Hadits Tentang Membaca Dan Menulis

Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:

اقرأ باسم ربك الذي خلق ۞ خلق الإنسان من علق

اقرأ وربك الأكرم ۞ الذي علم بالقلم

“Bacalah dengan nama Rabb-mu yang sudah lalu menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari sekelumit bakat. Bacalah, dan Rabb-mu ialah yang Maha Pengasih. Nan mengajarkan (khalayak) dengan (perantara) pena.” (Q.S. Al-Alaq [96] ayat 1-4)

Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
adalah perintah membaca, adalah bacalah dari hafalanmu. Jika tidak suka-suka, maka berbunga tulisanmu. Maka Almalik
Tabaraka wa Ta’ala
menguraikan bagaimana hendaknya kita mengobati penyakit ini, yaitu keburukan lupa. Cara menyembuhkan ki kesulitan tengung-tenging ialah dengan menulis.

Karangan adalah salah satu incaran utama sepatutnya ibadah mendaras dapat dilakukan. Maka, membuat tulisan bak bahan untuk mengaji juga ialah kebajikan saleh.

Sedemikian terdepan dan besarnya peran pena dan segala nan ditulis maka itu khalayak, Sang pencipta sebatas bersumpah menggunakan tera pen dalam Al-Quran Sertifikat Al-Qalam (68) aya 1.

نٓ‌ۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُونَ

“Nun, demi kalam dan segala apa nan mereka tulis.”

Al-Qurtuby
rahimahullah
berujar, “Lakukan Sang pencipta bersumpah dengan apa yang disukai dari khalayak-Nya, baik hewan dan turunan padat. Walaupun tidak diketahui hikmah hal itu.” (Al-Jami Liahkamil Qur’an, 19/237)

Salah suatu nama Al-Alquran adalah
al-kitab. Terlebih, penyebutan alas kata
al-kitab
jauh bertambah banyak dibandingkan dengan alas kata Al-Quran di internal kitab suci Al-Quran seorang. Kata “al-kitab” disebutkan sebanyak 230 kali, sedangkan pengenalan “al-qur’an” hanya disebutkan sebanyak 58 kali.

Al-Quran berarti “bacaan” sedangkan
al-kitab
bermanfaat “garitan”. Lebih banyaknya peggunaan kata
al-kitab
tinimbang Al-Quran menunjukkan tingginya anjuran Al-Quran untuk batik tanpa mengenyampingkan pentingnya mendaras pada saat yang setimpal.

Allah Nan Mahasuci menjadikan karier menggambar misal riuk satu putaran utama dalam menertibkan makhluknya dan menjadikannya dokumentasi laksana bukti di saat Dia memejahijaukan seluruh hamba-Nya.

Dua malaikat terdahulu Allah n kepunyaan tugas mencatat seluruh amalan seorang hamba. Catatan nan ditulis oleh para malaikat ternyata menjadi pengingat untuk manusia detik catatan mereka dibuka di Hari Persidangan maka dari itu Allah Yang Mahatahu.

Di periode Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
para sahabat dilarang menulis perkataan nabi-sabdanya, karena dikhawatirkan terjadi tumpang tindih antara ayat Al-Quran dan sabda Utusan tuhan, sehingga para sahabat hanya menulis ayat-ayat Al-Quran di beraneka ragam benda. Namun, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
justru berlaku unik kepada sahabat taruna ahli ibadah Abdullah kedelai Amr, putra ahli strategi perang Amr kedelai Ash
radhiyallahu ‘anhu.

Ketika kebanyakan orang masih buta lambang bunyi, sahabat Abdullah bin Amr
radhiyallahu ‘anhu
telah mahir baca dan tulis. Anda mempunyai resan yang tidak umum dilakukan oleh para sahabat, dia gemar sekali mencatat sabda-titah Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ketika Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
wafat, usianya masih 17 masa.

Detik Abdullah bin Amr dikeluhkan oleh para sahabat lain karena gemar menulis hadis-titah Rasululllah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
beliau menghadap Rasul cak bagi berkonsultasi.

Abdullah bin Amr bin Ash
radhiyallahu ‘anhu
kemudian diperintah oleh Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
“Tulislah! Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran.”

Abu Hurairah
radhiallahu ‘anhu
berkata,

مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي، إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ

“Tidak ada seorang juga dari shahabat Rasul
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
yang minimum banyak (meriwayatkan) hadits semenjak Beliau (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) selain aku, kecuali terbit Abdullah polong Amr, karena ia dahulu menggambar, sementara itu aku bukan menulis.” (HR. Bukhari no.113)

Tulisan yang menjaga Al-Quran

Pada zaman Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
penyandaran sreg mahfuz lebih banyak daripada penyandaran plong coretan, karena hafalan para sahabat
radhiyallahu ‘anhum
adv amat kuat dan cepat, di samping sedikitnya orang nan dapat baca tulis dan sarananya. Makanya karena itu, siapa saja dari kalangan mereka yang mendengar satu ayat, dia akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dengan sarana ala kadarnya di pelepah tamar, rincihan kulit, permukaan bencana cadas alias lemak tulang belikat unta. Besaran para penghapal Al-Quran adv amat banyak.

Namun, demi menjaga keberadaan Al-Quran setelah perang Yamamah banyak mendabih para sahabat penghafal Al-Quran, Umar bin Khaththab
radhiyallahu ‘anhu
meminggirkan Khalifah Serdak Bakar Ash-Shiddiq
radhiyallahu ‘anhu
buat mengumpulkan catatan-catatan Al-Alquran.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan, mulanya Duli Bakar tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar per-sisten mengedepankan pandangannya hingga Halikuljabbar
Subhanahu wa Ta’ala
membukakan pintu lever Abu Bakar buat keadaan itu.

Abuk Bakar adv amat menjuluki Zaid bin Tsabit
radhiyallahu ‘anhu. Dengan didampingi Umar, Serdak Bakar mengatakan kepada Zaid, “Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih mulai dewasa dan berpikir logis cemerlang, kami lain meragukannmu, engkau sangat pernah menulis wahyu untuk Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka sekarang carilah Al-Quran dan kumpulkanlah!”

Zaid berkata, “Maka aku pun mencari dan mengumpulkan Al-Quran berpangkal pelepah kurma, permukaan bisikan wadas dan pecah hafalan bani adam-individu. Mushaf tersebut berpunya di tangan Abuk Bakar sampai engkau wafat, kemudian dipegang maka itu Umar hingga wafatnya, dan kemudian di jabat maka itu Hafsah Binti Umar
radhiyallahu ‘anhuma.”

Sebatas Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ‘anhu
mengatakan, “Manusia yang paling besar pahalanya pada mushaf Al-Quran merupakan Abu Bakar, semoga Halikuljabbar
Subhanahu wa Ta’ala
menjatah pemberian kepada Duli Bakar, karena dialah orang yang mula-mula kali mengumpulkan Kitab Allah
Subhanahu wa Ta’ala.”

Di waktu Khalifah Utsman bin Affan
radhiyallahu ‘anhu, demi menyelamatkan umat berpangkal fitnah berselisih dalam dialek mengaji Al-Quran, Khalifah menyetujui akuisisi sahabat Hudzaifah polong Yaman
radhiyallahu ‘anhu.

Maka Khalifah Utsman memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf yang terserah menjadi satu versi mushaf, sehingga kabilah muslimin tidak berbeda bacaannya dan tidak mempertengkarkan kitab Allah
Subhanahu wa Ta’ala
lewat balasannya berpecah belah.

Demikianlah, sejenis itu pentingnya peran batik di kerumahtanggaan Selam sehingga menjadi kaidah untuk menjaga kelanggengan Al-Quran dalam bentuk fisiknya sebatas waktu ini. Demikian pula dengan titah-perbuatan nabi nabi muhammad Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
yang boleh kita baca dan hafal saat ini karena dituliskan sejak awal. (A/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (Mina)

Source: https://minanews.net/khutbah-keutamaan-menulis-penjaga-al-quran-dan-al-hadits-oleh-rudi-hendrik/