Hukum Wanita Membuat Pria Menangis

Allah menciptakan cucu adam berjenis kelamin lelaki dan dara. Keduanya sama-sederajat memiliki gabungan perumpamaan hamba Halikuljabbar. Sehingga n domestik bersosialisasi haruslah saling mengagungkan, menghargai, mengasihi atas dasar rasa manusiawi. Tak dibenarkan internal Islam bakal menyakiti sesama, baik adam menyaikit pria, perempuan menyakiti perempuan, cewek menyakiti lelaki, maupun maskulin menyakiti perempuan. Tambahan pula sampai maskulin membuat perempuan menangis maupun sebaliknya.

Era disrupsi seperti ini, saat semua informasi berpindah ke digital, ira kerjakan menyakiti atau menyampaikan ujaran kegeraman semakin termengung. Sebelum timbrung lega era ini, manusia-orang seringkali menyakiti sesama dengan cara kekerasan raga. Tapi ternyata, tindakan oral melalui media sosial ataupun disebut
cyber bullying
kembali sangat menyakitkan.

Cyber bullying
cuma salah suatu contoh susuk kekerasan verbal nan terjadi. Tapi memang fakta itu saat ini lebih mengamankan dan menjadi penyebab utama permasalahan psikis tiap sosok, malar-malar kuntum. Meski sudah turut era maju, penglihatan dunia terhadap perempuan masih ada nan menjadikan mereka bak alamat. Malah sesama perempuan sendiri. Keirian terhadap nona masih tertuju intern patriarkis dan kembali makhluk-hamba allah nan berkarakater misoginis, membenci perempuan.

Asam garam sosial nan dimiliki gadis konkret marjinalisasi, subordinasi, kekerasan, pelecehan genital dan beban ganda masih menghantui kehidupan mereka hingga momen ini. Sedangkan sejak diutusnya Nabi Muhammad, derajat nona turut dinaikkan dan diakui kemanusiannya. Dara yang lewat pergaulan menjadi babak berpangkal harta warisan karena disamakan sama dengan produk akhirnya berbahagia hak waris lagi. Gadis yang setiap haid disingkirkan berbunga rumah dan diisolasi, akibatnya mendapatkan haknya bakal tunak beraktivitas sampai-sampai mendapat perlindungan saat menstruasi. Pemahaman nan baik terhadap cerita Islam terutama tentang nona akan mengantarkan kita kerjakan tak menyakiti siapapun, tercantum putri.

Sebab Rasulullah telah berfirman mengenai kesetaraan dan pemali saling menyakiti:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ). رَوَاهُ مُسْلِمٌ

artinya: Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu dia merenjeng lidah, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Janganlah kalian saling cemburu, melakukan najasy (berbuat curang internal bursa), silih membenci, saling membelakangi dan sebagian dari kalian menjual segala yang dijual saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim ialah plasenta bagi mukmin yang enggak, sehingga dia tak bisa menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya disini–sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali– cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia memburukkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya gelap dan terdidik darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Mukminat)

Perkataan nabi Nabi berusul sahabat Abu Hurairah ini menjelaskan prinsip kufu. Pantangan menyakiti sesama yakni prinsip minimal fundamental dalam Islam. Tidak dapat tukar menyakiti kerumahtanggaan rangka mewujudkan perdamaian dan karunia. Merendahkan saja dianggap buruk, tambahan pula melakukan tindakan lebih berpokok itu, tentu jauh makin buruk. Titah ini sifatnya mahajana, tidak terbatas sreg sesama orang islam saja, tetapi rembet kepada sesama insan apapun latar belakang agama, kaki, gender, kelamin, dan bangsa. Seperti disebutkan n domestik hadis lain
“Mencintai sesuatu bagi manusia sebagaimana sesuatu itu kamu cintai cak bagi dirimu, dan menghindarkan sesuatu berpangkal mereka sebagaimana sesuatu itu tak kamu sukai terjadi plong dirimu.”
(HR. Ahmad, no. Hadits 16130)

Jelaslah bahwa menyakiti kuntum, terlebih setakat membuat menangis yakni haram bagi siapapun. Lanang membentuk perempuan menangis atau sebaliknya adalah peristiwa yang dibenci oleh Allah dan Rasulnya apapun alasannya. Semua ialah atas dasar rasa manusiawi dan kesamaan.
Wallahu a’lam bisshowaab.

Source: https://bincangmuslimah.com/ibadah/lelaki-membuat-perempuan-menangis-bagaimana-pandangan-islam-34455/