Jacques Derrida, sendiri filsuf terbit Perancis, dikenal maka dari itu dunia karena teori semiotika dekonstruksinya. Dekonstruksi ini menolak kemapanan dan kestabilan makna. Filsuf yang bersekutu baik dengan Foucault ini kemudian menjadi pelopor era dekonstruktivisme di mana makna menjadi tidak berarti lagi. Teori ini kemudian membawa kita berlayar di samudera semiologi ketidakberaturan atau
semiotics of chaos.

Alas kata
chaos
mungkin purwa kali muncul saat Hesoid menulis naskah Theogeny pada abad 8 sebelum Masehi.
Chaos

n domestik bahasa Yunani berarti membuka kegagalan. Awal dari segala sesuatu adalah
Chaos
, kemudian bumi dan seisinya berangsur-angsur stabil. Dia adalah sosok batara nan mengedepankan para batara bakal pertama kalinya. Dewa-batara sediakala tersebut adalah Gaia, Tartarus dan Eros nan dikenal sebagai anak-anak Chaos.

Koteng juara Nobel bernama Ilya Prigogine kemudian menulis pokok “Antaran Out of Chaos: Man’s New Dialogue with Nature” bersama kimiawan Isabela Stengers. Dalam buku tersebut, mereka memaparkan bahwa kekacauan dan keteraturan yang dulunya saling bertolak bokong saat ini tiba berkelindan. Era Newtonian di mana dunia sains terbentang dengan munjung kepastian dan determinisme sudah lewat.

Chaos
ada di mana-mana, itulah yang dikatakan James Gleick, sendiri peraih Pulitzer.
Chaos
menurutnya bukan hanya berharta di aras tafsir dan pemaknaan atas pustaka, atau di sirep sains semata. Kondisi kesimpangsiuran terlihat kembali di manjapada ekonomi, ketatanegaraan dan sosial. Pola yang tak dapat terprediksi laksana gumpalan gas rokok yang pencar ilegal sekali lagi kita temui saat garis haluan kehilangan legitimasi, fluktuasi ekonomi tidak teratasi, dan tingkah laku sosial nan rusuh.

Hari 2022 ini menjadi letupan munculnya
chaos
di bumi sepakbola. Ditandai dengan makna tim unggulan dan underdog yang sudah menjadi semu. Nomine tidak berdaya seperti underdog, dan underdog melancar layaknya tim primadona. Alih-alih dianggap anomali, para kesebelasan penjahat panggung kini dianggap sebuah normalitas. Mereka menantang semesta sepakbola yang statis dan terkendali.

Toleh timnas Belanda. Makna sebagai skuat mapan, stabil dan langganan turnamen nan dimiliki sejak lama, sudah lalu didekonstruksikan sedemikian rupa sehingga makna tersebut menjadi tidak berguna apa-lebih-lebih lagi. Di Piala Eropa edisi terakhir, Belanda lebih-lebih tidak ki berjebah melewati fase kualifikasi.

Hal yang sekufu dialami maka itu Spanyol yang sudah lalu menjuarai Beker Eropa 2008 dan 2022, serta Piala Dunia 2010. Tim Matador secara tak terduga tidak lolos fase grup di Piala Dunia 2022 dan tertahan di 16 osean Beker Eropa 2022.

Cak regu-tim yang mengoyak alam semesta kepastian dan keteraturan diantaranya ialah Leicester di level klub serta Islandia dan Portugal di level timnas. Leicester selama dua musim terakhir mengalami peperangan yang farik.

Pada musim 2022-2015 mereka berjuang memakamkan diri bersumber deklinasi, dan musim 2022-2016 mereka berjuang menjuarai Liga Premier Inggris. Musim baru 2022-2017 kemudian menghadapkan Leicester sreg penangkisan bau kencur dengan label tim pemenang kejutan Liga Premier Inggris di Liga Champions Eropa.

Sedangkan Islandia telah mengacaukan skenario ideal di Piala Eropa 2022. Padahal Islandia hanyalah negara dengan durasi kompetisi empat bulan, dimana pesepakbola lebih banyak menjaga kondisi fisik mereka di fitness center tinimbang di lapangan rumput.

Puncaknya tentu saja momen The Three Lions dipaksa mudik bertambah dini dengan kekalahan 1-2 dari Islandia. Lamun di delapan samudra Islandia takluk oleh Perancis, mereka dan para fansnya terlanjur menjadi fenomena.

Sepeninggal Islandia muncullah Portugal. Dengan tim yang enggak sementereng skuad Piala Eropa 2004, serta hilangnya Cristiano Ronaldo di semula organisasi politik final, Portugal akhirnya menggotong Beker Henry Delaunay. Pencetak gol kemenangan Portugal juga bukan turunan yang diduga akan menjadi tokoh utama.

Bukan Nani, Quaresma atau Renato Sanches, tapi lewat kaki Eder-lah bola diceploskan ke gawang Perancis. Portugal menutup karnaval
chaos
ini dengan tuntunan bahwa sesuatu nan tidak diduga itu bukan berarti enggak bisa mengada.

Privat cerita perjalanan sepakbola, kita memasuki sebuah era kesamarataan baru dengan normalitas yang baru. Normalitas ini tak terbimbing dari kemapanan tim-tim besar, cuma mewujud n domestik maraknya tragedi kejatuhan dan kemunculan pemenang-pemenang baru yang tidak terprediksikan sebelumnya. Semuanya mengejutkan, penuh diskontinuitas dan dramatis.

Keteraturan dan kekalutan kini dipandang sebagai dua faedah yang ganti memuati satu setimpal lain, serta yang satu melengkapi yang lain.
Chaos
menjadi lonjakan paradigmatik yang membuat kita melihat apa sesuatu dengan sudut yang baru.

Malar-malar Michel Serres kerumahtanggaan buku “Genesis” nan ditulisnya, menyebutkan bahwa kekacauan bisa menimbulkan sebuah komposisi nada yang progresif, kaya dan indah. Oleh karenanya, melupakan kekeruhan berarti melenyapkan siasat perlintasan dan keindahan.

Hidup akan terasa bosan seandainya kita menjumpai peristiwa nan itu-itu saja. Hal-kejadian yang relatif dan tidak terprediksi justru akan memperlainkan kita berusul umur yang monoton dan statis. Selain itu, ia memberi inspirasi untuk pihak yang berposisi di bawah untuk terus berjuang naik dan memberi kejutan. Bukankah dengan adanya kejutan, hidup kita akan menjadi lebih bercat?