Validitas Tes Hasil Belajar 45 Soal








Sekapur sirih

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan rahmat-Nya sehingga kertas kerja ini dapat
tertangani dengan baik. Makalah
ini disusun berdasarkan tugas yang mutakadim diberikan kepada kami sebagai tugas kelompok yang di dalamnya memuat permukaan belakang, pembahasan, dan konklusi pembahasan dari makalah ini.

Dengan selesainya kertas kerja ini, kami mengucapkan sambut anugerah kepada Ibu dan Bapak Dosen mata ceramah Evaluasi Hasil Sparing yang telah membimbing kerumahtanggaan penyusunan kertas kerja ini, dan kepada ibu bapak nan telah memberi ki dorongan selama pembuatan referat sehingga makalah dapat terselesaikan.

Privat penyusunan referat ini, kami sudah berusaha semaksimal bisa jadi. Mohon abolisi apabila masih terdapat kesalahan-kesalahan ataupun kekurangan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa lainnya sekali lagi bagi para pembaca galibnya.



Palagan,
September 2022

Pembentuk,

DAFTAR ISI

Gapura I

PENDAHULUAN



A.





Latar Belakang




Evaluasi memiliki manfaat utama dalam kegiatan sparing mengajar yang dilaksanakan oleh seorang temperatur. Diantara tujuan berpokok evaluasi adalah untuk menilai ketercapaian pamrih pendidikan oleh anak asuh, sarana bagi mengarifi apa yang telah anak didik ketahui dalam kegiatan belajar mengajar, dan memotivasi anak didik. Bakal mengevaluasi hasil membiasakan dan proses belajar peserta, koteng temperatur menggunakan beraneka rupa keberagaman alat atau perangkat evaluasi seperti tes tertera, testimoni oral, ceklis-observasi, survei-wawancara, dan dokumentasi.

Keberhasilan mengungkap hasil dan proses belajar ini sebagaimana adanya (netralitas hasil penilaian) sangat bergantung pada kualitas alat penilainya, di samping itu juga nan bukan kalah pentingnya tergantung pada kaidah pelaksanaannya. Suatu perlengkapan penilaian dikatakan mempunyai kualitas yang baik apabila perlengkapan tersebut memiliki alias memenuhi dua hal, yaitu keabsahan (ketepatan) dan kredibilitas (kekekalan ataupun keajegan) alat tes terjamin kualitasnya. Alat tes yang bagaimana dan sebagai halnya segala apa yang dikatakan memiliki validitas dan reliabilias ini, lebih jauh akan kita bahas dalam makalah ini berjudul


Validitas Tas dan Reliabilitas Tes”



ini.



B.





Rumusan Kebobrokan




Akan halnya rumusan ki aib yang ada didalam makalah ini yaitu:


1.



Apa dan bagaimana validitas testimoni ?


2.



Apa dan bagaimana Reliabilitas tes ?



C.





Tujuan






Tentang harapan terbit makalah ini yaitu:


1.



Bikin memahami segala apa dan bagaimana kebenaran pembuktian.


2.



Bikin memafhumi apa dan bagaimana Reliabilitas tes.

Pintu II

PEMBAHASAN



A.





VALIDITAS Pengecekan




Validitas berasal berpokok kata
validity
yang memiliki arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur kerumahtanggaan melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 1986). Suatu perbandingan alias perangkat pengukur bisa dikatakan mempunyai legalitas yang tangga apabila instrumen tersebut menjalankan keefektifan ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki keabsahan rendah akan menghasilkan data yang lain relevan dengan intensi pengukuran.

Legalitas pembenaran biasa lagi disebut ibarat kesahihan suatu tes merupakan mengacu pada kemampuan suatu pembuktian untuk mengukur karakteristik atau matra yang dimaksudkan bagi diukur.

Meyakinkan berarti cocok ataupun sesuai. Suatu konfirmasi dikatakan andal, apabila pembenaran tersebut sungguh-sungguh manyasar keapada apa yang dituju. Konfirmasi tersebut benar-bermoral dapat menerimakan keterangan atau paparan tentang segala yang diinginkan. Jika tes itu bahasa, maka validasi tersebut harus diberikan gambaran tentang kemampuan dan kacakapan anak n domestik hal bahasa, dan lain manunjukkan gambaran kecakapan momongan internal keadaan ekonomi, geologi dan sebagainya. Guna menguraikan pengertian valid ini, dapat kita ambil contohnya jikalau kita cak hendak mengetahui berat dari suatu benda, maka kita pergunakan perlengkapan pengukuran timbangan. Sekiranya kepingin memafhumi panjang sesuatu, maka kita pergunakan alat pengukur meteran. Dan takdirnya kita cak hendak mengerti suhu sesuatu, kita pergunakan organ pengukur thermometer.

Kebiasaan andal diperlihatkan oleh tingginya validitas hasil ukur suatu tes. Suatu alat ukur yang tidak valid akan memberikan pesiaran yang keliru mengenai keadaan subjek atau individu yang dikenai pemeriksaan ulang itu. Apabila informasi yang keliru itu dengan bangun maupun tidak dengan sadar digunakan sebagai asal pertimbangan dalam pengambilan suatu keputusan, maka keputusan itu tentu bukan merupakan suatu keputusan yang tepat.


Jenis-Jenis Legalitas Verifikasi Secara Garis Besar






1.





Validitas isi






(Content Validity)

Validitas isi (Content Validity) ialah akurasi satu alat ukur ditinjau dari isi perangkat ukur tersebut. Suatu alat ukur dikatakan memiliki validitas isi apabila
isi atau materi atau sasaran organ ukur tersebut betul-betul merupakan bahan yang representatif  terhadap bahan pendedahan yang diberikan.
Artinya, isi alat ukur diperkirakan sesuai dengan segala nan telah diajarkan berlandaskan kurikulum.

Mandu menyelidiki validitas isi alat ukur Matematika dapat dilakukan dengan menggunakan pendapat suatu ‘panel’ yang terdiri dari juru-juru privat rataan matematika dan ahli-ahli internal pengukuran. Bila cara tersebut sulit cak bagi dilakukan, maka dapat dikerjakan dengan cara membandingkan materi alat ukur tersebut dengan bahan-korban n domestik penyusunan alat ukur, dengan analisis rasional. Apabila materi perangkat ukur cocok dengan materi penyusunan alat ukur, berarti alat ukur tersebut memiliki validitas isi.



2.





Keabsahan Konstruksi (Construct Validity)

Sebuah validasi dikatakan mempunyai keabsahan gedung apabila granula-butiran soal nan membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir seperti nan disebutkan dalam harapan instruksional khusus. Dengan kata bukan jikalau laporan soal menimbang aspek berfikir tersebut mutakadim sesuai dengan aspek berfikir nan menjadi tujuan instruksional.

Laksana paradigma kalau rumusan Maksud Instruksional Singularis (TIK). “Murid boleh membandingkan antara efek biologis dan sekuritas psikologis”, maka granula soal plong tes yakni perintah agar petatar mengkhususkan anatar dua efek tersebut.

“Konstruksi” dalam pengertian ini bukanlah “susunan” sama dengan yang sering dijumpai dalam teknik, semata-mata merupakan ancangan kognitif yaitu suatu estimasi yang dibuat maka dari itu para pakar ilmu jiwa yang dengan suatu cara tertentu “memerinci” isi nyawa atas beberapa aspek seperti ingatan (pemberitaan), pemahaman, aplikasi dan lebih lanjut. Dalam hal ini, mereka menganggap seolah-olah usia bisa dibagi-untuk. Semata-mata sesungguhnya enggak demikian. Pendistribusian ini hanya adalah tindakan provisional untuk mempermudah mempelajari. Begitu juga halnya kesahihan isi, validitas konstruksi bisa diketahui dengan cara mengalkulasi dan memasangkan setiap granula soal dengan setiap aspek dalam TIK. Pengerjaannya dilakukan berdasarkan akal sehat bukan asam garam.

Validitas isi dan validitas bangunan boleh dimasukkan kedalam logical validity, karena dalam penyusunan soal tesnya mengacu kepada kriteria-kriteria yang secara teori dan logis harus diperhatikan bikin mendapatkan tingkat validitas tangga.



3.





Kesahihan Kesamaan (Concurent Validity)

Alat tes perumpamaan instrumen pengukur dapat dikatakan telah memiliki validitas kesamaan apabila alat tes tersebut dalam kurun waktu yang sebagai halnya secara tepat kreatif menunjukkan adanya perkariban yang searah antara tes pertama dengan pembuktian berikutnya. Menurut Suharsimi, n domestik hal ini radas pengecekan dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman camar mengenai peristiwa yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang mutakadim ada.



4.





Validitas Perincian/ Ramalan

Kerap kali kita menyebutkan istilah “ramalan” maka didalamnya akan terkandung pengertian mengenai “sesuatu yang bakal terjadi perian yang nanti “ atau sesuatu yang pada saat masa ini belum terjadi dan mentah akan terjadi lega waktu-waktu yang akan cak bertengger. Apabila istilah ilham dikaitkan dengan validitas perlengkapan pengecekan maka yang dimaksud dengan kesahihan ramalan dari satu alat tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah alat tes dapat secara tepat menunjukkan kemampuannya bagi meramalkan apa yang kerjakan terjadi pada hari yang akan hinggap.



5.





Validitas Tampang (Face Validity)

Legalitas cahaya muka ini disebut juga dengan kebenaran semu, karena hasil nan ditunjukkan hanyalah menyangkut “tampang” ataupun tampilan berpunca perangkat cak bertanya tes dikemas dengan baik, seperti desain asing, format penulisan butir soal, jenis dan matra kertas yang digunakan, dan sebagainya. Sementara itu criteria secara substansi isi cak bertanya dengan kesesuaian perangkat soal tidak dibicarakan.

Sesahihan tampang ini hanyalah lakukan membagi kesan nan baik kepada peserta tes bahwa pelaksanaan ujian dilakukan dengan sungguh-sungguh, sehingga siswa tes pula akan berusaha dengan sungguh-alangkah dalam mengerjakan cak bertanya.


Cara Mengetahui Kebenaran Alat Ukur




Sekali pula diulangi bahwa sebuah tes dikatakan memiliki validitas jika hasilnya sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson dengan rumus:

Keterangan:

n

∑X

∑Y

∑XY

∑X2

∑Y2

: jumlah subyek atau siswa

: jumlah skor X

: besaran skor Y

: jumlah skor X dan Y

: jumlah skor X dikuadratkan

: kuantitas nilai Y dikuadratkan

Koefisien korelasi selalu terdapat – antara 1,00 sampai + 1,00. Namun kerena dalam menghitung cak acap dilakukan pembulatan angka-angka, sangat mungkin diperoleh koefisien lebih berpangkal 1,00. Koefisien negative menunjukkan nikah kebalikan padahal koefisien positif menunjukkan adanya kesejajaran bakal mengadakan interpretasi akan halnya besarnya koefisien korelasi adalah sebagai berikut:



·



Antara 0,800 hingga dengan 1,00 : tinggal tinggi



·



Antara 0,600 sebatas dengan 0,800 : janjang



·



Antara 0,400 hingga dengan 0,600 : cukup



·



Antara 0,200 sampai dengan 0,400 : rendah



·



Antara 0,00 sebatas dengan 0,200 : dahulu kurang


Penafsiran harga koefisen korelasi ada dua cara ialah:



1.



Dengan mengintai harga r dan diinterpretasikan misalnya korelasi tinggi, patut dan sebagainya.



2.



Dengan berkonsultasi ke table harga kritik r product moment sehingga dapat diketahui bermakna tidaknya korelasi tersebut. Sekiranya harga r bertambah kecil berpangkal harga suara dalam table, maka korelasi tersebut tidak signifikan. Begitu juga kekuatan sebaliknya.



Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Validitas Tes






1.





Yuridiksi latar pantat kebudayaan siswa;


begitu juga peristiwa status ekonomi, perbedaan struktur social (status social janjang/sedikit) perbedaan jenis kelamin tersebut akan mempengaruhi kebenaran testimoni. Sebagai contoh tes inteligensi Binet simon, yang dipersiapkan bakal anak-anak Eropa, akan bukan valid jika dikenakan terhadap anak Indonesia yang n kepunyaan parasan belakang kebudayaan/kenyataan/jiwa nan berbeda-beda. Demikian juga apabila konfirmasi tersebut separas-sama dikenakan setolok anak desa, barangkali akan memasrahkan hasil rata-rata yang berbeda, apabila group/kelompok yang diatas tersebut terdiri anak-momongan yang mempunyai status social ekonomi rendah. Perbedaan tersebut disebabkan antara enggak disamping perbedaan-perbedaan latar pantat social ekonomi akan berwibawa terhadap pembentukan pola tingkah larap anak, juga akan berpengaruh terhadap persepsi anak asuh dan pola responnya kerumahtanggaan menanggapi suatu keburukan.



2.





Keadaan variasi konfirmasi;


tiap-tiap tes akan berpengaruh terhadap keabsahan jawaban momongan. Tes subjektif (Essay test) akan mempunyai validitas yang berbeda dibandingkan dengan tes bebas. Tes subjektif akan n kepunyaan kesahihan yang makin rendah, karena dengan tes subjektif kurang dapat mengungkapkan materi validasi secara tuntas dibandingkan dengan tes objektif. Demikian juga diantara diversifikasi-macam tipe tes nonblok, pemeriksaan ulang nan terdiri dari 2 alternatif (benar-pelecok, setuju-bukan setuju) akan memiliki validitas nan lebih rendah dibandingkan dengan tes objektif tipe sortiran ganda. Hal itu disebabkan karena validasi moralistis salah n kepunyaan mode bagi menerka-nerka nan makin besar dibandingkan verifikasi pilihan ganda.



3.





Usaha menaik butir soal dengan pamrih ingin mempertinggi reliabilitas pembenaran;


memang salah satu cara lakukan mempertinggi reliabilitas tes adalah dengan membusut butiran-butiran soal tes secara otomatis akan dapat mempertinggi kredibilitas, salahnya justru akan dapat memburukkan validitas tes. Makanya karena itu jikalau mau meningkatkan reliabilitas tes dengan tidak akan merendahkan validitas validasi, sepatutnya penambahan butir-butir cak bertanya tes tersebut dengan menambahkan faktor-faktor baru berpokok materi tesnya, karena hal itu penting memperbanyak/memeprbesar spesimen bahan tes.



4.





Sedikit jelasnya tajali mengerjakan tes;


adanya tanzil/santiaji bagaimana cara mengerjakan pengecekan dimaksudkan semoga tidak terjadi kesalahan-kesalahan parafrase adapun bagaimana prinsip mengerjakan tes tersebut. Jika petunjuknya kurang jelas, akan terjadi peserta nan memperoleh poin adv minim tersebut siapa disebabkan karena mengalami kesulitan privat menginterpretasi petunjuknya, bukan karena tidak menguasai materinya.


Kamil 1: Memafhumi Validitas Tes Perbutir soal

Grafik Amatan Pertanyaan Bakal Perhitungan Keabsahan Tes


No


Nama Siswa


Butir Soal


Skor Kuantitas


1


2


3


4


5


6


7


8


9


10

1

Ain aydira

1

1

1

1

1

1

0

1

0

1

8

2

Bunga Rizki

1

1

0

0

1

1

1

0

1

1

7

3

Anak uang Rizka

0

1

1

0

0

1

0

1

0

1

5

4

Heri Irmada Sri Windari Ginting

1

0

1

1

1

0

1

1

1

0

7

5

M. Abdul Goffur

1

0

1

1

1

1

1

0

1

1

8

6

Sembah

0

0

1

0

1

1

1

1

0

1

6

7

Pujianti

1

1

1

1

0

1

0

1

1

1

8

8

Roslinda wati

1

1

0

1

0

1

1

1

1

0

7

9

Sri Malemna Barus

1

1

1

1

0

0

1

0

1

1

7

10

Susi Susanti

0

1

1

1

1

1

0

1

0

0

6

Bakal menghitung validitas cak bertanya terlebih lampau membentuk diagram persiapannya. Misalnya menghitung validitas tanya no.4, maka:

No

Tera Pelajar

Soal No.3

Skor Total

X2

Y2

XY

(X)

(Y)

1

Ain aydira

1

8

1

64

8

2

Bunga Rizki

0

7

0

49

0

3

Bunga Rizka

0

5

0

25

0

4

Heri Irmada Sri Windari Ginting

1

7

1

49

7

5

M. Abdul Goffur

1

8

1

64

8

6

Sembah

0

6

0

36

0

7

Pujianti

1

8

1

64

8

8

Roslinda wati

1

7

1

49

7

9

Sri Malemna Barus

1

7

1

49

7

10

Susi Susanti

1

6

1

36

6

tepi langit= 10

7

69

7

485

51

Koefesien keabsahan tanya no.4 merupakan 0,624. Kebenaran soal tersebut meyakinkan karena berlimpah plong validitas tinggi.


Komplet 2: Mengetahui Validitas Pemeriksaan ulang Buatan Hawa Dengan
Verifikasi Yang Sudah Meyakinkan Dengan Mata Pelajaran Yang Sama

No

Nama Siswa

Skor Tes

Buatan Suhu (X)

Skor Tes yang

Dipandang Valid (Y)

X2

Y2

XY

1

Ain aydira

8

9

64

81

72

2

Bunga Rizki

7

8

49

64

56

3

Bunga Rizka

5

7

25

49

35

4

Heri Irmada Sri Windari Ginting

7

8

49

64

56

5

M. Abdul Goffur

8

8

64

64

64

6

Puja

6

7

36

49

42

7

Pujianti

8

8

64

64

64

8

Roslinda wati

7

8

49

64

56

9

Sri Malemna Barus

7

8

49

64

56

10

Susi Susanti

6

7

36

49

42

n= 10

69

78

485

612

543

Penunjuk koefesien korelasi (r) = 0,8480 jika dikomfirmasi dengan r tabel (rt) dengan N=10, pada tarif signifikasi 99% diperoleh 0,7646 alias (re
> rt). Ini berarti bahwa ada korelasi yang signifikan antara hasil tes imitasi suhu dengan hasil validasi yang valid alias patokan. Kesimpulannya ialan bahwa tes buatan guru yang dicari validitasnya boleh dinyatakan valid.



B.





RELIABILITAS TES




Perkenalan awal reliabillitas dalam bahasa Indonesia di ambil bersumber reliability dalam bahasa inggris, berasal berpokok kata, reliable yang artinya dapat dipercaya. “keterjaminan” adalah substantif, sementara itu “reliable” merupakan pembukaan aturan ataupun keadaan.

Reliabilitas merupakan penerjemahan berusul kata reliability nan mempunyai sumber akar kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki keterandalan janjang disebut umpama pengukuran yang reliabel (reliable).Walaupun reliabilitas memiliki beraneka macam khasiat seperti ajun, keterandalan, keajegan, kestabilan dan konsistensi, namun ide kiat yang terkandung dalam konsep reliabilitas ialah sejauh mana hasil pengukuran boleh dipercaya.

Dari beberapa denotasi di atas jadi reliabilitas konfirmasi marupakan satu perangkat ukur yang digunakan untuk mengetahui kepejalan pengukuran pemeriksaan ulang nan hasilnya menunjukan keajegan.Sendiri dikatakan bisa dipercaya apabila manusia tersebut berbicara ajeg, tidak berubah-saling pembicaraannya dari tahun ke waktu.Dalam sebuah testimoni pentingnya diamati keajegan dan kepastian pemeriksaan ulang tersebut dilihat dari hasil konfirmasi nan didapat.

Dengan demikian kredibilitas dalam evaluasi penelaahan adalah sifat yang ada pada data maupun ponten yang dihasilkan makanya gawai, tetapi bakal melajukan, reliabilitas bisa dikatakan merupakan sifat dari instrumen juga. Maksudnya reliabilitas bukanlah berkepribadian dikotomis, tetapi merupakan rentangan yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angka 0 – 1.


Cara Mencari Besarnya Keterandalan




Sejumlah metode nan bisa digunakan bikin mencari besarnya reliabilitas antara

lain:



1.





Metode
Test-Retest

Bakal menentukan reliabilitas tes dengan menggunakan metode
test-retest,
satu instrumen tes dilakukan dua kali terhadap kelompok siswa nan sama dalam waktu yang berbeda. Kedua hasil tes dikorelasikan, koefisien korelasi nan diperoleh menyatakan tingkat keterandalan tes. Semakin tinggi koefisien korelasi yang diperoleh, tes semakin stabil dengan demikian nilai siswa plong kedua tes tersebut memusat tetap, atau tegar. Interpretasi reliabilitas perlengkapan untuk hal ini yaitu:


Besarnya Nilai r


Tafsiran

0,80 – 1,00

tinggi

0,60 – 0,80

memadai

0,20 – 0,60

tebak rendah

0,00 – 0,20

sedikit

Contoh rekaan reliabilitas validasi-retest bentuk pertanyaan objektif validasi

No Urut

Perolehan skor siswa

XY

X2

Y2

Siswa

tes purwa (X)

tes kedua (Y)

1

45

47

2115

2025

2209

2

22

25

550

484

625

3

42

38

1596

1764

1444

4

35

37

1295

1225

1369

5

36

38

1368

1296

1444

6

33

30

990

1089

900

7

23

26

598

529

676

8

38

33

1254

1444

1089

9

26

30

780

676

900

10

40

42

1680

1600

1764

11

29

28

812

841

784

12

33

33

1089

1089

1089

13

41

43

1763

1681

1849

14

37

39

1443

1369

1521

15

36

36

1296

1296

1296

16

32

26

832

1024

676

17

38

35

1330

1444

1225

18

33

36

1188

1089

1296

19

44

45

1980

1936

2025

20

34

36

1224

1156

1296

21

41

42

1722

1681

1764

22

38

36

1368

1444

1296

23

35

36

1260

1225

1296

24

43

45

1935

1849

2025

25

37

39

1443

1369

1521

26

33

35

1155

1089

1225

27

14

24

336

196

576

28

23

28

644

529

784

29

32

38

1216

1024

1444

30

44

46

2024

1936

2116

kuantitas

1037

1072

38286

37399

39524

cakrawala = 30

Formula nan digunakan yaitu:

Penyelelesaian:



2.





Metode Belah Dua (Split-Half Method)

Dengan menggunakan satu perlengkapan tes yang dilakukan satu kali pembenaran dapat sekali lagi ditentukan koefisien dengan cara membangi dua tes tersebut. Makara suatu perangkat tes dibagi dua, kedua skor pemeriksaan ulang dianggap dua macam validasi yang paralel. Pendistribusian biasanya dilakukan dengan patokan nomor soal ganjil dan nomor soal genap. Kejadian ini dilakukan karena lazimnya perangkat testimoni disusun mulai granula soal yang mudah berorientasi butir soal yang berat. Makara akan diperoleh suatu set cak bertanya bernomor ganjil dan satu set lainnya bernomor genap. Kedua skor tes ini dikorelasikan, dan hasil korelasi menunjukkan koefisien reabilitas. Doang demikian perlu diperhatikan bahwa reliabilitas dengan teknik ini sangat relative karena reliabilitas sangat tergantung pada cara penomoran dan pengelompokkan butiran-butiran soal nan disusun. Kaidah perhitungan reliabilitas dengan belah dua sederajat seperti mana perkiraan metode
tes-retest.

Arketipe perhitungan reliabilitas split half bagan soal objektif tes

No Urut

Gasal (X)

Besaran Angka

Siswa

1

3

5

7

9

1

1

1

1

1

0

4

2

1

0

1

1

1

4

3

1

1

0

1

1

4

4

0

1

1

0

1

3

5

1

1

1

1

0

4

6

1

0

1

1

1

4

7

1

1

1

0

1

4

8

0

1

1

1

1

4

9

0

1

0

1

1

3

10

1

0

1

1

1

4

No Urut

Genap (Y)

Total Skor

Pelajar

2

4

6

8

10

1

1

1

0

1

1

4

2

1

1

1

1

1

5

3

1

1

0

1

0

3

4

1

1

1

1

1

5

5

0

0

1

0

1

2

6

1

1

1

1

1

5

7

1

1

1

1

1

5

8

1

1

1

1

1

5

9

1

1

0

1

1

4

10

1

1

1

1

1

5

No Urut

Skor Tanya

XY

X2

Y2

Peserta

Ganjil (X)

Genap (Y)

1

4

4

16

16

16

2

4

5

20

16

25

3

4

3

12

16

9

4

3

5

15

9

25

5

4

2

8

16

4

6

4

5

20

16

25

7

4

5

20

16

25

8

4

5

20

16

25

9

3

4

12

9

16

10

4

5

20

16

25

Total

38

43

163

146

195



3.





Metode Kuder-Richardson

Metode Kuder-Richardson ini adalah pengembangan bersumber metode split-half, belaka pada metode ini tidak dibelah dua, melainkan didasarkan puas proporsi peserta nan menjawab ter-hormat dan standar deviasi skor. Caranya merupakan dengan mengkorelasikan biji-skor setiap butir dengan skor total keseluruhan pembenaran.

Rumus yang dikemukanakan oleh Kuder-Richardson adalah seumpama berikut:

Keterangan :

: koevisien kredibilitas yang dicari

: varians skor besaran

p

: proporsi siswa nan menjawab benar

q

: 1 – p

pq

: hasil perkalian p dan q

ufuk

: kuantitas butiran soal

Dengan mengacu pada pertanyaan reliabilitas split half maka keterandalan perangkat pertanyaan dapat diketahui sebagai berikut:

No Urut

Skor Soal

X

X2

Siswa

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1

1

1

1

1

1

0

1

1

0

1

8

64

2

1

1

0

1

1

1

1

1

1

1

9

81

3

1

1

1

1

0

0

1

1

1

0

7

49

4

0

1

1

1

1

1

0

1

1

1

8

64

5

1

0

1

0

1

1

1

0

0

1

6

36

6

1

1

0

1

1

1

1

1

1

1

9

81

7

1

1

1

1

1

1

0

1

1

1

9

81

8

0

1

1

1

1

1

1

1

1

1

9

81

9

0

1

1

1

0

0

1

1

1

1

7

49

10

1

1

0

1

1

1

1

1

1

1

9

81

Jumlah

7

9

7

9

8

7

8

9

8

9

81

667

P

0,7

0,9

0,7

0,9

0,8

0,7

0,8

0,9

0,8

0,9

Q

0,3

0,1

0,3

0,1

0,2

0,3

0,2

0,1

0,2

0,1

Pq

0,21

0,09

0,21

0,1

0,2

0,21

0,2

0,09

0,2

0,09

1,47


·




Skor Galibnya Total









= 8,1


·




Varians Kredit Besaran


·




Koevisien Kredibilitas

Koefisien korelasi berlambak antara 0 – 1. Satu alat penilaian dikatakan reliabel jika koefisien korelasinya ≥ 0,6, makin tinggi koefisien korelasi makin reliabel instrumen tersebut, dan sebaliknya. Alat penilaian yang di jadikan paradigma termasuk kategori instrumen yang rendah baik karena bukan reliabel. Untuk menjadikan alat tersebut reliabel maka validitas butir yang tidak baik dibuang atau diganti. Instrumen yang mustakim tentu reliabel, belaka radas yang reliabel belum karuan valid.



4.





Metode Equivalent-form Atau Pararel

Metode paralel dipilih apabila tidak diinginkan mengujikan dua boleh jadi. Metode paralel dilakukan dengan pendirian menyusun dua instrumen yang hampir selevel (equivalent), kemudian di ujicobakan pada keropok responden yang selevel (responden berbuat dua kali) kemudian dari hasil ujicoba tersebut dikorelasikan dengan teknik korelasi
product moment.
Metode ini umumnya bakal menguji reliabilitas instrument rancangan tes (Eko Putro. Widoyoko. 2022 : 158).

Gawai paralel atau ekuivalen adalah dua biji kemaluan instrumen nan mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesulitan dan perhubungan, sahaja granula – butir pertayaan/peryataan berbeda. Bikin menentukan apakah intrument tersebut reliabel atau tak, koefisien korelasi hasil kalkulasi maupun “r hitung”(rh) dikonsultasi dengan “r tabel” (rlengkung langit) dalam tabel korelasi
product moment. (rh
≥ rt) maka diartikan ada korelasi nan berguna dan intrument dianggap reliabel. Sebaliknya (rt
< rh) maka diartikan lain suka-suka korelasi yang penting, maka deduksi perlengkapan dianggap tidak reliabel.




Faktor-Faktor Nan Mempengaruhi Keterandalan





Reliabilitas bisa dipengaruhi oleh perian penyelenggaran tes-retes. Interval penyelengaraan yang plus karib ataupun jauh, akan mempengruhi koefisien reliabilitas. Faktor-factor lain nan mempengaruhi di antaranya;




1.





Panjang test;


semakin panjang test evaluasi, semakin banyak jumlah item materi penataran diukur. Ini menunjukan dua kebolehjadian yakni test semakin cenderung kesahihan,  dan intern memgikuti test, semakin boncel siswa menebak. Berharga semakin tangga koefisien keterjaminan.



2.





Penyebaran angka;


koefisien reliabiltas secara langsung dipengeruhioleh tulang beragangan sebaranskor intern kelompok petatar yang diukur. Semakin tahapan sebaran semakin tingi prediksi koefisien keterandalan. Keadaan ini tejadi karena posisi skor siswa, secara khusus mempunyai kedudukan sama puas tes retest enggak,misal ideal.



3.





Kesulitan test;


test normative yang plus mudah atau terlalu sulitskor untuk peserta cenderung menghasilkan keterjaminan terbatas. Fenomena tersebut, akan menghasilkan tebaran skor yang cenderung terbatas pada salah satu jihat. Lakukan test yang berlebih mudah skor jawaban murid akan mengumpul ada arah atas, untuk testimoni bersisa sulit nilai jawaban siswa akan cenderung mengumpul plong ujung bawah. Dua kejadian tersebut mempunyai kesetaraan ialah bahwa perbedaan di antara individu ialah mungil dan menghadap enggak relevan.



4.





Objektivitas;


yang di maksud objekif yaitu derajat dimana siswa dengan kompetensi seimbang mencapai hasil sama. Ketika prosedur test evaluasi memiliki keobjektifan tangga, maka reliabilitas test lain dipengaruhi makanya prosedur teknik penskoran. Item test objektif nan dihasilkan lain dipengaruhi pertimbangan alias opini sendiri evaluator.

Ki III

Pengunci


Kesimpulan




Kesahihan validasi normal sekali lagi disebut bagaikan kesahihan suatu tes ialah mengacu pada kemampuan suatu tes lakukan mengukur karakteristik atau format nan dimaksudkan buat diukur.

Meyakinkan berarti cocok ataupun sesuai. Satu tes dikatakan jujur, apabila pembenaran tersebut benar-ter-hormat manyasar keapada apa yang dituju. Variasi-jenis kesahihan pembuktian secara garis segara:



·



Validitas isi (Content Validity)


·



Kebenaran Konstruksi (Construct Validity)


·



Validitas Kesejajaran (Concurent Validity)


·



Legalitas Prediksi/ Ramalan


·



Validitas Cahaya muka (Face Validity)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesahihan Tes


·



Yuridiksi latar belakang peradaban pesuluh


·



Peristiwa tipe tes


·



Gerakan membusut butir cak bertanya dengan maksud ingin mempertinggi reliabilitas tes


·



Kurang jelasnya visiun mengerjakan pengecekan

Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Pengukuran yang mempunyai keterjaminan tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable).Kendatipun reliabilitas memiliki berbagai arti sebagai halnya tangan kanan, keterandalan, keajegan, kestabilan dan konsistensi, namun ide trik yang terkandung dalam konsep kredibilitas adalah selama mana hasil pengukuran dapat dipercaya.

Beberapa metode yang dapat digunakan buat mencari besarnya reliabilitas antara

bukan:


·



Metode
Test-Retest


·



Metode Belah Dua (Split-Half Method)


·



Metode Kuder-Richardson


·



Metode Equivalent-form Atau Pararel

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas


·



Panjang test


·



Pendakyahan skor


·



Kesulitan test


·



Objektivitas

Daftar bacaan

Sasaran Penataran Evaluasi Pembelajaran Oleh Tim Dosen KDBK

Source: https://sumartikasari.blogspot.com/2017/10/makalah-pengujian-validitas-tes-dan.html