Naskah Drama Tema Pendidikan Singkat

Teladan Naskah Drama
– Dibenak anda apa yang beliau ketahui dengan naskah dagelan, yah daskah drama yang sering digunakan lakukan awalan sebelum melakukan pentas drama dalam situasi ini  kita mesti tahu dulu apa itu drama? yah Drama, kata ini semenjak bersumber bahasa Yunani adalah “Draomai” yang memiliki arti berbuat, bermain, dan bermain dalam arti lain Drama merupakan pengelanaan, cerita hidup nan diceritakan kembali dan diperagakan oleh cucu adam lain.

Sebelum memperagakan sebuah drama, galibnya Anda harus terlebih sangat membuat naskah sandiwara bangsawan sebagai alamat lakukan langkah Ketoprak, Naskah drama dapat berbentuk teks berisi komposisi dagelan yang ditulis maupun diprint dalam sebuah kertas.

Konotasi Drama Secara Umum

Pengertian Drama secara publik yaitu kata nan bermula berbunga bahasa Yunani, yaitu Draomai yang memiliki arti melakukan dan bertindak, Sedangkan prolog sandiwara sendiri memiliki manfaat satu perbuatan dan tindakan. Pengertian drama menurut KBBI ialah suatu karya sastra yang ditulis dalam bagan dialog dan mempunyai maksud untuk menyampaikan sebuah pertunjukan nan diperankan makanya aktor pada cerita.

1. Pengertian Sandiwara Menurut Moultoun, Dia mengungkapkan drama merupakan kisah hidup yang dilukiskan internal sebuah pertunjukan gerak.

2. Pengertian Drama Menurut Ferdinand Brunetierre, Beliau mengungkapkan sandiwara boneka merupakan sebuah seni yang dapat menghasilkan sebuah gerakan dan aksi yang bisa dipertontonkan.

3. Konotasi Dagelan Menurut Budianta, Beliau mengungkapkan sandiwara radio adalah alur cerita sastra yang memeragakan penampilan fisik secara lisan atau diaolog yang dilakukan antar pemain.

4. Pengertian Drama Menurut Tim Matrix Media Literita, Sira mengekspos sandiwara radio ialah sebuah bentuk cerita nan menggambarkan cerita jiwa manusia melalui perilaku tokoh yang dipentaskan.

5. Signifikansi Sandiwara Menurut Seni Handayani, Beliau mengungkapkan drama yaitu sebuah komposisi yang dihasilkan berusul seni sastra dan seni pertunjukan, sehingga menciptakan dua tipe drama, yaitu sandiwara radio dalam bentuk tertera dan sandiwara bangsawan dalam bentuk pertunjukkan.

6. Pengertian Drama Menurut Wildan, Beliau mengungkapkan sandiwara tradisional merupakan atak yang dilahirkan dari beberapa silang seni, sehingga sandiwara bangsawan boleh dibagi menjadi dua babak, ialah drama bentuk teks tertulis dan dagelan kerumahtanggaan tulang beragangan dipentaskan.

7. Signifikansi Sandiwara radio Menurut Anne Civardi, Anda menelanjangi drama ialah kisah yang ditampilan melalui alas kata-kata dan diperagakan dengan gerak.

Jenis-tipe drama

Secara Umum Sandiwara tradisional dibagi dan dikelompokan menjadi 3 fragmen, yakni : berdasarkan penyampaian kisah drama, berdasarkan sarana, dan berdasarkan keberadaan naskah, Bersendikan pengajuan kisahnya.
Berikut beberapa jenis sandiwara tradisional berdasarkan penyajian kisah sandiwara boneka, yaitu :

  1. Tragedi, adalah sebuah drama yang n kepunyaan alur cerita kemasygulan
  2. Komedi, ialah sebuah drama yang memiliki alur narasi tentang kelucuan para tokoh
  3. Tragekomedi, yakni sebuah dagelan yang dipadukan antara sandiwara tragedi dan humor
  4. Opera, adalah sebuah drama yang dilakukan dengan prinsip dinyanyikan sembari diiringi dengan musik
  5. Melodrama, adalah sebuah drama yang dilakukan momen berdialog sembari diiringi musik
  6. Farce, ialah sebuah drama nan riil dagelan, tetapi lain keseluruhan adegan dalam farce sebagai halnya sandiwara radio
  7. Tablo, adalah sebuah drama nan tokohnya makin mengutamakan gerak, para pencetus enggak mengerjakan dialog hanya berbuat berbagai ragam gerakan saja.
  8. Sendratari, adalah sebuah perpaduan antara sandiwara radio dengan seni tari.

Sedangkan Jenis sandiwara tradisional berdasarkan sarana dan prasana bisa dibedakan menjadi berikut :

  1. Drama panggung, ialah dagelan yang dilakukan atau dipentaskan diatas penggaung sepenuhnya.
  2. Sandiwara radio radio, yaitu drama yang tetapi dapat didengar.
  3. Drama televisi, yaitu drama yang memiliki kemiripan dengan ketoprak bekas, hanya sekadar sandiwara tradisional ini berada di televisi.
  4. Dram film, yaitu drama yang biasanya menunggangi layar demes sebagai medianya.
  5. Drama wayang, ialah drama yang biasanya diiringi dengan pagelaran wayang.
  6. Drama boneka, yaitu pemeran dagelan ini bukan dimainkan oleh aktor secara langsung, melainkan menggunakan kendaraan anak-anakan bikin pemerannya.

Sementara itu Macam drama Berdasar keberadaan teks naskah tipe drama berdasarkan keberadaan bacaan naskah boleh dibedakan menjadi berikut :

  1. Sandiwara radio tradisional, yaitu drama yang dilakukan secara swadidik atau tak menggunakan skenario.
  2. Dagelan beradab, adalah drama yang dilakukan dengan adanya sebiah naskah.

Unsur-zarah Sandiwara bangsawan

Drama juga n kepunyaan zarah yang harus dipenuhi, meski sandiwara tradisional dapat berjalan dengan baik. Sejumlah unsur drama yang harus dipenuhi merupakan :

  1. Tema, yaitu ide pokok atau gagasan berasal dalam drama yang akan dimainkan.
  2. Silsilah, ialah jalan cerita yang harus dilakukan oleh para anak ningrat berasal semula hingga penutup narasi.
  3. Tokoh, adalah pemain atau pemeran berasal cerita sandiwara. Tokoh dalam drama rata-rata memiliki tokoh utama dan tokoh kepercayaan atau peran pembantu.
  4. Watak, yaitu resan yang harus diperankan oleh para anak tonsil sandiwara tradisional sesuai dengan cerita yang akan dibawakan. Watak dapat dibedakan menjadi dua yaitu watak protagonis maupun baik dan watak antagonis atau sadis
  5. Latar, yaitu dapat kasatmata parasan tempat, meres suasana, dan latar waktu nan diceritakan dalam dagelan.
  6. Amanat, yakni berupa pesan yang disampaikan oleh pengarang melangkahi cerita yang ditampilkan makanya para pemain lakukan para pirsawan.

Ciri-ciri drama

Berikut merupakan sejumlah ciri-ciri sandiwara radio yang harus ada dalam sebuah dramam ialah sebagai berikut :

  • Mempunyai konflik didalamnya
  • Cak semau aksi yang dimainkan sreg drama
  • Harus dilakonkan/diperagakan
  • Perian drama harus abnormal bersumber 3 jam
  • Tidak ada pengulangan dalam satu perian

Struktur teks drama

Supaya wacana drama dapat tersusun dengan baik, maka teks sandiwara harus mengandung beberapa struktur sebagai berikut :

  1. Kata merupakan fragmen awal berpokok sebuah dagelan. Prolog biasanya digunakan untuk mengobrolkan cerminan drama yang akan dimainkan secara awam.
  2. Dialog ialah putaran yang paling kecil penting dalam sebuah drama. Dialog berfungsi andai penghantar komunikasi antar tokoh.
  3. Epilog ialah adegan akhir maupun babak akhir bersumber sebuah dagelan. Epilog biasanya digdaya tentang kesimpulan dan pesan nan boleh diambil dari kisah drama tersebut.


Intensi sandiwara radio

Sebagai sarana hiburan bikin masyarakat, baik lingkaran pelajar maupun gudi mahajana, bikin Memperoleh siaran tentang seni teater dan Sebagai media pengembangan darah tentang estetika

Dalam artikel kali ini kami akan sediki mengulas tentang pola tulisan tangan sandiwara radio nan lengkap; tepi sebelum itu yuk kita  simak daftar isi dibawah ini:

Teoretis NASKAH Drama SEKOLAH  “STOP BULLYING”

Assalamualaikum wr wb.

Kami dari regu Elang akan menyampaikan sebuah sandiwara bangsawan nan berjudul “STOP BULLYING” . sebelum kami menampilkan ketoprak tersebut, kami akan memasyarakatkan diri.

Saya sendiri Ivan berperan sebagai pengarak programa.

Disamping kiri saya ada Zendi nan berlaku sebagai alamat bullying. Sebelahnya sekali lagi ada Rafli dan anggota genknya yang dolan bagaikan pegiat bullying. Adapun lebih lanjut Firly sebagai bapak guru. Dan kale sebagai imbangan dekat dari Zendi.

Seperti tajuk yang saya bacakan tadi. Kisahan ini membualkan tentang pembullyan . pembullyan sangat mempengaruhi sikap, sifat, fikiran, perilaku, kognitif, bahkan kejiwaan seseorang. Kita semua sudah memahami bahwa membully merupakan perbuatan yang dahulu tidak kemanusiaan, melanggar HAM dan ragam yang habis menyedihkan . pembullyan bukan belaka penggunaan kekerasan, membuyarkan atau meremehkan fisik. Tetapi pelecehan seacara lisan atau ancaman pula disebut  pembullyan, mulai dari pelecehan lisan tentang fisik, ras, agama, kemampuan, kualias sampai gender. Tindakan ini membuat trauma psikologis, ketakjuban, depresi, kekhawatiran, atau stres, gusar abtau malah sampai mortalitas.

Baiklah serta merta namun kami akan menampikan Sandiwara bangsawan SEKOLAH  yang berjudul “STOP BULLYING”

Sebelum pelajaran dimulai kiai temperatur memperkenalkan lawan baru bagi murid2nya. Dan bapak temperatur mempersilahkan kepada Zendy untuk memperkenalkan diri kepada teman-antiwirawan barunya.

Assalamualaikum wr wb. Selamat pagi antitesis-saingan label saya Zendi saya pindahan dari sekolah Pelita Jaya.

N partner-temannya bersikap acuh bukan acuh kepada Zendi. Hanya kale nan merespon dari perkenalan Zendi.

Kesudahannya bapak guru mempersilahkan Zendi lakukan duduk bangku paling depan

Selepas jam istrahat berlanjut disinilah Rafly dan lawan genknya tiba melakukan bullying kepada Zendi.

Kale nan tak terima berpokok perlakuan Rafly dan rival-nya, melaporkannya kepada gurunya.

Balasannya Rafly dan teman-temannya dipanggil makanya gurunya ke kantor.

Setelah dinasehati dan ditegur oleh gurunya. Mereka bertepatan merodong Zendi membully dan mengancam Zendi untuk enggak memberitahukan sikap mereka ke gurunya pun.

Pagi itu dikelas Zendi bukan turut sekolah tanpa tindasan pemberitahuan kepada gurunya. Kesudahannya gurunya langsung menanyakan sedarun ke semua muridnya. Doang hanyalah kale nan menjawap pertanyaan dari gurunya.

Ternyata Zendi sedang sakit dirumah.

Keesokan harinya Zendy masuk sekolah dengan keadaan lemau tidak berdaya. Diwaktu istirahat Zendi batik disecarik daluang sambil menangis tersedu-sedu. Bel timbrung kembali berbunyi teman-temannya turut kedalam kelas. Sahaja Zendi intern keadaan terbujur dilantai. Kale pun menghampiri dan mencoba membangunkan Zendi. Kale pula menangis ternyata Zendi sudah meninggal bumi. Dan ditangan kirinya suka-suka selembar kertas berbunyi :

“Saya tak kuat dengan perlakuan antiwirawan-temanku disini. Setiap hari aku dibully. Aku lain lestari berada disini. Apa salahku !  kenapa Rafli dan temannya membullyku”

Ternyata perlakuan Rafly dan saingan-temannya membuat Zendi tertekan, stres, dan setakat membuatnya meninggal dunia.

Kesan hikmah dalam kisah tersebut.

  1. Jahuilah perbuatan “BULLYING”
  2. Mulailah mengamalkan gerakan “STOP BULLYING’ dimanapun kalian berada.
  3. Peka pada kekerasan yang terjadi dan melakukan aksi melerai dan menasehati, adalah upaya nyata nan dapat kita lakukan.
  4. Laporkan kepada khalayak yang kalian percayai, kakak, paman, orang tua alias pihak berwenang kalau keadaan bully sudah terjadi.
  5. Dan mulailah tanamkan puas setiap diri kita sendiri bahwa semua ialah makhluk ciptaan Allah swt yang harus silih menyayangi dan menghargai.

Mungkin itu yanbg dapat kami persembahkan untuk penonton invalid lebihnya kami mohon maaf

Wassalamualaikum wr wb.

Konseptual Naskah Drama Tentang Kejujuran

Pada dikisahkan ada 5 sahabat karib yang sedang berandai-andai di pelataran sekolah dalam perbincangan tersebut, ada sebuah rencana untuk pergi ke Alfamart sedarun sepulang sekolah bakal membeli korban-bahan praktek membuat kue di sekolahnya.

Fara : “ Hari ini masih hari Kamis, yahhhhh masih lama ya hari minggunya …. “
Bidadari : “ iya dong, Emangnya hari minggu anda mau ngapain, Fara?
Bella : “ iya nih Fara, emangnya kamu mau ngapain sih hari minggu itu? “
Diah : “ Barangkali dia cak hendak pergi “
Fara : “ Nggak mengapa, aku Cuma mau bersih-bersih rumah, dan bantu cucu adam wreda toh, juga hari libur beb “
Dina : “ Ohhhhhh gitu yaaaa sregep sekali kamu“
Peri : “ Oh ya, hari senin kan ada tugas kewirausahaan, teman-teman “
Diah : “ oalah iya ta wi?
Bella : “ Oh iya iya ada tugas praktik. Rapat persaudaraan aja aku tengung-tenging “
Fara : “Oh ya sudah begini saja, hari pekan kita menyingkir ke Alfamart untuk beli bahan-bahannya, gimana? “

Dina : Okelah saya ngikut aja beb.
Dewi : “ Tapikan hari minggu rencana kepingin bersih-bersih fara.
Fara : “ oalah, gpp, Gampang, nanti aku ijin sama ibu “
Bella : “ Iya moralistis ijin ibumu aja dulu, pasti dapat, centung buat tugas sekolah juga “
Diah : “ Iya ibunya pasti ngijinin, cocok ? “
Dina: “ iya betul juga.
setelah dialog bareng tibalah kita lega masa Minggu, dan akhirnya 5 siswa tersebut berkumpul dan bergegas ke Alfamart buat membeli perlengkapan. Sesampainya di Alfamart .

Fara : “ Produk yang di perlukan apa doang ? “
Dewi : “ Kita centung mau buat kue, bintang sartan kita perlu tepung terigu, selai, telur, margarin, apa lagi yaaaa … “
Bella : “ ada pula, gula, pengembang roti, panili, susu dll “
Diah : “ Ayo cepat, cari bahannya tulat kelamaan disini lagi “

Setelah proses pembagian tugas radu, mereka berpencar kerjakan mencari bahan-bahan yang di inginkan sesuai dengan daftar belanja yang mereka susun sebelumnya, pasca- di rasa sudah radu merekapun berkumpul di arena yang sebelumnya mereka sepakati.

Peri : “ Bahannya sudah komplit semua? “
Bella : “ Kayaknya sudah “
Diah : “ Sudah sudah, sudah lalu insya Allah semua bulan-bulanan sudah komplit. “
Fara : “ Ya sudah, ayo kumpul ke kasir dan mengupah ini semua “

Setelah sampai di tempat kasir, mereka mengedrop barang-dagangan tersebut di atas bidang datar kasa bagi di kuantitas, sesudah itu mereka keluar dari Alfamart dengan membawa beberapa dompet plastik hitam di tangan yang berikan perlengkapan barang bakal mengerjakan tugas.

Bella : “ Totalnya berapa yaa … “
Haur : “ Rp 25.000,00 “
Bella : “ Kok sepertinya murah sekali, padahal kan barang nan kita beli banyak sekali “
Diah : “ Coba lihat daftar barang nan kita beli “
“ Wah, ternyata tepung terigunya belum di hitung, gimana nih ? “
Fara : “ Biarkan saja, tahi lalat yang salah kasirnya.. masak kita kembali sekali lagi kesana “
Dewi : “ Iya Ra, tapi kan kita nggak boleh begitu, kia kembali aja yuk, daripada kita dosa. mungkin kasirnya salah “
Fara : “ Ya mutakadim, ayo kita kesana lagi “

Selang kemudian, mereka sampai di Alfamart dan ikut sekali lagi menemui kasa yang tadi meladeni mereka.
Diah : “ Empok, maaf ini cak semau kesalahan. Tepung terigunya belum di hitung “
Kasir : “ Oh iya, maaf dek, kali tadi saya juga ngantuk, bintang sartan kelewat … “
Dina : “ OH iya Teteh, tidak apa-apa “
Kasir : “ Kalian kok jujur sih dek, jaman sekarang jarang lho suka-suka basyar yang jujur “
Dina : “ Kejujuran itu kan terdahulu ayuk “
Kasir : “ Iya dek, kalian moralistis “
Dewi : “ Ya sudah embok, kami minta diri mau pulang, “ , “ Assalamu’alaikum “
Kasir : “ Wa’alaikum salam warahmatullah.. membedabedakan di jalan dek ya peroleh belas kasih .. “
Dina : “ Iya teteh, sama-sama “

sesudah iya hingga iya di al famart mereka menemui kasir dan setelah dikasir iya menyampaikan bahwa keselahannya n domestik menghitung hasil belanjaannya.

kasir: ada yang bisa saya sokong mbak?

Dewi: mak ini kami kembali bikin meminang apakah serdak yang kami beli itu sudah anda hitung?

Bendaharawan: kayaknya sudah mbak, tapi coba saya lihat dahulu.

Dina: tadi saya lihat tepungnya masih belum di masukan hitungan.

Kasa: oh iya ya mbak, terima kasih atas kejujurannya kami ucapkan terima kasih, dulu selit belit sekali insan nan seperti sira.

Demikianlah skenario drama yang dapat kami tampilkan kejujuran itu perlu di tegakkan, terbiasa di lestarikan dan perlu di tanamkan sejak prematur agar menjadi anak asuh yang lestari dalam tindak sungu anak adam terutama taruna jaman sekarang, tak boleh di bandingkan dengan tip dinar, uang dirham ataupun peso internasional sekalipun. Apabila seorang sosok tidak memiliki rasam jujur, ia akan sulit di berkepastian orang lain, dapat mengandaskan lawe silaturrahim antar sesama orang islam dan hidupnya akan senantiasa di kelilingi oleh kesusahan.

Contoh Teks Drama Tengteng Kejujuran 2

Suatu hari sepulang sekolah, KRIIING bel pulangpun berbunyi Banyak sejumlah pelajar keluar dari ruang papan bawah untuk pulang.
Tony dan Vian berjalan bakal pulang kerumah masing-masing dimana mereka adalaha tetanggaan apartemen.

ketika perjalana Vian tidak lestari bagi menyergap rasa ingin campakkan air boncel lantas sira buang air kecil di halaman sekolah dimana disitu terserah sebuah pohon ringin besar yang sangat lebat.

Vian : “Ton aku buang air habis ok, sudah kebelet lepaskan air kecil nih !”
Tony : “Ya udah,cepetan buruan cak agar kita tidak telat nyampe rumah !”
Vian : “Ok,nggak lama cak kenapa.”

Kemudian Tony mengawasi sesuatu dibawah tumbuhan besar didekat pelataran.

Tony : “Segala apa  sih itu ? Kayaknya bukan produk berharga ?!”
Tak lama kemudian Vian nyusul Tony.
Vian : “Apa itu ? wah dompet.

Tony: wah iya tuh. Saku bagus nih

Vian: Dompet bisa jadi emang? Dimana kamu menemukannya dan Kapan kamu menemukannya ? Jangan-jangan dia nggak bener nih ?!”
Tony : :Ngaco ah kamu tanya nan bener dong, Aku nemu dompet ini dan nggak tau mana tahu pemiliknya soalnya belum ku buka”
Vian : “Ya udah cepetan di buka.”
Tony : “Ya Vian Siap!.”
Tony dan Vian : “Wow…banyak amat uangnya !”
Tony : “Cak semau kartu identitasnya lagi nih !.”
Vian : “Bener,sepertinya KTP pemilik ini kantong.”
Tony : “Rumah nih manusia deket kok,balikin yuk!”
Vian : “Ngapain pula terlazim dibalikin orang kita nemuin udah deh,mending kita bagi aja tuh uangnya.”
Tony :”Nggak kepingin ah,dosa Vian.”
Vian :Ya siapa suruh dia jatuhin tuh kantong.”
Tony : “Kalo kamu maksa,ya udah yuk kita buat dua.”
Habis mereka empat mata pulang.Selang 2 jam kemudian Johan main kerumah Jony kepentingan mengajak Jony berlaku.
Vian : “Jony,Jony ayo pergi main!”
Niam : “Eh engkau Johan,silahkan ikut! Jony kembali du suruh mamanya ngerjain pr lampau baru boleh main!”
Vian : “Ok kak,makasih.”
Niam : “Vian mau minun apa ? Embak buatkan!”
Vian : “Nggak terbiasa kak,nggak usah”
Niam : “Nggak dapat gitu dong Han,ayo ingin minum apa ?.”
Vian : “Ala kadarnya aja lah Kak”
Nia : “Tunggu sekilas ya”
Lantas munculah mama Tony.
Lucky : “Eh nak Johan, udah lama?”
Vian : “Plonco aja tante, Tante apa pengetahuan ?”
Lucky : “Baik.Ingin aja Tony berperan ya ?”
Vian : “Iya tan.Tante Tohan boleh nanya nggak ?”
Lucky : “Karuan.Kepingin nanya apaan ?”
Vian : “Kok Jony ngerjain pr-nya sekarang sih tante.Cerek kemudian hari malam juga bisa!.”
Lucky : “Kalau nanti malam kebanyakan Tony cepetan boboknya.”
Vian : “Gitu ya tante.Ya udah deh Vian tungguin aja.”
Lucky : “Iya,ditunggu aja,bentar lagi kembali udah selesai cak kenapa.”
Niam : “Ini munimnya Vian.Lekas diminum.”
Vian : “Iya kak,makasih.”
Niam : “Mam,cerek sekarang suka-suka jadwal arisan.”
Lucky : “Ya elah,mama lalai.Ya udah deh taajul berangkat Ton,mama pergi suntuk ya.”
Tony : :Iya mam.”
Tidak lama kemudian.
Vian : “Tony kok lama amat ya,padahal kalau aku cepet banget ngerjain pr gituan doing.”
Tony : “Sorry Han,lama nunggu ya ?.”
Vian : “Iya udah lama nih,dari tadi nungguin dia.”
Mereka berdua lantas duduk didepan rumah dan sedang membagi-bagikan uang hasil penemuan dompet dihalaman sekolah tadi siang.
Vian : “Cepat,kok lama banget!”
Tony : “Duitnya ada 200 ribu, Beliau 100 ribu,aku 100 ribu.”
Tidak lama berselang Lukman dating ke rumah Tony.(teman erat kaka Tony).
Lukman : “Hi Tony,Johan.Lagi plong ngapain ? Galibnya kalian main diluar,tumben pada nongol disini. Vian,Ton barang apa itu ? Uang boleh jadi kok banyak ?”
Vian : “Ya uang kita dong kak,masa tip basyar lain kita bawa.”
Lukman : “Ah,nggak mungkin kalian teko masih kanak-kanak,musim punya komisi sebanyak itu.Aku tanya kak Nia ya.”
Tony : “Sebenarnya ini bukan punya kita Mas,kita nemu dijalan.”
Lukman : “Kok nggak dibalikin ?”
Tony : “Aku udah mikir gitu Mas,tapi Johan yang ngotot ngajak ngebagi uang ini.”
Lukman : “Coba Mas liat alamat pemiliknya.”
Tony : “Tadi pamrih Jony mau balikin ke pemiliknya Mas,tapi Vian melarang.”
Lukman : “Nggak boleh gitu dong dik,itu namanya merampas kepunyaan orang tak sekalipun kalian nemu,karena nan bersangkutan teko membutuhkannya.”
Tony : “Aku udah bilang ke Johan tapi dianya masih ngotot.”
Lukman : “Ya udah deh,mendingan kalian balikin sekarang ke pemiliknya.”
Vian : “Pembebasan Mas,aku emang salah.”
Tony : “Mari kita balikin saku ini!.”
Mereka berdua lantas pergi kerumah tuan dompet tersebut dengan maksud bagi mengembalikannya.
Vian : “Selamat sore…”
Rony : “Tunggang..siapa?”
Vian : “Maaf ini betul rumahnya Rony ?”
Rony : “Betul,ada yang dapat dibantu ?kalian siapa ya ?”
Tony : “Kami berdua dating ke sini dengan harapan bakal menimbangi dompet yang tadi siang kami temukan di halaman sekolah.”
Rony : “Nemu kocek ? Sebentar ya,saya lihat sangat.Silahkan ikut !”
Rony masuk ke kamar dan mengecek dompet tersebut,sementara Tony dan Vian masih berada di ulas tamu.
Rony : “Benar,ini memang kocek saya.Terima anugerah banyak ya sudah cak hendak membandingbanding kocek saya nan kalian temukan.Kalian baik sekali.”
Vian : “Itu memang sudah menjadi barang bawaan kami bikin mengembalikan sesuatu yang menjadi hak hamba allah lain.”
Tony : “Benar.”
Rony : “Duuh terimakasih banyak ya.”
Tony dan Johan : “Setolok-sama!”

Teoretis Naskah Sandiwara Mengenai Kemerdekaan

Suatu hutan yang enggak bernama, meneteplah sejumlah penghuni pribumi nan enggak lain merupakan korban dari karas hati para kolonialis Belanda, mereka memutuskan melarikan diri dan bermigrasi ke hutan ini karena dirasa sudah tiada pun tempat yang baik untuk dmereka tinggali.

medan wilayah di perkotaan sudah dikuasi oleh penjajah sehiingga kini, udah bertahun-musim lamanya mereka bersembunyi di tempat seperti ini intern arti hutan.

Tak heran pun, jenggala itu mutakadim misal desa bagi mereka, meskipun jauh dari peradabaan, mereka bersyukur, karena hingga sekarang belum ada penjajah yang ki berjebah menemui mereka karena letaknya yang terpencil.

tapi disaat waktu yang tidak boleh ditentukan, mereka masih dapat meruntun peledak dengan objektif dan memenuhi kebutuhan hidup walaupun dengan sistem yang amat sederhana Ya, bikin sementara mereka aman tapi untuk selanjutnya kurang tau.

Di suatu senja, karib menuju magrib suara kicauan penis
Sejumlah penduduk yang lampau di hutan mulai melaksanakan aktivitasnya, Ibu-ibu di tanggungan tersebut menunggu
Sedangkan ketiga orang anak sedang berlaku medium riang-riangnya tanpa jenuh.

Do mikado mikado eska eska do eska do bela beli….

Andi: *bunyi kriuk-kriuk petanda medium “Mak… Lapar……” setengah menangis aku belum makan.

Ibu : ibupun menjalari Sebentar kembali nak, tunggu Kiai pulang bawa makanan untuk kalian

Anto: “Bagaimana kalau kita menari dulu? supaya kita pangling kalau kita semenjana kelaparan”

Gadis : “Oke, jikalau sedemikian itu biar mpok nan pimpin  arinya.”

*nari*

Tak lama kemudian dua bani adam kiai kembali sambil menggalas kayu bakar dan sayur-mayur yang mereka dapatkan bertaruk independen di sekitar jenggala mereka sangat.

Anam: “Bapak pulaang balasannya (berlari menjangkiti Buya)

Mereka mulai bersiap-siap bakal menyantap nafkah ketika derap ancang sepatu besar terdengar di wana ini.

Ibu dan 2 anaknya : kaget dan pusing awas Ada penjajah

Semua agak kelam dan Para pemukim pribumi itu kelimpungan, mereka berlarian ke sana ke marilah dengan gaduhnya dan buncah, apa yang harus dilakukan.

Ternyata kolonialis berakibat menemukan mereka padahal, tidak ada peta tentang hutan ini yang bisa penjajah temukan apalagi dengan pertolongan Google Maps, suara minor langkah pun makin terdengar. Kini, untuk mencari tempat persembunyian rasanya tak adv pernah sekali lagi.

*Suara Tembakkan DUAARRRRRRR angkat tangannya

(Munculah tuju orang kolonialis)

Mualim penjajah: *tertawa* “HAHAHAHA… Di sini kalian bersembunyi rupanya! SKAK MAT KALIAN. Hahahahhahahahahahah…”

Kolonialis 1: “Segala kami bilang, kami akan menemukan kalian.” *menggotong senjata*

bilamana itu Semua warga berdiri dengan ketakukan di pinggul atasan resan

Para kolonialis maju setapak demi setapak mendekati para pejuang.

Ketua adat menganjal: *Bagaimana, kita tidak n kepunyaan alat apapun untuk menghakimi mereka.” *Ketakutan*

Anak 3: (maju ke depan) “AYO Bertamadun, Jikalau BERANI”….

(Semua terkejut, kolonialis bengong) *Krik-krik…”
(Semua penjajah tertawa)

Penjajah 1: “WAH-WAH! Anak BAU KENCUR MENANTANG KITA, LANCANG SEKALI KAU, NAK!

(anak 3 ditarik maka dari itu anak asuh 1 dan 2)

Perempuan: (maju ke depan) “Apa? Apa nan kalian mau kembali? Kalian sudah berhasil mengambil provinsi kami, dan menyiksa sebagian dari penduduk kami. Tak puaskah dengan semua ini?? (berteriak)
Tolong… jangan lakukan juga!” *berlutut kepada penjajah*

Kolonialis 2: “Oh…… Bukan boleh, cak acap.” *mengedipkan mata dua boleh jadi ke sisi gadis)

(Semua anak komidi *backsound IEWWWWW*)

Juragan kapal Penjajah : “Mutakadim. jangan berlama-lama. Prajurit, Tangkap MEREKA!”

warga pribumi berlarian ke sana kemari-kemari, menghindari diri dari tangkapan penjajah belanda.

*backsound berkejar-kejaran, suara miring tembakan, teriakkan*

Majikan adat: “Semuanya, lari ke sini..”

(Warga pribumi langsung mengikuti jejak ketua adat, terlampau tiba-tiba seorang anak 2 terjatuh, dan di tangkap maka itu penjajah)
“Mak… Sampul… Tolong….”

(Bapak berbalik) “Anakku!” (berlari berusaha mengecualikan momongan 2, lalu anda juga ditangkap)

Kolonialis 3: “Jangan mendekat, atau mereka akan ditembak.” (Penjajah tidak ngangkat senjata)

Kapten Kolonialis: “Dukung mereka!” (Berbicara ke pada kolonialis lain)

Anak “Indung………………..”

Ibu: *Berteriak* “Jangan culik mereka… Anakku….. (berlari mengejar penjajah, tapi penjajah sudah menghilang)

Malang nian, hayat Si Ibu, bukannya sekarang sedang bersantap simultan tapi kedua orang yang disayanginya malah diculik kolonialis entah di dukung ke mana

Ibu: (termendak) “Anakku…… Suamiku…. Keluargaku……” * backsound menangis*

*nari*

(Semua penduduk pribumi mendekati ibu, dan menenangkannya)
Bapak 2: (menengadahkan tangan) “Ya Allah….. cobaan apalagi nan Engkau berikan kepada kami, negara-kami sudah habis dibantai maka dari itu koloni tak berprikemanusiaan sebagaimana mereka”

Ibu 2: (memeluk Ibu 1) “Yang sabar… Kita berdoa semoga mereka dilindungi Yang Kuasa..)

Lilin batik datang, tapi tidak sebagai halnya lilin batik-malam sebelumnya. Hutan yang tadinya nyaman-nyaman cuma didiami warga kini melongok menjadi alas yang terasa seram, mencekam. Karena penjajah telah menemukan jenggala ini. Mereka sudah mengetahui kesanggupan warga yang bersembunyi. Dan mereka boleh namun datang kembali, untuk mengambil dominasi negeri, bahkan meregangi nyawa-arwah para pribumi.

Ketua adat: (bolak-balik 7kali) *backsound cring.. AHA* “Warga.. Saya Ada Ide)

(Semua warga pribumi menghampiri Ketua adat) “Apa? Segala apa?” (Buntelan Bos ada berbisik)

(Ibu1, Ibu 2, Bapak 1, Gadis, dan ketua rasam berkumpul dan membuat galangan, entah apa yang mereka bicarakan)

(Anak 1 dan anak asuh 3): *menyanggang bahu* lalu bermain domikado Mikado eska eska do eska do bela beli

*backsound bendera*

Sehabis dempang satu jam mereka membaikkan sesuatu..

(remang) “Makara, SETUJU?”

(Ibu1, Ibu 2, Bapak 1, Gadis berdiri, anak 1 dan anak 3 menjangkiti)

Ibu1, Ibu 2, Bapak 1,: “Setuju!”

Anak 1 dan Momongan 3: “SETUJU!” *ala anak kecil”

*krik-kirik* (Ibu1, Ibu 2, Bapak 1, Kuntum, Majikan adat bengong, silam tertawa sinkron)

**

Di sebuah wana tidak, bukan jauh semenjak wana palagan bersembunyinya pemukim pribumi, protektorat penjajah belanda menyeret Bapak, dan anak tersebut dengan kaidah nan seperti itu sarkas.

Momongan 2: “Buya… Kita mau di dukung ke mana? (bersuara kepada Bapak)
Bapak 2: (Menggelengkan kepala) Tolong….. Lepaskan kami!”
Penjajah 3: “Segala apa? Lepaskan? Enak saja!”

(Momongan 2 dan Bapak 2 di ikat dengan rayon, dan dikurung) (Tinggal semua kolonialis mulai tidur)
Pemimpin kapal Kolonialis: Tetap di sini! Awas kalian!

*sound irama

**

*backsound kukuruyuk

Ke-esokan harinya.

Pagi datang mengerjap. Suara kicauan ceceh *repetan pelir* , serta obstulen tenangnya air yang mengalir di sungai *celaan air sungai* terdengar jelas di dalam sebuah hutan. Warga pribumi telah lama bangun, takhlik amunisi, yakni bamboo runcing. Sepertinya mereka akan bergeriliya di tengah wana.

Ketua adat: “Ayo, cepat. Sebelum kita terlambat.”

Penghuni pribumi kemudian menyusuri setiap hutan. Mencari-cari segala yang mereka harapan. Pemimpin rasam yakin, bahwa penjajah itu masih berada di jenggala.

Dan benar namun, dari jarak yang lumayan jauh dari jenggala mereka, mereka menemukan para penjajah tengah tergeletak, sepertinya sedang tertidur pulas.

Anak 1 dan anak 3 :”Itu, Mereka!” (menunjuk simultan)

Ibu1: (menhampiri) “Anakku…. Suamiku……….”

(Para penjajah terbangun)

Penjajah 3: “Ada barang apa ini?”

(Penduduk pribumi yang tak ikut mendekat)

Pemimpin kapal Penjajah: *bertepuk tangan* Wah-wah! Hebat lagi kalian, bisa mencerna kesanggupan kami!”

Penjajah 1: “Benar, Bos. Mereka menantang kita rupanya!”

Ketua aturan: “Menunduk lah kalian!”

Kolonialis 3: “Wah-wah besar juga nyalinya!
Kapten Penjajah: (maju selangkah) Dengan amunisi jenis ini, kalian ingin menandingi kami? CUIH! (meludah)

Kiai 1: Jangan banyak cingcong, mari selesaikansegera !”

Pemimpin kapal Kolonialis: (marah) SIAPKAN SENJATA KALIAN, SERANG!………….

(Berperang…..)

Perang sengit sekali lagi terjadi. Warga pribumi mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan kolonialis-kolonialis Belanda yang sekali lagi tak mau kalah. Suara tembakan senapan terdengar di udara. Senjata panjang lidah dan bamboo jirus berpacu dalam suatu waktu. Mungkin yang menjuarai..

Satu-sendirisendiri-suatu kolonialis runtuh pertahanannya. Senjata itu ternyata tidaklah sehebat desainnya. Nyatanya, tusukan sebuah bamboo runcing sederhana lah yang lebih cepat melumpuhkan para kolonialis itu.

(Tinggal tersisa nakhoda penjajah, dia melongo-longo melihat prajurit-nya yang telah jatuh. Warga pribumi mengarahkan bamboo runcingnya dan melangkah menuju Kapten Penjajah)

Nakhoda penjajah mendadak ketakutan, keringat sebesar ponten jagung bermunculan dari wajahnya, ia pun mengamalkan sesuatu..

(Kapten penjajah, menembakkan dirinya koteng dengan senjata, ambruk, dan mati)

(Warga pribumi terpelongo bikin sesaat)
*Sound tanda kemenaangan
“MERDEKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…… KITA MERDEKAAAA…….. MERDEKA…….” *Berteriak bahagia.

Akhirnya, impian penjajah bikin lakukan menguasi petak air lebih jauh nampaknya harus dikubur n domestik-dalam. Dikubur intern-dalam pula bersama jasad mereka kalah dalam pertempurang di medan perang. Manuver warga pribumi lakukan mengeyahkan mereka bukanlah sekedar sia-sia. Kini, mereka bisa lagi lagi ke kewedanan peradabaan Mereka. Mereka.. Mereka yang sudah berkorban atas apapun kerjakan negaranya, adalah pejuang! Pejuang nasion! Bangsa Indonesia! Mereka tekun pahlawan.

Tapi, jangan lupakan kembali pahlawan nan satunya lagi…”

“Bambu runcing yang tersisa”

Source: https://syahrulanam.com/contoh-naskah-drama/