Toko Alam Kimia Gajah Mada

Gajah Mada

Illustration of Gajah Mada.jpg

Ilustrasi Gajah Mada, sketsa ini didasari bermula gambaran lama oleh M. Yamin

Mahapatih Majapahit ke-4

Masa jabatan


ca.
 1331
[1] –
ca.
 1364
Penguasa monarki Tribhuwana Wijayatunggadewi
Hayam Wuruk
Pendahulu Arya Tadah (Mpu Krewes)
Perombak Gajah Enggon
Patih Daha/Kediri

Periode jabatan


1321 – 1334
Penguasa monarki Jayanegara

Tribhuwana Wijayatunggadewi
Patih Kahuripan

Masa jabatan


1319 – 1321
Penguasa monarki Jayanegara
Informasi pribadi
Lahir Sekeliling 1290-an
Meninggal 1364

Indonesia

Majapahit
Kebangsaan
Indonesia

Majapahit
Agama Syaiwa[2]
maupun Siwa-Buddha[Catatan 1]
Karier militer
Pihak
Indonesia

Majapahit
Pertempuran/perang Pemberontakan Ra Kuti
Pemberontakan Keta dan Sadeng

Perang Bedahulu
Perang Bubat
Padompo[Catatan 2]

Gajah Mada
(lahir
ca.
 1290
– wafat
ca.
 1364), dikenal dengan jenama enggak
Jirnnodhara
[3]
merupakan seorang panglima perang dan mahapatih nan yakni tokoh yang sangat berkarisma pada zaman kerajaan Majapahit.[4]
[5]
[6]
Menurut berbagai sumber puisi, kitab, dan epigraf dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya perian 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya sebagai
Bendahara.[4]
Ia menjadi
Mahapatih
(Nayaka Besar) puas masa Sultan Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai
Amangkubhumi
(Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.[7]

Gajah Mada populer dengan sumpahnya, yaitu Kualat Palapa, nan tercatat di n domestik Pararaton.[8]
Beliau menyatakan tidak akan gado
palapa
sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Meskipun ia merupakan salah suatu tokoh sentral momen itu, lampau terbatas tulisan-goresan sejarah yang ditemukan mengenai dirinya. Wajah sesungguhnya dari penggerak Gajah Mada, kini masih kontroversial.[9]
Banyak mahajana Indonesia masa kini nan menganggapnya sebagai pahlawan dan simbol nasionalisme Indonesia[10]
dan persatuan Nusantara.[11]

Penggambaran rupa

[sunting
|
sunting mata air]

Penggambaran Gajah Mada sebagai arca, kanan ke kiri:

  • Arca Brajanata, di Museum Nasional Indonesia, No.5136/310d.
  • Arca Bima, No.2776/286b.

Penggambaran rupa Gajah Mada yang tersohor di alat angkut sepantasnya merupakan imajinasi dari Mohammad Yamin, di bukunya yang berjudul “Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara”, berbunga permulaan kali tahun 1945. Puas suatu periode di perian 1940-an, Yamin mengunjungi Trowu­lan untuk melihat lokasi eks kerajaan Majapahit. Ia menemukan retakan terakota, salah satunya celengan berupa cahaya muka koteng pria berwajah rata gigi dan bersurai berkerut. Berpedoman air muka wajah ce­lengan itu, Yamin menafsirkan seperti itulah wajah Gajah Mada sang pemersatu Nusantara. Yamin kemudian meminta seniman Henk Ngantung membuat lukisan sebagaimana terakota tersebut. Hasil lukisan suntuk dipampang sebagai sampul muka buku karya Yamin. Banyak orang yang menentang pendapat Yamin, karena mustahil muka dedengkot sebesar Gajah Mada dipampangkan di celengan. Situasi semacam itu ialah pencercaan karena biasanya para pemuka negara pada zaman Hindu Buddha, tertera Majapahit, diarcakan. Bebe­rapa orang bahkan yakin bahwa durja yang disangka Gajah Mada itu tidak lain ialah cahaya muka Yamin koteng.[12]

Suka-suka pula bayangan tidak pertanyaan sosok Gajah Mada, farik terbit yang diilustrasikan M. Yamin, yakni hasil penelitian arkeolog Universitas Indonesia Agus Aris Munandar. Ia menayangkan Gajah Mada selayaknya basyar Bima intern pewayangan, yakni berkumis mendatar.[13]
N domestik media naik daun, Gajah Mada kebanyakan ditampilkan bertelanjang dada, mengaryakan kain sarung, dan memperalat senjata aktual keris. Meskipun ini boleh jadi ter-hormat dalam tugas sipil, pakaian lapangannya mungkin berlainan: Seorang patih Sunda membeningkan, seperti yang tercatat dalam kidung Sundayana, bahwa Gajah Mada menyarungkan
karambalangan
(lapis logam di depan dada—breastplate) berhias kulur dari emas, bersenjata tembiang berlapis emas, dan perisai penuh dengan hiasan berusul intan berlian.[14]
[15]

Busana baju besi nan mungkin dipakai Gajah Mada, kiri ke kanan:

  • Zirah berpokok sebuah patung candi di Singasari.
  • Patung dewa menyambut sebuah kuiras, berpunca Nganjuk, Jawa Timur, puas tahun sebelumnya (abad ke-10 mencecah-11).

Menurut Munandar, lega awalnya Gajah Mada diarcakan ibarat penggagas Brajanata privat cerita panji, dan sebagai Bima dalam cerita Mahabharata pada perian kemudian. Pada awalnya Gajah Mada tidak refleks diarcakan umpama biang kerok Bima, dia diarcakan sebagai tokoh Brajanata karena kisah Panji makin dahulu dikenal ketimbang kegiatan pembuatan arca-arca Bima yang agaknya mulai berlangsung sreg medio abad ke-15. Pemuliaan Gajah Mada pada tahap pertama berperilaku profan—yakni n domestik bentuk pengarcaannya seumpama Brajanata, namun selanjutnya terjadi pemuliaan Gajah Mada dalam tahap kedua nan lebih bersifat sakral, yaitu disetarakan dengan Bima bagaikan salah suatu aspek Siva.[16]
Puas reca yang terletak di Museum Nasional, arca tersebut digambarkan berbadan tegap, kumis mengufuk, surai ikal berombak, di bagian puncak pejabat terdapat kekeluargaan bulu dengan pita membentuk seperti topi
tekes. Ia melingkarkan busana dan perhiasan kerokot dan perat lengan atas berupa ular bakau sebagaimana Bima.[17]

Arca Bima dibuat sreg masa akhir Majapahit dalam pertengahan abad ke-15. Ciri-cirinya yakni: a) Mempekerjakan mahkota
supit urang
(rambutnya dibentuk 2 lengkungan di puncak pemimpin seperti cengkeram udang), b) Berkumis mengufuk, c) Berbadan tegap, d) Memakai karet
poleng
(hitam-putih), e) Lingganya selalu digambarkan menonjol.[18]
Pada arca Bima nan tersimpan di Museum Nasional, beliau digambarkan merembas tegak dengan kedua tangan disamping tubuhnya, tangan kanan menyambut
gadha, lingganya digambarkan menonjol menyingkan sampur yang menjuntai di antara 2 kaki, memakai
upawita
ular, mahkota supit benur, tampang sangar, kumis rimbun melintang, bulu di atas dahinya digambarkan ikal membentuk seperti
jamang
(hiasan dahi).[19]
Adanya kesetaraan antara reca Brajanata sebagai perwujudan Gajah Mada dengan arca Bima bukanlah suatu kebetulan, melainkan terdapat konsepsi yang mendasarinya: Konsepsi itu berkembang seiring dengan semakin jauhnya jarak keadaan memori dengan para pemujanya pada masa nan lebih kemudian.[20]

Arti nama

[sunting
|
sunting sumber]

Prolog “Gajah” mengacu kepada fauna yang osean yang disegani sato lainnya, dalam mitologi Hindu dipercaya ibarat
wahana
(hewan tunggangan) dari batara Hidung. Gajah pula dihubungkan dengan Ganesa, dewa berkepala gajah berbadan sosok, putra Siwa dan Parwati. Adapun kata “Mada” dalam bahasa Jawa kuno artinya mabuk, bisa dibayangkan jika seekor gajah sedang mabuk, ia akan berjalan sesuka hati, beringas, menerabas segala rintangan. Maka apabila dihubungkan dengan pencetus Gajah Mada, tanda itu dapat ditafsirkan intern 2 aturan, yakni:[21]

  1. Ia menganggap dirinya sebagai wahana raja, perakit perintah-perintah raja, sebagaimana gajah Airawata menjadi alat angkut betara Hidung.
  2. Ia merupakan orang nan seakan-akan mabuk dan beringas apabila menghadapi berbagai hambatan yang akan menghambat kejayaan kerajaan. Sungguh merupakan pilihan tanda yang tepat dan agaknya nama itu telah dipikirkan masak-masak maknanya sebelum dipakai bikin nama dirinya.[21]

Internal prasasti Gajah Mada diketahui julukan lain beliau, adalah Rakryan Mapatih Jirnnodhara. Barangkali nama itu hanya sekadar gelaran bagi Gajah Mada, tetapi boleh pula dipandang sebagai nama resminya. Arti kata
Jirnnodhara
adalah “pendiri sesuatu yang yunior” ataupun “pemugar sesuatu yang telah runtuh/rusak”. N domestik signifikasi harfiah Gajah Mada ialah pendiri
caitya
bagi Kertanegara yang semula belum ada. Dalam signifikasi kiasan kamu boleh dipandang sebagai pemugar dan penerus gagasan Kertanegara n domestik konsep
Dwipantara Mandala.[22]

Lahirnya Gajah Mada

[sunting
|
sunting sumber]

Demikian bunyi Batu bertulis Gajah Mada yang bertarikh 1273 saka atau perian 1351. Misal mahamantri terkemuka, Gajah Mada boleh mengeluarkan prasastinya sendiri dan berwajib membagi titah membangun konstruksi suci (caitya) untuk tokoh yang telah meninggal. Prasasti itu memberitakan pembangunan
caitya
bagi Kertanagara. Raja terakhir Singhasari itu luruh di istananya bersama patihnya, Mpu Raganatha dan para brahmana Siva dan Buddha, akibat serangan tentara Jayakatwang dari Kediri.

Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, agaknya Gajah Mada n kepunyaan alasan khusus mengapa memilih menyadarkan
caitya
bagi Kertanagara ketimbang induk bala-tokoh pendahulu lainnya. Padahal, selama era Majapahit yang dipandang penting tentunya Raden Wijaya sebagai pendiri Imperium Majapahit. kemungkinan raksasa bangunan putih nan didirikan atas perintah Gajah Mada adalah Candi Singhasari di Malang. Pasalnya, Prasasti Gajah Mada ditemukan di pekarangan Candi Singhasari. Bangunan candi lain yang dihubungkan dengan Kertanagara, adalah Candi Melayu di Pasuruan. Candi ini sangat mungkin didirikan tidak lama setelah tewasnya Kertanagara di Kedaton Singhasari.[23]

Menurut Agus, bersendikan data prasasti, karya sastra, dan tinggalan arkeologis, ada dua alasan mengapa Gajah Mada mengagungkan Kertanagara setakat mendirikan candi baginya. Pertama, Gajah Mada mencari legitimasi bakal membuktikan Laknat Palapa. Engkau berupaya keras sepatutnya wilayah Nusantara mengakuri kemajuan Majapahit. Kertanagara ialah raja yang memiliki wawasan ketatanegaraan luas. Dengan wawasan
Dwipantara Mandala, dia memaki daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa. Dengan demikian Gajah Mada seakan meneruskan ketatanegaraan pengembangan mandala hingga seluruh
Dwipantara
(Nusantara) yang awalnya telah dirintis maka dari itu Kertanegara.

Kedua,
kerumahtanggaan masa Jawa Kuno, candi atau
caitya
pen-dharma-an otak selalu dibangun oleh kerabat atau keturunan langsung tokoh itu, seperti mana Candi Sumberjati bagi Raden Wijaya dibangun musim 1321 pada masa Jayanegara; dan Candi Bhayalango lakukan Rajapatmi Gayatri dibangun tahun 1362 maka itu cucunya, Hayam Wuruk. Atas alasan itu, Gajah Mada masih pertalian keluarga dari Sultan Kertanagara. Setidaknya Gajah Mada masih punya hubungan talenta dengan Kertanagara.

Ayah Gajah Mada mungkin sekali bernama Gajah Pagon yang mengiringi Raden Wijaya momen berperang menimbangi pengikut Jayakatwang dari Kediri. Gajah Pagon tidak mungkin orang biasa, bahkan dulu mana tahu anak dari salah satu selir Kertanagara karena dalam kitab
Pararaton, merek Gajah Pagon disebut secara singularis. Ketika itu, Raden Wijaya begitu mengkhawatirkan Gajah Pagon yang terluka dan dititipkan kepada seorang ketua desa Pandakan. Menurutnya, terlampau mungkin Gajah Pagon selamat kemudian menikah dengan upik bos desa Pandakan dan akhirnya memiliki anak, merupakan Gajah Mada nan menghamba lega Majapahit.[23]

Gajah Mada siapa punya embah yang sama dengan Tribhuwana Tunggadewi. Bedanya Gajah Mada cucu dari istri gelap selir, sedangkan Tribhuwana yaitu cucu berusul ayutayutan halal Kertanagara. Dengan demikian, tidak mengganjilkan dan dapat dipahami mengapa Gajah Mada sangat menghormati Kertanagara karena Kanjeng sultan itu adalah eyangnya sendiri. Sahaja baka Kertanegara doang yang akan dengan senang hati membangun
caitya
berupa Candi Singasari untuk mengenang kebesaran leluhurnya itu. Bahkan konsepsi Dwipantra Mandala dari Kertanagara mana tahu menginspirasi dan mendorong Gajah Mada dalam mencetuskan Sumpah Palapa.[23]

Sebuah arca dari Museum Trowulan. Mohammad Yamin menggunakan arca kapling liat ini perumpamaan dasaran penggambaran rupa Gajah Mada.

Tidak cak semau deklarasi dalam sumber sejarah yang tersedia detik puas awal kehidupannya, kecuali bahwa ia dilahirkan sebagai sendiri biasa yang kariernya mendaki detik menjadi
Bekel
(komandan legiun)
Bhayangkara
(juru foto Raja) pada masa Emir Jayanagara (1309–1328). Terdapat sumber yang mengatakan bahwa
Gajah Mada
bernama lahir
Mada,
[24]
sedangkan tera
Gajah Mada
[25]
kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai perdana.[26]

Menurut Pararaton, Gajah Mada bagaikan komandan angkatan khusus Bhayangkara berakibat menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309–1328) ke desa Badander dan memadamkan resistansi Ra Kuti (salah koteng Dharmaputra, personel istana nan diistimewakan sejak masa Raden Wijaya). Bak balas jasa, dalam pupuh
Désawarnana
atau
Nāgarakṛtāgama
karya Prapanca[27]
disebutkan bahwa Jayanagara mengangkat Gajah Mada menjadi perdana Kahuripan (1319). Dua tahun kemudian, dia mewakili Arya Tilam yang ajal sebagai patih di Daha / Kediri. Pengangkatan ini membuatnya kemudian masuk ke tahapan sosial elitis istana Majapahit puas saat itu. Selain itu, Gajah Mada digambarkan pula bagaikan “koteng yang prestisius, merenjeng lidah dengan tajam atau tegas, jujur dan kudus ikhlas serta berpikiran sehat”.[28]
[29]

Pasca Jayanagara ajal, Arya Tadah nan merupakan Mahapatih Amangkubhumi mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Ibusuri Gayatri yang menggantikan geta Jayanegara dan menunjuk Perdana Gajah Mada dari Daha/Kediri. Gajah Mada sebagai Patih Daha sendiri lain langsung menyetujuinya, tetapi ia ingin membuat jasa terlebih dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu semenjana memberontak.

Tribuwana Wijayatunggadewi yang menjadi Rani Kahuripan menjadi penyusun tugas pemerintahan Majapahit. Bahkan setelah Gayatri meninggal pada 1331, Tribhuwana Wijayatunggadewi tetap sebagai Maharani dari kerajaan Majapahit. Setelah Keta dan Sadeng boleh ditaklukan maka dari itu Gajah Mada, barulah puas periode 1334, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih Amangkubhumi secara stereotip menggantikan Arya Tadah (Mpu Krewes) yang sudah sepuh, sakit-sakitan, dan meminta pensiun sejak musim 1329.

Sumpah Palapa

[sunting
|
sunting sendang]

Ketika pengangkatannya bak Mahapatih Amangkubhumi plong tahun 1258 Saka (1334 M) Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa nan berisi bahwa dia lain akan menikmati palapa alias rempah-rempah (nan diartikan kenikmatan duniawi) sebelum bertelur menjinakkan Nusantara. Sebagaimana tercatat internal kitab
Pararaton
internal teks Jawa Pertengahan nan berbunyi sebagai berikut[30]

bila dialih-bahasakan n kepunyaan arti:[30]

Menurut ahli tarikh Slamet Muljana dalam
Adverbia Memori Nagarakretagama, sumpah Gajah Mada itu menimbulkan kegemparan. Para petinggi kerajaan seperti Ra Kembar, Ra Banyak, Damar Tarewes, dan Lembu Peteng merespons dengan negatif. Tindakan mereka membuat Gajah Mada sangat marah karena ditertawakan. Hal ini diperkuat pun oleh Muhammad Yamin dalam
Gajah Mada: Pahlawan Pemersatu Nusantara. Gajah Mada pun meninggalkan paseban dan terus pergi menghadap Betara Kahuripan, Tribhuana Tunggadewi. Dia sangat berkecil hati karena dapat rintangan berpokok Kembar, lamun Arya Tadah membantu sekuat tenaga.

Arya Tadah memang pernah berjanji akan memberi sambung tangan dalam segala kesulitan kepada Gajah Mada. Namun, menurut Slamet Muljana, Arya Tadah senyatanya juga timbrung menertawakan program garis haluan Gajah Mada itu karena sreg hakikatnya, Arya Tadah alias Empu Krewes bukan rela meluluk Gajah Mada menjadi patih
amangkubumi
sebagai penggantinya. Pengepungan Sadeng dan Keta di Jawa Timur terjadi plong masa 1331. Ketika itu yang menjadi mahapatih adalah Arya Tadah. Dia menjanjikan kepada Gajah Mada, sepulang dari penaklukkan Sadeng dia akan diangkat menjadi patih, bukan mahapatih. Betapa kecewanya Gajah Mada, karena Kembar mendahuluinya mengepung Sadeng. Untuk menghindari sengketa antara Gajah Mada dan Kembar, Rani Tribhuana Tunggadewi menclok sendiri ke Sadeng membawa angkatan Majapahit. Kemenangan atas Sadeng tercatat atas cap Sang Rani sendiri. Semua peserta penaklukan Sadeng dinaikkan pangkatnya. Gajah Mada bernasib baik gelar
angabehi, dan Kembar dinaikkan sebagai
bekel araraman. Saat itu, Gajah Mada sendiri telah menjadi patih Daha.

Gajah Mada melaksanakan politik pemberkasan Nusantara selama 21 tahun, ialah antara tahun 1336 sebatas 1357. Isi program politik ialah menundukkan negara-negara di luar wilayah Majapahit, terutama negara-negara di melintas lautan, yakni Gurun (Lombok), Seram, Semenanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatra Lor), Pahang (Malaya), Dompo, Bali, Sunda, Palembang (Sriwijaya), dan Tumasik (Singapura). Apalagi, n domestik kitab
Nagarakretagama
pupuh 13 dan 14 nama-tera negara yang disebutkan jauh lebih banyak daripada yang dinyatakan dalam serapah Nusantara.

Penyerangan

[sunting
|
sunting sumber]

Walaupun ada sejumlah pendapat yang meragukan sumpahnya, Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Dibantu oleh Laksamana Nala, Gajah Mada memulai operasi penaklukannya dengan menunggangi pasukan laut ke provinsi Swarnnabhumi (Sumatra) musim 1339, pulau Bintan, Tumasik (sekarang Singapura), Semenanjung Malaya, kemudian pada masa 1343 bersama dengan Arya Jabung menaklukan Bedahulu (di Bali) dan kemudian penaklukan Embalau, dan sejumlah negeri di Kalimantan sebagaimana Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawe, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Sulu, Kersik halus, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Pada zaman tadbir Aji Hayam Wuruk (1350–1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Gajah Mada terus mengamalkan pemilikan ke daerah timur sebatas tahun 1357 sebagai halnya Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwu, Buton, Banggai, Kunyit, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Dilema

[sunting
|
sunting sendang]

Terdapat dua area di Pulau Jawa nan terbebas berasal invasi Majapahit yakni Pulau Madura dan Kerajaan Sunda karena kedua area ini mempunyai keterkaitan erat dengan Nararya Sanggramawijaya atau secara masyarakat disebut dengan Raden Wijaya pendiri Imperium Majapahit (Lihat: Prasasti Kudadu 1294[31]
dan Pararaton Lempengan VIII, Lembaran X s.d. Lembaran XII[32]
dan Invasi Yuan-Mongol ke Jawa pada hari 1293) sebagaimana diriwayatkan pula dalam
Kidung Panji Wijayakrama.

Perang Bubat

[sunting
|
sunting sumber]

Dalam
Kidung Sunda
[33]
diceritakan bahwa Perang Bubat (1357) terbit saat Kanjeng sultan Hayam Wuruk start melakukan langkah-langkah diplomasi dengan hendak menikahi Dyah Pitaloka Citraresmi pemudi Sunda seumpama permaisuri. Lamaran Aji Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda, dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit bakal melangsungkan pernikahan agung itu. Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk, memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kontrol Majapahit. Akibat penangkisan pihak Sunda akan halnya hal ini, terjadilah pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat; yang ketika itu menjadi ajang pondokan delegasi Sunda. Dyah Pitaloka hapus diri selepas ayah dan seluruh rombongannya gugur dalam pertentangan. Akibat hal itu anju-awalan diplomasi Hayam Wuruk gagal dan Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya karena dipandang lebih menginginkan pencapaiannya dengan urut-urutan berbuat invasi militer sedangkan hal ini tidak boleh dilakukan.

Dalam
Nagarakretagama
diceritakan hal yang sedikit berbeda. Dikatakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada ibarat
Mahamantri Agung
yang wira, bijaksana, serta tegar berbakti kepada negara. Sang yang dipertuan menganugerahkan dukuh “Madakaripura” yang berpemandangan indah di Tongas, Probolinggo, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; belaka tetapi engkau memerintah berasal Madakaripura.[34]

Pengunci hidup

[sunting
|
sunting sumber]

Begitulah bunyi kabar dalam
Kakawin Nagarakretagama
pupuh 70 bait 1–3 dikutip Slamet Muljana internal
Adverbia Memori Nagarakretagama. Yang dipertuan Majapahit Rajasanegara maupun Hayam Wuruk yang medium melakukan penjelajahan upacara keagamaan ke Simping (Blitar) dikejutkan dengan berita Gajah Mada guncangan. Dia segera lagi ke ibu kota Majapahit.

Meski perannya di Kerajaan Majapahit seperti itu melegenda, intiha riwayat Gajah Mada hingga masa ini masih belum jelas. Arkeolog Perserikatan Indonesia, Agus Aris Munandar dalam
Gajah Mada Memoar Politik
menulis, suka-suka berbagai sendang yang menyedang menguraikan penutup hidup Gajah Mada. Sumber pertama adalah
Kakawin Nagarakretagama
nan ditulis makanya Mpu Prapanca itu mengisahkan akhir hidup Gajah Mada dengan kematiannya yang wajar pada tahun 1286 Saka (1364 M). Terbit cerita-narasi rakyat Jawa Timur, Gajah Mada dikisahkan menjajarkan diri setelah Peristiwa Bubat dan memilih hidup sebagai pertapa di Madakaripura di pedalaman Probolinggo selatan, wilayah tungkai pegunungan Bromo-Semeru. Di provinsi Probolinggo ini memang terdapat cegar bernama Madakaripura yang airnya jatuh berpangkal gisik yang pangkat. Di balik air terjun yang membanjur perumpamaan belat itu terdapat deretan ceruk dan satu goa yang cukup menjorok dalam dan dipercaya dulu Gajah Mada menjadi pertapa dengan menarik diri dari dunia ramai bak
wanaprastha
(menyepi tinggal di hutan) sampai akhir hayatnya.

Mengenai
Kidung Sunda
menyebutkan bahwa Gajah Mada tidak meninggal. Kidung ini membeberkan bahwa Gajah Mada moksa kerumahtanggaan pakaian jalal misal Batara Visnu. Dia moksa di halaman kepatihan pula ke khayangan. Namun, Agus Aris Munandar menyatakan bahwa pengunci kehidupan Gajah Mada lenyap internal uraian ketidakpastian karena dia malu dengan pecahnya tragedi Bubat. Selanjutnya, menurut Agus, bisa ditafsirkan bahwa Gajah Mada memang sakit dan meninggal di Daerah tingkat Majapahit atau di kawasan
Karsyan
yang tak jauh terbit sana. Itu seperti dengan deklarasi kembalinya Rajasanagara ke ibu daerah tingkat Majapahit dalam
Nagarakretagama, lekas sesudah mendengar si patih sakit.

Absennya Gajah Mada kerumahtanggaan politik Majapahit pergi jejas bikin sang raja. Hayam Wuruk lewat bersedih. Bahkan dikisahkan sinuhun itu begitu terbang arwah. Engkau serempak menemui ibunya, kedua adik, dan kedua iparnya untuk membicarakan pengganti kursi sang Mahapatih Amangkubhumi. Tetapi, “Baginda berpegang teguh, Adimenteri Gadjah Mada tak akan diganti,” catat
Nagarakretagama
pupuh 71 kuplet 3.[35]

Hayam Wuruk pula mengadakan sidang Dewan Sapta Sinuhun untuk membelakangkan pengalih Gajah Mada. Karena tidak terserah satu pun yang sanggup mengoper Patih Gajah Mada, Hayam Wuruk kemudian melembarkan empat Mahamantri Agung dibawah pimpinan Mpu Nala Tanding untuk selanjutnya membantunya kerumahtanggaan menyelenggarakan segala urusan negara. Namun keadaan itu lain berlangsung lama. Mereka pun digantikan oleh dua orang mentri yakni Gajah Enggon dan Gajah Manguri. Akhirnya Hayam Wuruk memutuskan untuk menggotong Gajah Enggon sebagai Mahapatih Amangkubhumi mengaplus posisi Gajah Mada.

Penghormatan

[sunting
|
sunting perigi]

Lukisan kontemporer Gajah Mada karya I Nyoman Astika.

Sebagai salah sendiri tokoh utama Majapahit, merek Gajah Mada sangat terkenal di masyarakat Indonesia pada umumnya. Pada masa sediakala kebebasan, para pemimpin antara lain Sukarno dan Mohammad Yamin sering menyebut sumpah Gajah Mada bagaikan inspirasi dan “bukti” bahwa bangsa ini dapat bersatu, sungguhpun meliputi wilayah yang luas dan budaya yang berbeda-beda. Dengan demikian, Gajah Mada yakni inspirasi cak bagi revolusi nasional Indonesia bagi gerakan kemerdekaannya terbit kolonialisme Belanda.

Institut Gadjah Mada di Yogyakarta adalah perserikatan negeri nan dinamakan menurut namanya. Satelit telekomunikasi Indonesia yang pertama dinamakan Satelit Palapa, nan menekankan perannya umpama pemersatu telekomunikasi rakyat Indonesia. Banyak kota di Indonesia mempunyai jalan nan bernama Gajah Mada, namun meruntun diperhatikan bahwa tidak demikian halnya dengan kota-kota di Jawa Barat.

Peruasan fiksi kesejarahan dan sandiwara radio sampai sekarang masih sering membualkan Gajah Mada dan perjuangannya memperluas supremsi Majapahit di Nusantara dengan Laknat Palapa-nya, demikian lagi dengan karya seni patung, lukisan, dan tidak-lainnya.

Budaya naik daun

[sunting
|
sunting sumber]

  • Gajah Mada memiliki aksi untuk tamadun Jawi dalam paket ekspansi game
    Age of Empires II,
    Rise of the Rajas. Kampanye tersebut berkisar plong berdirinya kerajaan Majapahit dengan penyerangan Mongol, pendudukan Nusantara sehabis Sumpah Palapa dan Tragedi Bubat yang menyebabkan kejatuhannya. Engkau juga muncul di
    Age of Empires II Definitive Edition.[36]
  • Gajah Mada muncul dalam pak pengembangan Brave New World cak bagi video game PC Sid Meier’s
    Civilization V
    misal pemimpin peradaban Indonesia.[37]
  • Sinetron berjudul
    Gajah Mada
    pernah ditayangkan di MNCTV puas periode 2022.
  • Gajah Mada pula disebut andai Perdana Nayaka Majapahit intern anime
    Joukamachi no Dandelion.[38]
  • Novel kilauan Gajah Mada oleh Langit Kresna Hariadi nan diterbitkan pada periode 2004.[39]

Lihat sekali lagi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Epigraf Gajah Mada
  • Nagarakretagama
  • Hindu di Indonesia
  • Agama Hindu di Asia Tenggara
  • Institut Gajah Mada
  • Peri Cikar Bibit

Gubahan

[sunting
|
sunting perigi]


  1. ^

    Pengarcaan Gajah Mada sebagai Brajanata dan Bima menunjukkan bahwa sira adalah penyanjung Siwa, hanya agama Majapahit sendiri yakni campuran (sinkretisme) Hindu-Buddha, juga dikenal sebagai Siwa-Buddha.

  2. ^

    Sangat kali Gajah Mada masih berperan di Majapahit setelah hal Bubat. Munandar menafsirkan bahwa beliau memimpin sendiri serangan ke Dompo bersama laksamana Wiramandalika Mpu Nala. Tafsir adapun peranan Gajah Mada dalam Padompo dapat dilihat di karya sastra pusparagam Kesultanan Bima berjudul “Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Betara-Dewa”, hanya tetapi nama Gajah Mada enggak disebut secara spontan melainkan diibaratkan dengan Bima. Uraian kisahnya sekali lagi telah dilingkupi dengan berbagai rupa mitos, legenda, dongeng, dan lagi keadaan album sezaman ketika naskah itu pertama mungkin digubah intern abad ke-17 dan 19. Tatap Munandar, 2010: 99–100.

Kepustakaan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Pigeaud, 1960: 83

  2. ^

    Munandar, 2010: 127

  3. ^

    Munandar, 2010: 77
  4. ^


    a




    b




    Pigeaud, Theodore Gauthier Th. (1975).
    Javanese and Balinese manuscripts and some codices written in related idioms spoken in Java and Bali: descriptive catalogue, with examples of Javanese script, introductory chapters, a general index of names and subjects. Steiner. ISBN 3515019642, 9783515019644.





  5. ^

    Pogadaev, V. A., 2001,
    Gajah Mada: The Greatest Commander of Indonesia. Historical Lexicon. XIV –XVI Century. Vol. 1. h.245-253, Мoscow: Znanie.

  6. ^

    C. C. Berg.
    Het rijk van de vijfvoudige Buddha
    (Verhandelingen der Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen, Afd. Letterkunde, vol. 69, no. 1) Ansterdam: Falak.V. Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij, 1962; cited in M.C. Ricklefs,
    A History of Modern Indonesia Since c. 1300, 2nd ed. Stanford: Stanford University Press, 1993

  7. ^

    J.L.A. Brandes, 1902,
    Nāgarakrětāgama; Lofdicht van Prapanjtja op koning Radjasanagara, Hajam Wuruk, van Madjapahit, naar het eenige daarvan bekende handschrift, aangetroffen in de istana te Tjakranagara op Lombok.

  8. ^

    Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990.
    Album Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Aula Pustaka.

  9. ^


    Gunawan, Restu (2005).
    Muhammad Yamin dan cita-cita persatuan Indonesia. University of Michigan Press.





  10. ^

    Memory of Majapahit: Gajah Mada

  11. ^


    Yamin, Muhammad (1945).
    Gadjah Mada, pahlawan persatoean Noesantara. Balai Poestaka. ISBN 9789794073230.




    ISBN 979-666-195-0 Diarsipkan 2022-04-05 di Wayback Machine.

  12. ^


    Oktorino, Nino (2020).
    Hikayat Majapahit – Kebangkitan dan Kemerosotan Imperium Terbesar di Nusantara. Jakarta: Elex Ki alat Komputindo. hlm. 128–129.





  13. ^


    Damarjati, Danu (29 Desember 2022). “Sejarawan: Cahaya muka Gajah Mada Karya M Yamin Pertama Ada Musim 1945”.
    detikcom
    . Diakses sungkap
    14 Agustus
    2022
    .





  14. ^

    Berg, Kindung Sundāyana (Kidung Sunda C), Soerakarta, Drukkerij “De Bliksem”, 1928.

  15. ^


    Nugroho, Irawan Djoko (6 August 2022). “Busana Baja Emas Gajah Mada”.
    Nusantara Review
    . Diakses sungkap
    14 August
    2022
    .





  16. ^

    Munandar, 2010: 121

  17. ^

    Munandar, 2010: 116-117

  18. ^

    Munandar, 2010: 116

  19. ^

    Munandar, 2010: 118

  20. ^

    Munandar, 2010: 116
  21. ^


    a




    b



    Munandar, 2010: 12-13

  22. ^

    Munandar, 2010: 77
  23. ^


    a




    b




    c



    Agus Aris Munandar, “Gajah Mada, Riwayat hidup Politik”

  24. ^


    Tatap: Lempengan Tembaga Batur, Prasasti Bendasari dan Prasasti Prapancasarapura

  25. ^


    Lihat: Batu bertulis Kediri I, Prasasti Singasari dan Prasasti Walandit

  26. ^

    R. S. Subalidinata, Sumarti Suprayitno, Anung Tedjo Wirawan
    Sejarah dan perkembangan cerita murwakala dan ruwatan bersumber perigi-mata air sastra Jawa, University of Michigan Press (1985)

  27. ^


    Désawarnana
    atau
    Nāgarakṛtāgama
    diitemukan pertama kali ketika penyerbuan di Keraton Cakranegara, Lombok (1894), dengan bacaan dalam huruf Bali. Puas wulan Juli 1978, ditemukan kembali di bilang tempat di Bali yakni: di Amlapura (Karang Asem), di Geria Pidada, di Klungkung dan dua naskah juga di Geria Penyadur Sideman.

  28. ^


    Kern, Hendrik (1918).
    H. Kern: deel. De Nāgarakṛtāgama, slot. Spraakkunst van het Oudjavaansch. M. Nijhoff.





  29. ^


    Robson, Stuart O. (1995).
    Désawarnana (Nagarakrtagama) by Mpu Prapanca. Leiden: KITLV Press.




  30. ^


    a




    b



    Mangkudimedja, R.M., 1979,
    Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Jakarta: Departemen P dan K, Bestelan Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

  31. ^

    Prasasti Kudadu dibuat oleh Narrya Sanggramawijaya pada bulan Bhadrapada tahun Saka 1216 (sekitar Agustus s.d. September 1294 Masehi)

  32. ^

    BRANDES, J.L.A. – Pararaton (Ken Arok): het boek der Koningen van tumapěl en Majapahit. Tekst,vert.& comm.bew.d.Kaki langit.J.Krom. Batavia 1920

  33. ^

    C.C. (1927) Kidung Sunda.”>Berg, C.C. 1927.
    Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen.
    ‘s Grav., BKI.

  34. ^


    Lihat: pupuh 12 dan 19 dari
    Désawarnana
    atau
    Nāgarakṛtāgama

  35. ^


    Risa Herdahita Putri. “Misteri Kematian Gajah Mada”.
    Historia
    . Diakses tanggal
    21 April
    2022
    .





  36. ^


    JawaPos.com (22 Desember 2022). “Wow, Cak semau Imperium Majapahit dan Gajah Mada di Game Age of Empire, Cobain Yuk!”.
    JawaPos.com
    . Diakses tanggal
    6 Oktober
    2022
    .





  37. ^


    Susanto, Dwi Andi. Susanto, Dwi Andi, ed. “Gajah Mada dan Majapahit hadir di game Civilization V”.
    Merdeka.com
    . Diakses tanggal
    6 Oktober
    2022
    .





  38. ^


    “Lain Disangka, 13 Anime Ini Punya Elemen Indonesia di Dalamnya”.
    IDN Times
    . Diakses sungkap
    21 April
    2022
    .





  39. ^


    “Gajah Mada Series by Langit Kresna Hariadi”.
    www.goodreads.com
    . Diakses tanggal
    2021-03-08
    .




Pustaka

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Indonesia)
    Munandar, Agus Aris (2010).
    Gajah Mada: Biografi Politik. Jakarta: Komunitas Bambu. ISBN 979-3731-72-9.



  • (Inggris)
    Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1960).
    Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Debit III: Translations
    (edisi ke-3 (revisi)). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 978-94-011-8772-5.



  • (Indonesia)
    Yamin, Muhammad (1945).
    Gadjah Mada, Pahlawan Persatoean Noesantara. Balai Poestaka. ISBN 9794073237.





Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Gajah_Mada