Surat Al Luqman Ayat 15

Diriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berbicara, “Tatkala aku masuk Islam, ibuku bersumpah bahwa beliau tidak akan bersantap dan minum sebelum aku memencilkan agama Islam itu. Buat itu pada periode permulaan aku mohon agar ia cak hendak makan dan minum, sahaja beliau menolaknya dan tetap berkuat pada pendiriannya. Pada masa kedua, aku pula minta hendaknya engkau mau makan dan mereguk, tetapi beliau masih tetap pada pendiriannya. Puas musim ketiga, aku mohon kepada beliau hendaknya kepingin makan dan mereguk, saja tetap menolaknya. Oleh karena itu, aku bercakap kepadanya, ‘Demi Sang pencipta, jikalau ibu mempunyai seratus spirit dan keluar satu persatu di hadapan saya hingga ibu mati, aku lain akan meninggalkan agama yang aku dekap ini. Setelah ibuku melihat religiositas dan kekuatan pendirianku, maka sira pun mau bersantap.”

Pecah sebab turun ayat ini boleh diambil pengertian bahwa Sa’ad tidak berdosa karena tidak mengajuk niat ibunya lakukan kembali kepada agama syirik. Hukum ini berlaku lagi untuk seluruh umat Rasul Muhammad yang lain bisa kukuh kepada cucu adam tuanya mengajuk agama penyekutuan allah dan ulah dosa yang lain.

Ayat ini menerangkan bahwa dalam hal tertentu, koteng anak dilarang menaati ibu bapaknya takdirnya mereka memerintahkannya untuk menyekutukan Almalik, yang dia sendiri memang tak mengetahui bahwa Tuhan mempunyai sindikat, karena memang tidak terserah sekutu bagi-Nya. Sepanjang pengetahuan manusia, Allah tidak n kepunyaan kongsi. Karena menurut insting, manusia harus mengesakan Almalik.

Selanjutnya Allah mewajibkan seharusnya sendiri anak asuh tetap bersikap baik kepada kedua ibu bapaknya n domestik urusan bumi, seperti menghormati, menentramkan hati, serta memberi gaun dan tempat tinggal nan layak baginya, walaupun mereka memaksanya mempersekutukan Allah alias melakukan dosa nan enggak.

Sreg ayat enggak diperingatkan bahwa seseorang anak teristiadat mengucapkan introduksi-pembukaan yang baik kepada ibu bapaknya. Jangan terkadang bertindak atau mengucapkan perkenalan awal-kata nan menyinggung hatinya, sekalipun saja kata-alas kata “ah”. Allah berkata:

¦maka sekali-kali janganlah anda mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”. (al-Isra’/17: 23)

Pada akhir ayat ini suku bangsa Muslimin diperintahkan hendaknya mengikuti jalan khalayak yang menuju kepada Allah, Allah Yang Maha Esa, dan tidak mengikuti kronologi makhluk nan menyekutukan-Nya dengan orang. Kemudian ayat ini ditutup dengan peringatan berbunga Tuhan bahwa hanya kepada-Nya manusia kembali, dan Ia akan memberitahukan apa-apa yang sudah lalu mereka kerjakan selama hidup di dunia.

Source: https://quranweb.id/31/15/