Qs An Nisa Ayat 5


وَلا تُؤْتُوا السُّفَهاءَ أَمْوالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِياماً وَارْزُقُوهُمْ فِيها وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفاً (5) وَابْتَلُوا الْيَتامى حَتَّى إِذا بَلَغُوا النِّكاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْداً فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ وَلا تَأْكُلُوها إِسْرافاً وَبِداراً أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كانَ فَقِيراً فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفى بِاللَّهِ حَسِيباً (6)

Dan janganlah kalian serahkan kepada insan-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka nan suka-suka privat kekuasaan) kalian yang dijadikan Allah ibarat trik jiwa. Berilah mereka belanja dan pakaian (berusul hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-prolog nan baik. Dan ujilah anak yatim itu sebatas mereka memadai umur bagi pertautan. Kemudian jika menurut pendapat kalian mereka sudah lalu cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kalian makan harta anak yatim lebih berpangkal batas akhlak dan (janganlah kalian) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) berpunya, maka hendaklah ia membantut diri (dari gado harta anak yatim itu); dan barang kelihatannya nan miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut nan layak. Kemudian apabila kalian menerimakan harta kepada mereka, maka hendaklah kalian adakan saksi-syahid (akan halnya penyerahan itu) bagi mereka. Dan nah Yang mahakuasa sebagai Pengontrol (atas kesaksian itu).




Allah Swt. melarang memperkenankan kepada cucu adam-manusia yang belum teladan akalnya mengamalkan
tasarruf
(eksploitasi) harta benda nan dijadikan maka itu Allah kerjakan dikuasakan kepada para wali mereka.
Adalah para pengasuh merekalah yang menjamin semangat mereka berpunca hasil pengelolaan hartanya, baik melalui dagang maupun mandu lainnya.
Berangkat mulai sejak signifikansi ini disimpulkan bahwa manusia-cucu adam yang kurang sempurna akalnya dikenakan
hijir
(tidak boleh men-tasarruf-centung hartanya). Mereka yang di-hijir ini ada bilang macam: kadang-kadang karena usia sosok yang berkepentingan masih sangat muda, sebab ucapan seorang anak kecil tidak dianggap (dalam mu’amalah).
Adakalanya
hijir
disebabkan karena ki kesulitan gila. Sewaktu-waktu karena buruk da!am ber-tasarruf mengingat akalnya abnormal transendental maupun agamama cacat. Sesekali karena pailit, yang dimaksud dengan pailit ialah bila utang seorang lelaki menghancurkan dirinya, dan semua hartanya tidak boleh bikin menutup utangnya itu. Lakukan itu apabila para pemilik piutang menuntut kepada pihak juri agar meng-hijir-nya, maka ia rantus hijir (lain dapat men-tasarruf-centung hartanya dan hartanya dibeslah).
Ad-Dahhak menarikhkan berpokok Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-sosok yang belum sempurna akalnya harta (mereka nan ada privat pengaruh kalian.
(An-Nisa: 5) Menurut Ibnu Abbas, mereka yakni anak asuh-anakmu dan wanita-wanita(mu).

Situasi nan sama dikatakan lagi maka itu Ibnu Mas’ud, Al-Hakam ibnu Uyaynah, Al-Hasan, dan Ad-Dahhak, bahwa mereka adalah wanita-wanita dan anak-anak boncel.
Menurut Sa’id ibnu Jubair, mereka adalah anak-momongan yatim.
Mujahid dan Ikrimah serta Qatadah mengatakan bahwa mereka adalah wanita.


وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمّار، حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي الْعَائِكَةِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَزِيدَ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “وَإِنَّ النِّسَاءَ السُّفَهاء إِلَّا الَّتِي أَطَاعَتْ قَيِّمَها”.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, sudah mengobrolkan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam anak lelaki Ammar, telah menceritakan kepada kami Sadaqah ibnu Khalid, telah membualkan kepada kami Usman ibnu Abul Atikah, bermula Ali ibnu Yazid. dari Al-Qasim, pecah Abu Umamah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah berfirman:
Sesungguhnya wanita itu terbatas pola akalnya kecuali wanita yang taat kepada qayyim (wali)nya.

Sabda ini diriwayatkan oleh Ibni Murdawaih secara panjang lebar.
Ibnu Serbuk Hatim mengatakan, disebutkan semenjak Muslim ibnu Ibrahim bahwa telah mengobrolkan kepada kami Harb anak lelaki Syuraih, dari Mu’awiyah ibnu Qurrah, dari Debu Hurairah sehubungan dengan firman-Nya: Dan janganlah kalian serahkan kepada cucu adam-orang nan belum cermin akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kalian. (An-Nisa: 5) Bahwa mereka adalah para pelayan, dan mereka adalah setan-setan manusia.

*******************

Firman Allah Swt.:


{وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلا مَعْرُوفًا}

Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka pembukaan-kata yang baik. (An-Nisa: 5)
Ali ibnu Abu Talhah menanggali dari Ibnu Abbas nan mengatakan, “Janganlah kamu berniat terhadap hartamu dan apa yang diberikan oleh Almalik kepadamu sebagai penghidupanmu, sangat kamu berikan hal itu kepada istrimu atau anak perempuanmu, lalu engkau hanya menunggu berasal pemberian apa yang ada di tangan mereka. Tetapi peganglah hartamu dan berbuat kemaslahatanlah dengannya (ialah kembangkanlah). Jadilah dirimu sebagai orang yang memberi mereka tembolok, yaitu selempang jenggala dan biaya mereka.”
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnul Musanna, telah membualkan kepada kami Muhammad ibni Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, berusul Firas, dari Asy-Sya’bi, berpunca Abu Burdah. berbunga Abu Musa yang mengatakan, “Ada tiga jenis orang yang beribadat kepada Halikuljabbar, saja Sang pencipta tidak memperkenankan buat mereka. yaitu: Sendiri lanang yang punya istri yang berakhlak buruk. lalu anda tidak menceraikannya; seorang laki-laki yang memberikan harta (orang nan ada intern dominasi)nya kepada sosok nan kurang cermin akalnya (yang ada internal pemeliharaannya), sedangkan Allah Swt. telah berucap:
‘Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum abstrak akalnya harta (mereka nan cak semau dalam pengaruh) kalian’
(An-Nisa: 5). Dan seorang lelaki yang mempunyai utang kepada lelaki lain sedangkan sang pemiutang tidak mempunyai saksi terhadapnya
Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata nan baik. (An-Nisa: 5) Ialah dalam rangka berbuat bajik dan bersilaturahmi.
Ayat yang mulia ini mengandung makna berbuat baik kepada istri gelap (tanggungan) dan orang-orang yang berlimpah n domestik pemeliharaannya, adalah berbuat baik secara nyata dengan menjatah peranakan konkret sandang pangan disertai dengan pengenalan-kata nan baik dan akhlak yang mulia.

*******************

Firman Allah Swt.:


{وَابْتَلُوا الْيَتَامَى}

Dan ujilah anak asuh yatim itu. (An-Nisa: 6)

Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, As-Saddi. dan Muqatil mengatakan bahwa makna yang dimaksud yakni perintah lakukan melakukan testing terhadap momongan-anak yatim (maka itu para walinya).


{حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ}

sampai mereka muda cak bagi kawin. (An-Nisa: 6)
Menurut Mujahid, yang dimaksud dengan nikah dalam ayat ini ialah menjejak usia balig.
Jumhur ulama mengatakan bahwa alamat usia balig puas anak cukup umur terkadang dengan mengeluarkan air sperma, yaitu dia bermimpi n domestik tidurnya  menyibuk sesuatu atau mengalami sesuatu nan membuatnya mengeluarkan air mani. Air mani merupakan air nan menyem-prot yang yaitu kakek terjadinya momongan.
Di kerumahtanggaan kitab Emir Abu Daud disebutkan dari Ali yang mengatakan bahwa beliau selalu siuman akan sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan:


«لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ وَلَا صُمَاتَ يَوْمٍ إِلَى اللَّيْلِ»

Tidak ada yatim pasca- balig dan tidak ada puasa siang hingga malam hari.

Di dalam perkataan nabi yang lain berpunca Siti Aisyah dan sahabat lainnya dari Rasul Saw. disebutkan:


«رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ، عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ»

Qalam diangkat dari tiga macam orang, yaitu bermula anak mungil hingga usia balig alias genap berumur lima belas masa, berusul basyar yang tidur hingga tercegak, dan dari makhluk edan sampai sadar.

Mereka mengambil inferensi akan hal tersebut terbit perkataan nabi nan telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melangkahi Ibnu Umar r.a. yang mengatakan:


عُرِضْت عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يوم أحد وَأَنَا ابْنُ أَرْبَعَ عَشَرَةَ، فَلَمْ يُجِزْنِي، وَعُرِضْتُ عَلَيْهِ يَوْمَ الخَنْدَق وَأَنَا ابْنُ خَمْسَ عَشَرَةَ فَأَجَازَنِي، فَقَالَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ -لَمَّا بَلَغَهُ هَذَا الْحَدِيثُ -إِنَّ هَذَا الْفَرْقَ بَيْنَ الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ

Diriku ditampilkan kepada Nabi Saw. dalam Perang Uhud, sementara itu saat itu usiaku baru empat belas tahun; maka beliau tidak membolehkan diriku (ikut perang). Dan diriku ditampilkan kepadanya dalam Perang Khandaq. Padahal detik itu  berusia lima belas masa maka aku diperbolehkan masuk perang. Umar anak laki-laki Abdul Aziz —ketika sampai kepadanya hadis ini— mengatakan bahwa sesungguhnya hadis inilah nan menyingkirkan antara momongan kecil dan orang yang sudah dewasa.
Para cerdik pandai berbeda pendapat adapun tumbuhnya surai yang keras di seputar alat vital, apakah hal ini ialah alamat balig alias tidak? Terserah tiga pendapat mengenainya. Menurut pendapat yang ketiga, dalam keadaan ini dibedakan antara anak-anak kaum muslim dengan anak-anak dahriah zimmi. Pada anak asuh-momongan kaum muslim kejadian tersebut tidak menunjukkan usia balig, mengingat adanya kemungkinan faktor terapi. Enggak halnya puas momongan-anak kafir zimmi maka tumbuhnya surai keras pada kemaluan adalah pertanda usia balig bagi mereka; karena barang kali nan sudah lalu tumbuh rambut kemaluannya, maka dibebankan kepadanya membayar jizyah, cak bagi itulah mereka lain ingin mengobatinya.
Menurut pendapat yang sahih, tumbuhnya bulu nan gigih di sekitar alat vital merupakan tanda-tanda usia balig, mengingat kejadian ini yakni sesuatu yang alami; semua manusia enggak ada bedanya dalam situasi tersebut, dan mengenai faktor pengobatan jauh semenjak kemungkinan.
Kemudian sunnah menunjukkan ke jihat itu melalui sebuah perkataan nabi nan diriwayatkan makanya Imam Ahmad melalui Atiyyah Al-Qurazi yang menceritakan:


عُرضنا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ قُرَيْظة فَكَانَ مَنْ أنْبَتَ قُتل، وَمَنْ لَمْ يُنْبت خَلّي سَبِيلَهُ، فَكُنْتُ فِيمَنْ لَمْ يُنْبِت، فَخَلَّى سَبِيلِي.

Mereka (orang-orang Anak laki-laki Quraizah) ditampilkan di aribaan Rasul Saw. seusai Perang Quraizah. Maka Nabi Saw. mensyariatkan kepada seseorang bikin memeriksa mungkin di antara mereka yang telah tumbuh rambut kemaluannya. Maka khalayak nan telah tumbuh surai kemaluannya dikenai siksa mati, dan basyar yang masih belum tumbuh rambut kemaluannya dibebaskan. Maka aku (Atiyyah Al-Qurazi) tertera salah seorang yang masih belum tumbuh bulu kemaluannya. Balasannya aku dibebaskan.”
Ahlu sri paduka mengetengahkan hadis yang semisal, yakni ahlus ratu nan empat turunan (yang dikenai dengan sebutan Arba’ah). Rohaniwan Turmuzi mengatakan bahwa sabda ini hasan halal.
Sepatutnya ada keputusan tersebut tunak main-main; bagaikan buktinya adalah di saat Sa’d ibnu Mu’az menjatuhkan keputusan hukumnya di antara mereka (para tawanan), ia memutuskan menyalibkan basyar-orang (dari dok musuh) nan ikut bergelut dan menahan momongan-anak mereka.
Abu Ubaid di dalam kitab Al-Garib mengatakan. sudah membualkan kepada kami Ibni Ulayyah. dari Ismail ibnu Umayyah ibnu Yahya ibnu Hibban berpangkal Umar, bahwa pernah ada seorang anak cukup umur menuduh bermukah -seorang wanita akil balig dalam syairnya. Maka Khalifah Umar berkata “Periksalah dirinya.” Ternyata diketahui bahwa anak tersebut masih belum tumbuh rambut kemaluannya. Hasilnya hukuman had (menuduh berzina) tidak dikenakan terhadap dirinya.
Duli Ubaid mengatakan.
ibtaharaha
artinya menuduh (si wanita) berbuat zina;
al-ibtihar
ialah bila seseorang mengatakan.”Aku telah mengerjainya,” padahal engkau dusta dalam pengakuannya itu. Takdirnya persaksian tersebut benar, maka istilahnya disebut
ibtiyar. Sebagaimana pengertian nan ada dalam perkataan Al-Kumait melalui salah satu bait syairnya:


قَبِيحٌ بِمِثْلِي نَعْتُ الفَتَاةِ … إِمَّا ابْتِهَارًا وَإِمَّا ابتيارا


Amatlah buruk bagi orang semisalku bila menuduh sendiri wanita mengerjakan zina, bait dengan fitnahan kebohongan ataupun tuduhan yang sebenarnya.

*******************

Firman Allah:


{فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ}

Kemudian jika menurut pendapat kalian mereka mutakadim cerdas (pakar memelihara harta) maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (An-Nisa: 6)
Sa’id ibnu Jubair mengatakan yang dimaksud
rusydan
ialah kelayakan kerumahtanggaan agamanya dan bisa memelihara hartanya. Hal yang sebanding dikatakan pula makanya Ibni Abbas, Al-Hasan Al-Basri, dan lain hanya koteng dari kalangan para Imam berdasarkan riwayat nan bersumber terbit mereka.
Cerdik pandai fiqih mengatakan hal yang setolok ialah: Apabila seorang anak yatim telah menjejak usia yang membuat dirinya berperan pas dalam agama dan hartanya, maka anda dibebaskan dari hijr (pantangan menggunakan harta bendanya). Untuk itu, maka semua harta yang berada di tangan walinya diserahkan kepadanya.

*******************

Firman Tuhan Swt.


{وَلا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا}

Dan janganlah kalian makan harta anak yatim lebih terbit had kepatutan dan (janganlah kalian) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. (An-Nisa: 6)
Allah Swt. melarang memakan harta anak yatim minus adanya keperluan yang mendesak.
Yang dimaksud dengan istilah
israfan wa bidaran
ialah grusa-grusu membelanjakannya sebelum anak-anak yatim itu dewasa.
Kemudian Yang mahakuasa Swt. berfirman:


{وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ}

Barang siapa (di antara para pemelihara itu) mampu maka hendaklah sira membantut diri (dari meratah harta anak asuh yatim itu).
(An-Nisa: 6)
Yang dimaksud dengan
falyasta’fif
ialah memelihara diri semenjak harta anak yatim dan janganlah memakannya barang sedikit kembali.
Asy-Sya’bi mengatakan bahwa harta anak yatim baginya (orang yang gemuk) selevel halnya dengan mayat dan darah (yakni haram dimakan).


{وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ}

Dan produk boleh jadi yang miskin, maka bolehlah kamu makan harta itu menurut yang layak
(An-Nisa: 6)
Anak laki-laki Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Asyaj, sudah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sulaiman, sudah lalu menceritakan kepada kami Hisyam, berusul ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya:
Komoditas siapa (di antara para pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (berbunga memakan harta anak yatim itu).
(An-Nisa: 6) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan harta momongan yatim.
Sudah lalu mengobrolkan kepada kami Al-Asyaj serta Harun anak lelaki Ishaq. Keduanya mengatakan, sudah menceritakan kepada kami Abdah anak lelaki Sulaiman, berasal Hisyam, pecah ayahnya, berpunca Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya:
dan dagangan siapa yang miskin, maka bolehlah ia bersantap harta itu menurut yang sepan. (An-Nisa: 6) Ayat ini diturunkan berkenaan dengan wali momongan yatim yang memeliharanya dan berbuat kemaslahatan untuknya, kapan keperluan menggusur memakan sebagian dari harta anak yatim nan ada dalam pemeliharaanya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku. telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa’id Al-Asbahani. mutakadim menceritakan kepada kami ali ibnu Mishar, dari Hisyam. berpunca ayahnya. terbit Siti Aisyah yang menceritakan bahwa ayat berikut diturunkan berkenaan dengan wali anak yatim, ialah firman-Nya:
Komoditas kali (di antara para pemelihara itu) mampu. Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim); dan produk kelihatannya yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Yang dimaksud dengan mandu yang patut ialah sesuai dengan jerih payahnya terhadap momongan yatim yang ada dalam pemeliharaannya.
Imam Bukhari meriwayatkan berpangkal Ishaq Ibnu Abdullah ibnu Numair, berpangkal Hisyam dengan lafaz yang sama.
Ulama fiqih mengatakan, pengasuh yang miskin diperbolehkan memakan sebagian dari harta anak yatim yang suka-suka kerumahtanggaan pemeliharaannya privat besaran yang paling kecil minim di antara kedua alternatif. yakni upah
misil-nya (standarnya) maupun menurut keperluannya.
Ulama fiqih berselisih pendapat adapun masalah bila wali anak yatim menjadi bani adam kaya setelah miskinnya, apakah engkau diharuskan mengembalikan harta anak yatim yang telah dimakannya, atau bukan? Ada dua pendapat mengenainya.
Pendapat pertama, mengatakan “‘tidak” karena ia namun gado sekadar imbalan jerih payahnya dan juga dia kerumahtanggaan keadaan miskin. Pendapat inilah yang sahih di kalangan murid-murid Imam Syafii, karena makna ayat jelas membolehkan memakan sebagian harta momongan yatim tanpa menggantinya.
Pastor Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Husain, berpunca Amr ibnu Syu’aib, terbit ayahnya, berpangkal kakeknya, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw. Dia mengatakan, “Aku lain ki berjebah, sedangkan aku mempunyai anak yatim.”‘ Maka Rasulullah Saw. berbicara:


«كُلْ مِنْ مَالِ يَتِيمِكَ غَيْرَ مُسْرِفٍ وَلَا مُبَذِّرٍ وَلَا مُتَأَثِّلٍ  مَالَا وَمِنْ غَيْرِ أَنْ تَقِيَ مَالَكَ- أَوْ قَالَ- تَفْدِيَ مَالَكَ بِمَالِهِ»

Makanlah dari sebagian harta anak yatimmu dengan tidak terlalu-lebihan, tidak menghambur-hamburkannya, dan tidak menghimpunkannya sebagai harta(mu). Dan juga minus mengekang hartamu —atau— tanpa mengganti hartanya dengan hartamu.
Alas kata   ‘atau’
merupakan ragu pecah pihak Husain.
Ibnu Debu Hatim mengatakan. telah menceritakan kepada kami Debu Said Al-Asyaj, telah mengobrolkan kepada kami Debu Khalid Al-Biram, sudah lalu membualkan kepada kami Husain Al-Mukattab, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, berbunga kakeknya yang telah menceritakan bahwa ada sendiri lelaki cak bertengger kepada Nabi Saw., terlampau lelaki itu berucap, “Sememangnya aku memiliki seorang anak yatim nan punya harta, sedangkan aku seorang tidak bakir, bolehkah aku ikut bersantap dari sebagian hartanya?” Rasulullah Saw. menjawab:


«بِالْمَعْرُوفِ غَيْرَ مُسْرِفٍ»

Makanlah dengan cara nan masyhur sonder plus-lebihan!

Rohaniwan Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Bani Majah meriwayatkannya melewati sabda Husain Al-Mu’allim.
Ibnu Hibban meriwayatkan di privat kitab sahihnya dan Anak lelaki Murdawaih di dalam kitab tafsirnya melalui perbuatan nabi nabi muhammad Ya’la ibnu Mahdi, dari Ja’far ibnu Sulaiman, terbit Tepung Amir Al-Khazzaz, berbunga Amr ibnu Dinar, dari Jabir, bahwa ada seorang lelaki menyoal, “Wahai Rasulullah, berapakah yang boleh aku ambil dari anak yatimku?” Nabi Saw. menjawab:


«مَا كُنْتَ ضَارِبًا مِنْهُ وَلَدَكَ غَيْرَ وَاقٍ مَالَكَ بِمَالِهِ وَلَا مُتَأَثِّلٍ مِنْهُ مَالًا»

Sejumlah apa nan formal ia ambil dari anakmu, sonder mengekang hartamu terhadap hartanya dan minus menghimpunkan dari hartanya sebagai harta(mu).

Bani Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Yahya. telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Yahya ibnu Sa’id, berpunca Al-Qasim ibnu Muhammad nan membualkan bahwa cak semau seorang Badui datang kepada Ibnu Abbas lalu orang Badui itu mengomong.”sesungguhnya di dalam pemeliharaanku terdapat banyak anak asuh yatim, dan mereka memiliki piaraan unta; aku kembali memiliki ternak gamal kembali, tetapi aku berikan sebagian semenjak ternak untaku kepada orang-orang miskin. Maka sebatas apakah yang dihalalkan bagiku terhadap air susunya?” Bani Abbas menjawab, “Jikalau beliau berkarya mencari ternak untanya yang hilang, mengobati nan gempa bumi, menggiringnya ke kancah air minumnya. Menggembalakannya maka minumlah (air susunya) tanpa membahayakan terhadap anaknya. dan bukan terserah larangan bagimu dalam memerah air susunya”.’
Imam Malik meriwayatkannya di dalam kitab Al-Muwatha dari Yahya ibnu Sa’id dengan lafaz yang sejajar.
Pendapat inilah —yakni tak terlazim menukar— nan dikatakan oleh Ata anak lelaki Serdak Rabah, Ikrimah, Ibrahim An-Nakha’i, Atiyyah Al-Aufi, dan Al-Hasan Al-Basri.

Pendapat yang kedua
, mengatakan “teristiadat menggilir” karena harta anak yatim adalah harta nan ada dalam tabu; kecuali bila diperlukan, maka baru diperbolehkan, tetapi diharuskan menggantinya. Perihalnya sama dengan makan harta orang lain untuk orang nan dalam keadaan terdesak di ketika ia memerlukannya.
Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah membualkan kepada kami Ibnu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Waki’, berusul Sufyan dan Israil, berpangkal Duli Ishaq, dari Harisah ibnu Mudarrib yang mengatakan bahwa Khalifah Umar r.a. koneksi berkata, “Sepantasnya aku menempatkan diriku terhadap harta ini dalam kedudukan andai wali anak yatim. Jika aku bakir, maka aku hadang diri: dan jika aku perlu, maka aku berutang; dan apabila aku n domestik keadaan mudah, maka aku melunasinya.”
Jongkong lain diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Tepung Ishaq, dari Al-Bana yang mengatakan bahwa Khalifah Umar r.a. pernah mengomong kepadanya: Sesungguhnya aku menempatkan diriku terhadap harta Allah ini privat kedudukan sebagai penanggung jawab anak asuh yatim. Kalau aku memerlukannya, maka aku mengambil sebagian darinya; dan jika aku intern keadaan mudah, maka aku kembalikan; dan jika aku dalam keadaan subur, maka aku membendung diri (tak menggunakannya).
Sanad asar ini sahih. Imam Baihaqi meriwayatkan hal yang semisal berbunga sahabat anak laki-laki Abbas.

Hal nan sama diriwayatkan maka dari itu Ibnu Serdak Hatim melalui jalur Ali ibnu Abu Talhah, berasal Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia bersantap harta itu menurut yang patut. (An-Nisa: 6) Yang dimaksud dengan cara nan makruf ialah dengan utang.

Imam Baihaqi mengatakan, telah diriwayatkan dari Ubaidah, Abul Aliyah, Duli Wail, dan Sa’id ibnu Jubair dalam salah satu riwayatnya, Mujahid, Ad-Dahak, dan As-Saddi hal nan semisal.
Telah diriwayatkan melewati jalur As-Saddi, dari Ikrimah, berpokok Anak laki-laki Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An-Nisa-6) Menurut Ibnu Abbas, sepatutnya orang yang berkepentingan memakan dengan mempekerjakan tiga buah ujung tangan.
Imam Baihaqi mengatakan pula, telah membualkan kepada kami Ahmad ibnu Sinan. telah menceritakan kepada kami Bani Mahdi, pecah Sufyan, terbit Al-Hakam, berpokok Miqsam, berusul Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan barang bisa jadi yang miskin, maka bolehlah bersantap harta itu menurut yang patut.
(An-Nisa: 6) Makna nan dimaksud ialah seyogiannya anak adam yang berkepentingan hanya makan sebagian dari harta anak yatim intern batasan patut untuk makan dirinya sampai ia bukan memerlukan harta anak yatim pula.
Hal nan semisal mutakadim diriwayatkan dari Mujahid dan Maimun ibnu Mihran dalam keseleo satu riwayatnya, serta Padri Hakim.
Amir Asy-Sya’bi mengatakan bahwa seseorang tidak dapat memakan harta anak yatim kecuali bila ia dalam peristiwa terpaksa. seperti seseorang terpaksa gado jenazah. Sekiranya kamu meratah sebagian darinya, maka ia harus menggantinya. Demikianlah menurut segala apa yang diriwayatkan oleh Anak lelaki Tepung Hatim.
Ibnu Wahb mengatakan, telah membualkan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Nafi’ ibnu Abu Na’im Al-Qari’ nan mengatakan bahwa ia pergaulan bertanya kepada Yahya anak lelaki Sa’id Al-Ansari dan Rabi’ah tentang makna firman Almalik Swt. yang mengatakan:
dan barang mana tahu yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang cukup.
(An-Nisa: 6) hingga akhir ayat. Kejadian tersebut berkenaan dengan anak yatim, yakni: Kalau si wali adalah orang yang miskin, maka anak asuh yatim itu diberi nafkah sesuai dengan kemiskinannya, dan tidak suka-suka hak bikin pengampu terhadap harta anak yatim barang sedikit pun.
Akan tetapi, pendapat tersebut menyimpang berasal konteks ayat, memahfuzkan intern firman-Nya disebutkan:
Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu).
(An-Nisa: 6) Merupakan hendaklah para pemelihara itu menahan dirinya. jangan meratah harta anak yatimnya.
dan barang siapa nan miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut yang sepan. (An-Nisa: 6) Bagi para wali yang miskin. diperbolehkan memakan harta anak yatimnya dengan cara yang baik. Seperti pengertian yang disebutkan di dalam ayat lainnya. yaitu firman-Nya:


وَلا تَقْرَبُوا مالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

Dan janganlah kalian dekati harta anak yatim, kecuali dengan kaidah yang lebih berjasa, sebatas engkau dewasa. (Al-An’am: 152 dan Al-Isra’: 34)
Dengan perkenalan awal tidak, janganlah kalian mendekati harta anak yatim kecuali dengan pamrih untuk mengamalkan yang berjasa terhadapnya; seandainya kalian memerlukannya, kalian boleh meratah sebagian darinya menurut cara yang patut.

*******************

Firman Allah Swt.:


{فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ}

Kemudian apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka.
(An-Nisa: 6)
Sesudah mereka hingga ke nasib balig dan dewasa, menurut pendapat kalian mereka telah cerdas dan pandai memiara harta, maka momen itulah kalian harus menyerahkan kepada mereka harta mereka yang ada di tangan kalian. Apabila kalian mengasihkan harta kepada mereka:


{فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ}

maka hendaklah kalian adakan syahid-saksi (mengenai penyerahan itu) bagi mereka.
(An-Nisa: 6)
Hal ini merupakan perintah dari Allah Swt.. ditujukan kepada para pengasuh anak-anak asuh yatim. Perintah ini menyatakan bahwa seharusnya mereka mengadakan martir-saksi sehubungan dengan anak-momongan yatim mereka, bila anak-anak yatim mereka telah mencecah hayat dewasa dan harta mereka diserahkan kepadanya. Dimaksudkan agar tidak terjadi sebagian bersumber mereka adanya pelanggaran dan bantahan terhadap segala yang sudah lalu diserahterimakannya. Kemudian Allah Swt. merenjeng lidah:


{وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا}

Dan terimalah Allah bagaikan Supervisor  (atas  persaksian  itu). (An-Nisa: 6)
Yakni cukuplah Allah laksana Penghitung, Syahid, dan Pengawas terhadap para wali sehubungan penilaian mereka terhadap anak yatimnya dan di detik mereka menyerahkan harta kepada anak-momongan yatim. Dengan kata bukan, apakah harta itu privat keadaan arketipe lagi utuh, ataukah sedikit perhitungannya serta perkaranya dipalsukan, semuanya Almalik mengerti dan mengawasi akan hal tersebut. Karena itulah maka disebutkan di dalam kitab Formal Orang islam bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:


“يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لَا تَأَمَّرَن على اثنين، ولا تَلِيَنَّ مال يتيم”


Hai Serbuk Zar, sebenarnya aku melihatmu orang yang lemah, den sesungguhnya aku menaksir bagimu sebagaimana aku menyukai buat diriku koteng. Jangan sekali-kali ia memerintah atas dua orang, dan jangan sesekali kamu menjadi wali harta momongan yatim.

Source: http://www.ibnukatsironline.com/2015/05/tafsir-surat-nisa-ayat-5-6.html