Pengertian Aqidah Menurut Ibnu Khaldun

Referat Signifikasi Akidah


1.




Signifikansi Akidah

Akidah berotot terbit kata


yang berarti tali pengikat sesuatu dengan yang lain, sehingga menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika masih dapat dipisahkan berarti belum ada pembebat dan serentak berarti belum ada akidahnya. Dalam pembahasan yang masyhur akidah diartikan sebagai iman, pembantu alias keyakinan.

Dalam analisis Selam, akidah berarti lawai pembalut batin manusia dengan yang diyakininya ibarat Tuhan nan Esa yang memadai disembah dan Pencipta serta Pengatur standard semesta ini. Abdul Ghani memeberi konotasi akidah sebagai sebuah keyakinan kepada hakikat yang faktual nan tak menerima keraguan dan sambutan. Apabila asisten terhadap hakikat sesuatu itu masih cak semau unsur keraguan dan kebimbangan, maka tidak disebut akidah. Jadi akidah itu harus kuat dan enggak terserah kelemahan yang membuka jeruji untuk dibantah.

Sedangkan M. Syaltut menyampaikan bahwa akidah adalah pondasi yang di atasnya dibangun hukum syariat. Syariat adalah perwujudan dari akidah. Oleh karena itu hukum yang kuat adalah syariat yang lahir berpangkal akidah yang kuat. Tidak ada akidah tanpa syariat dan bukan mungkin syariat itu lahir jika tidak cak semau akidah.

Mantra yang mengomongkan akidah disebut guna-guna akidah. Guna-guna akidah menurut para ulama’ adalah sebagai berikut:

  1. Syekh Muhammad Abduh mengatakan ilmu akidah adalah guna-guna yang membahas tentang wujud  Tuhan, tentang sifat-sifat nan mesti tetap ada puas-Nya, juga membahas adapun rasul-rasul-Nya, mustakim mereka, meyakinkan segala yang terbiasa terserah pada mereka, apa nan boleh dihubungkan pada diri mereka dan apa yang terlarang menghubungkan kepada diri mereka.
  1. Menengah Ibnu Khaldun mengartikan ilmu akidah adalah ilmu nan membahas kepercayaan-ajun iman dengan dalil-dalil akal dan menampilkan alasan-alasan untuk menolak kepercayaan nan bertentangan dengan pendamping golongan
    salaf
    dan
    ahlissunnah.
  1. Kemudian Syekh Husin memahamkan hobatan akidah adalah hobatan yang ceratai bagaimana mematok tangan kanan-kepercayaan keagamaan (Islam) dengan bukti-bukti yang optimistis.

Dari tiga signifikansi di atas bisa disimpulkan bahwa ilmu akidah adalah ilmu yang ceratai segala apa hal yang gandeng dengan rukun iman kerumahtanggaan Islam dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang valid.

Semua yang tersapu dengan rukun iman tersebut sudah disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 285:


Rasul telah percaya kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula turunan-orang yang berkepastian. semuanya berkeyakinan kepada  Halikuljabbar, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan utusan tuhan-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan nan lain) dari rasul-utusan tuhan-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami teguh.”



(mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah medan kembali.”

Dalam suatu titah Utusan tuhan saw. menjawab pertanyaan Malaikat Roh kudus mengenai iman dengan mengatakan:

اَ
نْ تؤْ مِنُ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاْليوْمِ اْلاخِرِ وَتؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِهِ



 “Bahwa kamu beriman kepada  Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, nabi-rasul-Nya dan hari akhirat. Dan sekali lagi beliau berkeyakinan kepada qadar, nan baik dan yang buruk.”

Berdasarkan perkataan nabi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa rukun iman itu suka-suka enam:

1.


iman kepada  Allah

2.


iman kepada Malaikat  Almalik

3.


iman kepada kitab-kitab Alalh

4.


iman kepada rasul-utusan tuhan  Sang pencipta

5.


iman kepada tahun akhirat,

6.


iman kepada qada’ dan qadar.

Seabagaimana telah kita diketahui bahwa agama Islam itu berasal dari empat sumur: al-Qur’an, titah/sunnah rasul,
ijma’
(ijmak) dan
qiyas. Akan hanya bagi akidah Islam sumbernya cuma dua saja, yaitu al-Qur’an dan perkataan nabi mutawatir (adalah hadis yang diriwayatkan maka dari itu orang banyak nan tidak mungkin mereka itu cocok cak bagi berdusta dalam menanggali hadis itu)

Situasi itu berarti akidah mempunyai sifat keimanan dan kepastian sehingga bukan mungkin ada peluang buat seseorang untuk meragukannya. Dan kerjakan setakat pada tingkat keagamaan dan kepastian ini, akidah Islam harus mulai sejak puas dua warisan tersebut yang lain ada keraguan sedikitpun bahwa sira diketahui dengan pasti berpangkal berpangkal nabi.

Minus pesiaran mulai sejak dua perigi utama al-Qur’an dan sunnah nabi, maka sulit bagi manusia kerjakan mengarifi sesuatu yang bersifat ki amblas tersebut.


2.




Dalil / Argumentasi dalam Akidah

Dalam menggunjingkan akidah harus diajukan argumentasi yang benar yang memadai disebut Dalil. Dalil dalam akidah ada dua yaitu:

a.


Dalil Aqli




).

Dalil yang berdasarkan cara berpikir. Yaitu cara berfikir nan sehat dan ter-hormat. Dalil Aqli dapat digunakan bikin memperbincangkan ilmu Akidah karena Akidah Islam itu berlaku bagi orang-orang nan mempunyai akal geladak yang sehat. Orang yang tidak mampu mempergunakan akalnya karena terserah gangguan, maka bukan dibebani bakal memahami Akidah. Segala yang menyangkut dengan Akidah, kita bukan boleh meyakini secara ikut-ikutan, melainkan berdasarkan keyakinan yang dapat dipelajari sesuai dengan akal busuk yang segar.

b. Dalil Naqli




)

Walaupun akal manusia bisa menghasilkan kemajuan ilmu dan teknologi, sahaja harus disadari bahwa betapapun kuatnya kiat pikir manusia, ia tidak akan sanggup mengetahui hakekat zat  Tuhan yang sebenarnya. Manusia lain memiliki kemampuan cak bagi menginvestigasi yang ghaib, bakal mengetahui yang ghaib itu kita harus lega dengan petunjuk  Halikuljabbar. Ajaran itu yang disebut dalil Naqli.

Kebenaran Dalil Naqli ini bersifat Qoth’iy (tentu), kebenarannya mutlak serta berlaku lakukan semua ruang dan musim.

Dalil Naqli ada dua ialah Al-Qur’an dan hadis Nabi. Hal-keadaan yang tidak dapat dijangkau oleh akal busuk, cukup diyakini kebenarannya minus harus membuktikan dengan akal. Termuat ke intern fragmen ini adalah hakekat peristiwa-keadaan nan ghaib, begitu juga kiamat, alam samar, alam makhsyar, surga, neraka, malaikat,dan lain sebagainya.


3.




Tujuan Akidah Islam

Menurut Syaikh Utsaimin Akidah Islam mempunyai banyak tujuan yang baik yang harus dipegang, yaitu:



a.


   Untuk merelakan niat dan ibadah kepada  Allah satu-satunya. Karena Beliau adalah Pencipta yang enggak ada maskapai bagi-Nya, maka tujuan dari ibadah haruslah diperuntukkan kepada-Nya satu-satunya.



b.


    Membebaskan akal dan pikiran dari kegalauan yang timbul pecah kosongnya hati dari akidah. Karena orang yang hatinya zero dari akidah ini, adakalanya kosong hatinya dari setiap akidah serta menyembah materi yang dapat diindera saja dan sewaktu-waktu mengendap sreg berbagai kesesatan akidah dan khurafat.



c.


    Ketenangan kehidupan dan pikiran, tidak kalut dalam jiwa dan tidak goncang n domestik pikiran. Karena akidah ini akan menghubungkan insan mukmin dengan Penciptanya sangat rela bahwa Dia laksana Tuhan nan mengatur. Hakim yang Membuat tasyri’. Makanya karena itu hatinya mengamini takdir, dadanya lapang untuk takluk adv amat tidak mencari pengubah nan tak.



d.


   Meluruskan tujuan dan polah dari penyelewengan dalam beribadah kepada  Allah dan bermuamalah dengan orang lain. Karena di antara sumber akar akidah ini adalah mengimani para rasul yang mengandung mengimak jalan mereka yang lurus internal tujuan dan polah.



e.


    Bersungguh-alangkah dalam segala sesuatu dengan enggak menyabarkan kesempatan bersedekah baik kecuali digunakannya dengan mengharap pahala serta enggak mengaram tempat dosa kecuali menjauhinya dengan rasa samar muka dari siksa. Karena di antara asal akidah ini yakni meyakini kebangkitan serta perjuangan terhadap seluruh ragam.






“Dan masing-masing makhluk yang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka bagi


.” (QS. al An’am ayat 132)

Nabi Muhammad  saw. sekali lagi mengimbau bagi tujuan ini dalam sabdanya:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ، اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَلاَ تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ، وَمَا شَاءَ


فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ




.


“Sosok Mukmin yang kuat itu bertambah baik dan makin dicintai oleh  Almalik daripada orang mukmin yang lemau. Dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap sesuatu yang berguna bagimu serta mohonlah uluran tangan dari  Allah dan jangan lemah.



Jika engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah beliau katakan: Seandainya aku lakukan begini dan begitu. Akan tetapi katakanlah: Itu suratan  Halikuljabbar dan segala nan Dia kehendaki Sira bakal.



Sepatutnya ada mengandai-bagaikan itu membuka ulah setan.” (HR Muslim)


f.


Meraih kepelesiran bumi dan darul baka dengan memperbaiki individu-hamba allah atau kelompok-gerombolan serta meraih pahala dan kebesaran.






“Barangsiapa yang mengamalkan amal baik, baik pria maupun wanita dalam situasi beriktikad, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri persabungan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik berusul apa yang sudah mereka kerjakan.”


( QS. An Nahl/16 ayat  97)


4.




Metode-metode kenaikan kualitas akidah

Seorang orang islam harus memiliki kualitas akidah yang baik, yaitu akidah nan sopan, kokoh dan tangguh. Kualitas akidah tidak hanya diukur dari  kemauan seseorang bakal berketentuan kepada Halikuljabbar Swt. atau kepada yang lain seperti nan tercantum di internal rukun iman. Sekadar makin jauh berasal itu, kepercayaan itu harus bisa dibuktikan dalam praktik spirit sehari-musim. Berkeyakinan saja tidak cukup, tapi harus dikuti dengan tindakan faktual dalam nyawa sehari-periode di manapun berada.

Contoh seseorang nan beriman kepada Allah Swt. maka anda harus melakukan semua yang diperintahkan Allah Swt. dan menjauhi semua nan dilarang-Nya. Jika ia berkeyakinan kepada kitab  Allah, maka ia harus melaksanakan ajaran-wahi yang cak semau di dalamnya. Jika ia beriman kepada para rasul  Sang pencipta, maka ia teristiadat melaksanakan ajaran yang disampaikan para rasul dengan sebaik-baiknya serta meneladani akhlaknya.

Bakal itu mengingat pentingnya kekuatan akidah itu dimiliki oleh setiap mukmin, maka diperlukan upaya-upaya atau mandu-cara nan baik agar bisa meningkatan keyakinan dan memuluskan menerapkan semua keyakinannya itu di dalam kehidupannya di masyarakat. Sebab ajudan atau religiositas itu bisa tumbuh paling kecil tidak karena tiga hal; yaitu karena mencontoh orang tua maupun mahajana, karena suatu anggapan dan karena suatu pemikiran (dalil akli).

Di antara mandu alias metode yang bisa diterapkan yakni





(1)   melangkahi pembiasaan dan keteladanan.


         Pembiasaan dan keteladanan itu boleh dimulai bersumber batih. Di sini peran orang wreda habis penting agar akidah itu bisa tertanam di lubuk hati sanubari anggota keluarganya sedini mungkin. Kemajuan penanaman akidah tidak hanya menjadi tanggungjawab master saja, sekadar menjadi tanggungjawab smua pihak. Karena  itu, semuanya harus terlibat. Selain itu pembiasaan hidup dengan kekuatab akidah itu harus dilakukan secara berulang-ulang (istiqamah), sepatutnya menjadi semakin awet keimanannya.


(2)    melampaui pendidikan dan pengajaran

         Pendidikan dan indoktrinasi bisa dilaksanakan baik kerumahtanggaan tanggungan, umum atau tulang beragangan pendidikan formal. Pendidikan keagamaan ini memerlukan  keterlibatan orang lain untuk menanamkan akidah di privat hatinya. Penanaman kalimat-kalimat yang baik sebagaimana dua kalimat syahadat dan kalimat
laa ilaha ill Tuhan
(tiada Tuhan selain  Allah) silam berguna bagi mengeraskan keyakinan seseorang. Pendidikan dan pengajaran menjadi salah satu cara yang tepat dalam menanamkan akidah dan meningkatkan kualitas akidah.Selam mendidik manusia supaya menjadikan akidah dan syariat  Sang pencipta sebagai hakim terhadap seluruh kelakuan dan tindakannya. Oleh sebab itu, pendidikan Islam menjadi pikulan basyar lanjut umur dan guru di samping menjadi mualamat yang harus dipikul makanya satu generasi untuk disampaikan kepada generasi berikutnya, dan dijalankan oleh para pendidik internal mengolah anak-anak.


5.




Prinsip-prinsip akidah Selam

Prinsip-pendirian akidah secara keseluruhan tercakup dalam sejumlah kaidah terbit seluruh sistem agama Selam yaitu satu sistem yang serasi, koheren, dan terjalin dengan baik. Cara-prinsip tersebut adalah:



a.


Syahadat dan keyakinan bahwa Almalik Swt. adalah Esa.

Esa dalam Zat, Sifat dan Ragam-Nya. Keimanan kepada  Allah dan bagasi koteng belaka menyembah kepada  Halikuljabbar,  tidak bisa diselingi dengan kepercayaan atau keyakinan kepada yang lain.



b.


Pengakuan bahwa para nabi telah diangkat dengan sepantasnya oleh Yang mahakuasa Swt. cak bagi menuntun umatnya. Keyakinan bahwa para nabi merupakan utusan Almalik Swt. sangat penting, sebab ajudan yang awet  bahwa nabi itu merupakan utusan  Almalik, mengandung konsekuensi bahwa setiap orang harus memercayai apa nan dibawa oleh para rasul utusan  Allah tersebut positif kitab zakiah. Religiositas akan legalitas kitab suci menjadikan orang punya pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia ini.



c.


Kepercayaan akan adanya periode kebangkitan. Keimanan seperti ini memberikan kesadaran bahwa roh dunia bukanlah akhir dari segalanya. Setiap orang pada hari akhir nanti akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban sejauh hidup di dunia.



d.


Religiositas bahwa Tuhan Swt. yaitu Maha Adil. Jika keyakinan seperti ini tertanam di n domestik hati, maka akan menumbuhkan keyakinan bahwa segala apa nan dilakukan akan  mendapatkan perbantahan berpangkal Allah Swt. Orang yang mengamalkan kebaikan akan mendapatkan tentangan nan baik, seberapapun kecilnya kebaikan itu. Sebaliknya perbuatan jelek sekecil apapun akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah Swt.

Source: http://makalahqw.blogspot.com/2017/03/makalah-pengertian-akidah.html