuf [Beirut: Darul Kutub al-‘ilmiyyah] halaman 89)

Pendapat ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad mensifati basyar yang mengintai kemungkaran hanya hanya meniadakan dengan batinnya sekadar lain dengan dhohirnya sebagai iman nan litak.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Takdirnya tidak berharta, hendaklah mencegahnya dengan lisan. Jika tidak rani pula, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (Shohih Muslim Hadits no.70)

Padahal atas kesempurnaan maupun bertambahnya iman Utusan tuhan Muhammad mengomong:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang minimum contoh imannya yakni yang paling baik akhlaknya. (Sunan Tirmidzi Hadits no. 1082)

Sebagian sufi berpendapat bahwa bertambah dan berkurangnya iman itu hanya ditinjau privat segi sifatnya doang, begitu juga kualitas, baik dan kuatnya, bukan dalam segi substansinya. Komplikasi mengenai bertambah dan berkurangnya iman ini sepatutnya ada intim kaitannya dengan denotasi iman itu seorang. Entah itu konfirmasi intern hati saja, verifikasi dalam hati disertai janji lisan atau mencengam tiga aspek, yaitu  hati, lisan dan perbuatan.

Lantas adakah iman yang tidak mengalami menaiki-roboh maupun keseleo suatu bersumber keduanya?. Di sini para ulama’ tasawuf membaginya menjadi tiga bagian:

Mula-mula, iman nan tidak bertambah dan menyusut. Iman nan bukan menerima penyisipan dan pengurangan adalah iman yang menjadi sifat Allah (al-Mu’min), sebab sifat Sang pencipta tidak menerima perubahan seperti penambahan ataupun pengurangan. Seperti mana halnya tercantum kerumahtanggaan ayat berikut:

وَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ – ٢٣

Artinya: Dialah Allah lain ada sang pencipta selain Beliau. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Apa Keagungan, Mahasuci Allah dari segala nan mereka persekutukan. (QS. AL-Hasyr, ayat 23)

Bisa kembali yang dimaksud dengan iman yang tunak ini adalah iman yang sudah ditentukan Allah kepada hamba-Nya sejak zaman azali atau dalam pesiaran Allah. Dimana iman tersebut sesuai dengan embaran Allah nan tidak makin setelah tercipta alias munculnya iman pada hamba-Nya dan lain terbatas dari barang apa yang Allah tentukan dalam pengetahuan-Nya.

Kedua, yaitu iman para nabi yang bertambah dan lain berkurang. Dimana para nabi imannya majuh meningkat seiring dengan bertambahnya keimanan dan kesaksian mereka atas peristiwa-hal nan bersifat ghaib, begitu juga kisah Rasul Ibrahim yang terjadwal dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 260:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰىۗ قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗقَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنَّ قَلْبِيْ ۗقَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِفَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗوَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌحَكِيْمٌ

 (ingatlah) detik Ibrahim bersuara, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Sira menghidupkan basyar nyenyat.” Allah merenjeng lidah, “Belum percayakah engkau?” Kamu (Ibrahim) menjawab, “Aku berkeyakinan, belaka agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Halikuljabbar) berfirman, “Jikalau begitu ambillah catur ekor ceceh, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit suatu babak, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka nomplok kepadamu dengan lekas.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Ketiga,  iman seorang orang islam yang mengalami penambahan maupun pengkhitanan. Sebagai halnya yang dijelaskan pada pembahasan tadi. Iman seseorang bertambah di dalam batinnya dengan keyakinan yang kuat serta boleh memendek berasal segi cabangnya sebab melakukan dosa. Situasi ini berbeda dengan para nabi yang terbimbing bermula perbuatan dosa sehingga tidak boleh disifati dengan kekurangan.

Source: http://alhassanain.org/indonesian/?com=content&id=4920