Puisi Cinta Dalam Diam Islami

Kumpulan Puisi Ringkas Emosional tentang
Cak acap dalam Diam

Sreg kesempatan kal ini, Admin Senipedia akan membagikan sejumlah antologi puisi camar n domestik diam , tema ini saya sanggang ke artikel ini karena memang berdasarkan bilang hal, salah satunya karena memang banyak dicari anak adam-hamba allah.

Terutama bikin mereka nan semenjana dilanda asmara, suka terhadap seseorang namun terserah kendala dalam menelanjangi, boleh jadi karena tidak jantan, menunggu periode yang tepat, yang dutaksir sudah memiliki n antipoda, ataupun alasan lainnya. Untuk itu, semoga Puisi memanjakan dalam tutup mulut ini boleh membantu sebagai penghibur.

Kenapa dapat menyurutkan ? Karena pelecok satu manfaat membaca alias membawakan syair merupakan umpama instrumen cak bagi mengekspresikan isi hati, kepedihan, situasi nan dipikirkan dan sebagai penyaluran rasa yang terserah plong waktu bersamaan, sehingga seseorang bisa menjadi hening.

Kumpulan puisi pendek tentang gelojoh intern diam ini saya minta boleh menjadi media alternatif bakal engkau, perumpamaan alamat penenang, bahan bacaan serta layak lakukan disebarkan kepada teman-n partner anda dan pernah banyak.

Hanya sebelum lanjut, ada suatu kejadian yang harus kamu senggang, bahwa sajak akan halnya buruk perut terpendam di asal ini yaitu Hasil Karya Saya sendiri, artinya enggak menjiplak atau menyalin berpokok website lain, alias mengutip puisi karya para pujangga, melainkan dari isi penggagas saya sendiri.

Oke tidak terlazim berlena sekali lagi. Silakan simak pusparagam tembang romantis di asal ini dengan tema mencintai internal bungkam . Semoga gemar ya…

Puisi Cinta intern Tutup mulut : SENJA SEBELUM KELAM

Seperti biasa,
Huft, Magrib boleh jadi ini masih namun sederajat, tanpa beda.
Antara Gitar, secangkir Kopi dan seonggok Raga,
Melepas penat setelah seharian menelan pesona.

Senja ini menjadi saksi mata,
akan sekeping hati yang lebih beri,
Rasa Ketidakpastian yang ditelan baru,
Menjadi tema pembicaraan nan kian membetah.

Mengapa ada seorang anak adam yang harus benduan,
Hanya karena sebuah cahaya muka tanpa tertaruh asa,
Bagaimana dia dapat bukan lelah ?

Sedang kepahitan kian menjerah ?

Itulah Aku, sebuah kelam,
Yang (masih) loyal mencintaimu dengan tutup mulut,
Namun aku tak berdaya saat malam kian mencekam,
Entahlah, padahal hanya senyuman nan takhlik bungkam.

Sejatinya, tujuan kian menggersang,
Mengikis hati tanpa bak diiris sabel,
Dan semakin rasa ini mendalam,
Semakin aku mencintaimu n domestik diam.

=====

Puisi Tersentuh perasaan : Diam DALAM Diam

Disana,
ada seguyur Hujan dan Serenteng Bunga,
yang semenjana Berbincang
mengenai Pahitnya sebuah PAMIT
Tentang Sunyinya sebuah Tenang..

Disana, ada sebuah kapal kecil di pelabuhan,
Yang tengah bercengkrama,
Akan halnya rasa yang tidak tersampaikan,
Adapun sangkil yang makin memudar.

Disini, ada sendiri sosok,
Yang tengah menadahkan tangan,
Menghadap Si Pengarang,
Akan harapan yang terdepak.

Disini, suka-suka seorang laki-laki,
Menyesali kodrat sekali lalu memaki,
Menginyam rasa tanpa peduli,
Tentang comar terpendam di relung hati.

=====

Tembang Majuh dalam Bungkam : KESETIAAN DIATAS KEKALAHAN

Yang tertinggal selepasnya hanyalah,
Percikan Kangen yang tak kenal Buntu,
Bermukim entah setakat pron bila,
Tiada kenal lelah meski teriris parah.

Selepas itu, mereka temukan kenyataan bahwa,
Jingga itu tak pergaulan berjanji,
bila esok akan konstan sebagaimana ini jua.

Gelora ribang sungguh tak tahu-menahu,
seberapa besar batin terbeban,
setajam apa belati menikam.

setakat pada akhirnya,
Tekanan listrik nafas diujung tunggang,
yang membangunkan tentang realita,
nan semestinya adanya.

Dimana lagi aku akan temukan Muka Riang itu, sementara itu berpaling berpokok wara-wara betapa jahat me’raibkan kalbu ?

Semata-mata disini, ketika ini, ditempat ini,
Kutitipkan sempelah-sisa Kangen bersama berlalunya Matahari,
ke ufuk hari,

bahwasanya kesenantiasaanku akan penyambutan,
tak pernah murung meski terik sepanas padang pasir,
kesabaran tak relasi padam,
walau Belati tikam cerkau.

========

Puisi Mencintai dalam Diam : Intensi YANG TERJUAL

Cak bagi Senja dan Jingga-nya,
terserah secuil Alasan,
yang memadai diperbincangkan sekali lagi
dari pahitnya sebuah Rasa Diam.

Sayangnya,
Ditepi kurun nan amat timpang,
Leherku plus berat untuk menjurus ke jihat depan.

Berpergilah bersama angin yang menepi,
sebab dengannya,
takkan kau kenal lagi segala itu sepi.
Karena disini, aku, dikemudian masa,

sungguh sesal tiada arti bagi hasratku yang mem-belati.
.
Datangi Bahagiamu, maka ku jemput sisa sangka-ku,
Biarkan selalu ini luput,
bersama sebuah kepergian,
keputus-asaan hasrat,
dan maksud yang terjual.

======

Puisi Mengagumimu privat Sengap : SUNGGUH SAYANG

Sadarilah Sedari lalu
untuk Bangun dalam Kesadaran,
bahwa,
Dia ialah Kapal Raksasa,
yang Gagah Berani,
menaungi Samudera.

Sedang Kamu tetapi Dermaga buruk,
Pelabuhan Katai,
yang Medok tak terawat.

Sayang,
Sungguh Camar,
Nyatanya Kamu enggak tempat,
untuknya Berlabuh.

======

Puisi Jatuh Cinta kerumahtanggaan Diam : ANDAI SAJA

Ibarat Petang memaklumi,
betapa pahitnya sebuah keheningan,
mungkin tetapi dia lain ingin melangkaui sedetikpun momen,
ketika Fajar menyongsong.
.
dan Sekiranya Syamsu boleh mendengar,
sayup iba dari burung yang mangkat ke sarang,
mungkin dia ingin bertahan selincam sekali lagi,
sebelum TUHAN-nya membangunkan lagi.

Lalu, bagaimana dengan seorang lelaki,
Yang tegar berpatokan teguh,
Pada rasa yang senyatanya bukan memberi teduh ?

Bagaimana dengan seonggok pamrih,
Dari seseorang yang bahkan pangling,
Tentang dunia yang sejenis itu lapang ?

Sebagai saya Engkau mengerti,
Sebagai saja Ia pahami,
Rasa ini begitu berarti,
Kucintaimu dalam Diam selama periode.

=======

Puisi Menyayangi seseorang intern Diam : DI SEPERTIGA Lilin lebah

Puisi mencintai dalam diam
Puisi Sedih : Cinta yang Terpendam

Bulan perlahan semenjana,

Seakan mengajak bertadah,
Menghadap Sang Pemberi Anugrah,
Bukan main, Hati ini Resah.

Tentatif Aku disini,
Masih berbaur bersama Mimpi,
Terkejut, terbangun di keheningan dinihari,
Seketika berpikir, mengapa Kau tak disini ?

Percikan air basuhi tampang dan kepala,
Bentangkan Musala tenangkan Jiwa,
Disana, Aku ceritakan semua nan kupunya,
Kamu, senyuman, dan separuh Asa,
Yang tak bertuan dan enggak tau jihat.

Kepada Sang Khalik,
Penguasa Bumi dan Langit,
Kudoakan Dirimu disetiap Detik,
Sebatas Air Mata anjlok menitik,
Basahi ucapan yang bertambah menyelundup.

Malam semakin Hening,
Harapan kian menyingsing,
Entah itu ada atau malah berpaling,
Dan hancurkan hati hingga berkeping-keping.

=======

Sajak Sedih : Selalu Bukan PADAM

Untukmu, Aku cak acap kau n domestik Diam,
Aku harapkan kau berbunga sudut kelam,
Aku do’a cerek kau di sepertiga malam,
Berharap semua tak lagi suram.

Sungguh, aku mencintaimu dalam diam,
Memandangi parasmu yang yang membuat tentram,
Ketika ini hingga berlalu menyalam,
Gelojoh ini takkan pernah padam.

======

Syair Ketulusan Besar perut : BILA KAU TAK KEBERATAN

Bila kamu tak keberatan,

Aku hendak kagumi kamu kerumahtanggaan hening,
Selayaknya Parafin ditengah Rimba,
Yang dipenuhi intaian sepasang indra penglihatan-mata berma.

Andai kamu tak keberatan,
Aku juga hendak rindui kamu dengan sederhana,
seSederhana Ayam yang melalaikan Penusuk,
semenjak Burung Elang,
yang takhlik sira menjadi Objek,
Sepanjang masa.

======

Sajak Comar kerumahtanggaan Tutup mulut : Ceku Privat Harap

Para Pendamba Kikisan Asa,
masihkah kau bertatap Sore nan sama?
Ya, Senja Merona bersama Pucuk Hari di Tepi langit.
Penuh Hasrat,
seraya meratapi yang Pergi minus rajuk.

Kau tiupkan seiring Elusan Angin,
Dibawah jingga-Nya kau Jelma-kan juga,
ingatan sani itu.
Berkeinginan semua enggak terjadi,

namun yang didepan mata
tak aspal’elak-teko lagi.

Senyumku letih,
usai menyibak tabir kisah,
Bintang di barat mulai pamit
cak sambil kau lepas Amarah,
Enyahlah!!
Meski Hapus muak ini.

======

Puisi Mengherani dalam Bungkam : NYATANYA Doang Khayalan

Suatu periode,
akan ada masanya,
Aku menikmati Senja bersamamu,
di permukaan Rumput Baru.

Dimana Kilangangin kincir Sore dengan Genit,
mengelus Kelopak matamu,
cak sambil tuturkan asa,
nan lama terpenjara.

Kamu dan aku ditemani sebuah Gitar listrik,
dan Secangkir Coklat Hangat,
nan terjepit,
di Jemari Telunjukmu.

Yah, sontak tersentak bermula lamunan,
Segala apa yang terjadi,
Hanya sakit, dan tidak kian,
Aku bergegas ke pengharapan semangat.
Nyatanya kau hanya khayalan.

==========

Baca pun : Puisi Sahabat Jadi Cinta

Terimalah, itulah tadi sejumlah syair cinta n domestik tutup mulut , seia buat engkau yang saat ini menyergap rasa dan tak berani mengungkapkan. Semoga lekas punya mental ya hehehe.

Disini Admin ingatkan lagi, beberapa tembang tentang mencintai dalam diam diatas boleh kamu copy dan sebarluaskan, cuma saya sangat berharap sebuah “Apresiasi”, yakni dengan menghargai penciptanya merupakan Saya sendiri.

Bila kamu berniat mengutip dan menempatkannya puas alat angkut lain, jangan pangling sertakan sumber aslinya yaitu dari Website ini (www.pelajarindo.com) ya, mari setara-sekelas kita saling menghargai sebuah karya.

Baca juga : Puisi Kenangan dengan Eks Kekasih

Penutup

Demikianlah, artikel kali ini mengenai beberapa Tembang Cinta dalam Bungkam , kedepannya saya akan share juga kumpulan
puisi
dengan tema lain, patuh pantau web ini untuk mendapatkan puisi sentimental lainnya.

Source: https://pelajarindo.com/puisi-cinta-dalam-diam/