Nama Bentuk Topi Ulang Tahun

Dabat

Periode Kriogenium

Edit the value on Wikidata

Animalia

Edit the value on Wikidata

Animal diversity.png


Edit the value on Wikidata

Sejarah



Edit the value on Wikidata

Taksonomi
Superdomain Biota
Superkerajaan Eukaryota
Kerajaan
Animalia

Edit the value on Wikidata




Linnaeus, 1758
Manajemen segel
Sinonim takson
  • Metazoa
    Haeckel, 1874
Filum
Daftar filum hewan
  • Porifera
  • Upakerajaan Eumetazoa

    • Ctenophora
    • Placozoa
    • Cnidaria
    • † Trilobozoa
    • Bilateria (lain berperingkat)

      • Xenacoelomorpha
      • † Proarticulata
      • Nephrozoa (bukan berperingkat)

        • Superfilum Deuterostomia’

          • Chordata
          • Hemichordata
          • Echinodermata
        • Protostomia (tak berperingkat)

          • Superfilum Ecdysozoa

            • Nematoda
            • Nematomorpha
            • Kinorhyncha
            • Loricifera
            • Priapulida
            • Onychophora
            • Arthropoda
            • Tardigrada
          • Spiralia (enggak berperingkat)

            • Gnathifera (tak berperingkat)

              • Gnathostomulida
              • Chaetognatha
              • Rotifera
            • Mesozoa (tak berperingkat)

              • Dicyemida
              • Monoblastozoa
              • Orthonectida
            • Rouphozoa (tidak berperingkat)

              • Gastrotricha
              • Platyhelminthes
            • Superfilum Lophotrochozoa

              • Annelida
              • Bryozoa
              • Brachiopoda
              • Cycliophora
              • Entoprocta
              • Mollusca
              • Nemertea
              • Phoronida

Hewan,
hewan,
binatang,
margasatwa, maupun
satwa
yaitu organisme eukariotik multiseluler yang membentuk imperium ilmu hayat Animalia. Dengan sedikit pengecualian, hewan mengonsumsi bahan organik, menarik oksigen, dapat bergerak, bereproduksi secara genital, dan merecup dari bola rumah pasung nan berongga, blastula, sepanjang fase perkembangan janin. Makin bermula 1,5 juta spesies fauna nan masih kehidupan telah dideskripsikan—sekitar 1 juta di antaranya adalah serangga—belaka diperkirakan suka-suka lebih dari 7 juta macam hewan secara keseluruhan. Sato memiliki tangga pecah 8,5 mikrometer sampai 33,6 meter dan memiliki interaksi yang kompleks dengan satu setinggi lain dan dengan lingkungannya, serta membentuk jaring-jaring peranakan yang elusif. Studi tentang fauna disebut ilmu hewan.

Sebagian raksasa spesies hewan yang masih semangat diklasifikasikan dalam Bilateria, klad yang anggotanya memiliki bangun awak simetris bilateral. Bilateria mencengap protostoma dan deuterostoma. Di kerumahtanggaan protostoma terdapat banyak keramaian invertebrata, seperti nematoda, artropoda, dan kijing, darurat deuterostoma mencangam echinodermata dan chordata (termasuk vertebrata). Bentuk kehidupan nan ditafsirkan sebagai binatang purba diklasifikasikan dalam biota Ediakara yang hidup pada eon Prakambrium akhir. Filum dabat maju terbentuk jelas kerumahtanggaan catatan sisa purba sebagai spesies laut selama ledakan Kambrium selingkung 542 miliun musim nan dahulu. Mutakadim diidentifikasi 6.331 gerombolan gen yang dimiliki semua hewan hidup; gen-gen ini bisa jadi muncul berbunga pitarah tunggal yang nasib 650 juta tahun yang lalu.

Aristoteles menjatah hewan menjadi hewan yang punya pembawaan dan hewan yang tidak. Carolus Linnaeus menciptakan klasifikasi biologi hierarkis pertama buat hewan pada periode 1758 dalam bukunya,
Systema Naturae,
yang dikembangkan oleh Jean-Baptiste Lamarck menjadi 14 filum sreg perian 1809. Pada penghabisan 1800-an, Ernst Haeckel memberi kerajaan hewan menjadi
Metazoa
multiseluler (sekarang merupakan sinonim bersumber Animalia) dan Protozoa, organisme bersel tunggal yang tidak lagi dianggap laksana hewan. Puas zaman modern, klasifikasi hewan mengandalkan teknik-teknik usil, sebagai halnya filogenetik molekuler, yang efektif dalam menunjukkan kekeluargaan evolusi di antara taksa satwa.

Manusia memanfaatkan banyak spesies hewan lain cak bagi alat pencernaan, sama dengan daging, buah dada, dan telur; untuk material, sebagaimana jangat dan wol; sebagai piaraan; dan sebagai hewan pelaku untuk dimanfaatkan tenaganya dan dijadikan sarana transportasi. Monyet digunakan dalam berburu, sementara banyak hewan darat dan air diburu misal olahraga. Hewan mutakadim muncul dalam seni sejak zaman secepat-cepatnya dan menjadi adegan dari mitologi dan agama.

Etimologi

[sunting
|
sunting sumber]

Tuturan “hewan” adalah pinjaman berbunga bahasa Arab, حيوان (haiwan) yang bermakna binatang. Perkataan “satwa” adalah pinjaman mulai sejak bahasa Sanskerta nan berarti “manusia”. Sedangkan “sato” merupakan kata ikhlas bahasa Melayu.
[zakar rujukan]

Dalam bahasa Inggris, “hewan” disebut
animal, dari bahasa Latin merupakan “animalis”, nan berarti “memiliki napas”.[1]
Dalam penggunaan nonformal sehari-perian, alas kata tersebut rata-rata mengacu plong fauna enggak manusia.[2]
Kadang-kadang, kerabat dempet manusia sebagaimana mamalia dan vertebrata lainnya ditujukan kerumahtanggaan eksploitasi nonformal.[3]
Definisi biologis dari alas kata tersebut mengacu puas semua anggota kingdom Animalia, meliputi makhluk yang berbagai ragam sebagai halnya spons, ubur-ubur, insekta, dan basyar.[4]

Karakteristik

[sunting
|
sunting sumber]

Hewan unik karena n kepunyaan bola sel pada mudigah semula (1) yang berkembang menjadi sebuah bola berongga nan disebut blastula (2).

Hewan memiliki bilang karakteristik yang menyingkirkan mereka dari basyar hidup lainnya. Hewan bersifat eukariotik (n kepunyaan membran inti) dan multiseluler,[5]
[6]
tidak seperti basil yang prokariotik dan lain seperti protista yang berperilaku eukariotik tetapi uniseluler. Bukan begitu juga pohon dan alga yang menghasilkan nutrisinya seorang,[7]
satwa bersifat heterotrof,[6]
[8]
artinya gado bahan organik dan mencernanya secara kerumahtanggaan.[9]
Dengan lewat terbatas pengecualian, sato menjajarkan oksigen dan berespirasi secara aerobik.[10]
Semua hewan berperangai motil[11]
(gemuk secara spontan memindahkan tubuh) selama sedikitnya sebagian dari siklus hidupnya, tetapi bilang binatang, sama dengan bunga karang, kerakal, siput, dan teritip, kemudian menjadi sesil. Blastula adalah tahap privat urut-urutan embrio yang unik untuk sebagian besar hewan,[12]
yang memungkinkan sel buat berdiferensiasi menjadi jaringan dan organ spesial.

Struktur

[sunting
|
sunting sumber]

Semua binatang terdiri dari sel, yang dikelilingi oleh matriks ekstraseluler yang singularis dan terdiri berasal kolagen dan glikoprotein elastis.[13]
Selama urut-urutan, matriks ekstraseluler hewan membentuk rang kerja nan nisbi fleksibel sehingga interniran-sel dapat bergerak dan direorganisasi; situasi ini memungkinkan pembentukan struktur yang kompleks. Matriks ekstraseluler dapat mengalami kalsifikasi, membentuk struktur begitu juga cangkang, sumsum, dan spikula.[14]
Sebaliknya, lokap-sel organisme multisel lain (terutama alga, tumbuhan, dan jamur) ditahan di tempatnya oleh dinding hotel prodeo dan berkembang dengan pertumbuhan progresif.[15]
Hotel prodeo-pengasingan dabat punya sambungan sel yang disebut sambungan pilih-pilih, sambungan jeruji, dan desmosom.[16]

Dengan adv minim pengecualian—khususnya, karet busa dan Placozoa—fisik fauna tersusun mulai sejak jaringan.[17]
Paradigma jaringan antara lain jaringan epitelium yang melapisi satah ataupun rongga tubuh;[17]
jaringan ikat yang mengikat jaringan dan menyokong jasad secara struktural;[17]
jaringan urat yang memungkinkan pergerakan; dan jaringan saraf nan mengirimkan sinyal dan mengoordinasikan tubuh. Biasanya, ada pun ruang pencernaan internal dengan satu bukaan (seperti plong cacing pipih) atau dua bukaan (sebagaimana plong deuterostoma).[18]

Reproduksi dan pertumbuhan

[sunting
|
sunting sumber]

Hampir semua satwa menggunakan satu rajah reproduksi seksual.[19]
Hewan menghasilkan gamet haploid melalui meiosis; gamet yang lebih katai dan dapat berputar adalah spermatozoa dan gamet yang bertambah besar dan non-motil adalah sel telur.[20]
Spermatozoa dan zigot bersatu untuk membentuk zigot,[21]
yang berkembang melalui mitosis menjadi bola berongga nan disebut blastula. N domestik spons, larva blastula berenang ke lokasi baru, menempel ke dasar laut, dan berkembang menjadi spons yunior.[22]
Lega sebagian segara kerumunan lain, blastula mengalami penataan ulang yang lebih elusif.[23]
Blastula mengalami invaginasi (pelipatan tertentu) untuk membentuk gastrula yang punya ruang pencernaan dan dua lapisan germinal yang terpisah, ialah ektoderm eksternal dan endoderm n domestik.[24]
Internal banyak fauna, saduran germinal ketiga, mesoderm, sekali lagi berkembang di antaranya.[25]
Sepuhan-sepuhan germinal ini kemudian berdiferensiasi mewujudkan jaringan dan organ.[26]

Perkawinan dengan kerabat dekat berulang kali kebanyakan mengarah ke depresi perkawinan anak-beranak privat suatu populasi karena peningkatan prevalensi ciri resesif nan berbahaya.[27]
[28]
Fauna telah mengevolusikan berbagai mekanisme buat menghindari perkawinan sekerabat.[29]
Sreg sejumlah spesies, sebagaimana
splendid fairywren
(Malurus splendens), betina mendapat manfaat dengan kawin dengan banyak pejantan sehingga menghasilkan kian banyak keturunan dengan kualitas genetik yang lebih tangga.[30]

Beberapa hewan kaya melakukan reproduksi aseksual yang gegares menghasilkan klon genetik mulai sejak hewan induk. Hal ini mungkin terjadi melalui fragmentasi dalam tulangtulangan taruk seperti pada
Hydra
dan cnidaria lainnya, maupun partenogenesis, ketika telur yang congah diproduksi sonder susunan, sebagaimana sreg kutu daun.[31]
[32]

Ekologi

[sunting
|
sunting perigi]

Dabat dikategorikan ke dalam kelompok-gerombolan ekologis tergantung pada bagaimana mereka memperoleh atau mengonsumsi target organik, termuat karnivora, herbivora, omnivora, detritivor,[33]
dan parasit.[34]
Interaksi di antara hewan membentuk kantung makanan yang rumit. Pada spesies karnivora atau omnivora, predasi merupakan interaksi sumber daya-pemakai yang terjadi ketika pemakan memakan organisme lain (disebut perumpamaan
mangsa).[35]
Tekanan pilih-pilih nan dikenakan pada satu sama lain mengarah pada perlombaan senjata evolusioner antara predator dan mangsa, yang menghasilkan beraneka ragam pembiasaan antipredator.[36]
[37]
Hampir semua predator multisel yakni hewan.[38]
Beberapa pengguna menggunakan beberapa metode; misalnya pada kerawai parasitoid, larva memakan jaringan hidup inang dan membunuhnya n domestik proses ini,[39]
doang tawon dewasa umumnya mengonsumsi nektar bermula bunga.[40]
Hewan lainnya memiliki perilaku makan yang tinggal spesifik, seperti penyu sisik yang utamanya memakan spons.[41]

Sebagian besar hewan mengandalkan energi yang dihasilkan maka itu tumbuhan melalui fotosintesis. Herbivora mengonsumsi tanaman secara langsung, sementara karnivora dan hewan lain lega tingkat trofik yang lebih tataran biasanya memperoleh energi (dalam bentuk karbon tereduksi) dengan memakan hewan lain. Karbohidrat, lipid, protein, dan biomolekul lainnya dipecah kerjakan memungkinkan dabat tumbuh dan mempertahankan proses biologis seperti lokomosi.[42]
[43]
[44]
Satwa nan hidup di dempang perputaran udara hidrotermal dan rembesan cahang di radiks laut yang gelap tidak bergantung pada energi sinar syamsu.[45]
Sebaliknya, arkea dan patogen di tempat ini menghasilkan bahan organik melangkahi kemosintesis (dengan mengoksidasi sintesis anorganik seperti metana) dan membentuk dasar pura nafkah lokal.[46]

Hewan awalnya berevolusi di laut. Bilang garis keturunan artropoda mengolonisasi daratan kurang bertambah puas waktu yang begitu juga tumbuhan darat, mungkin antara 510–471 miliun tahun nan lalu selama periode Kambrium Akhir ataupun Ordovisium Semula.[47]
Vertebrata seperti ikan bersirip daging
Tiktaalik
mulai bermigrasi ke persil lega masa Devon akhir, sekitar 375 juta tahun yang sangat.[48]
[49]
Fauna menempati karib semua habitat dan mikrohabitat di Manjapada, termasuk air asin, ventilasi hidrotermal, air tawar, netra air panas, rawa, hutan, padang rumput, gurun, udara, hingga interior satwa, tumbuhan, serabut dan bisikan.[50]
Saja, fauna tak berlebih tahan panas; lalu sedikit hewan yang dapat berkeras hati spirit pada guru konstan di atas 50 °C (122 °F).[51]
Sahaja sedikit spesies hewan (kebanyakan nematoda) nan menghuni gurun paling cahang di benua Antartika.[52]

Variabilitas

[sunting
|
sunting sumber]

Paus dramatis yakni hewan terbesar yang perikatan hidup.

Terbesar dan terkecil

[sunting
|
sunting sumber]

Paus biru (Balaenoptera musculus) merupakan hewan terbesar yang pernah usia, dengan runyam mencapai 190 metrik ton dan jenjang mencapai 33,6 meter (110 ft).[53]
[54]
[55]
Binatang darat terbesar yang masih terserah yakni gajah belukar afrika (Loxodonta africana), dengan sulit mencapai 12,25 ton[53]
dan pangkat hingga 10,67 meter (35,0 ft).[53]
Hewan darat terbesar nan pernah roh yakni dinosaurus sauropoda titanosaurus seperti mana
Argentinosaurus, nan kali beratnya mencapai 73 ton.[56]
Beberapa sato berperilaku mikroskopik; beberapa Myxozoa (parasit obligat yang tercatat dalam Cnidaria) tidak pernah tumbuh lebih besar dari 20 μm,[57]
dan keseleo satu spesies terkecil (Myxobolus shekel) tidak lebih dari 8,5 μm saat tumbuh dewasa.[58]

Besaran spesies dan habitat

[sunting
|
sunting sumber]

Tabel berikut menggerutu kalkulasi jumlah jenis yang ada nan masih suka-suka untuk keramaian-kerumunan hewan dengan total spesies terbesar,[59]
dengan habitat utama mereka (darat, air batal,[60]
dan laut),[61]
dan kaidah hidup bebas atau benalu.[62]
Kalkulasi spesies yang ditunjukkan di sini didasarkan puas nilai yang dideskripsikan secara ilmiah; anggaran yang jauh lebih besar sudah dihitung bersendikan berbagai ragam kaidah prediksi, dan ini bisa sangat bervariasi. Misalnya, selingkung 25.000–27.000 spesies nematoda telah dideskripsikan, provisional perkiraan jumlah nematoda yang dipublikasikan mencangam 10.000–20.000; 500.000; 10 juta; dan 100 juta.[63]
Dengan menggunakan pola dalam hierarki taksonomi, total spesies sato—termasuk yang belum dideskripsikan—dihitung menjadi sekitar 7,77 miliun pada tahun 2022.[64]
[65]
[a]

Filum Cermin Jumlah
Tipe
Darat Laut Air
tawar
Hidup
bebas
Benalu
Annelida Nerr0328.jpg 17.000[59] Ya (tanah)[61] Ya[61] 1.750[60] Ya 400[62]
Artropoda wasp 1.257.000[59] 1.000.000
(insekta)[67]
>40.000
(Malac-
ostraca)[68]
94.000[60] Ya[61] >45.000[b]
[62]
Bryozoa Bryozoan at Ponta do Ouro, Mozambique (6654415783).jpg 6.000[59] Ya[61] 60-80[60] Ya
Chordata green spotted frog facing right 65.000[59]

45.000[69]

23.000[69]

13.000[69]
18.000[60]

9.000[69]
Ya 40
(catfish)[62]
[70]
Cnidaria Table coral 16,000[59] Ya[61] Ya (rendah)[61] Ya[61] >1.350
(Myxozoa)[62]
Echinodermata Starfish, Caswell Bay - geograph.org.uk - 409413.jpg 7.500[59] 7.500[59] Ya[61]
Moluska snail 85.000[59]

107.000[71]

35.000[71]

60.000[71]
5.000[60]

12.000[71]
Ya[61] >5.600[62]
Nematoda CelegansGoldsteinLabUNC.jpg 25.000[59] Ya (tanah)[61] 4.000[63] 2.000[60] 11.000[63] 14.000[63]
Platyhelminthes Pseudoceros dimidiatus.jpg 29.500[59] Ya[72] Ya[61] 1.300[60] Ya[61] >40.000[62]
Rotifera 20090730 020239 Rotifer.jpg 2.000[59] >400[73] 2.000[60] Ya
Porifera A colourful Sponge on the Fathom.jpg 10.800[59] Ya[61] 200-300[60] Ya Ya[74]

Besaran besaran spesies yang telah dideskripsikan pada 2022: 1.525.728[59]

Asal-usul evolusi

[sunting
|
sunting perigi]

Fosil mula-mula yang bisa jadi mengoper hewan muncul di bebatuan berumur 665 miliun tahun di Formasi Trezona di Australia Selatan. Fosil-fosil ini ditafsirkan seumpama spons awal.[76]

Fauna-hewan tertua ditemukan di biota Ediakara, menjelang akhir Prakambrium, selingkung 610 juta tahun yang lalu. Apakah biota Ediakara yakni hewan telah lama diragukan,[77]
[78]
[79]
tetapi penemuan lipid hewan kolesterol pada fosil
Dickinsonia
menetapkan bahwa biota Ediakara betul-betul merupakan hewan.[75]

Rata-rata filum sato nan diketahui permulaan kali muncul dalam catatan fosil selama ledakan Kambrium, dimulai sekeliling 542 juta tahun yang lalu, di tempat sebagai halnya Burgess Shale. Filum yang masih cak semau nan dapat ditemukan di bebatuan ini terjadwal Moluska, Brachiopoda, Onychophora, Tardigrada, Artropoda, Echinodermata dan Hemichordata, bersama dengan heterogen bentuk nan sudah punah seperti
Anomalocaris
nan bersifat predator. Terjadinya keadaan tersebut nan tiba-berangkat mungkin merupakan artefak bersumber catatan sisa purba, bukan menunjukkan bahwa semua hewan ini muncul secara bersamaan.[80]
[81]
[82]
[83]

Beberapa ahli paleontologi menyatakan bahwa hewan muncul jauh kian awal ketimbang letusan Kambrium, mungkin sedini 1 miliar masa yang lalu.[84]
Sisa purba jejak seperti jejak dan liang bermula periode Tonian mungkin menunjukkan adanya hewan mirip cacing triploblastik, kira-kira sebesar (lebarnya sekitar 5 mm) dan sekompleks seperti cacing tanah.[85]
Namun, jejak serupa dihasilkan sekarang oleh protista bersel tunggal osean
Gromia sphaerica, sehingga jejak sisa purba Tonian mungkin lain menunjukkan evolusi dabat awal.[86]
[87]
Sekitar waktu yang sama, bukti lain boleh jadi menunjukkan munculnya hewan yang ragut: tikar berlipat mikroorganisme yang disebut stromatolit menurun keragamannya, mungkin karena dimakan oleh fauna.[88]

Jenis

[sunting
|
sunting sumber]

Vertebrata

[sunting
|
sunting mata air]

Vertebrata adalah keberagaman sato subfilum semenjak Chordata yang mencengam semua dabat nan n kepunyaan tulang belakang. Vertebrata merupakan subfilum terbesar dari Chordata. Semua jenis ikan, amfibia, reptil, burung, serta hewan menyusui (mamalia) bisa dimasukkan ke privat vertebrata, kecuali belut, remang, dan lintah laut.[89]

Invertebrata

[sunting
|
sunting perigi]

Invertebrata (atau Avertebrata) adalah hewan yang tersurat kedalam jenis hewan yang tak memiliki tulang punggung antar ruas-ruas sumsum belakang. Hewan avertebrata ini terbagi atas beberapa golongan adalah filum Protozoa, Porifera, Artropoda, Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida, Coelenterata, Moluska, dan Echinodermata.[90]

Filogeni

[sunting
|
sunting perigi]

Hewan bertabiat monofiletik, artinya mereka berpangkal dari leluhur nan sama. Choanoflagellatea yakni klad saudara fauna, dan mereka bersama-sama membentuk Choanozoa.[91]
Hewan-hewan yang paling basal, yaitu Porifera, Ctenophora, Cnidaria, dan Placozoa, punya bangun bodi yang tidak memiliki simetri bilateral, tetapi hubungan mereka masih diperdebatkan. Porifera atau Ctenophora kelihatannya merupakan kelompok paling basal dan menjadi kerabat semua klad dabat lainnya;[92]
keduanya tidak memiliki gen-gen hox yang berarti privat urut-urutan bangun awak.[93]

Gen-gen ini ditemukan di Placozoa[94]
[95]
dan hewan yang lebih tinggi, yaitu Bilateria.[96]
[97]
Ada 6.331 kelompok gen yang dimiliki semua hewan hidup mutakadim diidentifikasi; gen-gen ini mungkin muncul dari suatu nenek moyang bersama yang nyawa 650 juta perian yang lewat sreg masa Prakambrium. Sebanyak 25 di antaranya merupakan gerombolan gen inti baru yang hanya ditemukan puas hewan; berusul 25 kerubungan gen tersebut, okta- di antaranya yaitu komponen utama dari jalur pensinyalan Wnt dan TGF-beta yang mana tahu telah memungkinkan binatang menjadi multiseluler dengan menyediakan pola buat sistem sumbu awak (dalam tiga dimensi), dan tujuh kelompok gen lainnya kerjakan faktor transkripsi, termasuk protein homeodomain yang terlibat kerumahtanggaan kontrol urut-urutan.[98]
[99]

Berikut ini yakni pokok kayu filogenetik (sekadar garis pertalian keluarga penting) nan menunjukkan kira-taksir berapa juta tahun nan lalu (jtl) terjadi percabangan garis nasab.[100]
[101]
[102]
[103]
[104]

Binatang non-bilateria

[sunting
|
sunting sumber]

Hewan non-bilateria mencakup spons (paruh) dan karang (latar belakang).

Beberapa filum hewan tidak punya simetri bilateral. Di antaranya, bunga karang (Porifera) mungkin berdivergensi mula-mula kali, mengaplus filum hewan tertua.[105]
Spons lain memiliki organisasi yang kompleks yang ditemukan di sebagian besar filum satwa lainnya;[106]
tangsi-selnya n kepunyaan perbedaan, tetapi dalam banyak kasus tidak diatur ke dalam jaringan nan berbeda.[107]
Mereka umumnya bersantap dengan memasukkan air menerobos pori-pori.[108]

Ctenophora (ubur-ubur telusur) dan Cnidaria (nan mencakup ubur-ubur, anemon laut, dan koral) memiliki simetri radial dan memiliki rongga pencernaan dengan bukaan partikular, nan berfungsi baik andai bacot maupun anus.[109]
Hewan di kedua filum tersebut memiliki jaringan yang berbeda, tetapi jaringan-jaringan ini tidak diatur dalam perangkat.[110]
Mereka bersifat diploblastik, adalah hanya mempunyai dua lapisan germinal utama, ektoderm dan endoderm.[111]
Placozoa nan berukuran kecil mirip dengan kedua filum di atas, tetapi mereka tidak memiliki rongga pencernaan permanen.[112]
[113]

Dabat bilateria

[sunting
|
sunting perigi]

Bangun tubuh bilateria yang ideal.[c]
Dengan tubuh silinder dan sebelah gerak, hewan mempunyai ujung kepala dan ujung ekor. Organ indera dan mulut membentuk kepala. Urat-otot bulat (sirkuler) dan ki bertambah (longitudinal) memungkinkan gerak peristaltik.

Hewan yang keteter, sebagian segara hewan – terdiri mulai sejak selingkung 29 filum dan bertambah dari satu miliun spesies – membentuk sebuah klad, Bilateria. Tubuhnya ialah triploblastik, dengan tiga sepuhan germinal yang berkembang dengan baik, dan jaringan mereka membentuk organ yang berbeda. Ruang pencernaan punya dua bukaan, mulut dan anus, dan cak semau rongga badan privat, selom alias pseudoselom. Hewan dengan ingat fisik simetris bilateral ini memiliki ujung pejabat (anterior) dan ujung ekor (posterior) serta jejak kaki (dorsal) dan perut (ventral); oleh karena itu mereka juga memiliki sisi kiri dan sisi kanan.[114]
[115]

Mempunyai ujung depan berarti bahwa adegan tubuh ini mengalami rangsangan, seperti alat pencernaan, mendukung sefalisasi, perkembangan kepala dengan gawai indera dan perkataan. Banyak bilateria memiliki koneksi otot-otot buntak yang menyempitkan tubuh, membuatnya lebih panjang, dan satu set urat mundur (longitudinal), yang meringkas fisik;[115]
ini memungkinkan hewan bertubuh lunak dengan kerangka hidrostatik bergerak dengan peristalsis.[116]
Mereka juga memiliki usus sepanjang jasad yang pada dasarnya tabung bermula bacot ke anus. Banyak filum bilateria memiliki larva primer nan berenang dengan silia dan punya peranti apikal yang mengandung sel-sel sensorik. Namun, ada pengecualian buat masing-masing karakteristik ini; misalnya, echinodermata dewasa bersifat simetris radial (tidak seperti larvanya), sementara beberapa cacing parasit mempunyai struktur tubuh yang sangat disederhanakan.[114]
[115]

Riset genetika telah banyak mengubah pemahaman para ahli ilmu hewan tentang hubungan dalam Bilateria. Kebanyakan filum termasuk dalam dua garis nasab utama, Protostomia dan Deuterostomia.[117]
Bilateria paling kecil basal ialah Xenacoelomorpha.[118]
[119]
[120]

Protostoma dan deuterostoma

[sunting
|
sunting sumber]

Saluran pencernaan bilateria berkembang dalam dua prinsip. Dalam banyak protostoma, blastopor berkembang menjadi ucapan, sementara lega deuterostoma blastopor menjadi anus.

Protostoma dan deuterostoma berbeda dalam beberapa keadaan. Pada awal kronologi, mudigah deuterostoma menjalani penyibakan radial sepanjang pembelahan rumah tahanan, tentatif banyak protostoma (Spiralia) mengalami penyibakan spiral.[121]
Hewan mulai sejak kedua kelompok mempunyai saluran pencernaan yang lengkap, cuma privat protostoma pembukaan purwa usus bakal manusia berkembang menjadi mulut, dan anus terbentuk sekunder. Internal deuterostoma, anus terlatih pertama dan bacot berkembang secara sekunder.[122]
[123]
Kebanyakan protostoma memiliki urut-urutan schizocoelous, di mana sel-rumah tahanan hanya mengisi adegan n domestik gastrula lakukan membuat mesoderm. Intern deuterostom, mesoderm terlatih oleh dompet enterocoelous, melampaui invaginasi endoderm.[124]

Filum deuterostoma terdepan adalah Echinodermata dan Chordata.[125]
Echinodermata secara eksklusif nasib di laut dan termasuk medali laut, bulu nangui, dan teripang.[126]
Chordata didominasi maka dari itu vertebrata (hewan dengan tulang bekas kaki),[127]
yang terdiri bersumber lauk, amfibi, reptil, kalam, dan mamalia.[128]
Deuterostoma juga mencakup Hemichordata (cacing acorn).[129]
[130]

Ecdysozoa

[sunting
|
sunting sumber]

Ecdysozoa yaitu protostoma, dinamai berdasarkan sifat nan dimiliki bersama yaitu ekdisis, pertumbuhan dengan
moulting
(berganti kulit).[131]
Ecdysozoa mencengam filum sato terbesar, Artropoda, nan mencangam serangga, laba-laba, kepiting, dan kerabatnya. Semua ini memiliki tubuh yang dibagi menjadi segmen repetitif, biasanya dengan
appendage
(anggota badan) yang berpasangan. Dua filum nan lebih kecil, Onychophora dan Tardigrada, yakni kerabat intim artropoda dan berbagi sifat-aturan tersebut. Ecdysozoa juga mencakup Nematoda alias cacing gilig, mungkin merupakan filum hewan terbesar kedua. Nematoda biasanya mikroskopis, dan terdapat di hampir setiap lingkungan di mana cak semau air;[132]
beberapa merupakan pasilan nan berjasa.[133]
Filum yang kian kecil nan berkerabat dengannya adalah Nematomorpha maupun cacing surai kuda, serta Kinorhyncha, Priapulida, dan Loricifera. Gerombolan-kelompok ini punya selom tereduksi, yang disebut pseudoselom.[134]

Spiralia

[sunting
|
sunting sumber]

Spiralia adalah kelompok besar protostoma yang berkembang dengan penyibakan spiral pada bakal manusia mulanya.[135]
Filogeni Spiralia telah diperdebatkan, hanya kelompok ini mengandung klad lautan, superfilum Lophotrochozoa, dan kelompok-kelompok filum yang lebih mungil sebagai halnya Rouphozoa yang mencakup Gastrotricha dan cacing pipih. Lophotrochozoa dan Rouphozoa dikelompokkan andai Platytrochozoa, yang memiliki kelompok saudari, Gnathifera, yang mencakup rotifera.[136]
[137]

Lophotrochozoa mencakup kijing, annelida, brakiopoda, nemertea, bryozoa dan entoprocta.[136]
[138]
[139]
Moluska, filum sato terbesar kedua menurut besaran spesies nan dideskripsikan, mencakup siput, kijing, dan cumi-cumi, sedangkan annelida merupakan cacing beruas, seperti cacing kapling,
lugworm, dan pacet. Kijing dan annelida telah lama dianggap sebagai kerabat dekat karena keduanya memiliki ulat trokofor.[140]
[141]

Album klasifikasi

[sunting
|
sunting sumber]

Jean-Baptiste de Lamarck mengarak pembuatan klasifikasi modern invertebrata, bercanggah “Vermes” privat klasifikasi Linnaeus menjadi 9 filum pada tahun 1809.[142]

Plong era klasik, Aristoteles memberi hewan,[d]
berdasarkan pengamatannya sendiri, menjadi hewan dengan talenta (nyana-kira, vertebrata) dan hewan yang tidak berbakat. Hewan-hewan itu kemudian diatur pada skala berpokok manusia (dengan bakat, 2 kaki, nyawa sensibel) roboh ke tetrapoda yang melahirkan (dengan darah, 4 tungkai, semangat sensitif) dan kelompok lain seperti krustasea (tidak ada darah, banyak kaki, umur sensitif) turun ke makhluk yang mengalami generasi spontan seperti spons (sonder pembawaan, tanpa tungkai, sukma tumbuhan). Aristoteles lain yakin apakah karet busa adalah hewan, yang kerumahtanggaan sistemnya harus memiliki sensasi, nafsu bersantap, dan pergerakan, atau tumbuhan, yang jelas bukan: dia senggang bahwa spons boleh merasakan sentuhan, dan akan berkontraksi jikalau hendak ditarik semenjak bebatuan mereka, saja bahwa spons berakar sama dengan tumbuhan dan tidak pernah bergerak.[143]

Plong 1758, Carolus Linnaeus menciptakan klasifikasi hierarkis pertama dalam bukunya
Systema Naturae.[144]
Dalam skema aslinya, hewan yakni salah suatu dari tiga kekaisaran, dibagi ke dalam kelas Vermes, Insecta, Pisces, Amphibia, Aves, dan Mammalia. Sejak itu empat kelas bungsu semuanya telah dimasukkan ke n domestik suatu filum, Chordata, sementara Insecta-nya (yang mencakup krustasea dan arakhnida) dan Vermes mutakadim diganti namanya ataupun dipecah. Proses ini dimulai pada perian 1793 oleh Jean-Baptiste de Lamarck, nan menegur Vermes
une espèce de chaos
(semacam kekacauan) dan membagi Vermes menjadi tiga filum plonco, cacing, echinodermata, dan polip (nan mencakup batu sungai dan teronak). Pada perian 1809, dalam bukunya
Philosophie Zoologique, Lamarck telah membuat 9 filum selain vertebrata (di mana dia masih memiliki 4 filum: mamalia, burung, reptil, dan ikan) dan moluska, yaitu cirripedia, annelida, krustasea, araknida, serangga, cacing, Radiata, polip, dan infusoria.[142]

Sreg tahun 1817, dalam bukunya
Le Règne Animal, Georges Cuvier menggunakan ilmu urai proporsi kerjakan mengelompokkan fauna menjadi empat
embranchements
(“silang” dengan siuman awak yang berbeda, kira-kira sesuai dengan filum), yaitu vertebrata, moluska, fauna artikulata (artropoda dan annelida), dan zoophyta (echinodermata, cnidaria, dan hewan lainnya).[145]
Pembagian menjadi catur ini diikuti oleh ahli embriologi Karl Ernst von Baer pada tahun 1828, juru zoologi Louis Agassiz pada perian 1857, dan pakar anatomi perbandingan Richard Owen pada perian 1860.[146]

Plong tahun 1874, Ernst Haeckel membagi kerajaan fauna menjadi dua subkerajaan: Metazoa (binatang multiseluler, dengan lima filum: coelenterata, echinodermata, artikulata, siput, dan vertebrata) dan Protozoa (binatang bersel satu), mencengam filum binatang keenam, spons.[146]
[147]
Protozoa kemudian dipindahkan ke kerajaan Protista, doang menyisakan Metazoa bak muradif bersumber Animalia.[148]

Privat budaya turunan

[sunting
|
sunting sumber]

Turunan mengeksploitasi sejumlah besar spesies binatang tak bikin makanan, baik berasal spesies hewan ternak yang didomestikasi dan, terutama di laut, dengan berburu spesies liar.[149]
[150]
Banyak spesies ikan laut ditangkap secara kulak cak bagi makanan. Sejumlah kecil spesies iwak diternakkan secara komersial.[149]
[151]
[152]
Invertebrata terjadwal sefalopoda, krustasea, dan kijing bivalvia atau gastropoda diburu atau dibudidayakan cak bagi dimakan.[153]
Ayam, sapi, biri-biri, babi dan hewan lainnya dibesarkan sebagai hewan ternak di seluruh marcapada.[150]
[154]
[155]
Serat satwa sebagaimana wol digunakan bakal membuat tekstil, sementara itu tendon binatang digunakan sebagai pengikat, dan indra peraba banyak digunakan kerjakan takhlik sepatu dan komoditas-komoditas lainnya. Sato diburu dan dibudidayakan bikin bulunya untuk mewujudkan produk-barang seperti mantel dan kopiah stambul.[156]
[157]
Zat warna termasuk carmine (cochineal),[158]
[159]
shellac,[160]
[161]
dan kermes[162]
[163]
dibuat dari tubuh insekta. Hewan pekerja tercantum sapi dan kuda digunakan bakal bekerja dan transportasi dari masa-hari pertama pertanian.[164]

Hewan seperti lalat buah
Drosophila melanogaster
berperan lautan n domestik sains sebagai model eksperimental.[165]
[166]
[167]
[168]
Binatang telah digunakan cak bagi membuat vaksin sejak penemuannya plong abad ke-18.[169]
Sejumlah obat seperti peminta kanker Yondelis didasarkan pada toksin atau molekul lain dari fauna.[170]

Seekor
gun dog
yang mengambil bebek momen berburu

Orang-orang menggunakan kera pemburu untuk membantu mengejar dan mengambil hewan,[171]
dan burung pemangsa untuk menangkap kalam dan mamalia,[172]
temporer burung
cormorant
yang ditambatkan digunakan cak bagi menggetah iwak.[173]
Katak beracun digunakan buat meracuni ujung sumpit.[174]
[175]
Heterogen macam hewan dimanfaatkan sebagai binatang peliharaan, dari invertebrata seperti tarantula dan gurita, insekta tersurat belalang sembah,[176]
reptil begitu juga ular cindai dan bunglon,[177]
setakat burung, termasuk zakar kenari, parkit dan bayan.[178]
Belaka, macam hewan peliharaan yang paling sering dipelihara adalah binatang menyusui, yaitu kera, meong, dan kucing tupai.[179]
[180]
[181]
Ada keruncingan antara peran hewan ibarat sahabat manusia, dan keberadaan mereka misal individu dengan hak mereka seorang.[182]
Berbagai macam hewan darat dan akuatik diburu bagi gerak badan.[183]

Hewan telah menjadi subyek seni dari zaman paling kecil sediakala, baik sejarah, sebagai halnya di Mesir Kuno, dan prasejarah, sama dengan dalam lukisan gua di Lascaux. Lukisan hewan nan utama termasuk
The Rhinoceros
maka itu Albrecht Dürer pada 1515, dan potret kuda
Whistlejacket
maka itu George Stubbs pada c. 1762.[184]
Serangga, kontol dan mamalia memainkan peran dalam sastra dan gambar hidup,[185]
begitu juga dalam sinema insekta raksasa.[186]
[187]
[188]
Satwa, termasuk insekta[189]
dan binatang menyusui[190]
berperan dalam mitologi dan agama. Baik di Jepang atau Eropa, kupu-kupu dilihat umpama personifikasi jiwa seseorang,[189]
[191]
[192]
sementara madukara scarab dianggap sakral di Mesir bersejarah.[193]
Di antara mamalia, sapi,[194]
kijang,[190]
kuda,[195]
raja rimba,[196]
kelelawar[197]
dan anjing hutan[198]
merupakan subjek legenda dan pengultusan. Label-keunggulan zodiak Barat dan Cina didasarkan pada dabat.[199]
[200]

Lihat juga

[sunting
|
sunting perigi]

  • Perilaku hewan
  • Fauna Indonesia
  • Daftar hewan purbakala
  • Hewan peliharaan
  • Daftar hewan di Alkitab
  • Daftar obstulen hewan

Tulisan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Aplikasi kode mayit DNA pada taksonomi semakin memperrumit hal ini; sebuah kajian kode bangkai DNA sreg 2022 mengandaikan bahwa terdapat 100.000 tipe insekta di Kanada tetapi, dan mengekstrapolasikan bahwa hewan serangga global seharusnya lebih bersumber 10 juta spesies, intim 2 miliun di dalam satu famili lalat yang disebut
    gall midge
    (Cecidomyiidae).[66]

  2. ^

    Tidak mencengap parasitoid.[62]

  3. ^

    Bandingkan dengan Berkas:Annelid redone w white background.svg buat model nan lebih spesifik dan mendetail dari sebuah filum dengan bangun badan umum ini.

  4. ^

    Privat karyanya
    Sejarah Hewan
    dan
    Fragmen-Putaran Hewan.

Referensi

[sunting
|
sunting perigi]


  1. ^


    Cresswell, Julia (2010).
    The Oxford Dictionary of Word Origins
    (edisi ke-2). New York: Oxford University Press. ISBN 9780199547937.
    ‘having the breath of life’, from anima ‘air, breath, life’ .





  2. ^


    Webster’s. “Animal Definition”. Diakses tanggal
    17 September
    2009
    .





  3. ^


    “Animals”. Merriam-Webster’s. Diakses tanggal
    16 May
    2010
    .
    2 a : one of the lower animals as distinguished from human beings b : mammal;
    broadly : vertebrate






  4. ^


    “Animal”.
    The American Heritage Dictionary
    (edisi ke-Forth). Houghton Mifflin Company. 2006.





  5. ^


    Avila, Vernon L. (1995).
    Biology: Investigating Life on Earth. Jones & Bartlett Learning. hlm. 767–. ISBN 978-0-86720-942-6.




  6. ^


    a




    b




    “Palaeos:Metazoa”.
    Palaeos
    . Diakses tanggal
    25 February
    2022
    .





  7. ^


    Davidson, Michael W. “Animal Cell Structure”. Diarsipkan dari versi asli copot 20 September 2007. Diakses copot
    20 September
    2007
    .





  8. ^


    Bergman, Jennifer. “Heterotrophs”. Diarsipkan dari versi tulus tanggal 29 August 2007. Diakses tanggal
    30 September
    2007
    .





  9. ^


    Douglas, Angela E.; Raven, John A. (January 2003). “Genomes at the interface between bacteria and organelles”.
    Philosophical Transactions of the Boros Society B.
    358
    (1429): 5–17. doi:10.1098/rstb.2002.1188. PMC1693093alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 12594915.





  10. ^


    Mentel, Marek; Martin, William (2010). “Anaerobic animals from an ancient, anoxic ecological niche”.
    BMC Biology.
    8: 32. doi:10.1186/1741-7007-8-32. PMC2859860alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 20370917.





  11. ^


    Saupe, S. G. “Concepts of Biology”. Diakses terlepas
    30 September
    2007
    .





  12. ^


    Minkoff, Eli C. (2008).
    Barron’s EZ-101 Study Keys Series: Biology
    (edisi ke-2nd, revised). Barron’s Educational Series. hlm. 48. ISBN 978-0-7641-3920-8.





  13. ^


    Alberts, Bruce; Johnson, Alexander; Lewis, Julian; Raff, Martin; Roberts, Keith; Walter, Peter (2002).
    Molecular Biology of the Cell
    (edisi ke-4th). Garland Science. ISBN 0-8153-3218-1.





  14. ^


    Sangwal, Keshra (2007).
    Additives and crystallization processes: from fundamentals to applications. John Wiley and Sons. hlm. 212. ISBN 978-0-470-06153-4.





  15. ^


    Becker, Wayne M. (1991).
    The world of the cell. Benjamin/Cummings. ISBN 978-0-8053-0870-9.





  16. ^


    Magloire, Kim (2004).
    Cracking the AP Biology Exam, 2004–2005 Edition. The Princeton Review. hlm. 45. ISBN 978-0-375-76393-9.




  17. ^


    a




    b




    c




    Starr, Cecie (2007-09-25).
    Biology: Concepts and Applications without Physiology. Cengage Learning. hlm. 362, 365. ISBN 0495381500.





  18. ^


    Hillmer, Gero; Lehmann, Ulrich (1983).
    Fossil Invertebrates. Translated by J. Lettau. CUP Archive. hlm. 54. ISBN 978-0-521-27028-1.





  19. ^


    Knobil, Ernst (1998).
    Encyclopedia of reproduction, Volume 1. Academic Press. hlm. 315. ISBN 978-0-12-227020-8.





  20. ^


    Schwartz, Jill (2010).
    Master the GED 2022. Peterson’s. hlm. 371. ISBN 978-0-7689-2885-3.





  21. ^


    Hamilton, Matthew B. (2009).
    Population genetics. Wiley-Blackwell. hlm. 55. ISBN 978-1-4051-3277-0.





  22. ^


    Ville, Claude Alvin; Walker, Warren Franklin; Barnes, Robert D. (1984).
    General zoology. Saunders College Pub. hlm. 467. ISBN 978-0-03-062451-3.





  23. ^


    Hamilton, William James; Boyd, James Dixon; Mossman, Harland Winfield (1945).
    Human embryology: (prenatal development of form and function). Williams & Wilkins. hlm. 330.





  24. ^


    Philips, Joy B. (1975).
    Development of vertebrate anatomy. Mosby. hlm. 176. ISBN 978-0-8016-3927-2.





  25. ^



    The Encyclopedia Americana: a library of universal knowledge, Volume 10. Encyclopedia Americana Corp. 1918. hlm. 281.





  26. ^


    Romoser, William S.; Stoffolano, J. G. (1998).
    The science of entomology. WCB McGraw-Hill. hlm. 156. ISBN 978-0-697-22848-2.





  27. ^


    Charlesworth, D.; Willis, J.H. (2009). “The genetics of inbreeding depression”.
    Pekan sari. Rev. Genet.
    10
    (11): 783–796. doi:10.1038/nrg2664. PMID 19834483.





  28. ^


    Bernstein, H.; Hopf, F.A.; Michod, R.E. (1987). “The molecular basis of the evolution of sex”.
    Adv. Genet. Advances in Genetics.
    24: 323–370. doi:10.1016/s0065-2660(08)60012-7. ISBN 9780120176243. PMID 3324702.





  29. ^


    Pusey, Anne; Wolf, Marisa (1996). “Inbreeding avoidance in animals”.
    Trends Ecol. Evol.
    11
    (5): 201–206. doi:10.1016/0169-5347(96)10028-8. PMID 21237809.





  30. ^


    Petrie, M.; Kempenaers, B. (1998). “Extra-pair paternity in birds: Explaining variation between species and populations”.
    Trends in Ecology and Evolution.
    13
    (2): 52–57. doi:10.1016/s0169-5347(97)01232-9. PMID 21238200.





  31. ^


    Adiyodi, K. G.; Hughes, Roger N.; Adiyodi, Rita G. (July 2002).
    Reproductive Biology of Invertebrates, Volume 11, Progress in Asexual Reproduction. Wiley. hlm. 116. ISBN 978-0-471-48968-9.





  32. ^


    Schatz, Phil. “Concepts of Biology | How Animals Reproduce”. OpenStax College. Diakses tanggal
    5 March
    2022
    .





  33. ^


    Marchetti, Mauro; Rivas, Victoria (2001).
    Geomorphology and environmental impact assessment. Taylor & Francis. hlm. 84. ISBN 978-90-5809-344-8.





  34. ^


    Levy, Charles K. (1973).
    Elements of Biology. Appleton-Century-Crofts. hlm. 108. ISBN 978-0-390-55627-1.





  35. ^


    Begon, M.; Townsend, C.; Harper, J. (1996).
    Ecology: Individuals, populations and communities
    (edisi ke-Third). Blackwell Science. ISBN 0-86542-845-X.





  36. ^


    Allen, Larry Glen; Pondella, Daniel J.; Horn, Michael H. (2006).
    Ecology of marine fishes: California and adjacent waters. University of California Press. hlm. 428. ISBN 978-0-520-24653-9.





  37. ^


    Caro, Tim (2005).
    Antipredator Defenses in Birds and Mammals. University of Chicago Press. hlm. 1–6 and passim.





  38. ^


    Simpson, Alastair G.B; Roger, Andrew J (2004). “The real ‘kingdoms’ of eukaryotes”.
    Current Biology.
    14
    (17): R693. doi:10.1016/j.cub.2004.08.038. PMID 15341755.





  39. ^


    Stevens, Alison N. P. (2010). “Predation, Herbivory, and Parasitism”.
    Nature Education Knowledge.
    3
    (10): 36. Diakses tanggal
    12 February
    2022
    .





  40. ^


    Jervis, M. A.; Kidd, N. A. C (November 1986). “Host-Feeding Strategies in Hymenopteran Parasitoids”.
    Biological Reviews.
    61
    (4): 395–434. doi:10.1111/j.1469-185x.1986.tb00660.x.





  41. ^


    Meylan, Anne (1988-01-22). “Spongivory in Hawksbill Turtles: A Diet of Glass”.
    Science. American Association for the Advancement of Science.
    239
    (4838): 393–395. doi:10.1126/science.239.4838.393. JSTOR 1700236. PMID 17836872.





  42. ^


    Clutterbuck, Peter (2000).
    Understanding Science: Upper Primary. Blake Education. hlm. 9. ISBN 978-1-86509-170-9.





  43. ^


    Gupta, P. K.
    Genetics Classical To Bertamadun. Rastogi Publications. hlm. 26. ISBN 978-81-7133-896-2.





  44. ^


    Garrett, Reginald; Grisham, Charles M. (2010).
    Biochemistry. Cengage Learning. hlm. 535. ISBN 978-0-495-10935-8.





  45. ^



    New Scientist. IPC Magazines.
    152
    (2050–2055): 105. 1996.





  46. ^


    Castro, Peter; Huber, Michael E. (2007).
    Marine Biology
    (edisi ke-7th). McGraw-Hill. hlm. 376. ISBN 978-0-07-722124-9.





  47. ^


    Rota-Stabelli, Omar; Daley, Allison C.; Pisani, Davide (2013). “Molecular Timetrees Reveal a Cambrian Colonization of Land and a New Scenario for Ecdysozoan Evolution”
    (PDF).
    Current Biology.
    23
    (5): 392. doi:10.1016/j.cub.2013.01.026. PMID 23375891. Diakses tanggal
    1 March
    2022
    .





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]



  48. ^


    Daeschler, Edward B.; Shubin, Neil H.; Jenkins, Farish A., Jr. (6 April 2006). “A Devonian tetrapod-like fish and the evolution of the tetrapod body plan”.
    Nature.
    440
    (7085): 757–763. doi:10.1038/nature04639. PMID 16598249.





  49. ^


    Clack, Jennifer A. (21 November 2005). “Getting a Leg Up on Land”.
    Scientific American.





  50. ^


    Margulis, Lynn; Schwartz, Karlene V.; Berperan, Michael (1999).
    Diversity of Life: The Illustrated Guide to the Five Kingdoms. Jones & Bartlett Learning. hlm. 115–116. ISBN 978-0-7637-0862-7.





  51. ^


    Clarke, Andrew (2014). “The thermal limits to life on Earth”.
    International Journal of Astrobiology.
    13
    (2): 141. Bibcode:2014IJAsB..13..141C. doi:10.1017/S1473550413000438.





  52. ^


    “Land animals”. British Antarctic Survey. Diakses tanggal
    7 March
    2022
    .




  53. ^


    a




    b




    c



    Wood, Gerald
    The Guinness Book of Animal Facts and Feats
    (1983) ISBN 978-0-85112-235-9

  54. ^


    Davies, Ella (20 April 2022). “The longest animal alive may be one you never thought of”.
    BBC Earth
    . Diakses rontok
    1 March
    2022
    .





  55. ^


    “Largest mammal”.
    Guinness World Records.





  56. ^


    Mazzetta, Gerardo V.; Christiansen, Sendirisendiri; Fariña, Richard A. (2004). “Giants and Bizarres: Body Size of Some Southern South American Cretaceous Dinosaurs”.
    Historical Biology.
    16
    (2–4): 71–83. doi:10.1080/08912960410001715132.





  57. ^


    Fiala, Ivan (10 July 2008). “Myxozoa”. Tree of Life Web Project. Diakses sungkap
    4 March
    2022
    .





  58. ^


    Kaur, H.; Singh, R. (2011). “Two new species of Myxobolus (Myxozoa: Myxosporea: Bivalvulida) infecting an Indian major carp and a cat fish in wetlands of Punjab, India”.
    J Parasit Dis.
    35: 169–76. doi:10.1007/s12639-011-0061-4. PMC3235390alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 23024499.




  59. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    horizon




    Zhang, Zhi-Qiang (2013-08-30). “Animal biodiversity: An update of classification and diversity in 2022. In: Zhang, Z.-Q. (Ed.) Animal Biodiversity: An Outline of Higher-level Classification and Survey of Taxonomic Richness (Addenda 2022)”.
    Zootaxa.
    3703
    (1): 5. doi:10.11646/zootaxa.3703.1.3. Diarsipkan terbit varian nirmala tanggal 2022-04-24. Diakses tanggal
    2018-03-15
    .




  60. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    Balian, E.V.; Lévêque, C.; Segers, H.; Martens, K. (2008).
    Freshwater Animal Diversity Assessment. Springer. hlm. 628. ISBN 978-1-4020-8259-7.




  61. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    t




    Hogenboom, Melissa. “There are only 35 kinds of animal and most are really weird”. BBC earth.



  62. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    Poulin, Robert (2007).
    Evolutionary Ecology of Parasites. Princeton University Press. hlm. 6. ISBN 978-0-691-12085-0.




  63. ^


    a




    b




    c




    d




    Felder, Darryl L.; Camp, David K. (2009).
    Gulf of Mexico Origin, Waters, and Biota: Biodiversity. Texas A&M University Press. hlm. 1111. ISBN 978-1-60344-269-5.





  64. ^


    “How many species on Earth? About 8.7 million, new estimate says”. 24 August 2022. Diakses tanggal
    2 March
    2022
    .





  65. ^


    Mora, Camilo; Tittensor, Derek P.; Adl, Sina; Simpson, Alastair G. B.; Worm, Boris (2011-08-23). Mace, Georgina M., ed. “How Many Species Are There on Earth and in the Ocean?”.
    PLoS Biology.
    9
    (8): e1001127. doi:10.1371/journal.pbio.1001127. PMC3160336alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 21886479.





  66. ^


    Hebert, Paul D. Cakrawala.; Ratnasingham, Sujeevan; Zakharov, Evgeny V.; Telfer, Angela C.; Levesque-Beaudin, Valerie; Milton, Megan A.; Pedersen, Stephanie; Jannetta, Paul; deWaard, Jeremy R. (1 August 2022). “Counting animal species with DNA barcodes: Canadian insects”.
    Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences.
    371
    (1702): 20220333. doi:10.1098/rstb.2015.0333. PMC4971185alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 27481785.





  67. ^


    Stork, Nigel E. (January 2022). “How Many Species of Insects and Other Terrestrial Arthropods Are There on Earth?”.
    Annual Review of Entomology.
    63
    (1): 31–45. doi:10.1146/annurev-ento-020117-043348.




    Stork bloknot that 1m insects have been named, making much larger predicted estimates.

  68. ^


    Poore, Hugh F. (2002). “Introduction”.
    Crustacea: Malacostraca. Zoological catalogue of Australia. 19.2A. CSIRO Publishing. hlm. 1–7. ISBN 978-0-643-06901-5.




  69. ^


    a




    b




    c




    d




    Reaka-Kudla, Marjorie L.; Wilson, Don E.; Wilson, Edward O. (1996).
    Biodiversity II: Understanding and Protecting Our Biological Resources. Joseph Henry Press. hlm. 90. ISBN 978-0-309-52075-1.





  70. ^


    Burton, Leret; Burton, Margaret (2017).
    Essential Fish Biology: Diversity, Structure and Function. Oxford University Press. hlm. 281–282. ISBN 978-0-19-878555-2.
    Trichomycteridae … includes obligate parasitic fish. Thus 17 genera from 2 subfamilies, Vandelliinae; 4 genera, 9spp. and Stegophilinae; 13 genera, 31 spp. are parasites on gills (Vandelliinae) or skin (stegophilines) of fish.




  71. ^


    a




    b




    c




    d




    Nicol, David (June 1969). “The Number of Living Species of Molluscs”.
    Systematic Zoology.
    18
    (2): 251–254. doi:10.2307/2412618. JSTOR 2412618.





  72. ^


    Sluys, R. (1999). “Global diversity of land planarians (Platyhelminthes, Tricladida, Terricola): a new indicator-taxon in biodiversity and conservation studies”.
    Biodiversity and Conservation.
    8
    (12): 1663–1681. doi:10.1023/A:1008994925673.





  73. ^


    Fontaneto, Diego. “Marine Rotifers | An Unexplored World of Richness”
    (PDF). JMBA Menyeluruh Marine Environment. hlm. 4–5. Diarsipkan semenjak versi suci
    (PDF)
    tanggal 2022-03-02. Diakses sungkap
    2 March
    2022
    .





  74. ^


    Morand, Serge; Krasnov, Boris R.; Littlewood, D. Timothy J. (2015).
    Parasite Diversity and Diversification. Cambridge University Press. hlm. 44. ISBN 978-1-107-03765-6.




  75. ^


    a




    b




    Bobrovskiy, Ilya; Hope, Janet M.; Ivantsov, Andrey; Nettersheim, Benjamin J.; Hallmann, Christian; Brocks, Jochen J. (20 September 2022). “Ancient steroids establish the Ediacaran fossil Dickinsonia as one of the earliest animals”.
    Science.
    361
    (6408): 1246–1249. doi:10.1126/science.aat7228.





  76. ^


    Maloof, Pria C.; Rose, Catherine V.; Beach, Robert; Samuels, Bradley M.; Calmet, Claire C.; Erwin, Douglas H.; Poirier, Gerald R.; Yao, Yang; Simons, Frederik J. (17 August 2010). “Possible animal-body fossils in pre-Marinoan limestones from South Australia”.
    Nature Geoscience.
    3
    (9): 653–659. Bibcode:2010NatGe…3..653M. doi:10.1038/ngeo934.





  77. ^


    Shen, Bing; Dong, Lin; Xiao, Shuhai; Kowalewski, Michał (2008). “The Avalon Explosion: Evolution of Ediacara Morphospace”.
    Science.
    319
    (5859): 81–84. Bibcode:2008Sci…319…81S. doi:10.1126/science.1150279. PMID 18174439.





  78. ^


    Chen, Zhe; Chen, Xiang; Zhou, Chuanming; Yuan, Xunlai; Xiao, Shuhai (1 June 2022). “Late Ediacaran trackways produced by bilaterian animals with paired appendages”.
    Science Advances.
    4
    (6): eaao6691. doi:10.1126/sciadv.aao6691. PMC5990303alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 29881773.





  79. ^


    Schopf, J. William (1999).
    Evolution!: facts and fallacies. Academic Press. hlm. 7. ISBN 978-0-12-628860-5.





  80. ^


    Maloof, A. C.; Porter, S. M.; Moore, J. L.; Dudas, F. Udara murni.; Bowring, S. A.; Higgins, J. A.; Fike, D. A.; Eddy, M. P. (2010). “The earliest Cambrian record of animals and ocean geochemical change”.
    Geological Society of America Bulletin.
    122
    (11–12): 1731–1774. Bibcode:2010GSAB..122.1731M. doi:10.1130/B30346.1.





  81. ^


    “New Timeline for Appearances of Skeletal Animals in Fossil Record Developed by UCSB Researchers”. The Regents of the University of California. 10 November 2010. Diakses tanggal
    1 September
    2022
    .





  82. ^


    Conway-Morris, S. (2003). “The Cambrian “explosion” of metazoans and molecular biology: would Darwin be satisfied?”.
    The International journal of developmental biology.
    47
    (7–8): 505–15. PMID 14756326.





  83. ^


    “The Tree of Life”.
    The Burgess Shale. Boros Ontario Museum. Diarsipkan dari varian kudus tanggal 2022-02-16. Diakses tanggal
    28 February
    2022
    .





  84. ^


    Campbell, Neil A.; Reece, Jane B. (2005).
    Biology
    (edisi ke-7th). Pearson, Benjamin Cummings. hlm. 526. ISBN 978-0-8053-7171-0.





  85. ^


    Seilacher, Adolf; Bose, Pradip K.; Pfluger, Friedrich (2 October 1998). “Triploblastic animals more than 1 billion years ago: trace fossil evidence from india”.
    Science.
    282
    (5386): 80–83. Bibcode:1998Sci…282…80S. doi:10.1126/science.282.5386.80. PMID 9756480.





  86. ^


    Matz, Mikhail V.; Frank, Tamara M.; Marshall, Tepi langit. Justin; Widder, Edith A.; Johnsen, Sönke (9 December 2008). “Giant Deep-Sea Protist Produces Bilaterian-like Traces”
    (PDF).
    Current Biology.
    18
    (23): 1–6. doi:10.1016/j.cub.2008.10.028. PMID 19026540. Diarsipkan dari versi zakiah
    (PDF)
    tanggal 16 December 2008. Diakses tanggal
    5 December
    2008
    .





  87. ^


    Reilly, Michael (20 November 2008). “Single-celled giant upends early evolution”. MSNBC. Diakses sungkap
    5 December
    2008
    .





  88. ^


    Bengtson, S. (2002). “Origins and early evolution of predation”
    (PDF). Dalam Kowalewski, M.; Kelley, P.H.
    The fossil record of predation.
    The Paleontological Society Papers.
    8. The Paleontological Society. hlm. 289–317.





  89. ^


    Burhanuddin, Andi Iqbal (2018).
    Vertebrata Laut. Yogyakarta: Deepublish. hlm. 43. ISBN 9786024537814.





  90. ^


    Alwi, D., Muhammad, M.H., dan Bisi, S. (2018). “Inventarisasi organisme avertebrata terumbu karang di perairan Ancol Dehegila Kabupaten Pulau Morotai”.
    Jurnal Aji-aji Kelautan Gugusan pulau.
    1
    (1): 72.





  91. ^


    Budd, Graham E.; Jensen, Sören (2017). “The origin of the animals and a ‘Savannah’ hypothesis for early bilaterian evolution”.
    Biological Reviews.
    92
    (1): 446–473. doi:10.1111/brv.12239alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 26588818.





  92. ^


    Kapli, Paschalia; Telford, Maximilian J. (11 Dec 2022). “Topology-dependent asymmetry in systematic errors affects phylogenetic placement of Ctenophora and Xenacoelomorpha”.
    Science Advances.
    6
    (10): eabc5162. doi:10.1126/sciadv.abc5162alt=Dapat diakses gratis
    . PMC7732190alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 33310849 .





  93. ^


    Giribet, Gonzalo (27 September 2022). “Genomics and the animal tree of life: conflicts and future prospects”.
    Zoologica Scripta.
    45: 14–21. doi:10.1111/zsc.12215alt=Dapat diakses gratis
    .





  94. ^


    “Evolution and Development”
    (PDF).
    Carnegie Institution for Science Department of Embryology. 1 May 2022. hlm. 38. Diarsipkan berpangkal varian jati
    (PDF)
    tanggal 2 March 2022. Diakses rontok
    4 March
    2022
    .





  95. ^


    Dellaporta, Stephen; Holland, Peter; Schierwater, Bernd; Jakob, Wolfgang; Sagasser, Sven; Kuhn, Kerstin (April 2004). “The Trox-2 Hox/ParaHox gene of Trichoplax (Placozoa) marks an epithelial boundary”.
    Development Genes and Evolution.
    214
    (4): 170–175. doi:10.1007/s00427-004-0390-8.





  96. ^


    Peterson, Kevin J.; Eernisse, Douglas J (2001). “Animal phylogeny and the ancestry of bilaterians: Inferences from morphology and 18S rDNA gene sequences”.
    Evolution and Development.
    3
    (3): 170. doi:10.1046/j.1525-142x.2001.003003170.x. PMID 11440251. Diakses sungkap
    25 February
    2022
    .





  97. ^


    Kraemer-Eis, Andrea; Ferretti, Luca; Schiffer, Philipp; Heger, Peter; Wiehe, Thomas (2016). “A catalogue of Bilaterian-specific genes – their function and expression profiles in early development”
    (PDF). doi:10.1101/041806. Diakses tanggal
    25 February
    2022
    .





  98. ^


    Zimmer, Carl (4 May 2022). “The Very First Animal Appeared Amid an Explosion of DNA”.
    The New York Times
    . Diakses copot
    4 May
    2022
    .





  99. ^


    Paps, Jordi; Holland, Peter W. H. (30 April 2022). “Reconstruction of the ancestral metazoan genome reveals an increase in genomic novelty”.
    Nature Communications.
    9
    (1730 (2018)). doi:10.1038/s41467-018-04136-5. Diakses tanggal
    4 May
    2022
    .





  100. ^


    Peterson, Kevin J.; Cotton, James A.; Gehling, James G.; Pisani, Davide (27 April 2008). “The Ediacaran emergence of bilaterians: congruence between the genetic and the geological fossil records”.
    Philosophical Transactions of the Royal Society of London B: Biological Sciences.
    363
    (1496): 1435–1443. doi:10.1098/rstb.2007.2233. PMC2614224alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 18192191.





  101. ^


    Parfrey, Laura Wegener; Lahr, Daniel J. G.; Knoll, Andrew H.; Katz, Laura A. (16 August 2022). “Estimating the timing of early eukaryotic diversification with multigene molecular clocks”.
    Proceedings of the National Academy of Sciences.
    108
    (33): 13624–13629. Bibcode:2011PNAS..10813624P. doi:10.1073/pnas.1110633108. PMC3158185alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 21810989.





  102. ^


    “Raising the Standard in Fossil Calibration”.
    Fossil Calibration Database. Diarsipkan berasal versi bersih tanggal 7 March 2022. Diakses rontok
    3 March
    2022
    .





  103. ^


    Laumer, Christopher E.; Gruber-Vodicka, Harald; Hadfield, Michael G.; Pearse, Vicki B.; Riesgo, Ana; Marioni, John C.; Giribet, Gonzalo (2018). “Support for a clade of Placozoa and Cnidaria in genes with minimum compositional bias”.
    eLife. 2022;7: e36278. doi:10.7554/eLife.36278. PMC6277202alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 30373720.





  104. ^


    Adl, Sina M.; Bass, David; Lane, Christopher E.; Lukeš, Julius; Schoch, Conrad L.; Smirnov, Alexey; Agatha, Sabine; Berney, Cedric; Brown, Matthew W. (2018). “Revisions to the Classification, Nomenclature, and Diversity of Eukaryotes”.
    Journal of Eukaryotic Microbiology.
    66
    (1): 4–119. doi:10.1111/jeu.12691. PMC6492006alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 30257078.





  105. ^


    Bhamrah, H. S.; Juneja, Kavita (2003).
    An Introduction to Porifera. Anmol Publications. hlm. 58. ISBN 978-81-261-0675-2.





  106. ^


    Sumich, James L. (2008).
    Laboratory and Field Investigations in Marine Life. Jones & Bartlett Learning. hlm. 67. ISBN 978-0-7637-5730-4.





  107. ^


    Jessop, Nancy Meyer (1970).
    Biosphere; a study of life. Prentice-Hall. hlm. 428.





  108. ^


    Sharma, N. S. (2005).
    Continuity And Evolution Of Animals. Mittal Publications. hlm. 106. ISBN 978-81-8293-018-6.





  109. ^


    Langstroth, Lovell; Langstroth, Libby (2000). Newberry, Todd, ed.
    A Living Bay: The Underwater World of Monterey Bay. University of California Press. hlm. 244. ISBN 978-0-520-22149-9.





  110. ^


    Safra, Jacob E. (2003).
    The New Encyclopædia Britannica, Volume 16. Encyclopædia Britannica. hlm. 523. ISBN 978-0-85229-961-6.





  111. ^


    Kotpal, R. L.
    Modern Text Book of Zoology: Invertebrates. Rastogi Publications. hlm. 184. ISBN 978-81-7133-903-7.





  112. ^


    Barnes, Robert D. (1982).
    Invertebrate Zoology. Holt-Saunders International. hlm. 84–85. ISBN 0-03-056747-5.





  113. ^


    “Introduction to Placozoa”. UCMP Berkeley. Diakses tanggal
    10 March
    2022
    .




  114. ^


    a




    b




    Minelli, Alessandro (2009).
    Perspectives in Animal Phylogeny and Evolution. Oxford University Press. hlm. 53. ISBN 978-0-19-856620-5.




  115. ^


    a




    b




    c




    Brusca, Richard C. (2016).
    Introduction to the Bilateria and the Phylum Xenacoelomorpha | Triploblasty and Bilateral Symmetry Provide New Avenues for Animal Radiation
    (PDF).
    Invertebrates. Sinauer Associates. hlm. 345–372. ISBN 978-1605353753.





  116. ^


    Quillin, K. J. (May 1998). “Ontogenetic scaling of hydrostatic skeletons: geometric, static stress and dynamic stress scaling of the earthworm lumbricus terrestris”.
    The Journal of Experimental Biology.
    201
    (12): 1871–83. PMID 9600869. Diarsipkan pecah versi jati tanggal 2022-06-17. Diakses tanggal
    2018-04-16
    .





  117. ^


    Telford, Maximilian J. (2008). “Resolving Animal Phylogeny: A Sledgehammer for a Tough Nut?”.
    Developmental Cell.
    14
    (4): 457–459. doi:10.1016/j.devcel.2008.03.016. PMID 18410719.





  118. ^


    Philippe, H.; Brinkmann, H.; Copley, R. R.; Moroz, L. L.; Nakano, H.; Poustka, A. J.; Wallberg, A.; Peterson, K. J.; Telford, M. J. (2011). “Acoelomorph flatworms are deuterostomes related to
    Xenoturbella“.
    Nature.
    470
    (7333): 255–258. Bibcode:2011Natur.470..255P. doi:10.1038/nature09676. PMC4025995alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 21307940.





  119. ^


    Perseke, M.; Hankeln, T.; Weich, B.; Fritzsch, G.; Stadler, P.F.; Israelsson, Ozon.; Bernhard, D.; Schlegel, M. (August 2007). “The mitochondrial DNA of Xenoturbella bocki: genomic architecture and phylogenetic analysis”
    (PDF).
    Theory Biosci.
    126
    (1): 35–42. doi:10.1007/s12064-007-0007-7. PMID 18087755.





  120. ^


    Cannon, Johanna Lengkung langit.; Vellutini, Bruno C.; Smith III, Julian.; Ronquist, Frederik; Jondelius, Ulf; Hejnol, Andreas (3 February 2022). “Xenacoelomorpha is the sister group to Nephrozoa”.
    Nature.
    530
    (7588): 89–93. Bibcode:2016Natur.530…89C. doi:10.1038/nature16520. PMID 26842059. Diakses tanggal
    3 February
    2022
    .





  121. ^


    Valentine, James W. (July 1997). “Cleavage patterns and the topology of the metazoan tree of life”.
    PNAS. The National Academy of Sciences.
    94
    (15): 8001–8005. Bibcode:1997PNAS…94.8001V. doi:10.1073/pnas.94.15.8001. PMC21545alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 9223303.





  122. ^


    Peters, Kenneth E.; Walters, Clifford C.; Moldowan, J. Michael (2005).
    The Biomarker Guide: Biomarkers and isotopes in petroleum systems and Earth history.
    2. Cambridge University Press. hlm. 717. ISBN 978-0-521-83762-0.





  123. ^


    Hejnol A, Martindale M (2009). Telford MJ, Littlewood DJ, ed.
    The mouth, the anus, and the blastopore – open questions about questionable openings.
    Animal Evolution — Genomes, Fossils, and Trees. Oxford University Press. hlm. 33–40. ISBN 978-0199570300.





  124. ^


    Safra, Jacob E. (2003).
    The New Encyclopædia Britannica, Tagihan 1; Volume 3. Encyclopædia Britannica. hlm. 767. ISBN 978-0-85229-961-6.





  125. ^


    Hyde, Kenneth (2004).
    Zoology: An Inside View of Animals. Kendall Hunt. hlm. 345. ISBN 978-0-7575-0997-1.





  126. ^


    Alcamo, Edward (1998).
    Biology Coloring Workbook. The Princeton Review. hlm. 220. ISBN 978-0-679-77884-4.





  127. ^


    Holmes, Thom (2008).
    The First Vertebrates. Infobase Publishing. hlm. 64. ISBN 978-0-8160-5958-4.





  128. ^


    Rice, Stanley A. (2007).
    Encyclopedia of evolution. Infobase Publishing. hlm. 75. ISBN 978-0-8160-5515-9.





  129. ^


    Tobin, Allan J.; Dusheck, Jennie (2005).
    Asking about life. Cengage Learning. hlm. 497. ISBN 978-0-534-40653-0.





  130. ^


    Simakov, Oleg; Kawashima, Takeshi; Marlétaz, Ferdinand; Jenkins, Jerry; Koyanagi, Ryo; Mitros, Therese; Hisata, Kanako; Bredeson, Jessen; Shoguchi, Eiichi (26 November 2022). “Hemichordate genomes and deuterostome origins”.
    Nature.
    527
    (7579): 459–465. Bibcode:2015Natur.527..459S. doi:10.1038/nature16150. PMC4729200alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 26580012.





  131. ^


    Dawkins, Richard (2005).
    The Ancestor’s Tale: A Pilgrimage to the Dawn of Evolution. Houghton Mifflin Harcourt. hlm. 381. ISBN 978-0-618-61916-0.





  132. ^


    Prewitt, Nancy L.; Underwood, Larry S.; Surver, William (2003).
    BioInquiry: making connections in biology. John Wiley. hlm. 289. ISBN 978-0-471-20228-8.





  133. ^


    Schmid-Hempel, Paul (1998).
    Parasites in social insects. Princeton University Press. hlm. 75. ISBN 978-0-691-05924-2.





  134. ^


    Miller, Stephen A.; Harley, John P. (2006).
    Zoology. McGraw-Hill Higher Education. hlm. 173.





  135. ^


    Shankland, M.; Seaver, E. C. (2000). “Evolution of the bilaterian body plan: What have we learned from annelids?”.
    Proceedings of the National Academy of Sciences.
    97
    (9): 4434–7. Bibcode:2000PNAS…97.4434S. doi:10.1073/pnas.97.9.4434. JSTOR 122407. PMC34316alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 10781038.




  136. ^


    a




    b




    Struck, Torsten H.; Wey-Fabrizius, Alexandra R.; Golombek, Anja; Hering, Lars; Weigert, Anne; Bleidorn, Christoph; Klebow, Sabrina; Iakovenko, Nataliia; Hausdorf, Bernhard; Petersen, Malte; Kück, Patrick; Herlyn, Holger; Hankeln, Thomas (2014). “Platyzoan Paraphyly Based on Phylogenomic Data Supports a Noncoelomate Ancestry of Spiralia”.
    Molecular Biology and Evolution.
    31
    (7): 1833–1849. doi:10.1093/molbev/msu143. PMID 24748651.





  137. ^


    Fröbius, Andreas C.; Funch, Peter (April 2022). “Rotiferan Hox genes give new insights into the evolution of metazoan bodyplans”.
    Nature Communications.
    8
    (1). doi:10.1038/s41467-017-00020-w.





  138. ^


    Hervé, Philippe; Lartillot, Nicolas; Brinkmann, Henner (May 2005). “Multigene Analyses of Bilaterian Animals Corroborate the Monophyly of Ecdysozoa, Lophotrochozoa, and Protostomia”.
    Molecular Biology and Evolution.
    22
    (5): 1246–1253. doi:10.1093/molbev/msi111. PMID 15703236.





  139. ^


    “Introduction to the Lophotrochozoa | Of molluscs, worms, and lophophores…” UCMP Berkeley. Diakses tanggal
    28 February
    2022
    .





  140. ^


    Giribet, G.; Distel, D.L.; Polz, M.; Sterrer, W.; Wheeler, W.C. (2000). “Triploblastic relationships with emphasis on the acoelomates and the position of Gnathostomulida, Cycliophora, Plathelminthes, and Chaetognatha: a combined approach of 18S rDNA sequences and morphology”.
    Syst Biol.
    49
    (3): 539–562. doi:10.1080/10635159950127385. PMID 12116426.





  141. ^


    Kim, Chang Bae; Moon, Seung Yeo; Gelder, Stuart R.; Kim, Won (September 1996). “Phylogenetic Relationships of Annelids, Molluscs, and Arthropods Evidenced from Molecules and Morphology”.
    Journal of Molecular Evolution.
    43
    (3): 207–215. doi:10.1007/PL00006079. PMID 8703086.




  142. ^


    a




    b




    Gould, Stephen Jay (2011).
    The Lying Stones of Marrakech. Harvard University Press. hlm. 130–134. ISBN 978-0-674-06167-5.





  143. ^


    Leroi, Armand Marie (2014).
    The Lagoon: How Aristotle Invented Science. Bloomsbury. hlm. 111–119, 270–271. ISBN 978-1-4088-3622-4.





  144. ^


    Linnaeus, Carl (1758).
    Systema naturae saban regna tria naturae :secundum classes, ordines, genera, species, cum characteribus, differentiis, synonymis, locis
    (n domestik bahasa Latin) (edisi ke-10). Holmiae (Laurentii Salvii). Diarsipkan dari versi safi tanggal 10 October 2008. Diakses tanggal
    22 September
    2008
    .





  145. ^


    De Wit, Hendrik C. D. (1994).
    Histoire du Développement de la Biologie, Volume III. Presses Polytechniques et Universitaires Romandes. hlm. 94–96. ISBN 2-88074-264-1.




  146. ^


    a




    b




    Valentine, James W. (2004).
    On the Origin of Phyla. University of Chicago Press. hlm. 7–8. ISBN 978-0-226-84548-7.





  147. ^


    Haeckel, Ernst (1874).
    Anthropogenie oder Entwickelungsgeschichte des menschen
    (intern bahasa Jerman). hlm. 202.





  148. ^


    Hutchins, Michael (2003).
    Grzimek’s Animal Life Encyclopedia
    (edisi ke-2nd). Gale. hlm. 3. ISBN 0-7876-5777-8.




  149. ^


    a




    b




    “Fisheries and Aquaculture”. FAO. Diakses tanggal
    8 July
    2022
    .




  150. ^


    a




    b




    “Graphic detail Charts, maps and infographics. Counting chickens”. The Economist. 27 July 2022. Diakses sungkap
    23 June
    2022
    .





  151. ^


    Helfman, Gene S. (2007).
    Fish Conservation: A Guide to Understanding and Restoring Global Aquatic Biodiversity and Fishery Resources. Island Press. hlm. 11. ISBN 1-59726-760-0.





  152. ^


    “World Review of Fisheries and Aquaculture”
    (PDF).
    fao.org. FAO. Diakses sungkap
    13 August
    2022
    .





  153. ^


    “Shellfish climbs up the popularity ladder”. HighBeam Research. Diarsipkan berbunga versi asli sungkap 2022-11-05. Diakses copot
    8 July
    2022
    .





  154. ^


    Cattle Today. “Breeds of Cattle at CATTLE TODAY”. Cattle-today.com. Diakses copot
    15 October
    2022
    .





  155. ^


    Lukefahr, S.D.; Cheeke, P.R. “Rabbit project development strategies in subsistence farming systems”. Food and Agriculture Organization. Diakses rontok
    23 June
    2022
    .





  156. ^


    “Animals Used for Clothing”. PETA. Diakses tanggal
    8 July
    2022
    .





  157. ^


    “Ancient fabrics, high-tech geotextiles”. Natural Fibres. Diarsipkan dari versi masif copot 2022-05-15. Diakses tanggal
    8 July
    2022
    .





  158. ^


    “Cochineal and Carmine”.
    Major colourants and dyestuffs, mainly produced in horticultural systems. FAO. Diakses tanggal
    June 16,
    2022
    .





  159. ^


    “Guidance for Industry: Cochineal Extract and Carmine”. FDA. Diakses rontok
    6 July
    2022
    .





  160. ^


    “How Shellac Is Manufactured”. The Mail (Adelaide, SA : 1912 – 1954). 18 Dec 1937. Diakses rontok
    17 July
    2022
    .





  161. ^


    Pearnchob, Lengkung langit.; Siepmann, J.; Bodmeier, R. (2003). “Pharmaceutical applications of shellac: moisture-protective and taste-masking coatings and extended-release matrix tablets”.
    Drug Development and Industrial Pharmacy.
    29
    (8): 925–938. doi:10.1081/ddc-120024188. PMID 14570313.





  162. ^


    Pemotong rambut, E. J. W. (1991).
    Prehistoric Textiles. Princeton University Press. hlm. 230–231. ISBN 0-691-00224-X.





  163. ^


    Munro, John H. (2003). Jenkins, David, ed.
    Medieval Woollens: Textiles, Technology, and Organisation.
    The Cambridge History of Western Textiles. Cambridge University Press. hlm. 214–215. ISBN 0-521-34107-8.





  164. ^


    Pond, Wilson G. (2004).
    Encyclopedia of Animal Science. CRC Press. hlm. 248–250. ISBN 978-0-8247-5496-9.





  165. ^


    “Genetics Research”. Animal Health Trust. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-12-12. Diakses rontok
    24 June
    2022
    .





  166. ^


    “Drug Development”. Animal Research.info. Diakses tanggal
    24 June
    2022
    .





  167. ^


    “Animal Experimentation”. BBC. Diakses tanggal
    8 July
    2022
    .





  168. ^


    “EU statistics show decline in animal research numbers”. Speaking of Research. 2022. Diakses tanggal
    January 24,
    2022
    .





  169. ^


    “Vaccines and animal cell technology”. Animal Cell Technology Industrial Platform. Diakses rontok
    9 July
    2022
    .





  170. ^


    “Medicines by Design”. National Institute of Health. Diakses terlepas
    9 July
    2022
    .





  171. ^


    Fergus, Charles (2002).
    Gun Dog Breeds, A Guide to Spaniels, Retrievers, and Pointing Dogs. The Lyons Press. ISBN 1-58574-618-5.





  172. ^


    “History of Falconry”. The Falconry Centre. Diarsipkan dari versi asli copot 2022-05-29. Diakses rontok
    22 April
    2022
    .





  173. ^


    King, Richard J. (2013).
    The Devil’s Cormorant: A Natural History. University of New Hampshire Press. hlm. 9. ISBN 978-1-61168-225-0.





  174. ^


    “AmphibiaWeb – Dendrobatidae”. AmphibiaWeb. Diakses sungkap
    2008-10-10
    .





  175. ^


    Heying, H. (2003). “Dendrobatidae”. Animal Diversity Web. Diakses tanggal
    9 July
    2022
    .





  176. ^


    “Other bugs”. Keeping Insects. Diakses copot
    8 July
    2022
    .





  177. ^


    Kaplan, Melissa. “So, you think you want a reptile?”. Anapsid.org. Diakses tanggal
    8 July
    2022
    .





  178. ^


    “Pet Birds”. PDSA. Diakses tanggal
    8 July
    2022
    .





  179. ^


    “Animals in Healthcare Facilities”
    (PDF). 2022. Diarsipkan dari varian suci
    (PDF)
    tanggal 4 March 2022.





  180. ^


    The Humane Society of the United States. “U.S. Pet Ownership Statistics”. Diakses tanggal
    27 April
    2022
    .





  181. ^


    USDA. “U.S. Rabbit Industry profile”
    (PDF). Diarsipkan berbunga versi asli
    (PDF)
    tanggal 20 October 2022. Diakses tanggal
    10 July
    2022
    .





  182. ^


    Plous, S. (1993). “The Role of Animals in Human Society”.
    Journal of Social Issues.
    49
    (1): 1–9. doi:10.1111/j.1540-4560.1993.tb00906.x.





  183. ^


    Hummel, Richard (1994).
    Hunting and Fishing for Sport: Commerce, Controversy, Popular Culture. Popular Press. ISBN 978-0-87972-646-1.





  184. ^


    Jones, Jonathan (27 June 2022). “The top 10 animal portraits in art”. The Guardian. Diakses tanggal
    24 June
    2022
    .





  185. ^


    Paterson, Jennifer (29 October 2022). “Animals in Komidi gambar and Kendaraan”. Oxford Bibliographies. doi:10.1093/obo/9780199791286-0044. Diakses tanggal
    24 June
    2022
    .





  186. ^


    Gregersdotter, Katarina; Höglund, Johan; Hållén, Nicklas (2016).
    Animal Horror Cinema: Genre, History and Criticism. Springer. hlm. 147. ISBN 978-1-137-49639-3.





  187. ^


    Warren, Bill; Thomas, Bill (2009).
    Keep Watching the Skies!: American Science Fiction Movies of the Fifties, The 21st Century Edition. McFarland. hlm. 32. ISBN 978-1-4766-2505-8.





  188. ^


    Crouse, Richard (2008).
    Son of the 100 Best Movies You’ve Never Seen. ECW Press. hlm. 200. ISBN 978-1-55490-330-6.




  189. ^


    a




    b




    Hearn, Lafcadio (1904).
    Kwaidan: Stories and Studies of Strange Things. Dover. ISBN 0-486-21901-1.




  190. ^


    a




    b




    “Deer”. Trees for Life. Diakses tanggal
    23 June
    2022
    .





  191. ^


    “Butterfly”.
    Encyclopedia of Diderot and D’Alembert
    . Diakses sungkap
    10 July
    2022
    .





  192. ^

    Hutchins, M., Arthur V. Evans, Rosser W. Garrison and Neil Schlager (Eds) (2003) Grzimek’s Animal Life Encyclopedia, 2nd edition. Piutang 3, Insects. Gale, 2003.

  193. ^


    Ben-Tor, Daphna (1989).
    Scarabs, A Reflection of Ancient Egypt. Jerusalem. hlm. 8. ISBN 965-278-083-9.





  194. ^


    Biswas, Soutik. “Why the humble cow is India’s most polarising animal”. BBC. Diakses tanggal
    9 July
    2022
    .





  195. ^


    Robert Hans van Gulik.
    Hayagrīva: The Mantrayānic Aspect of Horse-cult in China and Japan. Brill Archive. hlm. 9.





  196. ^


    Grainger, Richard (24 June 2022). “Lion Depiction across Ancient and Bertamadun Religions”. ALERT. Diarsipkan berasal versi kudus tanggal 23 September 2022. Diakses copot
    6 July
    2022
    .





  197. ^


    Read, Kay Almere; Gonzalez, Jason J. (2000).
    Mesoamerican Mythology. Oxford University Press. hlm. 132–134.





  198. ^


    McCone, Kim R. (1987). Meid, W., ed.
    Hund, Wolf, und Krieger bei den Indogermanen.
    Studien zum indogermanischen Wortschatz. Innsbruck. hlm. 101–154.





  199. ^

    Lau, Theodora,
    The Handbook of Chinese Horoscopes, pp. 2–8, 30–5, 60–4, 88–94, 118–24, 148–53, 178–84, 208–13, 238–44, 270–78, 306–12, 338–44, Souvenir Press, New York, 2005

  200. ^


    Pengetes, S. Jim (1987).
    A History of Western Astrology. Boydell & Brewer. hlm. 31–33 and passim. ISBN 978-0-85115-446-6.




Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sendang]

  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1994).
    Kurikulum Sekolah Menangah Awam (GBPP) Indra penglihatan Pelajaran Ilmu hayat. Jakarta: Depdikbud.



  • Hickman Jr; Cleveland P.; Roberts, Larry S. (1990).
    Biology of Animals
    (edisi ke-ke-6). Wm. C. Brown Publisher.



  • Solomon, et. al. (1993).
    Biology, 3rd ed. Forth Worth: Saunders-College Publishing,.



  • Duke, NH. (1995).
    The Physiology of Domestic Animal. New York: Comstock Publishing.



  • Martini (1998).
    Fundamental of Anatomy and Physiology 4th ed. New Jersey: Prentice Hall International Inc.



  • Swenson, GM. (1997).
    Dules Physiology or Domestic Animals. USA: Publishing Co. Inc.



  • Harris, C.L. (1992).
    Concepts in Zoology. New York: Harper Collin Publisher, Inc.



  • Suroso, A.; Permatasari, A. (2003).
    Ensiklopedia Sains dan Kehidupan: Refernsi dan Tajali Eksemplar cak bagi ilmu Biologi, Fisika, dan Kimia. Jakarta: CV Tarity Lautan Berlian.



Pranala luar

[sunting
|
sunting sumur]

  • Wikispecies-logo.svg
    Pesiaran terkait dengan Animalia dari Wikispecies.
  • Binatang
    di Encyclopedia of Life
  • Tree of Life Project
  • Animal Diversity Web – Database fauna milik University of Michigan, menunjukkan taksonomi, gambar, dan informasi lainnya.
  • ARKive Diarsipkan 2022-04-26 di Archive.is – database multimedia dari tipe terancam punah/dilindungi berasal seluruh dunia dan spesies yang umum di Britania Raya.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Hewan