Hadits Tentang Pola Asuh Anak

Mengasuh Momongan MENURUT Ajaran Selam

Oleh : Drs. Juhar

Penghulu Madya KUA Kec. Padang Lor Daerah tingkat Padang

ABSTRAKSI

Keburukan yang paling dominan yang selalu dibicarakan oleh ulama fiqih ketika berbicara tentang masalah momong anak (Hadhonah) dalam rajah memelihara dan menjaga kelangsungan dan kelestarian kehidupan bayi nan baru lahir. Hadhonah adalah mengasuh alias membudidayakan momongan yang belum mampu mengelola kehidupannya sendiri dengan menyediakan sesuatu bagi kesejahteraan dan kemaslahatannya, menjaga dari sesuatu nan menyakitinya dan membahayakannya, menempa dan membina jasmani dan rohaninya, melatih akalnya sebaiknya bernas berdiri seorang buat menghadapi hidup dan kehidupan serta memikul tanggung jawab.


A.



Rataan Pantat

Pernikahan atau perkawinan merupakan Sunnah Rasulullah
SAW
yang disyariat kepada umatnya cak bagi boleh dilaksanakan kerjakan orang (umat) yang sudah memiliki kesediaan buat berumah tataran. Dan lebih-lebih Nabi Muhammad
SAW
melarang umat roh membujang ialah berat tulang kawin dengan maksud cak bagi sungguh-sungguh ibadah, menjauhkan diri dari kesukaan dunia dan menghindarkan diri dari kewajiban momong atau menernakkan anak.

Pernikahan juga yakni ibadah apabila dilaksanakan dengan tulus ikhlas mengharap ridho Tuhan, serta untuk mendapatkan keturunan yang normal umpama generasi penerus dan pewaris berpunca generasi sebelumnya. Untuk menanam zuriat yang dilahirkan itu, Selam mengajarkan dalam Al-Qur’an  dan hadits, adanya bagasi jawab kepada kedua ibu bapak bikin mengasuh atau memelihara kerumahtanggaan bentuk memberi makanan, merawat, mematangkan, menyayangi dan mengasihi sejak kecil sampai anda dewasa atau sudah mampu hidup mandiri.

Dalam penerapan konsep Islam tentang mengasuh anak asuh (Hadhonah) ini, sedikit memasyarakat, dan bahkan diabaikan dan dilanggar maka itu manusia tua renta. Betapa banyaknya kasus adopsi, penganiayaan orang lanjut umur terhadap anak, anak asuh-anak yang ditelantarkan oleh ayah bunda, anak asuh nan terombang ambing yang tak jelas martabat pemeliharaannya, dijumpai di perdua-tengah mahajana. Hal ini perlu mendapat manah sungguh-sungguh dalam bentuk kajian wahyu Islam harus kita sosialisasikan dan kita terapkan serta dikoordinasikan dengan berbagai komponen nan terkait, agar konsep Islam tentang “Hadhonah” ini boleh ditegakkan dan dilaksanakan dengan seutuhnya.


B.



Hadhonah



1.





Signifikansi

N domestik istilah fiqih digunakan dua kata sahaja ditujukan kerjakan maksud nan sama yaitu “Kaffalah” dan
Hadhonah”. Nan dimaksud dengan
Hadhonah
atau
Kaffalah
dalam kemustajaban sederhana ialah perawatan alias pengasuhan. Dalam arti yang lebih eksemplar yaitu penjagaan momongan yang masih kecil selepas terjadinya terpotong perkawinan. Keadaan ini dibicarakan dalam fiqih karena secara praktis antara suami dan isteri sudah lalu terjadi perpisahan sedangkan anak asuh-anak memerlukan sambung tangan dari ayah atau ibunya.



2.





Syariat dan Dasar Hukumnya

Para cerdik pandai mematok bahwa pemeliharaan anak asuh itu hukumya adalah wajib, seperti mana teristiadat memeliharanya selama berada dalam perantaraan perkawinan. Adapun bawah hukumnya mengikuti masyarakat perintah Allah untuk mensponsori anak dan isteri. Internal firman Almalik pada surah Al-Baqarah ayat 233 :

Artinya  :   “Adalah kewajiban ayah bagi memberi nafkah dan pakaian bagi anak dan isterinya”.

Kewajiban membiayai anak nan masih kecil bukan sahaja bermain selama ayah dan ibu masih terikat dalam lawe perkawinan saja, namun juga berlantas setelah terjadinya perceraian.

Di privat
UUP
No. 1 perian 1974, Portal IX tentang kedudukan momongan pasal 42, anak yang raja adalah anak nan dilahirkan dalam ataupun sebagai akibat perkawinan yang syah. Pasal 43 ayat 1, anak yang dilahirkan diluar perkawinan hanya mempunyai gabungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.

Kemudian pada Gapura X mengeset hak dan kewajiban antara ayah bunda dan anak. Pasal 45 ayat 1: Kedua ayah bunda wajib memelihara dan mendidik anak asuh-anak mereka sebaik-baiknya. Ayat 2: Kewajiban orang tua nan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sebatas anak itu perhubungan atau dapat merembah sendiri, beban mana berlaku terus lamun perkawinan antara kedua makhluk tua terpotong.


C.



Rukun dan Syarat

Pemeliharaan maupun pengasuhan anak asuh itu berlaku antara dua unsur yang menjadi rukun dalam hukumnya merupakan khalayak tua yang mengasuh disebut “Hadhin” dan anak asuh yang diasuh “Mahdun”. Keduanya harus menepati syarat yang ditentukan bikin wajib dan syahnya tugas pengasuhan itu. Syarat-syarat individu yang berbuat
Hadhonah
itu yaitu :

1)

berlogika afiat,

2)

dewasa dan gemuk mendidik anak kerdil,

3)

dapat dipercaya cak bagi merawat dan merebus anak asuh,

4)

beragama Islam,

Artinya  :   “Sang pencipta tidak akan memasrahkan kronologi kepada orang kafir bakal menguasai orang-anak adam mukmin” (An Nisa’: 141)

5)

wanita itu belum kawin lagi dengan anak adam lain (nan lain ada perikatan peguyuban dengan alumnus suaminya/ayah si anak). Nabi bercakap : “Kamu lebih berwajib untuk melakukan
hadhonah
selama beliau belum kawin”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

6)

Merdeka. Menurut jumhur cerdik pandai, sebab hamba sahaya akan sibuk dengan urusan tuanya. Menurut Ibnul Qayyim alasan pendapat jumhur ini tidak tepat. Menurut Malik boleh hamba sahaya berbuat
hadhonah
artinya ia lebih berwenang daripada bapaknya sepanjang hamba sahaya itu tidak dijual


D.



Siapakah nan Berwenang Melakukan
Hadhonah

Hadhonah
atau mengasuh momongan pada hakikatnya yakni pikulan jawab kedua ibu bapak, baik ibu atau kiai, mengingat bahwa anak adalah hasil dari perkawinan keduanya. Akan tetapi apabila kedua basyar tuanya bercerai, maka dalam pemeliharaan anak ini Islam sudah lalu mengaturnya dengan baik, demi kekuatan dan kemaslahatan anak asuh itu sendiri, sepatutnya ia tidak terombang ambing kesana kemari, yang paling kecil berhak melakukan
hadhonah
merupakan ibu. Dalam hubungan ini Rasulullah
SAW
berfirman kepada seorang ibu, “Beliau lebih berhak terhadapnya sejauh beliau belum kontak sekali lagi (dengan laki-laki lain). (H. Ahmad dan Abu Daud). Hadits ini disabdakan Rasulullah
SAW
detik ada koteng wanita yang telah diceraikan suaminya melapor kepada Rasulullah
SAW
bahwa bekas suaminya akan mengambil orok buah hatinya yang lahir dari hasil perkawinannya itu.

Hadits di atas menunjukkan bahwa ibu bertambah berhak untuk berbuat
hadhonah
terhadap anaknya daripada bapaknya. Sebab secara naluri ibu lebih sabar, lebih sayang, lembut, lebih banyak punya musim dan kemampuan cak bagi mengasuh dan merawat anaknya.

Diriwayatkan bahwa Umar menceraikan isterinya salah seorang wanita Anshar. Terbit perkawinan itu lahirlah koteng anak yang bernama “Ashim”. Bekas isteri Umar tersebut mutakadim relasi juga dengan khalayak tak. Sreg satu hari Umar melihat Ashim di tengah jalan, ia sewaktu mengambilnya karena rindunya. Maka terjadilah sengketa antara Umar dan tempat isterinya itu (ibu Ashim) memperebutkan Ashim. Sampai keadaan itu kepada khalifah Abu Bakar. Hasilnya khalifah Abu Bakar memutuskan bahwa nan berhak merawat dan mengasuh anak itu adalah ibunya. Beliau bersabda bahwa ibunya lebih penyayang, lebih sayang, lebih sabar, lebih telaten, lebih renik dan bertambah baik.

Apabila ibu lain dapat melakukan
hadhonah, maka kerabat kian berhak melakukan
hadhonah
dengan usap sebagai berikut : 1) nenek dari pihak ibu (ke atas), 2) nenek berpangkal pihak ayah (ke atas), 3) saudara amoi seayah seibu, 4) plasenta perempuan seibu, 5) plasenta perempuan seayah, 6) anak perempuan saudara perempuan seayah seibu, 7) anak cewek saudara perempuan seibu, 8) anak pemudi uri pemudi seayah, 9) tali pusar cewek ibu yang seayah dan seibu, 10) saudara dayang ibu yang seibu, 11) uri nona ibu yang seayah, 12) anak asuh pemudi saudara laki-laki seayah seibu, 13) anak dara saudara lelaki seibu, 14) anak perempuan saudara lanang seayah, 15) saudara perempuan kiai yang seayah seibu, 16) tali pusar dara bapak yang seibu, 17) saudara kuntum bapak yang seayah, 18) dan seterusnya. Apabila wanita-wanita tersebut lain ada, yang berhak berbuat
hadhonah
yaitu ayah, kemudian kakek ke atas, saudara adam kandung, plasenta lelaki seayah, anak plasenta lelaki seayah seibu, anak saudara maskulin seayah, paman seibu, dan paman seayah.


E.



Sempadan atau Masa Berlangsungnya
Hadhonah

Dalam hal ini cerdik pandai berbeda pendapat seumpama berikut :

1.

Pendapat Hanafiyah: Lamanya 9 periode atau pasca- haidh bagi anak putri ataupun selepas setakat pada tingkat seksualitas. Bila anak asuh sudah lalu berumur 9 tahun ataupun bagi anak perempuan telah haidh, atau mutakadim sebatas tingkat erotisme, ayah hendaklah mengambilnya.

2.

Pendapat Pastor Syafi’i: Tidak cak semau tenggang waktu tertentu. Apabila anak asuh kecil telah mampu memperlainkan mana ayah dan mana ibunya, momongan tersebut disuruh memintal antara keduanya, atau antara ayah dan yang berwajib melakukan
hadhonah. Bila anak tersebut tak mengidas keseleo satunya, hak
hadhonah
jatuh pada ibunya.

3.

Pendapat Imam Maliki: Sejak katai sebatas baligh (dewasa) sekalipun sesudah baligh momongan tersebut menjadi sinting, doang bapak tetap terlazim memberikan lambung kepadanya, demikian apabila anak tersebut lelaki. Bila perawan hari
hadhonah
berlangsung sehingga momongan itu dikawinkan.

4.

Pendapat Imam Hambali: Masa
hadhonah, baik bikin anak adam maupun perempuan merupakan 7 tahun. Apabila kedua anak adam tuanya bersinggungan, anak itu disuruh mengidas salah satu antara kedua insan tuanya.

5.

Pendapat sebagian cerdik pandai mengatakan bahwa waktu
hadhonah
tidak punya senggat tertentu. Yang dipakai ukurannya yaitu bila anak itu tidak memerlukan pun peladenan berasal seorang ibu alias wanita, telah mampu mengurus diri sendiri dalam memenuhi kebutuhan pokoknya, begitu juga: makan, mandi, berpakaian, membasuh dan enggak-tak.

Di intern Kumpulan Hukum Selam (KHI).

Ayat 1   :   Batas usia anak asuh yang ki berjebah agak kelam sendiri atau dewasa adalah 21 perian, sejauh anak tersebut bukan bercacat fisik atau mental ataupun belum melangsungkan perkawinan.

Ayat 2   :   Orang tuanya mewakili momongan tersebut mengerti segala perbuatan syariat di kerumahtanggaan diluar meja hijau.

Ayat 3   :   Pengadilan agama dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat nan makmur menunaikan barang bawaan tersebut apabila kedua orang tuanya tidak subur.


F.



Kesimpulan

Dari beberapa uraian di atas antara bukan boleh diambil kesimpulan sebagai berikut :

1.

Islam lewat memperhatikan kelangsungan hidup anak, cak bagi itu Islam sangat memperhatikan perawatan, dan pendidikannya nan sreg prinsipnya dibebankan dan menjadi beban jawab kedua orang tuanya. Dalam kondisi kedua basyar tuanya bercerai, kiranya anak itu tidak terombang ambing dan ada yang berkewajiban terhadap preservasi anaknya, Islam telah menyari’atkan
hadhonah.

2.

Tajali Islam mengenai
hadhonah
ini minus memasyarakat. Untuk itu hendaknya anak-anak kita selaku generasi penerus ini menjadi baik pertumbuhannya, baik jasad maupun rohani, hendaklah ajaran Islam ini kita masyarakatkan.

3.

Kalau dewasa ini banyak anak nakal, pelecok satu sebabnya adalah lantaran umat Selam nan mayoritas ini belum melaksanakan sepenuhnya ajaran Islam tentang mengasuh dan merebus momongan.

4.

Kajian petunjuk Islam nan berhubungan dengan masa depan anak, masa depan manusia, terutama nan berbimbing dengan cak bimbingan bagaimana caranya kita menciptakan generasi mendatang yang baik dan berkualitas, hendaklah kita galakkan.

KEPUSTAKAAN

1.

Departemen Agama RI, Dirjen Bimas Selam, Direktorat Urais dan Pembinaan Syariah,
Al-Qur’an dan Tafsirnya, tahun 2007.

2.

Prof. DR. Amir Syarifuddin,
Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Antara Fiqih Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan, Jakarta, 2004.

3.

Al ‘Alimu Al ‘Alaamah Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Malybary,
Fathul Mu’in, Maktabah Gemuk Thoha Putra Semarang.

4.

Undang-Undang RI Nomor 1 tahun 1974 adapun Perkawinan.

5.

H. Sulaiman Rasyid,
Fiqh Islam, Attahiriyah, Jakarta, 1976/

6.


Pusparagam Hukum Selam (KHI), Citra Umbara, Bandung, 2007.

Klik kerjakan download

Source: https://sumbar.kemenag.go.id/v2/post/1762/mengasuh-anak-menurut-ajaran-islam.html