Tokoh Filsafat Indonesia Dan Pemikirannya


Yunani adalah kawasan asal guna-guna mantiq atau logika karena banyak penduduknya nan mujur karunia otak cerdas. Area Yunani, terutama Athena diakui menjadi sumber berbagai macam hobatan.


Socrates, Plato, Aristoteles, dan banyak yang lainnya adalah inisiator-tokoh ilmiah kelas marcapada yang enggak suka-suka cendekiawan nasional dan internasional lain mengenalnya sampai waktu ini dan besok, tetapi, khusus cak bagi akal sehat atau aji-aji mantiq Aristoteles-lah yang menjadi guru utamanya.


Foto: Menentukan Keputusan | www.pexels.com by Ivan Cujic


Akan semata-mata, biar Aristoteles terkenal sebagai “Bapak Logika”, itu tidak berjasa bahwa sebelum dia tidak ada logika. Segala orang ilmiah dan ahli filosofi sebelum Aristoteles menggunakan logika sepenuhnya.


Dalam literatur tak, disebutkan bahwa Aristoteleslah orang yang mula-mula kelihatannya meletakkan ilmu akal sehat, nan sebelumnya memang bukan koalisi ada hobatan tentang akal sehat tersebut.


Maka tak heran jika beliau dijuluki sebagai “Muallim Awwal” (Guru pertama). Lebih lagi Filosof Besar Immanuel Kant mengatakan 21 abad kemudian, bahwa sejak Aristoteles akal sehat tidak maju selangkah pun dan bukan pula dapat ki bertambah.


Aristoteles (384 –322 SM.) berusaha mempercundang mereka secara ilmiah dengan pernyataan-pernyataan membumi yang brilian. Pernyataan itu ia peroleh melalui sawala dengan murid-muridnya.


Foto: Memahami Teori | www.pexels.com by Steve Johnson


Karya Aristoteles itu sangat dikagumi pada masanya dan masa sesudahnya sehingga akal sehat dipelajari di setiap perguruan. Plato (427-347 SM.), Murid Socrates hanya menambahnya invalid. Immanuel Kant (1724-1804 M) pemikir terbesar bangsa Jerman menyatakan bahwa ilmu mantik nan diciptakan Aristoteles itu tidak bisa ditambah lagi walau sedikit karena sudah sepan model.


Ilmu mantik absah merupakan hasil ciptaan Aristoteles nan dirintis makanya retorika kaum Shofis dan dialektika yang publik digunakan untuk menyukat-nimbang pada periode hidup Plato. Inti taktik logika Aristoteles ialah ajarannya mengenai penalaran dan pembuktian.


Sreg abad ke-7 Kristen berkembanglah agama Islam di tanjung Arab dan pada abad ke-8, agama ini telah dipeluk secara meluas ke Barat sampai pinggiran Perancis sampai Thian Shan. Di zaman pengaruh Khalifah Abbasiyyah banyak karya ilmiah Yunani dan lainya diterjemahkan ke dalam bahasa sehingga kerumahtanggaan memori Islam ada yang disebut dengan Abad Interpretasi. Logika karya Aristoteles pun diterjemahkan dan diberi nama Ilmu Mantiq.


Di antara ulama dan cendikiawan muslim nan populer mendalami, menerjemah dan mengarang di bidang mantra Mantiq yaitu Abdullah bin Muqaffa’, ya’kub Ishaq Al-Kindi, Serdak Nasr Al-farabi, Ibnu Sina, Abu Hamid Al-Gahzali, Ibnu Rusyd, Al-Qurthubi dan banyak lagi nan bukan.


Al-Farabi, pada zaman kebangkitan Eropa mulai sejak abad gelapnya lebih lagi dijuluki dengan Guru Kedua Logika.


Menyusul zaman kemunduran dibidang mantiq atau logika dianggap bersisa memuja akal. Di antara jamhur-jamhur ki akbar Islam sebagai halnya Muhyiddin An-Nawawi, Ibnu Shalah, Taqiyuddin ibnu Taimiyah, Syadzuddin at-Taftsajani malah mengharamkan mempelajari hobatan mantiq.


Namun, komunitas jamhur dan cendikiawan Muslim membolehkan lebih-lebih menganjurkan bagi mempelajarinya perumpamaan penyempurna privat menginterpretasikan hadits dan al-Qur’an.


Mundiri. 2003. Ilmu mantik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.


Poespoprodjo, W. dan EK. Falak. Gilarso. 1999. Ilmu mantik Mantra Menalar. Bandung: Teks Ilmu cetak-mencetak.


Sing Mehra, Partap dan Jazir Burhan. 1968. Pengantar Logika Tradisionil. Bandung: Binatjipta.


Surajiyo, dkk. 2006. Dasar-Pangkal Logika. Jakarta: PT Dunia Abc.


Sommers, M. 1982. Logika. Bandung: Alumni.

Source: https://kumparan.com/hijab-lifestyle/tokoh-tokoh-filsafat-dunia-1540065468868280464