Surah Al Isra Ayat 176

Sugi Nur (Kanan dan kiri) dan tangkapan cucur video Sugi Nur yang viral (Perdua).


Beda seleksian capres itu lumrah. Berbagai cara terkadang dilakukan cak bagi ikut mengkampanyekan pilihannya. Termasuk menyelipkan materi tentang politik di sela-sadel ceramah.


Tidak sedikit memang ustaz yang berceramah dengan membawa kebijakan, keseleo satunya Sugi Kurat Raharja. Plonco-mentah ini viral album video Mole Nur menyinggung capres nomor urut 1 di tengah-perdua ceramahnya, dengan sebutan cebong.


Lucunya, ada emak-induk yang memprotes Sugi karena menggunakan kata cebong itu.


“Buka surat Al-Isra ayat 176,” kata Sugi, menjawab protes emak-emak nan menyatakan keberatan ceramahnya karena menyangkut-nyangkutkan “cebong” bakal mewakili panggilan seseorang.


“Diancam-ancam, sama siapa, sama cebong,” kata Sisik di awal video.


Kemudian, si ibu memprotes, “Cebong itu satwa Selongsong, makara jangan pakai cebong Pak. Yang lain ya. Pakai paslon nomor satu, jangan cebong,”


Berulangulang si ibu memfokuskan keberatannya hingga akhirnya Sugi menjawab protes si ibu dengan membacakan salinan Al-Isra ayat 176 beserta artinya.


Masalahnya, lain hanya materi khotbah berbau politik doang. Tapi, surat nan dikutip oleh Mole ternyata juga hanya sebatas 111 ayat belaka. Tak heran kemudian video itu viral dan diprotes banyak netizen.


Netizen Twitter beramai-riuh-rendah mengoreksi. Malah sampai ada nan memention Nayaka Agama, Lukman Saifuddin kerjakan masuk mengarifi kejadian ini.


Suka-suka lagi nan berkomentar tentang dokumen apa yang mungkin dimaksud Sugi.


Wah dari ramainya cuitan ini, suatu hal yang boleh kita petik; pastikan ayat alquran yang dikutip telah benar, malah seandainya ingin menyelipkannya saat bersyarah politik.

Daftar Isi > Al-A’raf > Al-A’raf 176

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى ٱلْأَرْضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا ۚ فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Arab-Latin:
Walau syi`nā larafa’nāhu bihā wa lākinnahū akhlada ilal-arḍi wattaba’a hawāh, fa maṡaluhụ kamaṡalil-kalb, in taḥmil ‘alaihi yal-haṡ au tatruk-hu yal-haṡ, żālika maṡalul-qaumillażīna każżabụ bi`āyātinā, faqṣuṣil-qaṣaṣa la’allahum yatafakkarụn

Artinya:
Dan seandainya Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, semata-mata kamu menentang kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya begitu juga anjing jika sira menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jikalau engkau membiarkannya anda menjulurkan lidahnya (pula). Demikian itulah perumpamaan khalayak-bani adam yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) narasi-kisah itu hendaknya mereka berfikir.

« Al-A’raf 175 ✵ Al-A’raf 177 »

GRATIS! Dapatkan
pahala jariyah
dan buku rahasia
kandungan makmur, klik di sini bikin detailnya

Kata keterangan Surat Al-A’raf Ayat 176 (Terjemah Keistimewaan)

Paragraf di atas merupakan Surat Al-A’raf Ayat 176 dengan text arab, latin dan artinya. Terwalak beragam penafsiran mulai sejak banyak ahli tafsir terhadap kas dapur surat Al-A’raf ayat 176, misalnya seperti terlampir:




Adverbia Al-Muyassar / Departemen Agama Saudi Arabia

Dan seandainya kami memaui menyaringkan kedudukannya dengan ayt-ayat yang telah kami berikan kepadanya, niscaya kami serius akan melakukannya, akan sekadar dia lebih condong kepada dunia dan menuruti master nafsunya dan kian mengutamakan pemuasan kesenangan-kesenangan dan sensualitas pribadinya daripada (kenikmatan) alam baka, dan memurukkan untuk taat kepaada Allah dan melanggar perintahNYa. Umpama khalayak ini adalah seperti anjing, bila anda usir kamu atau kamu biarkan sahaja sira, dia akan menjulurkan lidahnya dalam dua keadaan tersebut. Demikianlah keadaan individu yang mengasingkan diri dari ayat-ayat Halikuljabbar, dia akan terus berada di atas kekafirannya, meskipun kamu berupaya abadi untuk mendakwahinya maupun membiarkannya. Sifat tersebut (aduhai utusan tuhan), ialah sifat mereka kabilah nan dulu keadaan mereka sesat sebelum datang kepada mereka petunjuk dan risalah, maka ceritakanlah (aduhai rosul) berita-berita umat-umat terdahulu. Maka dalam pemberitaanmu tentang kisah-kisah mereka merupakan sebuah mukjizat nan agung, semoga kaummu mengetahui apa yang kamu dukung kepada mereka lalu mereka beriman kepadamu.


Kata keterangan Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

176. Sekiranya Kami hendak memberinya keistimewaan dari ayat-ayat itu di dunia niscaya Kami akan mengangkat derajatnya dengan memberinya bimbingan bagi mengamalkannya, sehingga derajatnya terangkat di manjapada dan di Akhirat. Akan tetapi sira memilih sesuatu yang membuat martabatnya jatuh tatkala ia lebih cenderung kepada kepelesiran keduniaan. Anda kian mengutamakan kepentingan dunianya daripada fungsi Akhiratnya. Ia memilih mengikuti kesenangan hawa nafsunya yang batil. Kerakusannya terhadap marcapada lain ubahnya seperti mana anjing yang bersambung-sambung menjulurkan lidahnya, seekor monyet ketika posisi duduk akan menjulurkan lidahnya, dan ketika dihalau pun akan menjulurkan lidahnya. Itulah perumpamaan bagi hamba allah-orang sesat yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah -wahai Rasul- kisahan-kisah tersebut kepada mereka agar mereka berpikir dan mau meninggalkan kekafiran serta kesesatan mereka.


Kata tambahan Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di dasar pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah
176. Kemudian Allah menjelaskan jikalau Kamu memaui, niscaya Dia akan mengangkat orang itu menuju derajat kebesaran berkat ayat-ayat tersebut, sebab enggak cak semau yang sulit untuk Allah. Belaka anak adam itu sudah terikat dengan bumi dan menirukan nafsu syahwatnya. Misal dirinya sama dengan seekor anjing, jika kamu mengejarnya, ia akan menjulurkan lidahnya; dan jika dia membiarkannya, engkau pun akan menjulurkan lidahnya, karena itu sudah menjadi tabiatnya. Demikianlah keadaan anak adam yang sudah terkesan dengan manjapada dan menengok dari ayat-ayat nan telah dia ketahui; takdirnya kamu menasehatinya dia tidak akan menerima nasehat itu, karena bertambah memilih dunia daripada akhirat; dan sekiranya kamu tidak memberinya nasehat, dia akan konsisten tamak terhadap dunia dan syahwatnya. Itulah perumpamaan orang-basyar nan mendustakan ayat-ayat Kami yang menidakkan dan memencilkan hadiah padahal telah berlimpah di genggamannya.

Kemudian Allah menyorongkan kepada nabi-Nya bakal menceritakan narasi ini kepada kaumnya, agar mereka berfikir dan mengetem dari kekafiran dan kesesatan mereka.

Percuma! Dapatkan
pahala jariyah
dan buku kiat
rezeki berlimpah, klik di sini untuk detailnya


Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Perserikatan Islam Madinah
176. وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا (Dan jikalau Kami menuntut, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu) Yakni sungguh akan Kami muliakan ia dan Kami angkat derajatnya dengan amanat adapun al-kitab. وَلٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ (tetapi beliau memusat kepada bumi) Condong kepada marcapada, mencintainya dan lebih memilihnya daripada akhirat. وَاتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ (dan menurutkan hawa nafsunya) Mengimak barang apa nan sira inginkan, yaitu berupa kenikmatan dunia yang banyak yang diberikan maka dari itu orang-orang jahat dan sadis itu sebagai upah atas doa untuk keburukan para pembawa legalitas dan atas helat muslihat bagi mereka. إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ (jika engkau menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika engkau membiarkannya dia mengulurkan lidahnya) Yakni jika mereka dibebankan untuk memikul hikmah niscaya mereka lain akan memikulnya, dan apabila anda sudah lalu meninggalkannya niscaya mereka enggak akan bernasib baik petunjuk kepada kebaikan. Pendapat lain mengatakan maknanya merupakan apabila dia menasehatinya niscaya dia akan tetap tersesat, dan apabila kamu tidak menasehatinya kamu sekali lagi akan tersesat; karena dia n domestik kesesatan yang terus-menerus sebab ia berlepas diri berusul ayat-ayat tuhannya. Dia andai seekor kunyuk yang apabila kamu mendeku, beliau menjulurkan lidahnya, dan apabila beliau lari diusir ia juga menjulurkan lidahnya. ذّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايٰتِنَا ۚ (Demikian itulah perumpamaan khalayak-insan yang mendustakan ayat-ayat Kami) Yakni perumpamaan hina ini adalah perumpamaan lakukan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dari golongan orang-orang Yahudi dan lainnya, setelah mereka n kepunyaan pengetahuan tentang ayat-ayat itu namun mereka mengganti dan merubah serta mendustakannya. فَاقْصُصِ الْقَصَصَ (Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu) Yakni tentang sifat orang nan berlepas diri terbit ayat-ayat Sang pencipta, karena perumpamaan baginya yang telah disebutkan tadi adalah seperti orang-orang Ibrani yang mendustakanmu. لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (moga mereka berfikir)

Sehingga mengetem dari kesesatan mereka dan berbalik menentang kebenaran.


Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah sensor Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia
175-176 1 ). Islam melarang seseorang menghendaki guna-guna setakat ia menjadi keberagaman danc erdas dengannya, namun ia monyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmu tersebut, dan dengannya pula ia menjadikannya sebagai kontak bikin sebuat kerusakan dan pertengkaran : { وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ } “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (publikasi tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari plong ayat-ayat itu, adv amat dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah engkau teragendakan khalayak-orang yang sesat”. 2 ). { وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ } Jikalau doang sekedar ilmu tidaklah menjamin tingginya derajat seseorang, dan sesungguhnya Allah telah mendatangkan kepada hamba ini ayat-ayat Nya namun Anda lain meninggikan derajat hamba itu dengan ilmu tersebut. 3 ). { وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ } “Dan kalau Kami menuntut, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, sekadar dia berorientasi kepada marcapada dan menurutkan hawa nafsunya yang invalid” Sebesar apa seseorang cenderung kepada dunia, sebesar itu lagi ia akan anjlok dari langit. 4 ). { فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ } “maka perumpamaannya seperti anjing takdirnya beliau menghalaunya diulurkannya lidahnya dan kalau engkau membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga)” barangsiapa yang tak dikendalikan maka itu ilmunya dari sesuatu yang ki busuk, kekejian itu resan dirinya, dan tidak sama sekali ia menjeput kelebihan dari mantra tersebut, maka tidaklah keadaan dirinya sekadar seperti monyet yang menjengukkan lidahnya lamun anda menerima ataupun sira menolaknya, dan itu adalah hal terburuk semenjak seekor anjing. 5 ). Di intern al-qur’an Allah menciptakan menjadikan dua perumpamaan yang melukiskan seseorang menjadi lebih buruk dari peristiwa dirinya yang sebenarnya, Yang mahakuasa berfiman : { فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ } , dan Tuhan berfirman : { مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا } “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal” [ Al-Jumu’ah : 5 ]. Pada perumpamaan mula-mula menggambarkan seorang ‘alim yang sesat dan melenceng dari guna-guna yang berfaedah, ia kerap mengulurkan lidahnya demi seksualitas kejinya. Dan adapaun umpama kedua menggambarkan turunan-orang yang mengangkut taurat di kepala mereka, akan tetapi sedikitpun mereka bukan cekut manfaat bersumber taurat itu, maka apakah yang membedakan antara mereka dengan keledai yang mengapalkan buku di atas punggungnya ?.

6 ). Kisah-narasi qur’ani lain selamanya menjadi penghibur ketika didengarkan, dan bukan kembali bak ucapan yang diada-adakan, atau sebagai korban percobaan rekayasa, melainkan narasi-kisah itu hinggap buat meriwayatkan memori umat-umat dan generasi-genarasi terdahulu, menampilkan situasi-situasi semangat yang pernah terjadi, dan perumpamaan hakikat yang menghantarkan kepada pamrih besar, adalah pamrih yang akan dicapai dengan tafakkur yang mendalam, dan tadabbur nan siaga, Almalik befirman : { فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ } “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisahan-kisah itu sepatutnya mereka berfikir”.


Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir provinsi Suriah

176 Kalau Kami menghendaki kedudukan yang tinggi baginya, maka sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, semata-mata beliau menghadap memilih panjang dunia, menggandrunginya dari sreg akhirat dan menuruti master nafsunya nan kurang. Maka perumpamaannya adalah sama dengan beruk, jikalau engkau menghalaunya diulurkannya lidahnya dan takdirnya engkau membiarkannya dia mengulurkan lidahnya lagi. Maksudnya adalah bahwa dia akan menderita selamanya. Beliau berlari di belakang dunia. Demikian itulah perumpamaan basyar-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami orang-insan Yahudi dan musyrikin bahkan setelah mereka mengetahuinya. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir dan mengambil latihan.

GRATIS! Dapatkan
pahala jariyah
dan buku rahasia
rahim makmur, klik di sini bakal detailnya


Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz kedelai Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah polong Abdul Aziz al-‘Awaji, professor adverbia Univ Selam Madinah

{Jika Kami berhendak, alangkah Kami tinggikan kamu dengan ayat-ayat itu} karena ayat-ayat itu {sekadar engkau cenderung pada dunia} memilih tinggal pada marcapada dan harta yang ada di sana {dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya itu seperti anjing. Kalau kamu menghalaunya} jika kamu menarik dan membuatnya bergerak {beliau mengulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya} membebaskan indra perasa kerjakan menjulurkannya {Demikian itu ialah bagaikan orang-manusia yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu sepatutnya mereka berpikir dalam-dalam


Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, tukang kata keterangan abad 14 H

176 ini karena Allah membiarkannya dan menyandarkannya kepada dirinya sendiri. oleh Karena itu Allah bertutur ”dan kalu kami menghendaki senyatanya kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu” dengan memberinya taufik lakukan mengamalkannya, sehingga derajatnya terangkat di dunia dan akhirat dan terlindungi dari musuh musuhnya “semata-mata anda” berbuat sesuatu yang menyebabkan kekejian, engkau cenderung kepada dunia, yakni kepada temperatur nafsu rendahan dan maksud profan ”dan menurutkan guru nafsu” serta bukan menaati Rabbnya “maka perumpamaannya” dalam perkara kesungguhannya kepada dunia dan terfokusnya hati kepadanya ”seperti beruk jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya kamu menjulurkan lidahnya(juga)” adalah ia burung laut menjulurkan lidahnya, temporer makhluk ini comar berusaha dengan sungguh-sungguh seberinda hatinya agar kebutuhannya tidak terhalangi maka itu bumi sedikitpun ”demikian itulah perumpamaan orang manusia yang mendustakan ayat-ayat kami” pasca- Tuhan menjelaskannya kepada mereka hanya mereka enggak tunduk kepadanya lebih lagi mereka mendustakannya dan menolaknya karena tidak berartinya Allah untuk mereka dan guru nafsu nan mereka ikuti tanpa petunjuk berpunca Allah “maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisahan itu seharusnya mereka berfikir” tentang umpama yang dibuat, mengambil pelajaran berpangkal ayat-ayat, sekiranya mereka berpikir maka mereka memaklumi sekiranya mereka mengetahui maka mereka akan beramal.


Hidayatul Anak adam bi Tafsiril Qur’an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I
Tembusan Al-A’raf ayat 176: Dengan memberinya taufiq untuk beramal sehingga kedudukannya tingkatan di dunia dan di akhirat, serta dapat membentengi dirinya dari musuh-musuhnya. Yang membuatnya dibiarkan Allah Ta’ala. Meninggalkan ketaatan kepada Tuhannya, sehingga Almalik merendahkannya. Dalam kejadian kecenderungannya yang dahulu kepada dunia. Yakni selalu menjengukkan lidahnya dan hina dalam setiap keadaan.

Sehingga membuat mereka percaya. Internal ayat ini terdapat dorongan mengamalkan ilmu, dan bahwa yang demikian dapat mengangkat derajatnya, melindunginya dari setan, tarhib (intimidasi) pergi ilmu, dan bahwa hal tersebut dapat merendahkan kedudukannya, dan menjadikan setan memintasi dirinya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengutamakan manjapada dan mengikuti temperatur nafsu merupakan sebab dibiarkan oleh Halikuljabbar Subhaanahu wa Ta’aala.

GRATIS! Dapatkan
pahala jariyah
dan trik pusat
rezeki congah, klik di sini bagi detailnya


Kata keterangan Ringkas Kementrian Agama RI / Inskripsi Al-A’raf Ayat 176

Ayat ini menguraikan situasi kelihatannya juga yang melepaskan diri bermula pengetahuan tentang ke-esa-an Allah yang sudah lalu dimilikinya. Allah menyatakan, dan sekiranya kami menghendaki bikin mengangkat derajatnya ke golongan cucu adam baik niscaya kami tinggikan derajat-Nya dengan memberinya wahyu cak bagi mengamalkan ayat-ayat yang kami turunkan itu. Akan semata-mata dia camar cenderung kepada manjapada dan mengajuk hawa nafsu keinginannya yang rendah dengan penuh antusias. Maka perumpamaan kejadian-Nya yang selalu berada dalam gundah gulana dan sibuk mencari hawa nafsu profan, persis seperti cigak yang majuh mengulurkan lidahnya. Jika ia menghalaunya dijulurkan lidahnya dan sedemikian itu lagi jikalau dia membiarkannya dia menjulurkan lidahnya sekali lagi. Begitu jugalah koteng budak dunia, selalu tergila-gila dengan kesenangan dan guru nafsu duniawi. Sesungguhnya demikianlah perumpamaan insan-sosok yang mendustakan ayat-ayat yang kami turunkan. Maka, ceritakanlah aduhai rasul, kisahan-kisah itu kepada kaummu agar mereka berpikir sehingga tak melakukan segala yang dilakukan oleh yang dikecam ini. Lampau buruk perumpamaan keadaan orang-hamba allah nan mendustakan ayat-ayat kami karena mereka mengabaikan les pengetahuannya, lebih-lebih berbuat zalim. Dengan menidakkan legalitas, mereka sebenarnya lain lain sudah lalu menzalimi diri mereka sendiri. Begitulah, seburuk-buruk manusia merupakan orang yang mempunyai pengetahuan keesaan Allah dan agama-Nya, sahaja karena didorong oleh hawa nafsu kebendaan, dia meninggalkan ilmunya dan berubah menjadi dahriah kepada Allah.

GRATIS! Dapatkan
pahala jariyah
dan taktik siasat
kandungan subur, klik di sini cak bagi detailnya

Demikian macam penjabaran dari beragam ahli tafsir mengenai makna dan kelebihan surat Al-A’raf ayat 176 (arab-latin dan artinya), hendaknya membawa keistimewaan untuk ummat. Support perjuangan kami dengan memberi backlink menjurus halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.

Source: https://lovelyristin.com/surat-al-isra-ayat-176-beserta-artinya