Pertanyaan Tentang Komunikasi Non Verbal

dalam upaya menafsirkan sikap, pendapat, dan perilaku seseorang karena sifatnya dialogis dan revolusi baliknya bersifat kontan. Dengan demikian, komunikasi interpersonal ini tentu dibutuhkan privat proses konseling untuk mendukung kemajuan konseling tersebut.

Pendirian KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Berikut ini akan diuraikan beberapa prinsip komunikasi interpersonal (Gunarsa, 1996) antara lain:

1. Komunikasi interpersonal bersifat relasional

Semua aktivitas komunikasi mengikutsertakan proses penukaran makna dan negosiasi mengenai afiliasi orang-individu di dalamnya. Dua matra hubungan dapat terjadi selama interaksi, yaitu afek dan kontrol.

Afek adalah perhatian rajin nan tukar dirasakan maka itu

partisipan. Misalnya perkataan dari Manjapada ke Citra ,”Hai,

senang bertemu dengan Anda”. Perilaku nonverbal yang

menyertai introduksi-kata itu menunjukkan dengan hal apakah Bumi benar-benar doyan beradu dengan Citra (afek positif). Jika Mayapada tersenyum dengan celaan lembut, menatap mata Citra dan menepuk pundaknya, Citra akan merasakan tanda-logo afeksi. Jika sebaliknya, Citra akan merasakan hal itu sebagai basa-basi.

Yang kedua adalah yuridiksi.

Dominasi adalah tingkat otoritas seseorang terhadap yang

lain. Biasanya dominasi nikah bukan merupakan topic pembicaraan, tapi ditunjukkan melalui cara partisipan

7

KOMUNIKASI

INTERPERSONAL

100

Komunikasi dalam Konseling – bag 2
Komunikasi dalam Konseling – bag 2Komunikasi kerumahtanggaan Konseling – bag 2
97

101

Seperti sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa komunikasi interpersonal adalah jenis komunikasi yang dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat, dan perilaku seseorang karena sifatnya dialogis dan arus baliknya berperilaku simultan. Dengan demikian, komunikasi interpersonal ini pasti dibutuhkan dalam proses konseling untuk mendukung keberhasilan konseling tersebut.

PRINSIP KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Berikut ini akan diuraikan sejumlah mandu komunikasi interpersonal (Gunarsa, 1996) antara tak:

1. Komunikasi interpersonal berperangai relasional

Semua aktivitas komunikasi melibatkan proses penukaran makna dan negosiasi mengenai hubungan makhluk-orang di dalamnya. Dua matra asosiasi bisa terjadi selama interaksi, yakni afek dan kontrol.

Afek adalah perhatian besar perut yang saling dirasakan oleh

partisipan. Misalnya ucapan dari Bumi ke Citra ,”Hai,

senang bercocok Ia”. Perilaku nonverbal nan

menyertai alas kata-kata itu menunjukkan dengan hal apakah Bumi bermoral-etis gemar bertarung dengan Citra (afek positif). Jika Bumi tersenyum dengan celaan lembut, menatap alat penglihatan Citra dan mengemplang pundaknya, Citra akan merasakan tanda-segel afeksi. Seandainya sebaliknya, Citra akan merasakan situasi itu misal basa-basi.

Nan kedua adalah yuridiksi.

Kontrol adalah tingkat dominasi seseorang terhadap yang

lain. Biasanya pengaturan hubungan enggak merupakan topic pembicaraan, tapi ditunjukkan menerobos cara partisipan

7

KOMUNIKASI

INTERPERSONAL

KOMUNIKASI

Privat KONSELING

(bagian 2) 7

102

Komunikasi dalam Konseling – bag 2 Komunikasi dalam Konseling – bag 2

103

Komunikasi dalam Konseling – bag 2 98

berinteraksi. Pengaruh hubungan boleh bersifat komplementer atau simetris.

Komplementer -> seseorang merelakan yang lain

menentukan siapa nan memiliki pengaruh lebih besar. Dengan demikian, pesan komunikasi seseorang bisa meenyatakan dominasi, sementara pesan komunikasi orang yang lainnya menerima tuntutan atau kekuasaan itu.

Simetris -> seseorang tidak sepakat pada siapa yang congah

n domestik yuridiksi. Ikatan ini terjadi detik pesan ditafsirkan misal gerakan lakukan mendominasi, sedangkan yang tidak menentangnya dengan cara menunjukkan kurnia atau pengaruhnya. Atau apabila pesan seseorang secara bungkam-diam melepaskan kekuasaan, sementara nan lain membalasnya dengan cara menolak dominasi.

2. Komunikasi interpersonal mengandung maksud

Momen seseorang merenjeng lidah dengan cucu adam enggak, makhluk itu mempunyai alasan untuk melakukannya. Komunikasi itu dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang dirasakan seseorang. Teladan, ketika Busro berjalan mendahului Alwi di kronologi, kebutuhan sosialnya harus dipenuhi dengan sambil
mengatakan, “Hai Alwi, barang apa proklamasi?”. Maksud Busro akan

tercapai kalau Alwi memasrahkan respon.

3. Komunikasi interpersonal bisa dipelajari

Kurnia komunikasi interpersonal yaitu hasil bersama-sama dari keterampilan yang dipelajari. Misalnya jika tanggungan kita berucap kerumahtanggaan bahasa Inggris, kita berlatih berkomunikasi n domestik bahasa Inggris. Takdirnya keluarga kita berketentuan bahwa menatap ain khalayak secara sinkron ketika berbicara adalah tindakan yang lain sopan, kita akan belajar untuk menundukkan rukyah saat bertutur.

4. Komunikasi interpersonal berlangsung terus menerus

Karena komunikasi interpersonal bisa berbentuk non verbal maupun verbal, kita selalu mengirim pesan yang kemudian disimpulkan atau dimaknai orang lain. Kapan pun seandainya terserah dua orang nan silih menyadari keikhlasan dan pikiran masing-masing, disitu terjadi komunikasi. Bahkan takdirnya kita hanya diampun, khalayak tak boleh mengambil kesimpulan tentang perilaku diam kita. Sebagai komunikator yang terampil, kita harus peka terhadap wanti-wanti. Apakah itu eksplisit atau implisit yang secara terus menerus kita kirimkan kepada bani adam tak. Salah satu prinsip komunikasi interpersonal adalah dapat dipela-ujung tangan, sehingga konselor perlu mempelajari dan mengaplikasikannya n domestik konseling. Hal ini diperlukan bakal dapat menciptakan

Komunikasi dalam Konseling – bag 2 99

rangkaian terapeutik yang nyaman, dan boleh mengangkut lega kejayaan konseling.

Onderdil-komponen dalam skill komunikasi interpersonal

(Hartley, 1999) yaitu:

– Komunikasi Non Lisan

Meliputi ekspresi wajah, gestur, postur, bodily contact, perilaku

spasial, busana dan manifestasi, vokalisasi, dan sebagainya
– Reinforcement

Merujuk plong perilaku yang mendorong klien berkisah lebih lanjur atau mengulanginya. Misalnya, anggukan pemimpin, “uh-huh” “mm-mm”.

– Questioning

Terdiri dari pertanyaan terbuka nan memerlukan jawaban tangga dan soal tertutup yang hanya teristiadat jawaban pendek seperti ya atau enggak. Pewawancara nan sedikit pengalaman, dapat meminta banyak tanya terlayang dan tidak dapat mengelaborasikan jawaban klien.

– Reflecting

Skill ini biasa digunakan makanya konselor dan cucu adam- orang nan

memimpin wawancara yang sangat personal dan orang- hamba allah yang cak hendak orang lainnya bersabda secara rinci mengenai
perasaan dan sikapnya. Reflecting ini terdiri berasal keyword,

paraphrasing, dan reflecting feeling.

Keyword meliputi identifikasi pengenalan kunci atau frase oleh

mustami hendaknya orang dapat berbicara alias mendongeng lebih banyak.

Paraphrasing meliputi pengambilan kesimpulan maka dari itu pendengar

terhadap apa yang telah didengarnya dengan bahasanya sediri.

Reflecting feeling adalah identifikasi terhadap perasaan orang

yang merenjeng lidah dari apa yang dibicarakannya.
– Opening and closing

Merujuk sreg prinsip kita memulai dan mengakhiri suatu interaksi. Pilihan cara lakukan memulai suatu percakapan yaitu keadaan yang lewat terdahulu, terlebih pada keadaan sahih seperti wawancara.
Hal ini dikarenakan opening dapat membangun suasana yang

positif atau pun subversif. Tiga mandu bakal memulai wawancara, yaitu:

(1) Social opening. Pewawancara memastikan orang yang

diwawancara mujur purwa yang nyata dan menghabiskan sejumlah saat internal pembicaraan sosial – mencairkan suasana – sebelum titik api plong persoalan utama.

(2) Factual opening. Pewawancara mulai dengan

mendeskrip-sikan secara jelas fakta-fakta yang utama, bisa dengan menjelaskan tentang peran mereka privat interviu, menjelaskan tentang bagaimana mereka melihat intensi interviu, ataupun pun dengan menyimpulkan apa yang sudah terjadi.

102

Komunikasi n domestik Konseling – bag 2 Komunikasi dalam Konseling – bag 2

103

Komunikasi dalam Konseling – bag 2 99

hubungan terapeutik yang nyaman, dan boleh membawa pada kemenangan konseling.

Onderdil-onderdil dalam skill komunikasi interpersonal

(Hartley, 1999) yakni:

– Komunikasi Non Verbal

Membentangi ekspresi wajah, gestur, postur, bodily contact, perilaku

spasial, pakaian dan kinerja, vokalisasi, dan sebagainya
– Reinforcement

Merujuk pada perilaku yang menjorokkan klien mengarang lebih lanjut alias mengulanginya. Misalnya, anggukan pejabat, “uh-huh” “mm-mm”.

– Questioning

Terdiri berpokok pertanyaan longo nan memerlukan jawaban panjang dan pertanyaan tertutup yang semata-mata perlu jawaban singkat begitu juga ya atau tidak. Pewawancara nan kurang pengalaman, dapat menanyakan banyak cak bertanya tertutup dan enggak dapat mengelaborasikan jawaban klien.

– Reflecting

Skill ini biasa digunakan oleh konselor dan insan- cucu adam yang

memelopori tanya jawab yang sangat personal dan orang- orang yang mau turunan lainnya berbicara secara rinci tentang
perasaan dan sikapnya. Reflecting ini terdiri bermula keyword,

paraphrasing, dan reflecting feeling.

Keyword meliputi identifikasi kata sentral atau frase makanya

pendengar hendaknya orang bisa berbicara atau berkisah lebih banyak.

Paraphrasing meliputi pengutipan inferensi makanya mustami

terhadap segala yang telah didengarnya dengan bahasanya sediri.

Reflecting feeling adalah identifikasi terhadap perasaan khalayak

yang berbicara dari apa yang dibicarakannya.
– Opening and closing

Merujuk pada cara kita memulai dan mengakhiri suatu interaksi. Saringan cara untuk memulai suatu percakapan adalah hal yang lalu penting, apalagi pada kejadian formal seperti wawancara.
Peristiwa ini dikarenakan opening boleh membangun suasana yang

positif atau pun negatif. Tiga cara bakal memulai wawancara, yaitu:

(1) Social opening. Pewawancara memastikan manusia yang

diwawancara mendapat permulaan nan positif dan menghabiskan beberapa ketika kerumahtanggaan pembicaraan sosial – mencairkan suasana – sebelum fokus lega permasalahan utama.

(2) Factual opening. Pewawancara berangkat dengan

mendeskrip-sikan secara jelas fakta-fakta yang terdepan, bisa dengan menjelaskan mengenai peran mereka dalam wawancara, menguraikan tentang bagaimana mereka melihat pamrih tanya jawab, alias pun dengan memendekkan segala yang sudah lalu terjadi.

104

Komunikasi intern Konseling – bag 2 Komunikasi dalam Konseling – bag 2

105

Komunikasi dalam Konseling – bag 2 100

(3) Motivational opening. Pewawancara mulai dengan propaganda

buat menolak dan memotivasi makhluk yang diwawancara, boleh dengan mengenalkan beberapa perangkat bantu visual atau
pun gadget untuk memunculkan ketertarikan.

– Explanation

– Listening. Proses mendengar aktif ini terdiri terbit sikap

penerimaan terhadap orang enggak yang bisa ditunjukkan dengan kesiapan lakukan mendengarkan dan mengakuri segala apa yang akan dikatakan orang nan diwawancara; mengasihkan perhatian misalnya dengan kontak mata, anggukan kepala, dan ekspresi muka yang tepat; menyingkirkan distraksi; dan menjorokkan untuk mengevaluasi segala apa yang sudah didengar sebelum benar- benar memahaminya.

– Self- disclosure. Merujuk pada berbagi informasi tentang diri

pada makhluk lain untuk membangun perkariban personal nan baik. Pengkategorian wara-wara nan dimiliki seseorang mengenai dirinya dibagi kerumahtanggaan catur segmen yang tergambar n domestik

Johari Window berikut ini:



Segala apa nan anda ketahui Apa nan anda tidak


tentang diri anda


sempat tentang diri anda

Apa yang orang lain tahu

adapun engkau

Apa nan orang lan tidak tahu

tentang anda

Johari Window Makrifat:

1. Open. Berisi proklamasi tentang diri sendiri nan diketahui diri

sendiri dan orang enggak. Misalnya, fakta bahwa saya mutakadim menikah dan memiliki dua anak adam anak

2. Hidden. Weduk informasi tentang diri seorang yang diketahui diri

seorang namun tidak diketahui turunan tidak. Misalnya mengenai kecemasan- kecemasan nan dimiliki, nan akan membuat malu jikalau diketahui hamba allah enggak.

3. Blind. Digdaya pengumuman yang orang lain tahu adapun diri kita, dan

kita tidak sadar tentang hal tersebut. Misalnya, menurut saya, saya adalah ketua yang baik, namun menurut individu saya adalah koteng yang sangat dominan.

4. Unknown. Berisi embaran yang tidak diketahui diri sendiri

maupun orang lain, namun mana tahu bisa unjuk suatu momen. Misalnya, saya bisa jadi punya keresahan yang silam dalam terhadap satu hal.

Open Blind

Hidden Unknown

Komunikasi dalam Konseling – bag 2 101

KOMUNIKASI NON VERBAL DALAM KONSELING

Makhluk sosial mempersepsi individu tidak hanya melalui bahasa verbalnya cuma. Bagaimana bahasanya, apakah halus, berangasan, intelek, mampu berajar asing dan sebagainya. Namun pula senantiasa mempersepsi melalui komunikasi non verbalnya. Komunikasi non verbal mempunyai banyak supremsi terhadap kegagalan atau keberuntungan suatu konseling. Perilaku nonverbal yang diperlihatkan klien bermanfaat sekali diperhatikan, karena seringkali dapat menjadi wahi yang penting, menjadi bahan pesiaran cak bagi proses- proses wawancara ataupun konseling lebih lanjut.

Cak semau sejumlah istilah intern komunikasi non lisan (Gunarsa, 1996) yaitu :

1. Kinestik

Yakni pengkajian yang mempelajari gerakan-gerakan anggota tubuh. Beberapa penelitian telah membuktikan persepsi nan cermat. Misalnya ketika seseorang membusungkan dada berarti anda seorang yang ria. Menaklukkan kepala berjasa bani adam yang merendah, memancang berari hamba allah nan termasuk pemberani, dan menengadahkan tangan berarti orang yang sedang memohon dsb.

2. Proksemik

Ialah penyelidikan nan mempelajari posisi fisik dan jarak tubuh (ruang antar tubuh) nan biasanya terjadi ketika seseorang melakukan komunikasi interpersonal.

3. Paralinguistik

Yaitu studi pemanfaatan suara dan vokalisasi. 4. Artifaktual

Yaitu merujuk plong segala macam penampakan terbit potongan tubuh, kosmetik yang dipakai seperti rok, tas, pangkat, dan atribut-atribut lainnya.

Perilaku non verbal intern konseling menunjuk pada reaksi atau tanggapan nan dibedakan dari berbahasa dengan memakai kata-kata. Misalnya ekspresi durja, gerak tangan dan lengan, isyarat tangan, sikap raga, anggukan, berbagai gerakan tungkai dan tangan, dalam faedah luas. Sekali lagi menunjuk pada gejala vokal yang menyertai pengenalan-perkenalan awal salah tafsir pada saat mengucapkan pembukaan, berbicara, momen diam, kecepatan dan lama berbicara, debit suara, intonasi dan nada bicara. Termasuk juga berbagai cara membawa diri dan mengedepankan diri. Seperti bepergian, duduk, berpakaian, mengatur rambut, pemanfaatan kosmetika dan perhia-san, menyentuh, sinkronisasi antara bicara dan bersirkulasi, perleng-kapan kantor, radas intern rumah, hiasan-hiasan dalam apartemen, dan sebagainya.

KOMUNIKASI

Source: https://id.123dok.com/article/komunikasi-interpersonal-psikologi-konseling-mulyadi-muhammad-fakhrurrozi-rohayat.q20rj0rz