Surat Al Kahfi Ayat 17

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 17-18 mengulas tempat tinggal pemudaashabul kahfi,
mereka mendiami gua yang berada disebuah gunung. Digambarkan kerumahtanggaan Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 17-18 ini bahwa gorong-gorong tersebut menghadap ke paksina.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 16


Ayat 17

Selepas para pemuda itu berbincang-bincang akan halnya kaumnya serta diri sendiri, mereka memutuskan untuk uzlah ke dalam gua di sebuah gunung nan mereka sepakati. Dalam ayat ini, Allah menyucikan keadaan tempat perlindungan mereka itu. Ki gua tersebut berorientasi ke lor. Di pagi hari matahari mulai sejak dari sisi timur dan di sore hari matahari condong ke barat memalang gapura liang itu.

Dengan demikian, cahaya matahari sekadar tentang langsung pintu korok berpangkal samping kiri dan kanan. Penghuni-penghuni gua itu seorang tidak terjangkit kilauan rawi kendatipun mereka kaya di tempat nan luas. Ruangan gua itu berbahagia cerah matahari nan menyelekoh dari tuturan terowongan. Maka rubrik itu tidaklah palsu dan camar memperoleh gegana yang sejuk. Mengenai di mana lokasi liang ini, para ahli tafsir berlainan pendapat.

Ada yang mengatakan bahwa gorong-gorong itu di kewedanan dempet Aela (Yerusalem) di Palestina. Ibnu Ishak mengatakan di Nainawa, ialah suatu kota lama di daerah Mousul. Suka-suka juga nan mengatakan di daerah Romawi. Dalam keterangan di atas disebutkan bahwa kisahan-kisah ini terjadi di kota Ephesus, bersendikan riwayat bermula nasion Arab. Akan tetapi, sampai sekarang tidak terdapat bukti yang kuat di mana sepatutnya ada kancah gua itu. Sekiranya ada faedahnya, tentu Rasul saw akan memberitahu kita dimana gelanggang itu.

Itulah tanda-tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada para hamba-Nya yang beriktikad. Segala peristiwa yang dialami oleh para bujang itu, sejak mereka memperoleh karunia ke jalan tauhid, bermusuhan dengan kaumnya dan keluarganya tanpa memerhatikan kurnia pribadi, padahal mereka masih mulai dewasa, kemudian mereka memilih dengan tepat sebuah gua nan fit untuk tempat dulu, selanjutnya mereka terbangun juga sesudah 300 tahun makin lamanya berada dalam keadaan tertidur di dalam gua itu, menunjukkan tanda-tanda supremsi Halikuljabbar nan terdapat dalam kalimantang ini.

Cuma semua perlambang itu namun dapat dihayati oleh mereka yang diberi taufik makanya Allah swt lakukan menerima petunjuk kepada jalan kebenaran sama dengan pemuda-pemuda warga gua itu. Merekalah hamba allah-turunan yang memperoleh ilham dan dengan tepat melembarkan jalan keabsahan, sehingga mereka berbahagia intern hayat duniawi dan ukhrawi. Mereka telah mencapai dan menghayati segala rahmat dan pertolongan Halikuljabbar swt yang sebelumnya gelojoh mereka harap-harapkan.

Berlainan halnya dengan mereka ialah individu-orang yang tidak memperoleh petunjuk. Mereka ini adalah khalayak-makhluk yang sesat karena salah memilih kronologi nan harus ditempuh. Gaya kepada nafsu sekular menyebabkan mereka keseleo dalam mengidas jalan validitas. Mereka terhibur ke n domestik kesesatan jalan yang tidak membawa kebahagiaan.

Allah menyesat-morong mereka karena memang demikian keadaannya. Buat mereka dulu sukar kerjakan menemukan pembimbing yang membalas mereka ke jalan yang literal dan melepaskan dari kesesatan, karena iman dan ingkar itu terwalak pada karsa Allah. Engkau membagi taufik kepada hamba-Nya nan dikehendaki-Nya dan membiarkan turunan yang dikehendaki-Nya n domestik kesesatan.

Ayat 18

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 17-18, Setelah beruntung kancah nan kesatuan hati dalam gua, mereka beribadah dengan tekun di dalamnya hingga Halikuljabbar menudungi rungu mereka, sehingga mereka terpejamkan. Intern ayat ini, Sang pencipta swt mengklarifikasi hal mereka sambil tidur. Mereka gelagatnya bangun, tetapi sememangnya mereka tidur.

Ibnu Katsir berkata, “Sebagian ahli guna-guna menjernihkan bahwa tatkala Almalik menutup pendengaran mereka dengan perkembangan menidurkan mereka, alat penglihatan mereka tidak terkatup berdampingan kiranya mega tetap bisa turut. Karena mata mereka terbabang, mereka disangka  tetap terdidik; seolah-olah mereka mengawasi siapa yang berdiri di hadapan mereka. Sementara itu mereka itu mendalam tertidur, tetapi berbeda dengan tidur hamba allah absah.

Umumnya, sreg masa tidur normal terwalak isyarat istirahat dari peranti-gawai tubuh terutama pada mata dan wajah. Tidur para penghuni gua itu menyimpang dari
sunatullah
yang berlaku, karena Pereka cipta Kalimantang berkehendak untuk memperlihatkan kekuasaan dan kemerdekaan-Nya atas alam semesta ini kepada manusia yang ingkar.

Meskipun dalam peristiwa tidur, mereka digerakkan Allah dengan membalikkan mereka ke kiri dan ke kanan, sebagaimana lazimnya basyar hidup nan sedang tidur. Namun, hal itu tidak mengurangi keluarbiasaan kejadian tidur itu sendiri. Mengantul mereka tak dapat disamakan dengan berbalik seseorang nan tidur biasa meski badan tegar terpelihara.

Tuhan Mahakuasa memelihara jasad mereka, walaupun mereka tidak menunggangkan ke kiri dan ke kanan. Allah menggagas mereka pada waktu tertentu bikin menunjukkan adanya spirit dan menyingkirkan mereka bermula patung atau
mummi
yang ialah benda mati. Walaupun misalnya mereka berbalik ke kiri dan ke kanan sekali dalam setahun, sudah cukup menunjukkan ketakjuban yang luar konvensional bagi orang-orang nan menyaksikan karena mereka tidur makin dari tiga ratus tahun.

Pendapat ahli tafsir beraneka macam dalam peristiwa itu. Ada nan mengatakan heksa- rembulan sekali mereka berbalik, ada yang mengatakan sekali setahun puas hari Asyura, suka-suka pula yang mengatakan sembilan perian, dan sebagainya. Runding waktu itu tidak penting bikin diketahui.

Ketek ternak mereka dalam keadaan membujurkan jasad dengan kedua kaki depannya ki berjebah di akrab gerbang gua. Suasana dalam gua itu sangat menyeramkan. Siapa cuma yang ingin turut hendak melihat keadaannya, mereka karuan akan merasa samar muka, dan melarikan diri. Tidak seorangpun yang berani ikut ke dalam gua itu.

Tuhan menciptakan suasana seram dan menakutkan dalam lubang itu, menurut Bani Katsir, agar jangan seorangpun yang mendekat dan mengaras mereka sampai belakang hari datang ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan swt. Sebab, kejadian itu mengandung hikmah yang besar, dan alasan yang kuat bahwa janji Allah itu benar dan musim kiamat pasti datang.

(Kata tambahan Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 19-20


Source: https://tafsiralquran.id/tafsir-surah-al-kahfi-ayat-17-18/