Keuntungan Adanya Nama Ilmiah Adalah

Akasia ialah salah suatu jenis pokok kayu kayu-kayuan yang
bersumber pecah Afrika dan Australia. Di seluruh dunia, diperkirakan terwalak kurang lebih 1300 spesies akasia dengan 960 spesies di antaranya merupakan akasia Australia. Di Indonesia, akasia pertama kelihatannya diperkenalkan di Kepulauan Maluku lega masa 1970-an sebagai tumbuhan bikin penghutanan. Akasia merupakan jenis tanaman nan cepat tumbuh, sehingga disukai kerjakan penghijauan dan dengan segera menyebar ke seluruh Indonesia.

Akasia sekali lagi
banyak ditemukan di wilayah Daerah Khas Yogyakarta, varietas tumbuhan akasia ini secara taksonomi termasuk dalam famili leguminosae alias fabaceae, yaitu pohon yang berbuah polong, sub familia mimosoideae, salah suatu jenisnya yang sudah banyak dibudidayakan oleh awam adalah akasia formis yang n domestik penamaan ilmiah merupakanAcacia auriculiformis, di distrik Yogyakarta jenis tanaman ini banyak dibudidayakan di kawasan pegunungan kapur di Kabupaten Gunungkidul.Acacia auriculiformis ini bukanlah suatu-satunya jenis tumbuhan akasia yang ditemukan bertaruk di wilayah Kewedanan Istimewa Yogyakarta, paling tidak ada 10 keberagaman tanaman akasia nan merecup sepan baik di wilayah ini, kesepuluh spesies tersebut antara tidak:



1.



Akasia Daun Gempal (


Acacia auriculiformis


)






Acacia auriculiformis

 merupakan tanaman polos dari Indonesia yang asalnya dari bagian selatan Papua, serta tersebar di Papua Nugini dan episode utara Australia.

Pohon ini b
anyak dijumpai pada kawasan kering seperti savana dan pangan musi
m.
di Yogyakarta banyak ditemukan di

pegunungan kapur Kabupaten Gunungkidul, pokok kayu ini mempunyai sifat nan toleran terhadap tanah yang reaktif dan berbatu. Dalam konteks rehabilitasi lahan kritis pokok kayu ini
sekata
 dijadikan pokok kayu pionir
. Akasia memiliki kemampuan untuk memfiksasi nitrogen nonblok plong kondisi tanah nan rusak.




Gambar 1.
Acacia auriculiformis
(Perigi: Pixabay)

Klasifikasi Ilmiah:

Kingdom             : Plantae

Divisi                   : Spermatophyta

Sub Divisi            : Angiospermae

Kelas                   : Magnoliopsida

Ordo                    : Fabales

Famili                   : Fabaceae

Sub Famili           : Mimosoideae

Genus                 : Acacia

Spesies               :Acacia auriculiformis A. Cunn. Ex Benth.

Secara morfologis mempunyai ciri sebagai berikut
:

habitus pohon dengan tinggi mencapai 15-30 m. Tahapan batang bebas cabang mencapai 12 m. Dimater mencapai 50 cm. B
ertajuk membulat,
 b
atang monopodial
 tapi
 sesekali simpodial, kulit batang relatif halus berwarna serdak-abu kehitaman, kulit mayit pecah-dari beralur relati
f
 dangkal
.
Daun berbentuk filodial (petiolus yang memipih) relati
f
 lebat, warna hijau lanjut usia mengkilat
.

Lengkung langit
angkai patera berwarna coklat, sisi daun melengkung pada kedua sisinya
.

P
anjang patera 15 cm-16 cm, lebar daun 2cm.
B
unga muda bercelup hijau, rente tua berwarna asfar berbentuk bongkol duduk privat malai bertipe bunga majemuk. Buah bertipe buah polong berbentuk berlekuk
. B
uah bertongkat sendok bercat coklat
.

Kayu

ini
banyak dimanfaatkan sebagai
kayu energi, di mana kayu energi berpokok
Acacia auriculiformis
lebih baik dibandingkan dengan tiang energi bersumber
Acacia mangium. Selain itu lagi dimanfaatkan buat bahan baku pembuatan pellet arang, takhlik

mebel, konstruksi bangunan dan kerajinan kayu,parti


cle


 board

.



Perakaran akasia yang cetek, padat dan tersebar membentuk akasia sekata sebagai tanaman konservasi, adalah cak bagi pengendalian erosi.



2.




Acacia mangium




Willd.,



Acacia mangium

 yakni tanaman berkayu berpangkal genus Acacia nan berpangkal berusul Papua Nugini, Papua Barat dan Maluku.Acacia mangium dapat tumbuh baik lega berbagai kondisi mileu, baik lega petak-persil dengan nutrisi minus atau bahkan pada tanah-kapling asam dan terdegradasi. Dengan sifat
 toleran
nya
 terhadap lahan yang kritis dan berbatu
,Acacia mangium sekata dijadikan sebagai tanaman pionir.

Namun, tanaman ini lain toleran terhadap naungan dan salinitas pangkat. Pada kondisi tersebut,Acacia mangium akan tumbuh kerdil dan kurus.




Acacia mangium

 biasanya bertunas di dataran rendah beriklim tropis nan dicirikan dengan periode kering pendek selama empat bulan dan dapat tumbuh pada lokasi dengan ketinggian setakat 480 m dpl.

D
i Yogyakarta banyak ditemukan di

rangkaian gunung kapur Kabupaten Gunungkidul
.









Tulangtulangan 2.
Acacia mangium
(Mata air: Wikimedia Commons)

Klasifikasi Ilmiah:

Kingdom             : Plantae

Divisi                   : Spermatophyta

Sub Divisi            : Angiospermae

Kelas                  : Magnoliopsida

Ordo                   : Fabales

Famili                  : Fabaceae

Sub Famili           : Mimosoideae

Genus                 : Acacia

Spesies               :Acacia mangiumWilld.,

Ciri-Ciri Morfologi

Secara morfologis punya ciri laksana berikut
:
 bertajuk membulat
.
Mayit silindris, jenazah kadang kala simpodial, janjang batang bebas silang relati
f
 tinggi
.

K
ulit batang relati
f
 halus, merekah membentuk sisik, beralur dangkal, dandan selerang coklat keabuan, kulit layon waktu muda coklat kira kuning.

Daun berbentuk filodial (tangkai daun yang memipih) relati
f
 tipis, musim akil balig bercelup hijau muda, sepuh berwarna baru, pada vitalitas tua lontok daun berdosis panjang 18 cm-20 cm, lebar 8 cm-10 cm, daun melengkung pada satu sebelah, relati
f
 lurus pada satu sisi. Bunga mulai dewasa bercat hijau, rente tua berwarna polos,  pangkat bunga 7 cm-9 cm
.
Biji kemaluan bertipe biji kemaluan polong berbentuk berlekuk, buah lanjut usia berwarna coklat
.

Kebaikan

Kayu

Acacia mangium


banyak dimanfaatkan sebagai objek
baku pembuatan pulp dan kertas,
mebel,
papan gergajian, molding
,
 vinir dan

kusen elemen.

C
abang dan rantingnya
dapat
dimanfaatkan sebagai papan bakar
.

Daunnya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.

TanamanAcacia mangium biasa dimanfaatkan untuk pohon peneduh dan juga sebagai penghambat jago merah, terutama pohon nan diameternya sudah di atas 7 cm.



3.




Acacia l


e


ptocarpa






Acacia leptocarpa

 adalah flora berhabitus semak atau tanaman kecil dari genus Acacia nan yakni flora asli terbit Papua Nugini dan pesisir Australia bagian utara.

Jenis pokok kayu ini b
anyak dijumpai
di hutan ternganga maupun perbatasan alas hujan, sekali lagi
lega kewedanan cengkar sebagaimana savana dan hutan musim
.

D
i
Wilayah Spesial
Yogyakarta
bisa
ditemukan di jenggala Wanagama Kabupaten Gunungkidul,
 yang merupakan pohon koleksi kerjakan Pendidikan dan penelitian.

T
anaman ini memiliki sifat yang toleran terhadap petak yang responsif dan berbatu.






Gambar 3.
Acacia leptocarpa
(Sumber: Wikimedia Commons)

Klasifikasi Ilmiah:

Kingdom             : Plantae

Divisi                   : Spermatophyta

Sub Divisi            : Angiospermae

Kelas                  : Magnoliopsida

Ordo                   : Fabales

Famili                  : Fabaceae

Sub Famili           : Mimosoideae

Genus                 : Acacia

Spesies               :Acacia leptocarpaA. Cunn. Ex Benth.

Ciri-Ciri Morfologi:

Secara morfologis mempunyai ciri sebagai berikut
:
 bertajuk membulat
.
Batang silindris, kadang-kadang simpodial
.

K
uli
t
 terlampau  agresif, bercekah
dan
beralur dalam
.

W
arna kulit kelabu kehitaman
 sampai hitam dengan “tipe ironbark”
.

Daun filodial (tulang daun yang memipih), relati
f
 tebal, warna detik muda hijau remaja, ketika tua hiaju tua lontok. Panjang patera 20-21 cm, lebar daun 3-4 cm.
S
emua sisi daun melengkung
.
 Buah bertipe buah polong berbentuk berlekuk, buah tua berwarna coklat
.



4.




Acacia aulacocarpa


Acacia aulalocarpa

 adalah sejenis pohon dari genus Acacia nan hanya dapat ditemukan secara sedikit (endemik) Australia. Di habitat aslinya di Australia, jenis tanaman ini dapat ditemukan tersebar secara alami mulai berpangkal Rangkaian gunung Pemisah Besar mulai dari sebelah utara Queensland mencapai utara New South Wales. Cak agar lokasi sebarannya cukup luas, namun populasinya lain banyak karena keberagaman ini cenderung suka tumbuh pada tepi-comberan guyur (kali besar musiman).

D
i
Daerah Partikular
Yogyakarta


Acacia aulalocarpa

 bisa
ditemukan di hutan Wanagama
 di
 Kabupaten Gunungkidul
, perumpamaan tanaman koleksi.








Rajah 4.
Acacia aulalocarpa
(Sumber: Wikimedia Commons)

Klasifikasi Ilmiah:

Kingdom             : Plantae

Divisi                   : Spermatophyta

Sub Divisi            : Angiospermae

Inferior                  : Magnoliopsida

Ordo                   : Fabales

Famili                  : Fabaceae

Sub Famili           : Mimosoideae

Genus                 : Acacia

Diversifikasi               :Acacia aulalocarpaBenth.

Harga diri Konservasi:


Acacia aulalocarpa
berstatusNear Threatened/NT alias sanding terancam (IUCN Redlist)

Ciri-Ciri Morfologi:


Acacia aulalocarpa

 berhabitus semak dengan tinggi 0,5-2 m atau pohon boncel dengan tinggi 2-8 m, walaupun kadang-kadang dapat hingga ke jenjang hingga 15 m.
Mayat silindris, monopodial
, tetapi kadang-kadang lagi memiliki banyak cabang dekat radiks pohonnya dengan judul nan menyebar.

K
ulit batang relati
f
 tebal, tekstur jangat relati
f

halus
,
tapi kadang-kadang juga
pecah-bersumber
dan
beralur dalam
 sreg bagian dekat pangkal lega pohon nan bertambah pangkat.

W
arna indra peraba bubuk-abu kehitaman

Daun filodial (tangkai patera yang memipih),  relati
f
 deras, lebih tebal dibanding daunAcaccia mangium, masa mud
a
 berwarna hijau cukup umur, tua berwarna hijau. Panjang daun 9 cm-12 cm, lebar patera 7 cm-8 cm. satu sisi daun memeting, sisi yang lain relati
f
 lurus.



5.




Acacia cra


s


sicarpa


Acacia crassicarpa

 merupakan pohon berukuran kecil atau menengah, dengan tinggi boleh mengaras 25 m, nan ialah spesies endemik Australia. Di

Daerah Istimewa
Yogyakarta
dapat
ditemukan di hutan Wanagama Kabupaten Gunungkidul
sebagai tanaman koleksi bagi keperluan pendidikan dan penelitian.







Tulang beragangan 5.
Acacia crassicarpa
(Sumur: Wikimedia Commons)

Ciri-Ciri Morfologi:

Batang tegak verbatim dengan diameter sampai ke 50 cm. Patera berbentuk seperti bulan sabit. Strata 8-27 cm, bogok 1-4,5 cm, berwarna baru keabuan punya 3 urat patera utama yang jelas dan berwarna kekuningan. Perbungaan bulir bercat kuning cerah, panjangnya 4-7 cm. Gagang cangkul rente tebal, panjang 5-10 mm, mahkota bunga 5 helai dengan panjang 1,3-1,6 mm, serta biseksual. Selerang jenazah berwarna coklat keabuan, keras dan kulit batang kerumahtanggaan berwarna merah dan berserat. Acacia crassicarpa dapat berbunga paling kecil lambat 18 bulan setelah ditanam dan bijinya melimpah selepas 4 tahun. Biji masak selepas 5-6 bulan setelah pecah.

Habitat

Jenis tanaman ini merupakan tanaman yang mudah beradaptasi dengan lingkungan, toleran dengan tingkat keasaman lahan yang cukup tingkatan (pH 3,5-6). Pada umumnya tumbuhan ini tumbuh lega petak dengan ketinggian 200-700 m dpl dengan curah hujan angin 1000-2500 mm/masa. Pohon ini juga toleran terhadap berbagai wadah merecup dan tipe lahan maupun garam yang ada di kerumahtanggaan tanah. Pula merecup sreg tanah berpasir, lunau, kapling yang berdrainase jelek, juga bisa tumbuh di erat laut.
 dijumpai pada area kering seperti savana dan rimba periode
.



Keistimewaan:

GawangAcacia crassicarpa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bubur kertas dan kertas, juga kerjakan kontruksi konstruksi, mebel dan bulan-bulanan absah pembuatan kapal.

PohonAcacia crassicarpa boleh dimanfaatkan perumpamaan tanaman pelindung dan naungan, fiksasi nitrogen nonblok dan konservasi persil internal mencegah erosi.



6.




Acacia


oraria






Acacia oraria

atau disebut juga akasia pesisir, yaitu flora berbunga genus akasia yang berbunga bermula Queensland Utara, Australia. Disebut juga pohon suli pecah Timor dan dibudidayakan di kewedanan-provinsi tertentu di Flores. Di Jawa, Acacia oraria dibudidayakan di lahan-tanah yang minus fertil. D
i
Kewedanan Istimewa
Yogyakarta
boleh
ditemukan di pangan Tahura
B
under
,
Kabupaten Gunungkidul perumpamaan
pohon
perindang
.








Gambar 6.
Acacia oraria
(Sumber: Wikimedia Commons)

Ciri-Ciri Ilmu bentuk kata:

Berhabitus pohon berperawakan medium dengan tangga dapat mencapai 10 m. Tajuknya membulat, menyebar menyerupai dome sehingga cocok sebagai peneduh di taman-taman, wadah-wadah public dan kapling pertanian.
Batang simpodial, monopodial
.

K
ulit batang relati
f
 lebat, tekstur alat peraba relati
f
 halus
.

K
ulit berasal-pecah beralur dangkar, warna kulit duli-bubuk kehitaman
.
Daun filodial (
daun semu dari
tangkai patera nan memipih),  relati
f
 deras
,

sintal dan sedikit elips.

Sew
aktu muda berwarna hijau, tua bercat hijau
 keabu-abuan
. Tinggi daun 5 cm- 8 cm, lebar patera 1,5 cm-3,5 cm. suatu sisi daun membusur, sisi nan enggak relati
f
 verbatim. Bunga muda berwarna hijau, tua berwarna kuning, biji kemaluan berlekuk tua bercat coklat
.



Habitat:

Acacia oraria menyukai lahan liat yang berdrainase baik.



7.




Acacia decurrens






Acacia decurrens

 ialah jenis tumbuhan berkayu dari genus akasia yang berasal dari Australia. Oleh karena itu jenis ini termasuk jenis asing di Indonesia.

D
i
Provinsi Unik
Yogyakarta
, Acacia decurrens berangkat mendapat perhatian paska erupsi Gunung Merapi musim 2006 di mana sesudah erupsi tersebut, jenis tanaman ini mendominasi distrik Kaliadem di Suaka alam Gunung Merapi (TNGM). Paska erupsi Merapi musim 2010, diversifikasi ini semakin mendapat perhatian mendalam karena merubah struktur atak vegetasi kawasan. Sebelum erupsi, Kawasan TNGM memiliki wasilah vegetasi nan bermacam ragam, mulai berbunga rasamala, puspa, casuarina dan pinus, sekadar saat ini menjadi murni tegakanAcacia decurrens (Sutomo, 2022).







Kerangka 7.
Acacia decurrens
(Perigi: Wikimedia Commons)

Klasifikasi Ilmiah:

Kingdom             : Plantae

Divisi                   : Spermatophyta

Sub Divisi            : Angiospermae

Inferior                  : Magnoliopsida

Ordo                   : Fabales

Famili                  : Fabaceae

Sub Famili           : Mimosoideae

Genus                 : Acacia

Spesies               :Acacia decurrensatau sinominAcacia mollisima Willd.

Ciri-Ciri Morfologi:



Acacia decurrens






merupakan jenisfast growing species alias


pohon yang bertunas cepat


. Berhabitus perdu dengan


 tinggi


3-8 m


.


 Batangnya berkayu, bulat, bersangkak, sengkang antara 20-30 cm dan berwarna hijau.


Jangat kayunya berwarna coklat setakat abu-abu gaek dan licin sampai sangat pecah secara longitudinal dengan tanda flensa intermodal yang mencolok.


Momongan simpang n kepunyaan telapak memanjang di selama mereka nan unik untuk spesies.







Daunnya beraneka macam, bentuk malai di ketiak daun, bulat. Panjang batang cangkul tekor lebih 50 mm, berwarna kuning.


Ujung perempuan muda berwarna kuning.


Patera bervariasi tingkat dua tersusun bergantian dengan rona hijau tua di kedua sisinya.

Stipula kecil atau tidak seimbang sekali.

Sumber akar tangkai daun membengkak membentukpulvinus.

Bilah daunbipinnate.


Rachis

 memiliki tataran 20–120 mm, bersudut dan tidak berbulu.

Bunga katai bercat kuning maupun kuning keemasan dengan panjang 5-7 mm dan hierarki 60–110 mm ketiak daun ataupun malai terminal.







Biji pelir riil polong, majemuk, masih remaja berwarna bau kencur, setelah lanjut usia bercat coklat kehitaman. Bijinya mungil, buntar, gepeng, coklat kehitaman. Akar riil akar tunggang yang berwarna putih cemar.

Habitat:


Acacia decurrens

 bertaruk di pesisir beriklim sedang setakat sejuk di pedalaman tetapi bukan di kewedanan tandus alias merangsang di pedalaman New South Wales. Curah hujan hierarki antara 600-1400 mm per tahun. Selain itu,Acacia decurrens juga toleran terhadap bermacam ragam kondisi tempat tumbuh.

Maslahat:


Acacia decurrens

 dimanfaatkan untuk manajemen lingkungan (merehabilitasi lahan responsif karena ialah diversifikasi yang mudah beradaptasi dengan lingkungan yang jelek), dimanfaatkan kayunya dan dimakan bunganya.

Karangan:


Acacia decurrens

 dapat berpotensi invasif. Jenis ini dapat tumbuh baik sekali terutama selepas kebakaran atau erupsi argo berapi. Di Wilayah TNGM setelah erupsi Merapi hari 2006 dan 2010, Acacia decurrens diketahui mendominasi kawasan dan mendesak jenis-macam local yang sebelumnya sinkron merumuskan tata letak vegetasi kawasan. Statusnya momen ini masih sebagai hama, belum sebagai jenis asing invasif, hanya taat tidak disarankan ditanam sebagai tanaman penghijauan.



8.




Acacia leocophloea

Etiket  lain


Acacia leucophloea


 di antaranya
 merupakan
:opilan, pèlang (

Madura

); pilang (
J
awa)pélang (

Bali

);kai bèsak, ai bèsak (

Rote

); dankabèsa’ (

Timor

). Nama n domestik bahasa lain, di antaranya:hiwar, haribawal, pilo-bawal (

Gujarati

);rhea, reru, rinj, rayni, safed kikkar (

Hindi

);safed babul (

Bengali

);sarai, vel-vaghe (

Tamil

);ta-noung (

Burma

);chalaep-daeng, phayamai (

Thai

); sertawhite-bark acacia, brewers acacia, distillers acacia (

Inggris

). Tersebar secara alami di kawasan kering
dan
ba
n
yak dijumpai di hutan savana.






Bagan 8.
Acacia leucophloea
(Sendang: Wikimedia Commons)

Klasifikasi Ilmiah:

Kingdom             : Plantae

Divisi                   : Spermatophyta

Sub Divisi            : Angiospermae

Kelas                  : Magnoliopsida

Ordo                   : Fabales

Famili                  : Fabaceae

Sub Famili           : Mimosoideae

Genus                 : Acacia

Varietas               :Acacia leucophloea

Ciri-Ciri Morfologi:

B
erhabitus tanaman dengan keluhuran mencapai 35

m
. D
iam
e
belangkin

batang mencapai
 1

m
.

Mayit kekar, dengan beberapa cabang berdiameter besar. K
ulit batang berwarna kalis
 atau abu-abu kekuningan, halus, melekang internal helaian panjang.

Ranting-r
anting berkerangka
 tajam, panjangnya hingga 2,5 cm, bercelup coklat gelap maupun hitam, jarang berwarna putih.

Tajuknya menyerupai payung.

D
aun berbagai rupa ganda menyirip,
 dengan poros 3,5-8,5 cm dan 4-13 pasang sirip. Momongan-momongan daun 6-30 pasang setiap siripnya.

B
unga
tersusun dalam
bongkol
yang hampir bulat. B
erwarna putih
 kekuningan. Bongkol-bongkol anak uang lebih lanjut tersusun dalam malai lautan di ujung ranting, setakat 30 cm panjanganya.


Biji zakar

 polong rangka garis, lurus atau minus lengkung, 6—15(—20) cm × 7–11 mm × 3 mm, coklat gelap, mengayu, lain memecah, ampuh 5—12(—20) angka nan pipih coklat keabu-abuan
.

Manfaat:


Pepagan maupun kulit kayunya menghasilkan bahan penyamak (tanin) yang pada musim silam digunakan dalam industry penggodokan kulit hewan (Terutama sapi dan munding). Daun pilang, kedelai dan ranting muda kerjakan pakan peliharaan. Kecambah bijinya bikin sayuran. Perakarannya menghubungkan nitrogen berusul udara, sehingga pokok kayu ini dapat merevisi kesuburan petak.



9.




Acacia lebbeck


Acacia lebbeck

 aliasAlbizia lebbeck (L.), merupakan species dari genus Albizia yang minimum banyak tersebar dan paling masyarakat di seluruh mayapada.


Segel lain  atau sinon
i
mnya merupakan:

Albizia lebbeck

 (L.),

Acacia macrophylla

,

Acacia lebbeck

 (L.)

Willd.

Acacia speciosa (Jacq.) Willd. Albizia latifolia B.

Boivin
,

 Albizia rostrata

 Miq.
,


Feuilleea lebbeck

 (L.)

Kuntze

, Inga borbonica Hassk, Inga leucoxylon Hassk, Mimosa lebbeck L.Mimosa sirissa Roxb. Mimosa speciosa

Jacq.


Mimosa speciosa

 Thunb.
,



Albizia julibrissin


.






Rangka 9.
Acacia lebbeck/Albizia lebbeck
(Perigi: Wikimedia Commons)

Klasifikasi Ilmiah:

Kingdom             : Plantae

Divisi                   : Spermatophyta

Sub Divisi            : Angiospermae

Kelas                  : Magnoliopsida

Ordo                   : Fabales

Famili                  : Fabaceae

Sub Famili           : Mimosoideae

Genus                 : Albizia

Variasi               :Albizia lebbeck(L.) Benth.

Sirkulasi alami tanaman ini meliputi:

I
ndomalaya terdaftar di dalamnya Indonesia,
P
apua
 N
ugini dan
A
ustralia
U
lawan
.



D
i Yogyakarta macam tumbuhan ini ditemukan tumbuh di hutan
T
ahura
B
under petak 19 dan
H
utan
P
endidikan
W
anagama lahan 5
.

Ciri-Ciri Morfologi
:

T
inggi mayat dapat mencecah 1
8
–30 m dengan garis tengah 50
-100 cm. D
aun majemuk menyirip dengan pangkat 7,5 – 15 cm,
dengan 1-4 pasang pinnae. B
unga bercat ceria berstamen banyak dengan hierarki 2,5–3,8 cm, berbau lalu harum
.

B
uah polong dengan pangkat 15–30 cm , tumpul pisau 2,5–5 cm
, berisi 6-12 buah nilai.

Manfaat:

Pohon Acacia lebbeck biasa dimanfaatkan sebagai pokok kayu peneduh. Daunnya bagi pakan piaraan. Kayunya digunakan bikin kontruksi.


10.


Acacia
tomentosa



Acacia tomentosa

 d
ikenal dengan beberapa nama domestik antara bukan:klampis (Jawa),


kolampis

 (

Sundad.

);klampès, longghay (

Madura.

),aikendara, ai kĕndarĕ, manggalawa  (

Sumba

).

Etiket sinonimnya adalah Acacia chysocoma Miq., (1855).






Lembaga 10.
Acacia tomentosa
(Sendang: Wikimedia Commons)

Klasifikasi Ilmiah:

Kingdom             : Plantae

Divisi                   : Spermatophyta

Sub Divisi            : Angiospermae

Kelas                  : Magnoliopsida

Ordo                   : Fabales

Famili                  : Fabaceae

Sub Famili           : Mimosoideae

Genus                 : Acacia

Spesies               :Acacia tomentosaWilld. (1806)

Ciri-Ciri Morfologi:

B
erhabitus tumbuhan
kerdil hingga sedang
dengan tinggi dapat menjejak 18 m
, diameter batang mencapai 50 cm. Ialah pohon yang merontokkan patera. Tajuknya berbentuk payung, ranting-ranting muda berambut kuning, rapat, dengan banyak duri berukuran lautan dan berapatan. Hal ini sesuai dengan Namanya, yaitu akasia artinya berkerangka, tomentosa artinya berambut padat. Pepagan/indra peraba gawang berwarna coklat liar, bersimpang bukan beraturan.

B
erdaun penumpu berwujud duri kecil
lurus panjang hingga 4,5 cm.

D
aun majemuk menyirip
 berganda, terletak berseling, dengan tangkai daun 0,6-1 cm.

B
unga bercelup
nirmala atau putih ke
kuning
an, majemuk berkelesa-bongkol. Sekitar 1-7 bongkol berkumpul di ketiak daun dekat ujung ranting.

B
uah berbentuk bin,
berwarna coklat gelap. K
ulit kayu bertekstur agresif dan pecah-pecah berbentuk persegi dengan warna tahir keabuan. Kayu
nya

padat, bertekstur renik dan berkanjang
.

Manfaat:

K
ayu klampis boleh dimanfaatkan untuk mebel, bahan kerajinan  konstruksi rumah
dan kayu bakar. Transendental pemanfaatan papan klampis yaitu buat tangkai dan gagang cangkul penyadap.


Tanaman ini biasa dijumpai tumbuh di

stepa

,

wana jati

, rimba belukar belukar, distrik dempet

pantai

; juga ditanam di selama tepi jalan, dan di pematang-pematang sawah; pada ketinggian hingga 500 m dpl. Tanaman ini merupakan salah satu penyusun

wana musim

 ( Hutan Muson ). Di Yogyakarta dijumpai di distrik hutan negara KPH Yogyakarta

Klampis secara alami menyerak di India daksina, Benggala, Burma, thailand, Vietnam dan Indonesia. Di Indonesia tanaman ini tersebar di wilayah Jawa, Madura, Sumbawa dan sulawesi.

Semok Konservesi Perigi Ki akal Alam DLHK DIY

(Dari berbagai sendang)

Source: https://dlhk.jogjaprov.go.id/keanekaragaman-akasia-di-daerah-istimewa-yogyakarta