Pakaian Adat Suku Talang Mamak

“Pegawai” menancapkan keris sebagai pusaka yang diserahkan waris pengantin laki-laki saat “berunding” ke “
tokukan
” buat melegalkan pernikahan kedua kemantin dalam rangkaian pelaksanaan “gawai” (ritual pernikahan). Foto:

Wahdi


Septiawan
/ANTARA FOTO


Perdusunan masyarakat rasam Suku Talang

Om

yang sepi di tengah belantara Cagar alam Bukit

Tigapuluh

(

TNBT
), Dusun

Bengayauan
, Rantau

Langsat
, Layon

Gangsal
, Indragiri Hulu,


Riau

, mendadak gegap-gempita momen akan digelarnya upacara “gawai” sreg Senin (17/8) lalu.


“Gawai” yang yakni seremoni


ijab nikah


secara adat masyarakat Kaki Talang

Mamak
, nan digelar di tengah pandemi COVID-19 tersebut dilakukan secara pilih-pilih dengan menerapkan pembatasan dan pengetatan pengawasan kerjakan para tamu, khususnya peziarah dari luar kawasan.


Upacara “perlengkapan” nan langka nan kebetulan serta merta dengan peringatan Hari Hari jadi Ke-75 Kebebasan Republik Indonesia itu menjadi semacam oasis di tengah mulai hilangnya kearifan lokal awam rasam di bilang provinsi di Petak Air.

Perkakas “berunding” yang terdiri dari “rukun nan lima” (kinang, pinang, pancasuda, kapur dan tembakau), cincin dan mandil disiapkan sebelum memulai pelaksanaan “perlengkapan” (formalitas pernikahan). Foto:

Wahdi


Septiawan
/ANTARA FOTO


Sepiring “rukun yang lima” yang terdiri bermula kinang, jambe, gambir, kapur dan mole menjadi perantara wajib privat setiap janjang “gawai” masyarakat adat Kaki Perantara

Mamak
.


Dimulai bersumber pemberitahuan ke Pemerintah Desa sampai perundingan di tingkat waris kedua kemantin, “cemilan rasam” itu cerbak dibawa ibarat “syarat berunding”.


Dalam


tradisi


Kaki Talang

Mamak

Dusun

Bengayauan
, “gawai” diawali dengan pemberitahuan makanya “mangku” ke pemegang kekuasaan teratas di tingkat Desa. Setelahnya, barulah tataran “perangkat” bisa dilaksanakan nan dimulai dengan tradisi “mandi limau” yang dipandu waris perempuan dari pengantin perempuan.

Favorit mempelai maskulin dan perempuan melaksanakan “mandi limau” yang dipandu waris pengantin cewek internal rangkaian pelaksanaan “instrumen” (ritual pernikahan). Foto:

Wahdi


Septiawan
/ANTARA FOTO


“Bersiram lemon” mengandung makna pembersihan diri dan tanda kepatuhan pada upacara dan hukum resan misal pengantin. Sehabis itu, secara maraton tahapan “gawai” berikutnya adalah “berunding” yang melibatkan waris pengantin laki-laki, waris pengantin perempuan, pihak RT, dusun, dan “pegawai”.


“Tenaga kerja” sendiri adalah pemuka adat yang memiliki wewenang menyahihkan pernikahan pada

mahajana

adat Suku Pialang

Mamak
.


Dalam tahapan “berunding
“,

selain menyampaikan maksud dan tujuan sambil saling menyerahkan “berbaik yang lima

“,

cincin dan sapu tangan, waris merapulai laki-laki juga menyerahkan pusaka (umumnya keris) sebagai syarat berjasa perlengkapan adat saat meminang perempuan.


Pusaka itulah yang nantinya juga menjadi tanda dan puncak pengesahan jalinan maka itu “sida-sida” yang disaksikan kedua waris pengantin, pemuka kebiasaan, pemimpin tadbir di tingkat dusun dan para pengunjung.

Waris lanang dan pemudi

mengarak

kedua mempelai ke hadapan pemuka adat dan para tamu kerjakan “bersanding”. Foto:

Wahdi


Septiawan
/ANTARA FOTO


Meski seperti itu, pengabsahan nikah oleh “pegawai” secara rasam di sejumlah tempat lega umum adat Suku Pialang

Om

di Kabupaten Indragiri Hulu belum sedarun menjadi sah di mata negara.


Kedua mempelai Suku Broker

Paman

tersebut mesti berbuat “ijab kabul kedua” di hadapan pemuka agama setempat guna mendapatkan keabsahan. Justru, bukan cacat mulai sejak mereka menikah “ulang” di luar perkampungan tempat tinggalnya.


Sreg momentum peringatan hari kedaulatan, para pemangku adat dan generasi penerus Tungkai Talang

Mamak

di kewedanan itu berharap upacara “gawai” yang terancam punah tersebut bisa diakui misal ritual pernikahan nan sah di alat penglihatan negara.

Source: https://kumparan.com/kumparantravel/foto-melihat-gawai-tradisi-pernikahan-adat-suku-talang-mamak-di-riau-1u6idqhbE9d